Friday, October 23, 2015

Sinopsis She Was Pretty Episode 11 Part 2

Shin Hyuk baru saja mewawancarai seorang sutradara dengan respon dan preview sangat bagus, menurutnya akan sangat sukses. Sutradara mengeluh sedikit kecewa. Shin Hyuk pikir melakukan kesalahan, Sutradara heran Shin Hyuk menjadi membosankan sekali, Shin Hyuk binggung
“Kau jadi membosankan !!! Aku tidak wawancara dengan orang lain  dan melakukannya denganmu karena kau orangnya menyenangkan. Saat melihatmu, rasanya seperti melihat diriku Dan saat melihat diriku, rasanya aku melihatmu. Tapi wawancara hari ini sangat tidak asik.” keluh si sutradara
“Ah... Sungguh ? Bagaimana yah ? Kalau begitu, kita mulai sekarang?” kata Shin Hyuk lalu mengoyangkan tubuhnya sambil meliuk-liuk, si sutradara pun ikut senang karena melihat Shin Hyuk yang dikenalnya, mengikuti dengan gerakan temanya. Shik Hyuk berjanji akan tulis artikel yang sangat menarik dan meminta tak perlu khawatir. 

Shin Hyuk berjalan di jalan setapak, dengan ilalang disekelilingnya. Saat berada diatas melihat pemandangan, ia berbicara dengan bahasa inggris yang fasih di telp akan pergi ke tempat itu dan mengatakan sangat merindukan orang yang menelpnya, dan meminta untuk menghubunginya lagi.
“Mungkin sudah waktunya aku pergi.” ucap Shin Hyuk sambil menghela nafas panjang. 

Ha Ri baru saja keluar rumah menghampiri seorang pria yang sudah menunggunya, Hye Jin yang baru pulang bertanya siapa pria itu. Ha Ri memanggil nama pria itu Kim Jae Hoon dan meminta untuk menunggu dimobil karena ingin berbicara dengan temanya. Pria itu memberitahu namanya  Park Jae Hoon.  lalu pergi menuju mobilnya.
“Kenapa keluar dengan laki-laki yang namanya saja kau tidak tahu ?” tanya Hye Jin heran
“Kenapa kaget sekali ? Kau kan bukannya baru mengenalku” komentar Ha Ri
Hye Jin mengajak Ha Ri masuk untuk bicara, Ha Ri menolak karena ingin berbicara di depan saja dan ingin pergi dengan pria itu. Hye Jin menariknya agar Ha Ri masuk bersamanya. 

Ha Ri kesal dengan Hye Jin yang menariknya, Hye Jin berteriak kesal menurutnya kalau memang Ha Ri marah yang bilang marah, kalau keberatan yang bilang dan jangan seolah-oleh semuanya baik-baik saja. Ha Ri heran melihat Hye Jin yang berteriak padanya, menurutnya mana mungkin bisa ia marah pada temanya.
“Kau menangis.... Aku melihatmu, Kau menangis keras kemarin.  Itu kau , bukan ? Ha Ri.,,  Mau berapa lama kau bersikap begini ? Berapa lama kau akan bersikap seolah semuanya baik ? Jangan sendirian.” ucap Hye Jin
“Orang yang bersikap seolah semuanya baik ... bukankah kau ? Harusnya kau berteriak "Apa kau temanku ?,Teganya begitu padaku? Kau paling parah!! Kau membuatku jijik, aku tidak mau melihatmu lagi.”Harusnya kau marah padaku !!!” teriak Ha Ri

“Benar!!!! Aku marah!!!! Sangat Marah!!! Tapi ... !!! Bukan karena Sung Joon. Aku kira kau bisa mengatakannya padaku. Aku yang memintamu melakukan itu dari awal dan yang bertanggung jawab atas masalah ini, tapi yang bikin aku marah adalah ... sikapmu saat ini. Jangan menghindariku terus. Beri aku alasan setidaknya. Mau berapa lama kau menghindar seperti anak kecil ?” teriak Hye Jin meluapkan semua isi hatinya.
Ha Ri dengan mata berkaca-kaca mengaku hanya sikap seperti ini yang bisa dilakukanya, Ha Ri tak percaya temanya bisa seperti itu. Ha Ri mengeluh sangat lelah jadi lebih baik hentikan semuanya dan akan pergi, air matanya mengalir. Hye Jin memutuskan dirinya yang akan pergi karena menumpang dirumahnya, lalu masuk ke dalam kamar membereskan pakaian kedalam tas, terlihat bayangan Ha Ri lalu mengumpat “dasar Gadis jahat.” 

Hye Jin pulang kerumah berteriak memanggil ayahnya, sang Ayah yang sedang membaca koran kaget melihat anaknya yang tiba-tiba pulang kerumah. Hye Jin mengaku hanya ingin menginap semalam saja, padahal membawa dua tas berisi pakaian.
Ayahnya menanyakan tentang Ha Ri, Hye Jin mengeluh tak tahu dengan wajah kesal. Ibunya datang heran melihat anaknya yang datang, sang suami menjelaskan Hye Jin yang ingin menginap, ibunya bertanya juga bagaimana dengan Ha Ri. Hye Jin dengan kesal mengatakan tak tahu lau meninggalkan keduanya.
Hye Rin sedang mengunakan alat untuk wajahnya, ikut kaget melihat kakaknya yang tiba-tiba datang dimalam hari. Hye Jin menaruh tasnya mengatakan ingin menginap semalam. Hye Rin dengan penuh semangat menanyakan Ha Ri, karena berpikir akan ikut.
 “Ugh ! Kenapa semuanya tanya "Ha Ri, Ha Ri ! Kalau cemas soal dia, tanya saja sendiri !” teriak Hye Jin kesal dan akan keluar untuk mencari udara segar
“Semakin hari sifatnya semakin aneh.... Dan Kau  Kim Hye Rin.  Jangan pernah jadi seperti dia.” ucap Hye Rin memperingati dirinya sambil mengunakan kembali alat pemijat wajahnya. 

Sung Joon kembali keruangan melihat bawang bombay di meja Hye Jin di putar dengan wajh sedih bukan wajah senyum seperti biasanya. Lalu mengingat ucapan sebelumnya diatas kapal di sungai Han.
“Jangan menyesal Dan jangan melihat kebelakang. Mulai sekarang, lihat kemasa depan.”
Ia akhirnya mengeluarkan ponselnya nama Hye Jin berganti “Payungku” dengan cepat mengajak bertemu dan akan menunggu didepan rumahnya. Terdengar teriakan Hye Rin yang mengenal suara Sung Joon. 

Sung Joon sudah duduk bersama dengan orang tua Hye Jin yang melihat anak tetanganya itu sudah berubah. Hye Jin yang baru pulang mencari udara segar melonggo melihat Sung Joon yang sudah duduk bersama keluarganya. Sung Joon tersenyum melihat Hye Jin yang baru pulang.
Ibunya tak percaya melihat Sung Joon itu adalah tetangga dulu yang gemuk tinggal disebelah rumahnya. Sung Joon mengakui memang sangat banyak berubah, lalu bertanya pada keduanya apakah sehat-sehat. Ayah Hye Jin mengaku sangat sehat tapi pasti tak akan mengenalinya kalau berpapasan. Hye Jin masih melonggo melihat Sung Joon yang ada dirumahnya
“Oppa telepon dan kuberi ijin, Katanya dia mau ketemu denganmu.” ucap Hye Rin, Hye Jin kaget karena adiknya sudah memanggil Sung Joon dengan panggilan “Oppa” dan langsung ikut duduk
“Tapi Oppa ... Apa dulu kau benaran gendut waktu kecil ?” tanya Hye Rin penasaran
“Ya. Benar. Dulu, aku makan banyak sekali makanan buatan ibumu. Singkatnya dulu aku tinggal dirumahmu.” cerita Sung Joon bangga.

Ibu Hye Jin membenarkan saat ayah Sung Joon perjalanan bisnis maka ia menginap dirumah mereka. Ayah Hye Jin blak-blakan bertanya apakah Sung Joon sudah punya pacar, Hye Jin menjerit untuk apa ayahnya menanyakan itu, karena ia dan Sung Joon tidak punya hubungan apapun. Sung Joon mengaku tidak memiliki tapi mungkin ada perkembangan. Ayah senang, lalu meminta istrinya membuka minuman alkohol yang sudah bisa dibuka. 
Hye Jin memberitahu ibunya kalau Sung Joon itu tak kuat minum, tapi Sung Joo dengan penuh keyakinan ingin sekali mencoba minuman itu. Ayah Hye Jin yakin Sung Joon pasti menyukainya, lalu menuangkan dalam toples dan meminta untuk meminum segelas dengan panggilan “Menantu Ji.” Hye Jin menjerit ayahnya memanggil Sung Joon dengan panggilan itu.
Sung Joon menerimanya, lalu bersulang dengan ayahnya. Hye Jin mengeluh karena Sung Joon minum satu teguk saja tak bisa. Sung Joon berkomentar minumannya sangat enak dan sangat beraroma. Hye Rin pikir pasti enak karena  didunia ini pasti orang minum alkohol, tiba-tiba Sung Joon langsung jatuh pingsan. Semua kaget, kecuali Hye Jin karena sudah tahu pasti akan seperti itu. 


Ha Ri baru pulang dengan berjalan lunglai, seorang wanita memanggilnya. Ha Ri melihat seorang wanita tua yang menanyakan keadaanya apakah ia sehat, dengan mata berkaca-kaca memilih untuk pergi meninggalkanya.
“Kau tidak rindu ... ibu ? Tinggalah denganku Ha Ri. Tolong tinggalah denganku.”ucap ibu Ha Ri dengan mata menahan tangis, Ha Ri mencoba menahan air matanya agar tak jatuh, tapi akhirnya air matanya tumpah lalu membalikan badanya menatap sang ibu. 

Hye Jin gelisah yang tidur sekamar dengan adiknya, sementara ayah dan ibunya sedang menatap Sung Joon yang tertidur lelap setelah minum segelas alkohol. Ibu Hye Jin melihat Sung Joon yang sudah tumbuh dengan baik dan tak percaya anak yang dulu gemuk bisa jadi seperti pria yang jantan, dengan  Alisnya tebal dan rahangnya kokoh.
Ayah Hye Jin yakin Sung Joon itu  punya rasa pada Hye Jin. Ibu Hye Jin juga yakin karena tak mungki Sung Joon akan datang kerumah mereka. Hye Jin baru keluar dari kamar menjerit melihat kedua orang tuanya berjongkok menatap Sung Joon, lalu menyuruh untuk cepat masuk kamar.
Sang Ayah malah mengoda Hye Jin untuk bersenang-senang lalu masuk ke dalam kamar bersama istrinya. Hye Jin akhirnya ikut juga menatap Sung Joon yang benar-benar terlihat tampan saat tertidur, Sung Joon masih terlelap tidur setelah minum alkohol. 

Sung Joon tiba-tiba membuka matanya, Hye Jin langsung terdiam dengan wajah gugup. Setelah melirik kesana kemari, Sung Joon langsung duduk dengan tegap binggung kenapa ia ada ditempat itu, lalu teringat terakhir kali minum alkohol dan pasti tak sadarkan diri.
“Apa kau baik-baik saja ?” tanya Hye Jin.
“Tidak. Karena kau, aku tidak baik-baik saja. Kita bicara diluar, Ada yang ingin kukatakan.” tegas Sung Joon to the poin keluar dari selimutnya. Hye Jin menatapnya dengan wajah sedih. 

Keduanya duduk ditaman dengan berjauhan, Sung Joon menanyakan apakah Hye Jin tetap tak ingin menjelaskanya, menurutnya apabila Hye Jin tidak memberitahu, maka ia akan terus seperti orang bodoh.
“Awalnya aku kira karena Reporter Kim tapi ternyata bukan. Aku yakin ini karena perasaanmu. NAku tidak mau begitu Menjadi bodoh dan salah mengerti Hye Jin” ucap Hye Jin
“Sung Joon. Aku rasa ...menjadi cinta pertamamu itu cukup. Kau tahu bagaimana cinta pertama. Hal yang tidak istimewa menjadi istimewa, lebih cerah dan manis dalam ingatan Tapi, itu saat kita kecil. Sekarang ...” ucap Hye Jin yang langsung disela oleh Sung Joon.
“Dulu, kau menggantikan posisi ibuku yang tidak bersamaku dan ...kau satu-satunya teman istimewaku. Itu sebabnya ini jauh lebih spesial. Tapi, itu semua tidak ada artinya sekarang. Kau adalah orang yang aku sukai saat ini.” tegas Sung Joon, Hye Jin menatap Sung Joon tak percaya
“Meskipun jika kau bukan Kim Hye Jin yang aku kenal, meskipun kita bertemu sebagai orang asing, aku akan tetap tertarik padamu dan  hatiku akan berdebar sekali lagi karenamu, sekali lagi aku akan menyukaimu. Hye Jin Kenapa kau seperti ini, Apa kau sungguh tidak mau memberitahu?” tanya Sung Joon benar-benar penasaran
Hye Jin terdiam sejenak, sambil menarik nafas mengakui bahwa Ha Ri sangat menyukai Sung Joon, lalu menceritakan saat menderita sendirian dengan bertemu dengannya dengan berpura-pura menjadi dirinya, Ha Ri mejadi suka padanya. Ia sudah menganggap Ha Ri lebih dari seorang teman, layaknya keluarga seperti juga Sung Joon.
“Tapi jika sekarang aku datang padamu, maka Ha Ri akan terluka dan aku akan merasa sedih. Aku tidak bisa pura-pura tidak tahu pada perasaan Ha Ri dan tidak ingin begitu dan menyakitinya.” jelas Hye Jin,

Sung Joon terdiam lalu berdiri didepan Hye Jin, tapi Hye Ji malah tertunduk tak ingin menatapnya. Sung Joon meminta agar Hye Jin menatapnya, Hye Jin tetap tertunduk, Sung Joon berjongkok didepan Hye Jin meminta agar menatapnya. Akhirnya Hye Jin memberanikan diri menatap Sung Joon.
“Orang yang aku suka ... adalah kau. Dari dulu tetap kau, meskipun aku tidak tahu kau siapa, tetap kau. Saat ini kau, dan di masa depan tetap kau. Aku tidak ingin memaksamu dan  tidak ingin apapun darimu. Tapi.... tolong jangan lari. Jangan lakukan itu padaku.” pinta Sung Joon
Hye Jin seperti masih tak percaya dengan ucapan Sung Joon yang mengakui perasannya dan tak ingin memaksa. Sung Joon mengoda Hye Jin dengan mengelusnya dan memanggilnya “Kim Hye Jin-ku” memuji orang yang dulu sangat baik, dan semakin baik walaupun mereka sudah berpisah. Ia tersenyum karena merasa senang Hye Jin yang tak berubah. Hye Jin tertunduk dengan senyuman. 

Hye Jin berjalan masuk ke dalam gedung, Sung Joon tiba-tiba berlari menahan pintu berputar dan memegang pundak Hye Jin agar tak jauh, lalu meminta maaf karena pintu putar itu berhenti. Hye Jin pun baru menyadarinya, Sung Joon dengan senyumanya menyapa “selamat pagi”
Hye Jin membalasnya tanpa ada rasa gugup, Sung Joon pikir kalau pintu itu berhenti beberapa saat akan berjalan kembali. Hye Jin berusaha mengoyangkan kakinya dan pintu itu kembali berputar. Sung Joon dengan senyuman bahagia mengajak Hye Jin masuk bersama. 

Ah Reum benar-benar kaget saat menerima telp, lalu memberitahu baru saja berbicara dengan temanya yang kerja di New Look kalau Shin Hyuk akan pindah kesana. Semua menjerit kaget tak percaya karena Shin Hyuk akan pindah ke majalah saingan mereka.
Sung Joon baru menuruni tangga mendengar pembicaraan semua timnya yang membicarakan tentang Shin Hyuk akan pindah ke New Look. Joo Young tak akan percaya, karena menurutnya  Shin Hyuk itu pasti menolaknya apabila ada yang ingin merekrutnya dan selama ini belum pernah menerima siapapun.
Ah Reum yakin Shin Hyuk itu bertemu dengan orang dari New Look. Sun Mi tak percaya kali ini Shik Hyuk akan bernar-benar pergi. Hye Jin yang mendengarnya terlihat sedih karena mungkin Shin Hyuk menghindari dirinya.
Dia mau pindah perusahaan ? Kalau begitu, dia bukan anak dari Pemilik Grup Jin Sung ? Kalau begitu, apa Kim Poong Ho orangnya? Ah... Bukan... New Look tidak akan merekrutnya tanpa tahu kalau dia putra Presdir.” gumam Han Sul masih penasaran tapi akhirnya binggung sendiri. 

Sun Mi menjerit melihat Shin Hyuk yang baru datang, langsung berlari dan mendudukan Shin Hyuk dibangkunya. Semua menanyakan apakah benar Shin Hyuk akan pindah ke New Look semua yakin pasti itu mustahil. Hye Jin melihatnya, hanya mendengar dari tempat duduknya.
“Kenapa rumornya cepat sekali ?” keluh Shin Hyuk, Semua langsung tak percaya Shin Hyuk akan pindah dan meminta agar tak pindah.
“Eh, Shin Hyuk Edan!!! Hatimu sudah pergi,  pantasan belakangan ini perkataanmu selalu membosankan.” komentar Poong Ho
“Yahh.... Memang benar..... Apa kalian akan disini selamanya ?” tanya Shin Hyuk lalu meninggalkan ruangan. Semua tak percaya kalau Shin Hyuk itu akan pergi, Joo Young berpikir Shin Hyuk keluar karena dirinya. Sung Joon melihat dari ruanganya dengan wajah tegang, diam-diam Hye Jin mengikuti Shin Hyuk yang keluar ruangan. 

Hye Jin memanggil Shin Hyuk bertanya apakah benar seniornya itu akan pindah ke New Look. Shin Hyuk mengakui bukan pindah ke New Look, Hye Jin menghela nafas dengan mengucapkan syukur.
“Lalu, kalau tidak kesana, jadi kemana kau akan pergi?” tanya Hye Jin binggung
“Yah, belum tahu juga.” ucap Shin Hyuk lalu mencoba tersenyum dan kembali memberikan wajah dingin lalu meninggalkanya. Hye Jin hanya terdiam melihat Shin Hyuk pergi, seperti merasa itu karena dirinya. 

Joo Young masuk ke dalam ruangan dengan wajah tertekan ingin memberikan pengumuman. Semua langsung mendengarnya dengan wajah serius. Joo Young memberitahu edisi terbaru mereka membuat rekor dalam penjualan, yang baru didengar dari tim manajemen kalau pendapatan iklannya bertambah.
Semua menjerit bahagai dan tak percaya begitu juga Hye Jin yang mendengarnya, lalu bertanya apakah Most sekarang ada di peringkat pertama. Joo Young mengaku, yang pertama masih New Look. Hye Jin sedih mengetahui mereka masih di nomor dua.
Poong Ho pikir semua itu berkat Wapemred yang datang ke tempat mereka, lalu mengusulkan untuk merayakanya. Hye Jin melihat ruangan Sung Joon, terlihat cinta pertamanya itu mengelengkan kepala kebinggungan karena Most masih tetap kalah dibanding New Look.
Nyonya Kim keluar dari ruanganya menyapa dengan bahasa italianya, memberitahu akan ada perayaan tapi karena ada urusan tak bisa ikut, jadi ia melemparkan kartu kreditnya untuk mereka merayakanya dan melemparnya seperti pesawat terbang dari atas. Semua mengelu-ngelukan nama Nyonya Kim. Hye Jin menatap kembali ke ruangan Sung Joon, terlihat benar-benar uring-uringan sendiri karena belum bisa menaikan Most di peringkat satu.
“Kalau begitu, edisi selanjutnya, harus lebih baik dari sekarang” ucap Nyonya Kim kembali keruanganya.
“Ucapanya Yang tadi membuatku merinding ? Perkataan PemRed ... terdengar mirip dengan Wakil PemRed ya ?” komentar Ah Reum
“Aku tahu. Pemimpin Redaksi belum pernah mengungkit soal ranking sebelumnya.” ucap Joo Young, Eun Young juga merasa Sung Joon sudah mengubah karakternya. 

Dua kotak perhiasan di perlihatkan ibu Ha Ri, Ibu Hye Jin yang melihat tak percaya semua perhiasan itu buatan temanya. Ibu Ha Ri tak ingin terlihat hebat, tapi perhiasanya itu memang lari di Jepang.
“Oh, Cha Hae Jung. Kau keren....” ungkap Ibu Hye Jin mencoba salah satu cincin ditanganya.
“Aku akan melajang lagi ... Karena aku tidak tahan jika tidak dicintai lelaki yang kucintai, Aku pergi seperti melarikan diri  tapi aku sudah memberi Ha Ri luka yang besar. Selama ini, aku tidak bisa kembali karena tidak percaya diri  makanya aku bekerja sangat keras agar bisa bertemu dengan Ha Ri. Aku sudah lebih kuat sekarang.” cerita Nyonya Cha pada temanya.
“Apa Sungguh ... kau akan membawa Ha Ri ?” tanya ibu Hye Jin
“Sekarangpun, aku ingin di dekatnya dan melakukan hal yang belum pernah kami lakukan. Tapi, dia tidak mau dengar aku. Ini Buruk sekali ‘kan ?” kata Nyonya Cha merasa menyesal. 

Ha Ri duduk diluar hotel sambil menghela nafas, menatap langit dengan tatapan sedih. Pesan masuk ke dalam ponselnya “Ibu akan pergi dalam beberapa hari. Sebelum aku pergi, maukah bertemu denganku ?” Ha Ri berpikir sejenak lalu akhirnya menelp sang ibu
“Penawarannya ... masih berlaku ?” tanya Ha Ri 

Hye Jin baru saja menyelesaikan artikel di laptopnya, ketika akan pulang melihat Sung Joon yang masih melihat berkas diatas meja. Sung Joon menyadari Hye Jin yang menatapnya dari luar, lalu dengan kode mengunakan tanganya mengajak Hye Jin untuk minum bersama di pantry. Hye Jin mengangguk setuju.
Sung Joon tersenyum menerima segelas teh yang diberikan Hye Jin padanya. Hye Jin tahu bulan ini peringat Most ada di nomor dua lagi, menurutnya daripada berkerja sendiri lebih baik memberitahu yang lain dan mencari solusi bersama. Sung Joo yakin para pegawai akan ketakutan dan beberapa akan berusaha pergi.

“Tetap saja ... kau kesulitan jika sendiri.” komentar Hye Jin
“Kalau kau memelukku mungkin aku lebih bertenaga. itu tidak mungkin ya ?.” kata Sung Joon mengoda dengan menopang dagunya.
Hye Jin terdiam mendengar permintaan temanya, Sung Joon memberitahu kalau ia hanya bercanda. Hye Jin pun tersenyum, Sung Joon menatap Hye Jin yang mulai meminum tehnya. 

Sung Joon mencari keyword nama Shin Hyuk pada website Jinsung Magazine, terlihat biodata yang jelas dari Cvnya, lalu buru-buru keluar ruangan. Di atas meja terlihat beberapa artikel dalam majalah Most yang ditulis oleh Shin Hyuk.
Ia pergi ke hotel, menanyakan pada bagian receptionist  Apa ada orang bernama Kim Shin Hyeok di kamar 2024. Receptionist meminta maaf karena mereka tidak diperbolehkan memberi informasi soal tamu. Sung Joon mengerti dan berjalan keluar dari hotel.
Shin Hyuk baru saja melihat mobil sport merahnya dibawakan oleh seorang valley, Sung Joon baru saja keluar dari hotel melihat Shin Hyuk yang akan masuk mobil dan langsung memanggilnya. 

Keduanya duduk dibar bersama, Sung Joon bertanya apa seperti itu kehidupan normal yang di jalani anak buahnya. Shin Hyuk pikir Sung Joon sudah melihatnya. Sung Joon bertanya alasan Shin Hyuk tinggal di hotel. Shin Hyuk merasa nyaman tinggal disana, karena diberi makan, bersih-bersih kamar dan mencuci.
“Katanya kau direkrut oleh New Look. Apa kau akan pergi ?” tanya Sung Joon
“Yah, bisa iya dan bisa tidak. Aku juga tidak tahu. Belakangan ini tidak lagi menyenangkan. Anggap saja ada banyak yang kupikirkan.” ungkap Shin Hyuk blak-blakan
“Aku tidak akan bertele-tele dan  datang untuk menahanmu. Bisakah kau tetap di dalam tim Most ?” pinta Sung Joon, Shin Hyuk pikir Sung Joon itu tak menyukainya.
“Itu benar secara pribadi. Ah... Bukan seperti itu, tadinya kau memang menggangguku.Tapi aku ... aku butuh keahlianmu.” ucap Sung Joon, Shin Hyuk mengeluh itu sebagai pujian atau kritikan baginya.
“Jika dalam edisi Ulang tahun ke 20 penjualan tidak mencapai target. Most akan ditutup.” akui Sung Joon.
Shin Hyuk tak mengerti kenapa Most akan ditutup, Sung Joon menegaskan bahwa itu sudah keputusan dari pusat jadi karena itu menahan Shin Hyuk untuk tak pergi, menurutnya kalau Shin Hyuk tak ada maka situasinya akan semakin sulit. Shin Hyuk malah bersiul, mengaku sangat mengejutkan sekali.
“Yah, jadi mau bagaimana? Masalahnya aku bukan orang yang tetap tinggal karena aku disuruh tetap tinggal.” kata Shin Hyuk ingin pergi.
“Edisi ulang tahun ke 20 adalah kesempatan terakhir kita. Sekali lagi ... bukan, ini terakhir kalinya. Tolong pertimbangkan.” pinta Sung Joon, keduanya saling menatap seperti saling mencari kepercayaan. 


Pagi Harinya
Joo Young baru datang melihat kursi Shin Hyuk yang masih kosong dengan begitu rekan kerjanya itu tak datang lagi. Han Sul memang belum melihat Shin Hyuk yang datang ke kantor. Sun Mi masih tak percaya kalau Shin Hyuk akan pergi meninggalkan Most.
Hye Jin melihat bangku Shin Hyuk yang tak berpenghuni, Ah Reum mengumpat menurutnya ini sangat keterlaluan, padahal Shin Hyuk sudah lama berkerja di Most. Eun Young tahu banyak sekali majalan yang ingin merekrut Shin Hyuk sebagai pegawai mereka
Poong Ho  berkomentar melihat anak seperti Shin Hyuk yang selalu seenaknya, tak akan mungkin bisa ada orang yang menahanya untuk tak pergi. Semua melihat Shin Hyuk yang sangat keterlaluan. Sung Joon menatap kursi Shin Hyuk yang masih kosong dengan begitu tawaranya ternyata tak didengar. 

Di rooftop
Hye Jin mencoba menelp Shin Hyuk tapi tak diangkat, lalu ponselnya berdering, ia langsung menanyakan kenapa Shin Hyuk tak masuk dan apakah ia benar-benar berhenti. Tapi di seberang telp balik bertanya, apakah itu benar telp milik Hye Jin.
Akhirnya Hye Jin melihat layar ponselnya, bukan Shin Hyuk yang menelpnya. Pria itu memberitahu kalau ia adalah pegawai hotel tempat Ha Ri berkerja, memberitahu Ha Ri yang tidak masuk dan berusaha mencarinya tapi tak diangkat.
Hye Jin duduk menelp Ha Ri dengan gigi di katup-katupkan bertanda, ia sedang sangat gelisah, tapi ponsel Ha Ri tak diangkat teringat kembali ucapan si pegawai hotel “Manajer Min mengajukan surat pengunduran diri dan atasan kami memintanya untuk mempertimbangkan.”
Akhirnya Hye Jin pulang kerumah melihat kamar Ha Ri yang sudah kosong, dengan lemari gantungnya yang sudah tak ada pakaian, merasa tak percaya hari saat temanya pergi itu tiba. Lalu menemukan note dengan empat poin disana, teringat terakhi kalinya Ha Ri berkata “Kita hentikan semua ini ...Aku akan ... pergi.”

Hye Jin keluar rumah, bertanya pada paman yang sedang menyiram tanaman apakah ia melihat Ha Ri. Paman itu pikir Ha Ri akan pergi berlibur karena pergi membawa banyak barang.
Ia berlari ke tepi jalan menyetop taksi dan pergi dengan wajah gelisah dan mencoba membuka jendela agar bisa bernafas. Sesampainya di airport, Hye Jin mencoba mencari Ha Ri kesana kemarin.

Flash Back
Ha Ri dengan sekuat tenaga mendorong Hye Jin yang ada di dalam trolly, dengan jalan menanjak. Hye Jin dengan luka dibagian kakinya meminta agar Ha Ri menelp ibunya saja dan meninggalkanya. Ha Ri menolak karena tak ingin pergi meninggalkanya, lalu mendorong Hye Jin kembali walaupun kelelahan.
Hye Jin benar-benar binggung kalau ternyata Ha Ri benar-benar pergi sekarang.
“Min Ha Ri, kenapa pergi seperti ini ? Kalau kau pergi ... kalau kau meninggalkan aku begini ... Aku harus bagaimana, Ha Ri ?” jerit Hye Ji sambil menangis dan berjongkok dibandara.
“Ha Ri meninggalkan aku.”

bersambung ke episode 12 

Sinopsis She Was Pretty Episode 11 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top