Wednesday, October 28, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 2 Part 1


Ri Hwan keluar dengan membaca kain berisi barang dan memasukan semua kedalam mobil, setelah itu mengeluh sudah menyebabkan insiden.
Flash Back
Suk Joon menekan password pintunya, Haeng Ah terlihat kaget mendengar bunyi orang yang akan membuka pintunya. Tapi ternyata Suk Joon masuk ke dalam rumahnya sendiri, sebelum pintu tertutup, Ri Hwan langsung menyolonong masuk. Suk Joon bertanya siapa pria yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya.
“Aku mau ambil gelang.” ucap Ri Hwan
“Kau pikir apa yang kau lakukan?” teriak Suk Joon marah
“Lalu Kau sendiri? Apa yang kau lakukan? Saat dia pindah sendiri, apa yang kau lakukan?” tegas Ri Hwan tak kalah marah
“Apakah Haeng Ah menyuruhmu ke sini?” tanya Suk Joon

Ri Hwan yakin Suk Joon sudah tahu Haeng Ah tak akan melakukan itu,  Suk Joon pikir situasi seperti ini perlu dijelaskan. Ri Hwan juga ingin dengar penjelasan darinya juga, kenapa Haeng Ah mengatakan alasanya putus itu karena kesepian. 
Suk Joon menegaskan tak mengenal Suk Joon, jadi bukan urusanya. Ri Hwan menegaskan walaupun hubungan mereka sudah berakhir, Suk Joon tetap harus membantunya, karena Haeng Ah lemah dn tak pernah ingin dikasihi orang lain jadi ingin tetap tenang walaupun ia sakit.
“Apa yang Kau lakukan ketika dia melakukan semuanya sendiri!” teriak Ri Hwn
“Katakan padanya untuk datang setiap kali dia ingin , jika meninggalkan sesuatu disini.” pesan Suk Joon dengan nada dingin
“Dia tidak akan datang ke sini lagi, jadi Aku akan mengambilnya sekarang. Dimana gelang itu?” kata Ri Hwan, Suk Joon mengatakan akan mengambilkanya. 

Suk Joon masuk ke dalam kamar, melihat gelang itu ada dilaci dan mengengamnya. Sementara Ri Hwan mengambil barang-barang yang di duga milik Haeng Ah, kopi, sikat gigi, chargeran, lampu meja, bahkan karet rambut lalu menaruh diatas kasur. Suk Joon hanya terdiam melihat sikap Ri Hwan yang mengambil semuanya.
Ri Hwan mencari-cari milik Haeng Ah, dibagian ada terlihat “glow in the dark”, dengan menaiki kasur menyobeknya dari langit-langit, setelah itu membungkusnya dengan sperai. 

Ri Hwan membawa barang Haeng Ah keluar ruangan, Suk Joon menanyakan keadaan Haeng Ah sekarang. Ri Hwan merasa Suk Joon berpikir kalau Haeng Ah itu tak baik-baik saja. Suk Joon tiba-tiba mengucapkan rasa syukur.
“Di dunia ini ada pria jahat seperti dia. Kalau kita bilang baik-baik saja, dia akan langsung percaya. Dasar Pria yang jahat...” umpat Ri Hwan sambil bergumam.
“Memangnya kau tahu Haeng Ah seperti apa?” ucap Ri Hwan penuh amarah
“Kalau kau tahu seperti apa dia, kau pasti tahu dia tak suka hal seperti ini.” balas Suk Joon dengan wajah dingin
“Sudah berakhir, aku kalah.” gumam Ri Hwan lemas
Di depan mobilnya, Ri Hwan hanya bisa marah-marah sendiri karena meang yang dilakukan salah dan merasa kalah dari Suk Joon yang lebih tahu kalau Haeng Ah tak suka dengan sikapnya seperti ini. 

Pagi hari
Dong il datang mengunakan jas bertemu dengan Haeng Ah yang menunggu lift, menanyakan kapan terakhir kali mengunakan jas. Haeng Ah ingin menebak tapi Dong il langsung memberitah dengan nada kesal, kalau terakhir kali saat maam natal horror spesial.
“Aku dapat ratusan telepon dari orang-orang yang hampir kecelakaan. Kau berbicara “Halo, Sydney! Ah!” dengan nada horor Memangnya itu cocok untuk natal?” teriak Dong Il kesal
“Ah... hampir saja tebakanku benar.” ucap Haeng Ah sambil tersenyum, lalu keduanya masuk bersama ke dalam lift. 

Ri Hwan menemui ibunya, mengeluh karena harus datang pagi-pagi. Nyonya Park heran karena anaknya hanya turun dua lantai saja mengeluh, lalu menanyakan Ji Hoon. Ri Hwan memberitahu Ji Hoon tidur larut jadi sengaja tak dibangunkan.
Ponsel dirumah berdering, Ri Hwan panik meminta ibunya kalau Haeng Ah yang menelp untuk mengatakan kalau ia tak ada dirumah. Nyonya Park mengangkat telp langsung berbicara dengan kalimat yang sama “kata Ri Hwan kalau Haeng Ah yang menelp bilang tak ada” Ri Hwan makin panik, tapi setelah menutup telp ibunya memberitahu kalau tadi telp penganggu saja.
“Ada apa? Kau ketemu Haeng Ah lagi kemarin?” tanya Nyonya Park curiga, Ri Hwan mengaku sudah terjadi sesuatu
“Kau sering menemui Haeng Ah?” tanya ibunya sinis, Ri Hwan heran memang kenapa ia tak boleh menemuinya.
“Kemarin dia tak bilang apa-apa?” kata Nyonya Park, Ri Hwan terlihat binggung 

Flash back
“Pasangan Ri Hwan kali ini putus dari tunangannya dan Tunangannya selingkuh. Dia pasti sangat sensitif, kan? Meski kalian sudah seperti saudara  tapi dia mata orang lain.” uca Nyonya Park Haeng Ah mengerti dan akan mulai menjauh pada Ri Hwan.
Nyonya Park memberikan jus buatanya, tiba-tiba Ri Hwan mengeluarkan kembali, karena rasanya seperti rumput. Nyonya Park mencobanya baru sadar lupa memasukan yoguhrt. Ri Hwan mengoda ibunya ternyata pelupa juga, Nyonya Park kembali mencampur jus dengan yogurhtnya.
“Ibu ingin kau serius pada perjodohan hari ini.” kata Nyonya Park, Ri Hwan mengaku selama ini selalu serius.
“Apa ketemuan pada hari kerja  di halaman rumah sakit bisa dibilang serius?” keluh ibunya, Ri Hwan memberitahu itu keinginan dari pasanganya.
“Bibimu menelpon, dia bilang kakekmu sangat berharap padamu.” ucap Nyonya Park,
“Kapan ibu mau berbaikan dengan kakek?” tanya Ri Hwan
“Setelah kau menikah dengan keluarga baik-baik.” ucap Nyonya Park
Ri Hwan ingat ibunya dulu bilang saat ia masuk kuliah, Nyonya Park beralasan karena dulu ingin anaknya masuk kedokteran tapi ternyata malah mencari jurusan lain. Ri Hwan bisa mengerti dengan perasaan kakeknya, menurutnya jika menjadi kakek tak akan mengizinkan ibunya melahirkanya dan akan mengusirnya.
Nyonya Park menyuruh anaknya untuk menelp kakeknya setelah kencan  karena pasti sangat penasaran. Ri Hwan berpikir kalau jadi kakeknya tak akan mau anaknya hidup sendiri. Nyonya Park sengaja menyalakan blender agar bising. Ri Hwan hanya bisa menatap ibunya yang keras kepala. 

Ibu Yi Seul memberitahu kalau hari ini kencan buta, tapi anaknya malah hanya ingin bertemu untuk makan lalu menjerit melihat pakaian yang digunakan anaknya, dan bertanya dimana dengan baju Ndark violet yang bibi belikan
Yi Seul mengaku itu tak cocok, Ibu Yi Seul berpikir karena ukuranya kekecilan. Yi Seul menegaskan kalau baju itu tak cocok lalu memberitahu akan pergi sekarang. Ibunya memberitahu kalau wanita itu terlambat sedikit dalam kencan sudah biasa, Yi Seul sudah beridi didepan pintu, Sang ibu mengeluh kalau anaknya itu tak sopan dan akhirnya bangun dari tempat duduknya.
“Ya ampun! Kau mau pakai sepatu itu?”jerit Ibunya melihat flat shoes yang dipakai Yi Seul
“Apa harus bertelanjang kaki?” komentar Yi Seul
“Kakimu itu bukan kaki beruang, tapi Sungguh kaki yang besar.” komentar ibunya. 

Ri Hwan dan Ji Hoon makan siang bersama, terlihat Ji Hoon senang dengan sup anti mabuk yang terbaik untuknya. Ri Hwan berbicara serius menanyakan pendapat tentang Kang Suk Joon. Ji Hoon tahu penyiar acara “Semoga harimu hangat?" lalu mengatakan tak menyukainya, Ri Kwan bersemangat menanyakan alasanya.
“Karena dia pria.” ucap Ji Hoon, Ri Hwan lemas mendengar alasanya.
“Bagaimana kalau kau wanita?” tanya Ri Hwan
“Akan kuajak kau kencan.” jawab Ji Hoon, Ri Hwan mengumpat temanya itu memang punya otak yang kotor.
Ji Hoon melihat Ri Hwan sedikit melamun seperti membayangkanya, Ri Hwan menyangkalnya lalu menyuruh mereka agar cepat makan. 

“Bayangkan barangmu ketinggalan di bar.,,Jadi aku kesana dan mengambilnya untukmu.” cerita Ri Hwan sambil berjalan pulang ke kantor, Ji Hoon mencari-cari dompetanya berpikir kalau dompetnya yang ketinggalan.
“Anggap saja kunci mobil atau kalung. Lalu aku ke bar itu dan mengambilnya untukmu. Bagaimana perasaanmu?” tanya Ri Hwan tapi mata Ji Hoon malah jelalatan melihat wanita dengan pakaian seksi.
“Hyung, kau suka alkohol apa wanita?” ucap Ri Hwan
“Ahh... Kenapa tanya begitu? Aku suka wanita yang minum alkohol.” kata Ji Hoon.
Keduanya melihat mobil mewah yang dibawa Yi Seul sedang parkir, Ji Hoon binggung melihat ada pasien dengan mobil seperti itu dan berpikir kalau artis. Ri Hwan seperti sudah tahu bahwa itu pasangan kencannya, lalu mengajak Ji Hoon untuk segera masuk ke dalam klinik lebih dulu. 

Ri Hwan menyapa Yi Seul yang kesulitan memarkirkan mobilnya, Yi Seul melihat Ri Hwan berpikir kalau itu valley, lalu keluar dari mobil memberitahu kalau kunci mobilnya ada didalam dan meninggalkan Ri Hwan dengan wajah dingin. Ri hwan hanya bisa diam dengan senyuman karena dianggap valley parkir oleh pasangan kencan butanya. 

Se Young masuk ke dalam ruang siaran, Haeng Ah sedang mengunakan earphone tak menyadarinya sampai Se Young mengetuk meja baru Haeng Ah sadar penyiarnya itu datang. Haeng Ah menanyakan kenapa Se Young datang pada pagi hari. Se Young memberitahu mau wawancara, lalu berkomentar kalau pakaian yang digunakan Haeng Ah itu aneh. Haeng Ah seperti tak merasa aneh.
“PD Kim,...Aku dengar direktur memanggilmu. Memangnya siapa dia berani menyuruh-nyuruhmu? Memangnya dia yang punya radio?” keluh Se Young
“Direktur memang yang punya radio.” ucap pria muda disampingnya.  
Se Young pun sedikit malu, lalu bertanya apa yang dibicarakan, menduga untuk menganti penyiar karena dirinya dianggap "paling akhir". Haeng Ah menjelaskan bukan itu hanya melaporkan beberapa hal, dan Karena mereka bisa mengatasi tanpa membuat masalah, jadi Direktur memberikan sebuah amplop. Se Young terlihat bahagia melihat isi amplopnya.

Terlihat hanya beberapa lembar uang yang hanya bisa makan Bondaegi, Se Young berkomentar paling tidak ia tak kena pecat lalu pamit pergi. Haeng Ah melihat pria muda itu pergi juga. Pria muda memberitahu sekarang akan menjadi manager Se Young.
“Sudah lama aku tak wawancara, jadi akan kelihatan jelek kalau aku datang sendiri anpa agensi. Tak apa, kan?” kata Se Young
“Tentu saja. Kau sudah dapat pertanyaan untuk wawancara?” tanya Haeng Ah, Se Young berkata belum
“Mereka pasti tanya tentang masalah kemarin. Kalau mereka tanya siswi kemarin, bilang dia sudah baikan dengan keluarganya.Dan sekarang dia butuh privasi. Mengerti?” pesan Haeng Ah
“Iya.... Aku mengerti, lalu  Apa mantanmu menghubungimu setelah siaran? Aku pikir dia akan menghubungimu.” komentar Se Young, Haeng Ah mengelengkan kepala, lalu memberikan semangat dan pamit untuk kejar kembali. Se Young keluar ruangan sambil berbisik Haeng Ah pasti butuh privasi.

Ri Hwan mendatangi Yi Seul yang sudah menunggu di taman, Yi Seul masih berpikir itu valley menanyakan biayanya. Ri Hwan langsung menyapa dan menyebutkan namanya, Yi Seul kaget sampai membuat bangku yang didudukinya terjatuh saat berdiri. Ri Hwan mengangkat kembali bangkunya lalu menyuruhnya duduk.
“Aku pikir kau petugas valet.” komentar Yi Seul,  Ri Hwan mengakui memang mirip.
“Kau kelihatan beda dengan fotomu.” ucap Yi Seul, Ri Hwan pikir lebih bagus di foto, Yi Seul mengelangkan kepalanya, jadi lebih tampan aslinya. Ri Hwan pun mengucapkan terimakasih.
“Tapi Kau juga lebih cantik aslinya, Yi Seul.” komentar Ri Hwan, Yi Seul binggung mengetahui Ri Hwan memiliki fotonya padahal selama ini tak pernah foto.

Ri Hwan memperlihatkan foto dari ponselnya, terlihat foto saat wisuda dengan rahang yang agak dituruskan dan mata yang sedikit dibuat lebih terlihat. Yi Seul hanya bisa mengigit jari karena itu pasti kerjaan ibunya yang mengunakan jasa photoshop.
“Jujur saja, aku khawatir saat melihatnya. Pasti aneh kalau orang dewasa punya mata seperti ini. Pupilmu tidak bertambah besar sejak kau lahir. Kalau wajah saat dewasa seperti ini, itu artinya saat kau lahir, separuh wajahmu adalah pupil. Lumayan menakutkan.” komentar Ri Hwan, Yi Seul hanya bisa diam saja dengan wajah tertunduk. 


Di dalam mobil.
Se Young mengeluh karena ternyata pemuda itu tak memiliki SIM jadi tetap harus ia sendiri yang menyetir. Pemuda itu mengaku tak punya waktu karena harus melakukan part time dan masih harus mengoreng ayam di restoran ayahnya.
“Kenapa semua orang disekitarku orang susah? Dimana anak orang kaya yang suka hura-hura? Dan Kau tahu tentang PD Kim, kalau ia yatim piatu?” ucap Se Young, pemuda itu mengangguk mengetahuinya.
“Dia tak kelihatan seperti yatim piatu. Kenapa dia hidup seperti itu? Dan mantanya itu Pria yang menunggunya, kulitnya putih dan matanya besar?” dugaan Se Young
“Bukan, pria itu sudah seperti keluarganya. Orang tua mereka dekat, jadi mereka tumbuh bersama. Setelah ayah PD Kim meninggal, mereka tinggal bersama.” cerita si pemuda.
Se Young mengejek PD Radio-nya membuat drama sendiri seperti "Autumn in My Heart" dan "Feeling". Si pemuda bingung dengan judulnya dan kapan diputar. Se Young pikir itu saat ia ujian ditahu 1994, Si pemuda berkata ia baru lahir tahun 1988. Se Young hanya bisa diam karena ketahuan sudah tau berumur 44, Si pemuda bisa mengodanya dengan melihat Se Young seperti umur 33 bahkan 31 kalau sedang ada di Amerika. 

Ri Hwan yang masih penasaran, mengetahui Yi Seul dengan dengan kakak laki-lakinya bertanya kembali, bagaimana perasanya jika ada barang yang ketinggalan dirumah orang dan kaanya yang mengambilnya tanpa memberitahu.
“Tapi Kenapa tanya seperti itu, karena Kakakku pasti menyuruhku beli yang baru.” ucap Yi Seul, Ri Hwan mengerti karena Yi Seul itu orang kaya.
“Bagaimana kalau barangnya tak bisa dibeli?” tanya Ri Hwan penasaran
“Aku akan mengirim pengacara.” jawab Yi Seul, Ri Hwan mengangguk mengerti dan tak ingin membahasnya.
Tiba-tiba Yi Seul memberikan senyuman kaku dengan memperlihatkan giginya, Ri Hwan yang melihatnya ikut menyengir dengan wajah binggung. Yi Seul merasa ibunya sudah menyuruh orang untuk memata-matai mereka. Ri Hwan ingin menoleh tapi Yi Seul meminta untuk tak menoleh.
“Dia akan mengambil foto lalu pergi” jelas Yi Seul, Ri Hwan bisa melihat Ji Hoon yang sengaja mengambil gambar dari depan pintu.
“Aku minta Maaf, Dia orang bodoh, jadi akan kubereskan sekarang” kata Ri Hwan lalu berjalan mendekati Ji Hoon.
Ji Hoon buru-buru kabur menuruni tangga, Ri Hwan langsung bisa menangkapnya, bertanya apa yang sudah dilakukanya. Ji Hoon berdalih sedang mengambil gambar pemadangan dan ingin menaruhnya diblog. Ri Hwan tahu Ji Hoon tak punya blog, Ji Hoon berkata bru aka membuatnya, lalu berlari menuruni tangga. Ri Hwan mengejarnya untuk mengambil fotonya. 

Haeng Ah membahas tentang siaran langsung saat seperti sekarang dan akan menganti urutan lagu yang akan diputar, jadi akan pindah ke akhir naskah. Tae Hee rasa itu memang bagus, keduanya sedang berjalan di lorong kantor. Haeng Ah dengan bersemangat bercerita Direktur yang meminta menghubungi Ji Na lagi.
Tae Hee berkomentar Direktur sudah gila. Haeng Ah tahu makanya akan menolak, kalau mereka pasti akan mati karena komentar pendengar. Tae Hee bertanya kapan mereka akan ganti direktur. Haeng Ah pikir itu musim gugur. Tae Hee mengeluh mereka harus melalui musim semi dan musim panas dulu.
“Penggantinya pasti orang itu atau Lee Jae Woo. Apa Tak bisa orang lain?” keluh Tae Hee yang melihat Suk Joon berjalan didepanya.
Haeng Ah yang melihat Suk Joon langsung menariknya pergi. Suk Joon sedang berjalan bisa mendengar bunyi ketukan sepatu yang berlari dan bisa melihat Haeng Ah seperti menghindarinya. 

Yi Seul masih ada ditaman menerima telp dari ibunya, dengan kesal karena ibunya ingin supaya Ri Hwan melamarnya hanya dalam 30 menit setelah pertemuan, lalu buru-buru menutup telpnya karena Ri Hwan sudah datang.
“Ternyata Kau punya “hammock”.” ucap Yi Seul yang melihat ayunan untuk dipantai dan diikat pada pohon kelapa
“Aku gunakan untuk tidur siang, tapi banyak yang suka.” jelas Ri Hwan
“Ah, sepertinya bagus, menyenangkan,nyaman.” komentar Yi Seul
Ri Hwan pun mengusulnya untuk mencobanya, Yi Seul menolak. Tapi Ri Hwan dengan baik hati akan memegang kainnya jadi bisa duduk, Yi Seul kembali menolak, Ri Hwan mengulangi komentar Yi Seul sebelumnya mengatakan “hammock”-nya  bagus, menyenangkan, dan nyaman, jadi akan memegang kainya dan Yi Seul tinggal duduk saja.
Yi Seu akhirnya menurut, tapi yang terjadi malah ia jungkir balik. Ri Hwan panik melihat kejadian yang diluar dugaan dan ingin membantu. Yi Seul menjerit karena mengunaka rok, Ri Hwan langsung membalikan badan dan menutup wajahnya. Yi Seul buru-buru duduk dengan merapihkan roknya. 

Ri Hwan datang membawa tissue basah sambil meminta maaf karena tak tahu bakal seperti ini kejadianya. Yi Seul mengatakan ia baik-baik saja, Ri Hwan pun memeriksa bagian lengan ternyata tak ada yang luka.
Yi Seul seperti terkesima dengan kebaikan Ri Hwan yang begitu perhatian, Ri Hwan mulai membersihkan tangan Yi Seul dengan tissue basah, lau kebagian sepatu flat shoesnya sambil memuji sepatu yang digunakanya itu cantik. Ri Hwan berdiri lalu bertanya apakah Yi Seul mau mencoba lagi. Yi Seul mendongakan kepalanya melihat Ri Hwan yang berdiri didepanya. 



Haeng Ah membawakan dua gelas kopi untuk temanya. Tae Hee berkomentar selama 13 tahun tak pernah melihat temanya itu bisa secepat itu. Haeng Ah mencoba tak membahasnya dengan memberikan kopi tanpa gula untuk Tae Hee. Tapi Tae Hee mengejek temanya itu ingin menjadi “Candy” yang sendirian, tersenyum meski kesepian dan sedih, dan mengeluh hampir saja jatuh.
“Kenapa? Lari itu menyenangkan, dengan Lari-lari dan dapat sinar mataharim maka tidur nyenyak, tak punya lingkar mata. Jadi tak membuat orang lain khawatir.” kata Haeng Ah membela diri
“Tak ada bedanya dengan orang gila. Bahkan Kau tak pakai tabir surya, wajahmu jadi keriput.Dengan wajah seperti itu kau merayu banyak pria.” sindir Tae Hee lalu meminum kopinya,
Haeng Ah tiba-tiba sudah berlari padahal Tae Hee binggung karena kopi miliknya itu sangat manis. Tae Hee hanya melihat Suk Joon yang sudah mengikuti Haeng Ah berlari menghindarinya. 
Dong il tiba-tiba saja datang yang melihat Haeng Ah pergi ke pintu darurat dan Suk Joon mengikutinya lalu mengaku tak tahu apapun. Tae Hee yakin Dong il tahu karena Suk Joon mengaku kalau mereka berteman dan juga adik kelasnya. Dong Il tak mengakuinya dengan alasan ada banyak lulusan kampus Seoul di perusahaan dan Suk Joon itu hanya atasanya.
“Kau menjodohkan mereka, kan?” ucap Tae Hee to the point
“Bukan....  Mereka bertemu di kantor pemasaran aparteman. Waktu aku ke sauna dengan Suk Joon, aku lihat ada tatoo di punggungnya. Waktu aku lihat, ternyata itu tulisan nama Haeng Ah pakai spidol.” cerita Dong il keceplosan lalu mengeluh Tae Hee yang bisa mengetahui semuanya.
Tae Hee lalu menduga Dong il itu sudah tahu sejak lama, Dong il mengaku baru mengetahuinya baru-baru ini, tapi dengan tatapan Tae He, ia mengeluh Te Hee tak takut sama sekali denganya, kalau dulu itu adalah ninja. Tae Hee hanya menatapnya membuat Dong il itu pergi sambil membawa kopi milik Haeng Ah. 

Haeng Ah buru-buru berlari menaiki tangga darurat, lalu tak sengaja sepatunya terlepas dan hampir saja terjatuh. Ketika membalikan badanya, Suk Joon sudah ada dibawah dengan sepatu yang ada di samping kakinya.
Suk Joon menatap Haeng Ah dengan tatapan dingin, Haeng Ah pun melangkah turun untuk mengambil sepatunya. Ketika akan mengambilnya, Suk Joon sudah lebih dulu mengambilnya lalu menaruh tangan Haeng Ah dikepalanya lalu memasangka sepatunya, Haeng Ah terlihat sedikit gugup, menerima sikap baik mantan pacarnya. 

Keduanya masuk kedalam lift bersama, salah seorang masuk ke dalam. Haeng Ah ingin menekan tombol lift, Suk Joon menarik lengannya untuk mundur. Lalu pria itu turun di lantai lima.
Flash back
Seorang turun dari lift dan Haeng Ah juga ikut turun sambil melambaikan tanganya, Suk Joon menariknya untuk masuk lagi ke lift. Haeng Ah memberitahu apartement dilantai itu. Suk Joon tahu dan langsung menekan semua tombol lantai.
Haeng Ah memberitahu ada cctv yang merekamnya, Suk Joon memberitahu akan ada titik buta dan mendorong ke sisi kanan. Haeng Ah takut kalau pengawas CCTV yang melihat. Suk Joon seperti tak peduli dan langsung menciumnya dan menekan tombol untuk menutup pintu lift.
Mengingat kejadian itu, Haeng Ah hanya bisa mengigit bibirnya melirik CCTV yang ada diatasnya. Suasana tersana dingin, padahal ada dua orang didalam lift. 

Di rooftop
Suk Joon tahu Haeng Ah ingin berbicara, Haeng Ah mengatakan itu dulu. Suk Joon menanyakan alasan Haeng Ah yang bersikap seperti itu. Haeng Ah bergumam semua dilakuka karena Suk Joon itu tak tahu. Suk Joon pikir Haeng Ah ingin diam saja.
Haeng Ah bergumam sengaja melakukan itu agar Suk Joon tahu rasanya frustasi. Suk Joon bertanya apakah Haeng Ah ingin terus menghindarinya. Haeng Ah kembali bergumam sekarng Suk Joon merasakan frustasi. Suk Joon langsung mengajak Haeng Ah pergi.
“Kau mau pergi begitu saja?” keluh Haeng Ah kesa, Suk Joon menyuruh Haeng Ah bicara sekarang  
“Kenapa aku harus bicara? Apa Kau tak ingin bicara sesuatu? Kau senang dengan situasi saat ini? Lalu kenapa mengikutiku kesini? Kau sedang menyelidikiku? Kau ingin tahu kenapa wanita ini ingin putus denganmu? Karena aku diam, kau menyelidikiku, benarkan? Aku cuma wanita biasa bagimu, kan?” keluh Haeng Ah mengeluarkan semua unek-uneknya, Suk Joon hanya menatapnya dengan dingin.

“Aku tak pernah bilang ingin jadi nomor satu bagimu, karena tau kau sibuk. ,,Aku tahu kau waktumu terbagi untuk banyak orang. Tapi aku tak pernah diurutan 5 atau 10, Aku selalu diurutan terakhir.Apapun itu selalu lebih penting dariku. Bisa-bisanya kau bilang "ayo pergi" dalam situasi seperti ini? Aku pasti bukan apa-apa bagimu. Kau pasti tak membutuhkanku” tegas Haeng Ah kesal
“Aku tak pernah berkata begitu.” ucap Suk Joon membela diri
Haeng Ah merasa Suk Joon itu selalu seperti itu dan ia yang terlalu bodoh untuk mengerti. Seharunya sudah tahu setiap Suk Joon mengatakan tak memiliki waktu, mengartikan kalau begitu tak menyukainya. Bahkan saat Suk Joon meninggalkan saat sakit, bukan tak tahu tapi hanya tak mau.
“Harusnya aku tahu saat kau bilang, kau tak bisa mengatakan "aku mencintaimu." Bukan karena kau malu, tapi karena kau tak ingin bohong. Sedetik pun kau tak pernah menyukaiku. Aku merasa tak penting dan tak tahan lagi. Selama ini Aku selalu menunggu telponmu seperti orang gila dan berencana mencampakkanmu sebelum kau campakkan.” ucap Haeng Ah menahan tangisnya.
“Bagimu, aku ini...” ucap Suk Joon, Haeng Ah menengok dan langsung terdiam.
Haeng Ah sudah duduk didalam ruang siaran, lama kelamaan matanya berkaca-kaca lalu berusaha untuk menghapus air matanya  dan memasang earphonenya, sepertinya tak konsetrasi akhirnya memilih untuk keluar dari ruang siaran. 
bersambung ke part 2 

sumber:http://korean-drama-addicted.blogspot.com/

Sinopsis Bubblegum Episode 2 Part 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top