Thursday, October 29, 2015

Sinopsis She Was Pretty Episode 12 Part 1

Hye Jin berlari masuk ke bandara, kalimat dari ibunya teringat kalau ibu HaRi sengaja datang ke Korea untuk mengajak anaknya pergi. Lalu pegawai hotel juga memberitahu kalau Ha Ri langsung pergi setelah menyerahkan surat pengunduran diri.
Dengan nafas terengah-engah, Hye Jin binggung apa yang harus dilakukannya sekarang, karena Ha Ri ternyata benar-benar pergi meninggalkanya.
“Min Ha Ri, teganya kau meninggalkanku? kalau kau pergi seperti ini, aku harus bagaimana ?” ucap Hye Jin sambi berjongkok dan menangis. 

Hye Jin duduk dengan tertunduk sedih menatap note yang di tinggalkan temanya, Ha Ri lewat melihat Hye Jin lalu memanggilnya dengan wajah heran, melihat temanya yang ada di bandara. Hye Jin yang melihat Ha Ri langsung memeluknya, mengucap syukur karena ternyata temanya belum pergi. Ha Ri binggung karena Hye Jin tiba-tiba memeluknya dan berpikir dirinya akan pergi.
“Bagaimana kau bisa disini?” tanya Ha Ri binggung
“Hei, bisa-bisanya kau pergi diam-diam seperti ini !!! Mau pergi kemana kau tanpaku? Jangan pergi, Ha Ri!” ucap Hye Jin dengan suara nyaring sambil menangis. Ha Ri melirik kesana kemari terlihat agak malu dilihat orang-orang.
“Apa maksudmu? Memang aku mau kemana?” komentar Ha Ri
“Kau mau ke Jepang dengan ibumu, kan?” kata Hye Jin

“Tidak.Ibu berangkat hari ini, aku cuma mengantarnya.” jelas Ha Ri, Hye Jin terlihat tak percaya kalau Ha Ri tak ikut pergi dengan ibunya ke jepang.
“Hei, setelah melakukan semua ini padamu, memangnya aku mau kemana? Kau jauh-jauh kemari karena kau pikir aku pergi tanpa bilang padamu?” tanya Ha Ri sambi menghapus ari mata Hye Jin.
Hye jin mengangguk, lalu ia  masih belum yakin temanya itu tak akan pergi. Ha Ri menegaskan tak akan pergi. Hye Jin kembali menangis bahagia mengucap syukur, karena berpikir temanya pergi tanpa pamit. Ha Ri menghapus air mata Hye Jin memintanya untuk berhenti karena nanti wajahnya bisa bengkak, lalu berpelukan erat.
“Aku akan menempel padamu, selama sisa hidupku dan akan selalu minta maaf padamu. Jangan menangis.” ucap Ha Ri sambil menghapus air mata temanya. Hye Jin mengangguk dengan senyuman lalu kembali berpelukan.

Di rumah
Hye Jin menanyakan tentang ibu Ha Ri, apakah mereka sudah berbaikan. Ha Ri mengangguk, menceritakan merek berdua sudah saling berbicara dan menghabiskan waktu bersama.
“Aku tak pernah mengerti kenapa dia pergi, meninggalkanku, tapi sekarang, sepertinya aku sedikit mengerti. Bukan sebagai anaknya, tapi sebagai wanita.” cerita Ha Ri
“Syukurlah. Tapi Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau mengundurkan diri dan mematikan HP? Lalu Kau apakan semua baju dan sepatumu?” tanya Hye Jin.

Flash Back
Ha Ri mengunting semua kartu kreditnye, mengaku selama ini melakukan hal yang bodoh karena dirinya yang masih memiliki sifat kekanakan.
“Aku dapat pekerjaan karena ayah, lalu aku beli semua hal pakai kartu ayah. dan terus mengeluh atas apa yang kudapat. Aku keluar dengan pria yang entah aku peduli atau tidak.” cerita Ha Ri
Ia juga menjual semua barang-barang yang dibeli dari uang ayahhnya, mulai dari tas, sepatu sampai baju dan menuliskan surat pengunduran dirinya karena pekerjaa di hotel karena koneksi ayahnya.
-Flash Back End-
“Saat melakukan hal itu, Aku semakin serakah. pada halyang tak boleh kumiliki. Ketiak aku melihatmu, rasanya aku mau menangis. Aku kabur karena tak punya keberanian untuk bersikap dan bicara denganmu. Seperti anak kecil. Aku tak bisa mengatakan apa yang harus kukatakan. Aku sungguh minta maaf, Hye Jin “ akui Ha Ri jujur.
“Bisa-bisanya aku melakukan hal seperti ini padamu?” komentar Hye Jin dengan senyuman, Ha Ri kembali meminta maaf. 


Sung Joon tertidur di sofa dengan berkas yang ada di pangkuannya, lalu terbangun dengan wajah kaget seperti baru menyadari sesuatu. Kepalanya langsung pusing mengingat semua perkataan dari Petinggi Most di Amerika.
“Jarak kita memang semakin dekat, tapi kita masih nomor dua. Kami hanya peduli hasil! Tidak ada gunanya kalau tidak nomor satu! Jangan lupa. Jika kali ini tak berhasil, MOST Korea akan lenyap selamanya. Semua ini tergantung padamu!”
Sung Joon menatap tabnya dimana tabnya masih terlihat grafik Most yang naik tapi belum bisa mengeser New Look di nomor satu. 

Hye Jin minum bir bersama menanyakan apa rencana  Ha Ri selanjutnya. Ha Ri pikir akan istirahat dan memikirkan yang bisa di kerjakan sendirian. Hye Jin pikir hotel tempat kerjanya itu masih menginginkanya. Ha Ri menegaskan tak akan kembali ke tempat itu lagi.
“Mulai saat ini, akan kulakukan semua sendiri. Semua!!!” tegas Ha Ri, lalu ponsel Hye Jin bergetar,
Pesan dari Sung Joon masuk. “Aku didekat rumahmu. Bisa keluar sebentar?” Ha Ri memilih untuk mandi saja sekarang. Hye Jin pun beralasan akan pergi ke minimarket. Ha Ri menawarkan diri untuk menemaninya.
Hye Jin dengan cepat menolaknya, menyuruhnya untuk mandi saja karena hanya sebentar. Ha Ri mengerti lalu memilih untuk mandi walaupun dari wajahnya terlihat curiga dengan sikap temanya. 

Hye Jin menghampiri Sung Joon dengan senyuman, bertanya kenapa temannya itu datang malam-malam dan berpikir baru pulang kerja. Sung Joon tiba-tiba menyuruhnya diam dan memberikan waktu Sepuluh detik saja. Hye Jin binggung karena Sung Joon terdiam sambil menatapnya dan menghitung mundur dari tiga sampai satu, setelah itu pamit pergi. Hye Jin makin binggung dengan sikap Sung Joon.
“Aku kemari untuk melihatmu. Dengan melihatmu aku bisa dapat energi.” akui Sung Joon
“Apa Kau baik-baik saja? Kau... kelihatan lelah. Apa kau memaksakan diri supaya bisa jadi yang pertama?” tanya Hye Jin khwatir melihat wajah Sung Joon yang lesu.
“Bukan hanya itu yang aku pikirkan. Saat aku diberi tugas ini, bukan hanya untuk mempertahankan MOST, 0,,tapi juga diberi tanggung jawab untuk semua anggota tim. Meski MOST ditutup, pasti akan ada yang baik-baik saja. ,,Tapi juga akan ada yang terpengaruh. yang kurang pengalaman dan kemampuan. Bukan hanya sekedar berhasil atau tidak, tapi juga masalah tanggung jawab. Jadi aku harus serius.” jelas Sung Joon
Hye Jin tahu itu teta saja sulit melakukannya sendiri. Sung Joon pikir kalau memang itu sulit lebih baik Hye Jin memeluknya sekarang, karena itu sangat membantu. Hye Jin hanya bisa menatap sedih karena tak bisa melakukanya. Sung Joon sadar sudah bicara omong kosong, lalu pamit pergi dan berpesan supaya tidur dengan nyenyak. Hye Jin menatap Sung Joon pergi dengan tatapan sedih. 

Sung Joon pulang kerumah dikagetkan dengan sapaan Shin Hyuk yang tiba-tiba ada di belakang, dengan bertelanjang dada. Dengan mimik binggung dan kaget, melihat Shin Hyuk yang bertelajang dada, hanya mengunakan handuk, ada di rumahnya lagi.
Shin Hyuk mengatakan baru saja mandi karena tubuhnya pegal dan air shower berterkanan dirumah Sung Joon itu sangat enak. Seorang kurir berteriak mengantar kiriman. Sung Joon merasa tak memesan apapun, Shin Hyuk mengatakan ia yang memesan karena lapar dan belum makan.
Ia berjalan ingin mengambil makanan, tapi handuknya terlepas. Sung Joon melonggo dan Shin Hyuk membalikkan badanya. Sung Joon menjerit dan langsung menutup matanya, Shin Hyuk dengan wajah datar menanyakan keadaan atasannya dan yakin pasti sangat kaget melihatnya.
Sung Joon dengan menutup matanya menyuruh Shin Hyuk cepat memakai kembali handuknya dan pergi. Shin Hyuk meminta maaf lalu tersenyum jahil karena bisa mengejari Sung Joon kembali, lalu memakai kembali handuknya.

Shin Hyuk memberikan sebuah berkas dengan ide yang pikirkanya saat mereka bahas dalam rapat. Dengan bangga menceritakan sudah dua hari diam didalam rumah untuk mencari ide dan banyak yang muncul, maka dari itu selama ini tak suka dengan aturan, lalu memuji dirinya sendiri itu jenius.
“Apa ini artinya kau akan kembali?” ucap Sung Joon melihat berkas yang dibawa Sung Joon.
“Berhubung wapimred sangat membutuhkanku, aku putuskan untuk tetap tinggal.” kata Shin Hyuk tersenyum manis.
Sung Joon melihat berkas yang dibawah Shin Hyuk, dihalaman pertama Bahan ini belum selesai,lalu halaman berikutnya, artikel seudah selesai, bahkan sudah mendengar tiga bulan NEW LOOK mencari bahan artikel yang dibawa Shin Hyuk.
Shin Hyuk melonggo mendengar komentar atasannya, Sung Joon melihat artikel kafe budaya, menurutnya jangan hanya fokus pada fenomena di Korea, tapi bandingkan juga dengan kafe budaya di Eropa supaya lebih menarik dan juga mengambil referensi dari filmnya Woody Allen, Midnight in Paris.Shin Hyuk mengerutkan dahinya, mengaku sudah mengetahui tentang itu.

“Ini harus dikerjakan Editor Kim Poong Ho. Beda dengan penampakannya, dia sangat teliti dalam membandingkan sesuatu. Sementara Lalu yang ini, artikel editor Cha Joo Young edisi 8 tahun lalu kau akan membantu.” jelas Shin Hyuk melihat lembaran berikutnya.
“kau ini sebenarnya siapa? Kenapa bisa tahu semua hal?” ucap Shin Hyuk heran
“Lalu Kenapa hatimu tiba-tiba berubah? Kau bilang aku tak boleh bergantung padamu.” ucap Sung Joon.
“Entahlah. Aku sendiri heran, tapi yang pasti akan menyenangkan lagi. Setelah dengar majalah ini akan ditutup, aku jadi sangat termotivasi. Memainkan permainan tanpa tahu kesempatan menangnya. Aku lumayan suka hal begini, jadi Maklumlah aku kan orang gila. Dari pada menyerah sebelum mencoba, aku putuskan untuk mencoba. Lagipula kesempatan menangnya 50/50.” jelas Shin Hyuk lalu pamit pergi dengan mengoda Sung Joon untuk tak mencarinya apabila mendatanginya dalam mimpi. Sung Joon mengumpat akan gila apabila memimpikan Shin Hyuk. 


Shin Hyuk berjalan ke pintu lalu melihat bawang bombay yang sama dengan Hye Jin, awalnya ia terlihat kesal tapi berusaha untuk tersenyum melihat bawang bombay.
Ketika perjalanan pulang dengan mobil sportnya, Shin Hyuk berbicara di telp dengan bahasa inggis meminta maaf karena tak bisa melakukanya lagi, karena ada hal yang menari walaupun bukan yang istimewa, dengan wajah sendunya mengungkapkan sangay merindukanya dan berjanji akan menelpnya lagi. 

Pagi Hari, Shin Hyuk sudah mengendarai motornya lalu sengaja mengendarai tepat disamping bus yang dinaiki Hye Jin. Tapi Hye Jin tak sadar karena asik mendengarkan lagu dengan earphone.
Di persimpangan jalan, Hye Jin masih juga tak sadar dengan Shin Hyuk yang berdiri disampingnya. Sampai akhirnya Shin Hyuk kembali jahil dengan menekuk bagian belakang kakinya. Hye Jin melepas earphonenya dan akan marah tapi yang terjadi menjerit bahagia melihat seniornya. Shin Hyuk dengan jahilnya menawarkan permen lolipop yang dimakannya.
Hye Jin tak percaya Shin Hyuk kembali berkerja, Shin Hyuk pikir mungkin saja, lalu mengajak “jackson” untuk menyeberang. Hye Jin mengucap syukur karena Shin Hyuk tak jadi pindah, Shin Hyuk berkomentar sikap Hye Jin itu berlebihan membuat hatinya kembali bergetar.
“Kau gembira sekali melihatku sampai aku kira aku Badookie , Ekornya bergoyang saat melihatmu dan menggonggong guk guk guk! Ayo Coco !!” ucap Shin Hyuk sambil bernyanyi dan sedikit mengoyangkan tubuhnya. Hye Jin tetap tersenyum melihat Shin Hyuk yang kembali. 

Keduanya berjalan bersama menuju kantor, Hye Jin menanyakan alasan Shin Hyuk yang tak masuk kerja. Shin Hyuk heran Hye Jin itu tak tahu alasan dirinya tak masuk kerja. Hye Jin menduga-duga itu karena dirinya. Shin Hyuk tertawa mendengarnya, karena Hye Jin berpikir dirinya itu tak masuk karena Hye Jin menolak cintanya. Hye Jin pun ikut tertawa, merasa malu karena terkena sindrom seperti putri dan tak masuk akal.

“Itu memang benar, karena dirimu. Setelah kau menolakku seperti itu, ada lubang besar disini, dan semua hal jadi tak menyenangkan.” akui Shin Hyuk dengan wajah serius, Hye Jin ingin membahasnya tapi Shin Hyuk kembali menyela.
“Tapi aku sudah tak apa-apa sekarang, Semua jadi menyenangkan lagi!!!” teriak Shin Hyuk sambil membentangkan tanganya keatas lalu berjalan lebih dulu, Hye Jin binggung apa yang membuatnya menjadi lebih menyenangkan lagi. 

Keduanya masuk ke dalam gedung, Hye Jin bertanya kenapa semua jadi menyenangkan lagi. Shin Hyuk juga tak tahu, dan memberikan sebuah kalimat “Takkan berakhir sampai benar-benar berakhir” Hye Jin tahu itu kalimat dari Yogi Berra dan menanyakan alasan Shin Hyuk membahas tentang hal itu.
Shin Hyuk mengaku hanya tiba-tiba saja muncul dikepalanya, menurutnya kalimat "Takkan berakhir sampai benar-benar berakhir" itu adalah kalimat yang bagus, dengan senyuman manisnya masuk ke dalam lift. Hye Jin benar-benar binggung melihat Shin Hyuk yang berbicara seperti itu.  

Shin Hyuk masuk ke dalam ruangan sambil berteriak seperti Nyonya Kim “Buongiorno!” semua melonggo kaget melihat Shin Hyuk yang datang kembali ke kantor. Semua memberikan pukulan dengan wajah bahagia, Poong Ho memberika pekulan, Sung Joon melihat Shin Hyuk yang kembali dan dikerubungi oleh semua anggota tim.
“Sambutan kalian lumayan agresif juga.” komentar Shin Hyuk, semua kembali memukulnya begitu juga Hye Jin.
Shin Hyuk duduk dipangkuan Poong Ho, memberikan salam penghormatan pada Sung Joon yang melihatnya. Sung Joon pun membalas dengan anggukan, lalu berkomentar ruanganya akan kembali berisik seperti dulu. 

Sung Joon keluar ruangan menanyakan hasil interview untuk edisi ulang tahun ke 20, Joo Young memberitahu sedang berusaha menghubungi Leonard Kim, Poong Ho tahu pria itu  fashionista yang... terpilih jadi sutradara dan menang penghargaan Festival Film Vanice. San Mi tahu pria itu  banyak dicari-cari wartawan.
“Walaupun dia terkenalm tak suka wawancara. Apa dia akan mau?” komentar Ah Reum ragu.
“Wapimred, sepertinya ini terlalu beresiko. Meski Kim Shin Hye yang lakukan, tetap saja...” kata Joo Young, Poong Ho berbisik pasti Sung Joon yang akan mengurusnya.
“Kenapa? Kita harus terus mengejarnya, kan? Kesempatannya tidak 0%.” ucap Shin Hyuk mendukung Sung Joon dan berdiri disampingnya.
“Karena dia tak suka wawancara, jika kita berhasil.” kata Sung Joon dan langsung dilanjutkan oleh Shin Hyuk “Kita akan jadi bahan omongan.”
“Sebagai majalah asia pertama yang berhasil.” jelas Sung Joon, Shin Yuk melanjutkan dengan merasa yakin mereka bisa jadi peringkat pertama.

Semua reporter dengan cepat mengarahkan mata mereka ke arah Sung Joon dan Shin Hyuk bergantin. Sung Joon memberitahu NEW LOOK berhasil berkolaborasi dengan tim film "Trilogy of Lust ", Jadi Shin Hyuk pikir kenapa mereka tak bisa melakukan bisa berkolaborasi dengan Leonard Kim, lalu tersenyum pada atasanya.
Han Sul binggung melihat keduanya begitu rukun, Ah Reum hanya mengeleng tak tahu. Joo Young berbisik pada Poong Ho, kalau kedunya terlihat akrab. Shin Hyuk mengajak semua melakukan dengan baik untuk edisi ke 20 dan menjadi yang pertama. Joo Young berkomentar Shin Hyuk itu tak seperti biasanya. Ah Reum berpikir terjadi sesuatu pada seniornya saat tak masuk kerja.
Shin Hyuk hanya tersenyum, Sung Joon pun langsung memerintahkan untuk menghubungi Leonard Kim kembali, Eun Young berteriak melihat darah yang mengalir dari hidung Sung Joon. Hye Jin ingin menolong. Poong Ho lebih dulu memberikan saputangan dan langsung mendudukan sambil mendongkan kepalanya, tapi Joon Woo pikir lebih baik di tundukan kepalanya, keduanya saling bersikeras dengan pendapatnya dengan kepala Sung Joon yang ditarik keatas dan kebawah.
Joo Young dan lainnya binggung melihat kepala atasan mereka yang ditarik atas dan kebawah, Sung Joon akhirnya berdiri dari tempat duduknya. Joo Young memberitahu mereka ada rapat di jeju, tapi melihat Sung Joon yang kelelahan. Sung Joon mengaku baik-baik saja dan akan mengurusnya lalu kembali keruanganya. 

Hye Jin mengetik didepan komputernya, tapi matanya melirik pada ruangan Sung Joon yang terlihat sangat sibuk. Dalam hatinya bergumam, melihat Sung Joon yang terlihat pucat, mengkhawatirkan apakah ia sempat tidur dan makan. Poong Ho mendekati meja Hye Jin.
“Hye Jin, itu bahasa apa? Apa Kau bicara dengan alien?” komentar Poong Ho melihat tulisan dilayar, Hye Jin sadar dan langsung menghapusya.
Poong Ho tiba-tiba memberikan jempolnya, dan Hye Jin menyentuhnya, lalu Poong Ho berbicara “ET go home!” seperti mahluk alien, tapi Hye Jin tak tertawa. Poong Ho hanya bisa menghela nafas karena menurutnya itu lucu. 

Hye Jin menyerahkan hasil rapat pada Sung Joon, dengan senyuman manis Sung Joon menerimanya sambil mengucapkan terimakasih, dan memanggil nama Hye Jin bukan anak magang. Hye Jin menanyakan keadaan Sung Joon yang tadi mimisan. Sung Joon mengatakan ia baik-baik saja.
“Kau tak kelihatan baik-baik saja.” komentar Hye Ji melihat wajah Sung Joon yang pucat
“Oh. Aku baik-baik saja. Bagaimana supaya kau percaya? Apa perlu aku angkat kursi ini Atau meja ini...” ucap Sung Joon yang akan mengangkat meja, Hye Jin malah panik mengatakan sudah percaya Sung Joon baik-baik saja.

“Aku senang kau khawatir padaku.” komentar Sung Joon dengan senyuman bahagia. Hye Jin terlihat gugup lalu pamit pergi sambil mengucapkan selamat bekerja.
Sung Joon tersenyum lalu meminum teh yang ada didepanya, terlihat note yang tertempel disana “Wapimred, teh burdock bagus untuk mimisan. Lebih baik daripada kopi.” Ia terdiam karena Hye Jin memberikan perhatian dengan membuatkan secangkir teh bukan kopi. 

Han Sul membereskan parfum yang akan dikembalikan, pesan dari Joon Woo masuk “Ayo kita makan Jjampong lagi.” dengan wajah malas membalasnya “Maaf, aku tak enak badan.”
Tiba-tiba Joon Woo berlari ke arahnya dengan wajah panik bertanya dibagian mana yang sakit. Han Su berpura-pura kepalanya sakit, Joon Woo makin panik memeriksa dahi Han Sul.
“Kenapa bisa pusing? Apa kau kena flu? Badanmu sakit? Kau kedinginan?” ucap Joon Woo panik, Han Sul hanya bergumam dalam hati memohon agar Joon Woo tak berlebihan.
“Tidak parah kok...” kata Han Su lalu berpura-pura memanggil Ah Reum dan pergi. Joon Woo hanya bisa diam ditinggalkan begitu saja. 

Joon Young memanggil Hye Jin memberitahu tentang Pembahasan artikel dongeng untuk  undur besok saja, karena rapat dengan tim seni akan seharian. Hye Jin pikir mereka bisa membahasnya kapan saja.
Shin Hyuk mengangkat tanganya, menyarankan agar dirinya karena sangat terampil dalam penulisan artikel, jadi biar ia yang memeriksanya.. Joo Young melirik sinis karena Shin Hyuk masih saja diajak bercanda, tapi keduanya saling memberikan high fie dengan kepalan tangan, tanda setuju dan menyerahkan semua pada Shin Hyuk. Hye Jin hanya bisa melonggo karena harus bertemu dengan Shin Hyuk.
Joo Young pun meminta supaya Shin Hyuk mengurus Hye Jin dengan baik. Hye Jin pikir lebih baik nanti saja kalau memang ada waktu. Joo Young tak mendengarnya memilih untuk pergi. 

“Apa kau jadi tak nyaman denganku, Jackson? Kau seperti orang norak?” sindir Shin Hyuk
“Bukan begitu! Aku... punya merasa sedikit bersalah.” akui Hye Jin.
Shin Hyuk mengajak Hye Jin supaya membiarkan koin ini memutuskannya, kalau keluar bagian kepala maka akan memeriksa artikel tapi kalau ekor berarti tidak. Hye Jin ingin menolak tapi Shin Hyuk sudah melempar dan berteriak kalau gambar jendral yang keluar.
“Itu bukan depan! Itu belakang! Kau bilang tadi kepala bagian belakang!” teriak Hye Jin kesal
“Kau benar Jackson. Jendral ini bagian depan. Sudah kuperiksa di bagian arta yasa. Kalau begitu, kita bertemu lagi dalam 10 menit.” ucap Shin Hyuk denga memeluk pundak Hye Jin dan mengedipkan matanya. Hye Jin masih binggung antara bagian belakang dan depan dari koin. 

Shin Hyuk tak percaya melihat artikel yang sudah ditulis oleh Hye Jin sendiri tentang dongeng, lalu berkomentar Alur dan subyeknya bagus, tapi meminta Hye Jin melihat tulisanya sendiri, menjelaskan bahwa mereka harus bisa menarik perhatian pembaca dari kalimat pertama.
Setelah itu memperlihatkan dua majalah dengan artikel yang subjeknya sama dan memilih mana yang lebih menarik. Hye Ji menunjuk bagian kanan. Shin Hyuk dengan bangga mengakui itu artikel yang ditulis olehnya,lalu melihat kebagian tengah-tengah harus nendang dengan begitu akan  menjadikan artike itu bagus.
“Kumpulkan banyak topik yang menarik lalu Buat kliping subyek dan kalimat yang bagus. Dari kliping yang kau buat sendiri, maka nanti kau akan membuat artikel yang bagus.” jelas Shin Hyuk. 

Hye Jin memuji Shin Hyuk yang hebat dan seperti bukan yang dikenalnya selama ini. Shin Hyuk dengan menopang dagunya mengejek Hye Jin yang baru menyadarinya.
“Setelah melihat kerja kerasku, apa kau merasakan sesuatu? Menurutku kau suka pada pria pekerja keras. Aku yakin kau merasa profesionalisme-ku ini seksi. Apa hatimu bergetar?” goda Shin Hyuk, Hye Jin ingin meminta seniornya tak melakukan itu
“Belum kutunjukkan padamu aku itu orang yang seperti apa. Sebelum Sudah kubilang, takkan berakhir sampai benar-benar berakhir.” kata Shin Hyuk bersemangat.
“Reporter Kim, aku sangat, sangat menyukaimu.” ucap Hye Jin
Shin Hyuk pun makin senang karena Hye Jin menyukainya, bahkan sangat sangat menyukainya, seperti tongkat sihir dengan jari telunjuknya menyihir Hye Jin agar bisa menyukainya, lalu keluar dari ruangan. Hye Jin hanya bisa berteriak memanggilnya dengan wajah binggung. 

Han Sul yang baru keluar langsung dipasang termometer di telinganya oleh Joon Woo, terlihat suhunya 36 derajat. Joon Woo panik membelikan beberapa obat mulai dari sakit kepala, flu, pilek, dan demam. Han Sul hanya bisa diam melihat Joon Woo yang memberikan perhatian.
Joo Young keluar dari ruangan melihat Joon Woo yang sedari tadi dicarinya. Joon Woo meminta Han Sul makan dulu sebelum minum obat lalu berlari mengikuti Joo Young yang akan melakukan rapat.
“Kim Joon Woo, kenapa kau manis sekali? Tapi kenapa kau bukan anak presdir?” keluh Han Sul yang melihat obat-obatan yang dibawakan Joon Woo. 

Hye Jin baru kembali mengisi air bawang bombaynya, melihat Sung Joon yang tertidur diruanganya. Poong Hoo dan yang lainya sedang menjerit bermain ular tangga, Hye Jin langsung mengambilnya, Poong Ho pikir Hye Jin ingin mengajak mereka berkelahi.
Terlihat wajah Hye Jin binggung, lalu memperlihatkan kartu kreditnya mengatakan ingin mentraktir semua, tapi karena ia sudah makana jadi mereka saja yang pergi dan mendorong semuanya agar segera pergi dari ruangan. Hye Jin pun senang melihat Sung Joon yang tidur dan tak akan terganggu dengan teriakan dari anak-anak. 

Nyonya Kim masuk ke dalam ruangan sambil bernyanyi seriosa 'o sole mio! sta 'nfronte a te— Hye Jin langsung berlari tanpa sadar jarinya sudah menutupi mulut Nyonya Kim bahkan sampai menusuk hidup. Nyonya Kim dengan sinis melihat apa yang dilakukan Hye Jin.
Hye Jin berpura-pura kalau Lipstik yang digunakan Nyonya Kim berantakan dan sedikit merapihkanya agar terlihat lebih Most. Nyonya Kim mengucapkan terimakasih sambil masuk kedalam ruangan. Akhirnya Hye Jin bisa bernafas lega melihat Sung Joon yang masih tertidur.
Dengan langkah perlahan Hye Jin membawaka selimut dan memakainya pada pundak Sung Joon yang sedang tertidur. Shin Hyuk melihat perhatian Hye Jin yang diberikan pada Sung Joon, dengan wajah sedih memilih untuk keluar ruangan kembali. Hye Jin menatap Sung Joon yang akhirnya bisa tidur dengan nyenyak diatas meja kerjanya. 

bersambung ke part 2

Sinopsis She Was Pretty Episode 12 Part 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top