Saturday, October 10, 2015

Sinopsis She Was Pretty Episode 8 Part 2

Model mulai memakai gaun rancangan James taylor, tiba-tiba melihat ada robek dibagian bawah. Eun Yong dan Sun Mi kaget melihat ada robek, Joo Young melepas sepatunya dan ikut melihat lalu berteriak apa yang terjadi, keduanya mengaku bukan mereka yang melakukan itu. Hye Jin pun ikut panik karena sebelumnya gaun itu adalah tugasnya untuk menjaganya.
“Sepertinya tak bisa pemotretan.” ucap model dengan nada angkuh
“Siapa!!! Siapa penanggung jawab baju itu?!!” teriak Sung Joon benar-benar marah, Hye Jin langsung berlari ke depan Sung Joon sebagai penanggung jawabnya. 

“Kau lagi? Kenapa selalu dirimu? Kau ini apa dan siapa? Kenapa selalu membuatku marah!?” teriak Sung Joon penuh amarah
Maaf. Saya kurang hati-hati” ucap Hye Jin mengaku salah.
Sung Joon langsung mengusir Hye Jin untuk pergi dan berhenti untuk ada didekatnya dan membuatnya gila. Hye Jin menatap Sung Joon dengan mata berkaca-kaca. Sung Joon memperingatkan Hye Jin untuk muncul didepanya lagi dan dipecat. Hye Jin menatap Sung Joon tak percaya bahwa dipecat oleh orang yang paling disayangi. 

Ha Ri pergi meninggalkan hotel menaiki mobilnya, terlihat tergesa-gesa. Seorang wanita masuk ke dalam studio sambil menangis, mengaku bahwa gaun itu rusak karena dirinya. Sung Joon melirik melihat wanita yang menangis didepanya. Wanita itu mengaku melihat gaun yang cantik jadi ingin memakaianya.
“Dia bicara apa? Dan Kau siapa?” tanya Joo Young binggung
“Dia model pemula dari agensi. Sepertinya dia kemari untuk menyapa.” ucap Sun Mi
“Aku cuma ingin mencobanya sekali.... Maaf....” kata model itu menangis
“Wanita ini. Apa maumu!!! Kau tahu kekacauan akibat ulahmu?” teriak Joo Young kesal
Sung Joon menghela nafas tanpa ingin membahasnya lagi mencoba mengerti lalu menyuruhnya pergi. Joo Young bertanya bagaimana dengan Hye Jin. Sung Joon menyuruh semua pegawainya pulang saja.

Joon Woo menghela nafas panjang karena kekacauan ini benar-benar tak disangka-sangka. Shin Hyuk baru saja kembali kedalam studio, melihat semua terlihat tak ada kesibukan, lalu bertanya pada Joon Woo apakah mereka sudah selesai.
“Pemotretan ditunda... Gaunnya rusak jadi pemotretan ditunda.” jelas Joon Woo sedih
“Apa maksudmu? Gaunnya kenapa? Jackson dimana?” tanya Shin Hyuk panik
Sementara didalam mobil, Ha Ri mencoba menelp Sung Joon dan berharap untuk mengangkatnya karena harus mengatakan semuanya lebih dulu. Sung Joon hanya duduk diam didepan lampu dalam ruang studio sendirian, seperti merenung memikirkan semua kekacauan hari ini. 

Ha Ri mengangat telpnya langsung berteriak “Kenapa tak kau angkat!” Hye Jin menyahut apakah temanya itu sebelumnya menelpnya. Ha Ri menyadari bahwa bukan Sung Joon yang menelp tapi Hye Jin.
“Ha Ri... Aku... Dipecat oleh Seong Joon. Aku tak boleh muncul didepannya, Dia menyuruhku pergi.” ucap Hye Jin menahan tangisnya.
“Apa maksudmu? Dimana kau?” tanya Ha Ri kaget dan panik
Hye Jin duduk di pinggir danau sendirian, Ha Ri datang memanggil temanya. Hye Jin tersenyum melihat Ha Ri yang cantik lalu mengajaknya untuk duduk bersamanya. 

“Aku sempat berkhayal. Kami lebih dekat selama perjalanan bisnis dan aku masih merasa dia Sung Joon yang dulu. Aku mengira kami akan bisa kembali seperti dulu. Jadi... aku ingin memberitahu semuanya... tapi akhirnya... aku dipecat.” cerita Hye Jin sedih.
Hye Jin berpikir Sung Joon hanya menganggap dirinya sebagai orang yang dipecat hari ini dan sangat bodoh karena sudah  kegirangan. Ha Ri menatap temanya dengan wajah sedih lalu memeluk temanya dan menangis sambil meminta maaf. Hye Jin binggung kenapa temanya itu malah meminta maaf.
Ha Ri tetap ingin meminta maaf pada temanya, Hye Jin menatap temannya lalu mengejeknya Ha Ri yang cengeng dan terlihat tersenyum karena tak ingin temannya sedih.  
“Kau sudah menangis saat aku diterima kerja, sekarang jangan lagi. Rumit sekali saat bersama dengannya. Jadi sekarang akan lebih baik. Jadi hentikanlah! Wajah cantikmu akan hilang.” ungkap Hye Jin lalu melihat ponsel Ha Ri bergetar, menyuruh untuk mengangkatnya. Ha Ri melihat nama Sung Joon memutuskan untuk tidak mengangkatnya. 

Sung Joon sedih karena Hye Jin ( Ha Ri ) tak mengangkat telpnya, lalu matanya menatap bawang bombay pemberian tumbuh dengan baik diatas meja Hye Jin. Lalu melihat ID Card yang ada diatas meja Hye Jin ditinggal disana, teringat saat pergi dengan Hye Jin melakukan perjalanan bisnis.
“Jadi setiap aku melihatnya, aku akan selalu bersyukur,gembira, dan semangat. Begitulah.” ucap Hye Jin bangga menatap ID Cardnya.
Sung Joon menatap ID Card Hye Jin seperti merasa bersalah karena keputusanya terlalu terburu-buru membuat Hye Jin dipecat. Sementar Hye Jin dan Ha Ri masih duduk dipinggir danau, Ha Ri menatap Hye Jin sambil bergumam “Hye Jin. Aku harus bagaimana? Kita harus bagaimana?” lalu kembali memeluk Hye Jin sambil menangis

Pagi hari
Poong Ho berteriak memanggil Hye Jin untuk menerjemahkan, lalu tersadar Hye Jin tak ada dan kembali lagi ke mejanya, sambil mengeluh karena Hye Jin itu paling hebat dalam hal ini. Ah Reum mengumpat Joon Gila yang keterlaluan dan terlihat sangat sensitif dengan sikapnya kemarin dan sangat kasihan.
Han Sul terlihat acuh merasa tak bersalah dengan kejadian kemarin,  Sun Mi juga kebinggungan dengan cara Hye Jin melakukan semua ini, Eun Yong juga mengeluh karena pekerjaan mereka jadi menumpuk. Sung Joon baru menuruni tangga medengar keluahan anak buahnya yang kewalahan karena tak ada Hye Jin.
Shin Hyuk melihat semua kekacauan dan ruangan tanpa Hye Jin dengan wajah cemberut. Joon Woo juga merasa kerinduan dengan Hye Jin dan bertanya-tanya sedang apa kakak perempuanya itu 

Hye Jin sibuk mencari pekerjaan di internet, lalu menelp salah satu perusahan yang mencari karyawan tapi umurnya hanya lewat satu tahun dari batas usia yang dituliskan, sepertinya perusahan tetap tak bisa menerima karyawan dengan umur yang lebih walaupun hanya satu tahun.
Di kantor
Kwang Hee memberitahu Manager Boo kalau Kim Hye Jin dipecat dari tim editing dan seharusnya ia kembali ke tempat itu. Manager Boo mengatakan sudah mendengarnya, tapi menurutnya walaupun pindah pihak Mosst itu yang memegang kuasa, walaupun mereka ingin tapi itu tak mungkin.
“Heii....Seul Ri, excelnya sudah selesai?” tanya Manager Boo
“Sebentar lagi, setelah memoles kuku.” kata Seul Ri santai, Manager Boo hanya bisa menghela nafas dengan anak magangnya. 

Sung Joon melihat berkas dengan menghela nafas dan memindahkan jarum pasirnya, seperti uring-uringa karena apabila mereka menggunakan konsep baru berarti harus ada pengembangan.
“kalian pikir edisi khusus bisa diterbitkan kalau terus seperti ini? Jadi Cuma ini yang kalian bisa? Apa Tidak ada lagi? Kalau tidak ada, aku akan....” ucap Sung Joon dipotong oleh Shin Hyuk
“Bagaimana kalau konsep film?” usul Shin Hyuk tanpa menatap Sung Joon.
“Kau ingin menggunakan konsep yang telah kita gunakan ratusan kali? Pada edisi khusus?” kata Sung Joon meremehkan
“Bukan yang biasa kita lakukan tapi melakukan hal baru dengan itu. Dan yang kita bahas Bukan karakter utamanya, tapi pada karakter pendukungnya. Kau tahu 'Wicked' kan? kita membuat penyihirnya menjadi karakter utamanya. Dengan Seperti itu, kita dapat melakukan sesuatu, kalau kita fokus pada karakter pendukungnya. Maksudku adalah berpikir diluar kebiasaan. Untuk menjadi model utama di pemotretannya.” jelas Shin Hyuk lalu mengajak Toong dengan Joo Young, sebagai tanda setuju.
Ah Reum juga melihat itu Inovatif sekali, karena waktu menonton cinderela sangat kesal dengan tokoh Cinderella yang terlalu baik pada saudara tirinya, dengan begitu sudut pandang lain memang diperlukan. Sung Joon memikirkan usul dari anak buahnya.

Poong Ho melihat juga Cerita putri tidur, yang menurutnya aneh karena Seseorang yang tidak pernah bertemu, tapi Tahu-tahu menciumnya saat tidur, padahal seharusnya wanita itu menampar pria itu bukan menerimanya. Sung Joon mulai melipat jaket jinsnya sampai lengan.
“Bagaimana kalau kita menafsirkan tokoh utamanya? Contohnya keseksian putri salju. Yang dapat menaklukkan ketujuh kurcaci.” usul Joon Woo
“Kalau putri salju pakai “bustier” kulit dan hot pants?” kata Joo Young, Poong Ho yakin itu  Pasti cocok dengannya. Ah Reum juga melihat konsep itu sanga menarik. Joo Young pun menanyakan pendapat Sung Joon.
“Jangan hanya terbatas pada dongeng. Ayo kita buat lebih luas. Dengan Merubah sudut pandang, membuat dunia terlihat berbeda. Kalau sorot lampunya dipindah. Karakter pendukung bisa menjadi karakter utama, Begitulah konsepnya. Jadi itu temanya, diskusikan dengan tim masing-masing.” jelas Sung Joon lalu menyudahi rapat dan keluar ruangan. 
Shin Hyuk masuk ke dalam ruangan memberikan sebuah buku bersampul Pink, Sung Joon bertanya apa yang dibawanya. Shin Hyuk menyuruh untuk melihatnya.  Sung Joon melihat lembar pertama hanya bertuliskan “Yang mengembalikan, kudoakan akan selalu beruntung.”
Sung Joon merasa sudah melihatnya, lalu apa yang akan dilakukanya. Shin Hyuk menyindir Sung Joon tidak sabaran sekali, meminta untuk lembaran lainya. Sung Joon dengan wajah kesal membuka lembaran lain tertulis “Apa kau saja karakter utamanya!!! Aku juga karakter utama!” dan melihat gambar berikutnya dengan gambar dari dongeng.
“Sebenarnya ide tadi bukan punyaku, tapi Punya Kim Hye Jin. Kalau konsepnya tetap akan dipakai. Seharusnya kau membawa Kim Hye Jin kembali.” jelas Shin Hyuk
“Dia sendiri yang bilang tidak akan kembali, kan?”kata Sung Joon dingin
“Karena saat itu Cha Sunbae yang meminta. Tapi Kalau yang memintanya kembali adalah dirimu.Situasinya mungkin akan berbeda.” jelas Shin Hyuk

“Jadi? Aku harus minta maaf, dan memintanya kembali? Perusahaan mana yang akan meminta maaf, dan meminta pegawai magang untuk kembali? Lupakan saja. Ayo ganti konsepnya.” kata Sung Joon mengembalikan buku milik Hye Jin.
Shin Hyuk merasa keliru, selama ini berpikir Sung Joon itu orang yang tegas, tapi melihatnya sekarang tidak berpikir secara rasional, dan itu sikapnya kepada Hye Jin seperti itu, lalu menduga memiliki perasaan lain pada Hye Jin. Sung Joon menatap Shin Hyuk dengan dingin.  
“Aku tanya satu hal, Kalau itu adalah orang lain. Apa kau juga akan marah. Dan langsung memecatnya?” tanya Shin Hyuk
“Aku tidak mau menjawab, pergilah.” kata Sung Joon dingin

“Tolong jawablah... Benarkah kau tidak punya Perasaan lain pada Kim Hye Jin? Kalau hatimu O tapi, kau mengatakan X, atau hatimu X tapi, kau mengatakan O. Itu adalah keraguan dan sekarang Kau sedang ragu.” jelas Shin Hyuk
“Apa yang barusan kau katakan? Lalu bagaimana denganmu? Kau yang selalu terlibat dalam kehidupannya.” ucap Sung Joon berdiri dari bangkunya, dengan penuh amarah.
Shin Hyuk menjawab dengan tegas bahwa ia menyukai Kim Hye Jin, dan menurutnya itu sudah cukup sebagai pengakuan atas perasannya. Sung Joon terdiam, Shin Hyuk tetap menaruh buku diatas meja Sung Joon supaya bisa melihatnya lalu meninggalkan ruangan. 

Shin Hyuk menunggu didepan gang rumah, lalu berteriak memanggil Jackson ketika Hye Jin baru keluar rumah. Hye Jin binggung melihat teman kantornya itu ada didepanya. Shin Hyuk berpura-pura baru ingat rumah Hye Jin didekat situ dan sedang meliput Jalan yang indah di Seoul. Hye Jin pun menyuruh untuk melanjutkanya.
“Kenapa kau tidak kembali? Wapimred cuma salah paham. Semua orang menunggumu.” pinta Shin Hyuk menghalangi jalan Hye Jin.
“Tidak akan. Setelah pergi rasanya lebih lega. Aku pergi dulu dan mau cari pekerjaan.” ucap Hye Jin
Shin Hyuk pikir itu kebeulan karena sedang butuh asisten dan menyuruh menjadi asistenya untuk satu hari, dengan langsung menerima karena berpengalaman kerja di perusahaan majalah. Hye Jin tak ingin bercanda memilih untuk pergi. Shin Hyuk memutar kembali rekaman perjanjian Hye Jin jadi akan mengunakan permintaan keduanya yaitu menjadi asistenya.
Hye Jin menolak karena  tidak mau terlibat lagi dengan MOST. Shin Hyuk memberitahu upahnya lebih tinggi, Hye Jin langsung melotot bertanya berapa upahanya kali ini. 

Shin Hyuk berjalan-jalan ke obyek wisata sambil mengambil gambar kesana kemari, lalu berteriak memanggil asisten karena fotografernya haus. Hye Jin pun memberikan minuman dengan sedotan agar Shin Hyuk tak kehausan. Keduanya lalu berjalan ke jalan setapak menurun dengan tangga.
“Jackson...Kau tahu? Kalau menuruni tangga ini dengan satu kaki tanpa tersandung, Keinginanmu akan terwujud.” cerita Shin Hyuk. Hye Jin tak percaya karena Shin Hyuk pasti bohong.
“Apa untungnya aku membohongi jackson? Banyak videonya di internet. Apa Kau tak pernah melihatnya?” ungkap Shin Hyuk meyakinkan.
Hye Jin terlihat masih tak percaya, Shin Hyuk pikir lebih baik mereka pergi saja karena yang rugi juga adiknya. Hye Jin tak ingin menghilangkan kesempatan lalu melompat dengan satu kaki menuruni tangga sambil berteriak agar mendapatkan pekerjaan. Beberapa orang yang melihat menahan tawa, Shin Hyuk pun tertawa cekikikan diatas. Hye Jin menjerit karena membohonginya kembali. 

Shin Hyuk mengajak Hye Jin naik motor bersama, Hye Jin pikir mereka itu sedang meliput jalanan yang indah. Shin Hyuk memberitahu “Gyeongido” dekat dari sini, jadi kalau tidak kesana maka akan menyesal.
Hye Jin menghirup udara yang sangat segar dengan taman bunga sekelilingnya, Shin Hyuk lalu mengajak selfie dengan kameranya, dengan menyuruh agar terlihat keren tapi yang terjadi wajahnya dibuat jelek dalam tiap foto. Hye Jin melihat hasil foto dengan senyuman bahagia, Shin Hyuk membawa minum melihat Hye Jin yang tersenyum bahagia. 

Keduanya berjalan bersama dijembatan,Hye Jin ingat dengan pertanyaan Shin Hyuk saat itu Apa ia 100% yakin hanya ingin Sung Joon jadi temannya, namun setela dipikirkan bahwa ia menganggap Sung Joon seorang pria.
“Bagaikan sebuah cermin...Kau tidak bisa melihat kedalamnya.Tapi dari dalam kau bisa melihat semuanya, Hubungan kami, sama seperti cermin itu. Aku bisa melihatnya dengan jelasm,Tapi dia tidak bisa. Suatu ketika aku berpikir untuk terus sembunyi. Tapi disaat yang lain, aku harap Sung Joon dapat menemukanku.Karena itulah... aku semakin menderita.” cerita Hye Jin
Shin Hyuk menatapnya, Hye Jin mengucapkan terimakasih pada kakaknya, karen Kehidupan editorial yang asing ternyata menyenangkan juga. Ia tahu Shin Hyuk sengaja datang untuk menghiburnya jadi kembali mengucapkan terimakasih. Shin Hyuk pikir kalau Hye Jin ingin mengucapkan terimakasih, dengan menjadi pacarnya.
“Kau... Bercanda itu lagi! Tidak mau!!! Aku tidak menyukaimu!” teriak Hye Jin lalu menerima telpnya dan berjanji akan segara bertemu. 

Sung Joon melihat buku milik Hye Jin yang berjudul “Apa kau saja karakter utamanya? Aku juga karakter utama!” terlihat gambar putri duyung dengan bertulisan seperti percakapan diatasnya “Aku menyelamatkan putri, karena dia pingsan. Aku tidak berbohong...”
Lalu gambar seorang penyihir bertuliskan “Kau bilang aku penyihir? Aku hanya memilih untuk menjaga hutanku.” Sung Joon tersenyum membaca semua tulisan yang ada dibuku. Teringat kembali ucapan Shin Hyuk “Kupikir kau orang yang tegas.Tapi kenapa kau tidak berpikir secara rasional. Pada Kim Hye Jin seperti ini? Sepertinya kau punya perasaan kepadanya.”
Sung Joon terdiam menatap bawang bombaynya yang semakin lebat akarnya, diatas meja Hye Jin. 

Manager Boo menemui Hye Jin menyuruhnya untuk bersiap berkerja. Hye Jin kaget, Manager Boo menceritakan perusahaan temannya itu memang kecil tapi sukses dan membutuhkan pegawai baru.
“Karena aku tahu Hye Jin adalah pekerja keras.Jadi aku merekomendasikanmu.” jelas Manager Boo, Hye Jin tak percaya dengan semua ucapan merasa seperti sering dibohongi
“ Aku beneran, Tidak ada orang yang seperti aku, Hye Jin.” kata Manager Boo bangga, Hye Jin langsung mengucapkan terimakasih. Manager Boo meminta permen kapas sebagai ucapan terimakasihnya. Hye Jin pun membelikan 10 buah langsung. 

Hye Jin menuruni bus berjalan kerumahnya, didepan bus sudah ada mobil Sung Joon yang menunggunya dan buru-buru turun melihat Hye Jin yang berjalan pulang. Ia sengaja mengikutinya dari belakang, tiba-tiba Hye Jin berhenti seperti merasakan ada seseorang yang mengikutinya.
Sung Joon langsung bersembunyi dibalik toko, Hye Jin ternyata berbalik berbicara dengan anjing, dan memperbaiki rantai anjing yang sedari tadi mengonggong karena rantainya terlilit. Setelah Hye Jin kembali berjalan, Sung Joon pun terus mengikutinya dari belakang. 

Hye Jin pergi main ayunan lebih dulu sebelum pulang, Sung Joon melihat dari belakang, ketika ingin berbicara ponsel Hye Jin berdering. Sung Joon bur-buru bersembunyi dibalik perosotan. Manager menelp Hye Jin memberitahu bahwa temanya itu besok pagi akan menghubungi Hye Jin, Sung Joon mengintip mendengarnya pembicaran Hye Jin ditelp.
Setelah puas bermain ayunan, Hye Jin melangah pergi. Sung Joon panik bersembunyi didalam lorong perosotan, lalu bertanya-tanya pada dirinya kenapa harus bersembunyi seperti sekarang. Karena kesemutan, ia kesandung sendiri akhirnya merosot langsung, bukunya meluncur lebih dulu baru ia seperti terjun bebas. Hye Jin kaget melihat Sung Joon keluar dari perosotan, Sung Joon berpura-pura sedang melihat bulan yang indah lalu menyapa Hye Jin yang bertemu lagi. 

Keduanya duduk dibawah pohon, Sung Joon menceritakan idenya aakan mereka terapkan pada tema edisi khuss jadi menginginkan agar Hye Jin kembali. Hye Jin langsung menolak karena tak ingin kembali kesana, tapi idenya boleh dipakai.
“Saat itu... Aku terlalu sensitif dan sadar itu berlebihan. Maafkan aku, Kembalilah dan kita kerjakan edisi khusus itu bersama.” pinta Sung Joon memohon
“Tidak... Meski demi kepentinganmu, aku tidak akan kembali. Jujur saja, bekerja denganmu. Sangat tidak nyaman. Dan juga, aku akan bekerja di perusahaan lain. Yang direkomendasikan oleh Manajer.” jelas Hye Jin.

Sung Joon tak percaya Hye Jin tetap menolaknya, Hye Jin berdiri menurutnya Sung Joon sudah bersusah payah untuk datang secara pribadi jadi mengucapkan terimakasih dan pamit pergi. Sung Joon menatap sedih kepergian Hye Jin, karena kesalahanya yang terbawa perasaan membuat Hye Jin keluar dari perusahaan. 

Sung Joon masuk ke dalam kantor, melihat bangku Hye Jin masih kosong dan bawang bombaynya sudah tumbuh tunas dibagian atasnya, lalu masuk ke dalam ruanganya.
Hye Jin yang ada dirumah menunggu telp dari teman Manager dengan gelisah. Akhirnya ia menelp Manager langsung karena belum juga mendapatkan kabar apapun.Manager Boo agar susah memberitahunya lalu mengaku bahwa termanya iu tidak mau.Hye Jin tak terima karena sebelumnya sudah yakin pasti
“Di dunia ini, banyak hal yang tak terduga. Jadi Hye Jin, maaf ya! Aku mau makan siang.” ucap Manager Boo langsung menutup telpnya. 

Hye Jin melonggo mengetahui nasibnya, teringat semalam berbicara dengan Sung Joon yang memintanya untuk kembali tapi dengan penuh keyakinan menolaknya. Tanganya ingin menekan nomor Sung Joon, tapi menurutnya ia punya harga diri, akhirnya memilih untuk makan dulu lalu mencari kerja lagi. Ia berjalan ke tempat beras lalu menjerit karena berasnya habis sambil memanggil ayah dan ibunya.
Beberapa saat kemudian, ia sudah datang ke rumah ayahnya melihat ada semangkuk mie jajangmyung yang ditinggalkan begitu saja, berpikir sang ayah sedang mengirim hasil cetakan. Hye Jin pun bersembunyi karena ingin membuat kejutan.
Ayahny datang dan kembali makan jajamyung, Hye Jin ingin memberikan kejutan tapi teriakan seorang pria membuatnya kembali bersembunyi. Pria itu memarahi ayahnya karena seharusnya pesananya itu selesai hari ini. Tuan Kim meminta maaf karena mesinnya baru menyala tadi pagi dan berjanji akan mengerjakan dan besok pasti selesai
“Buanglah sampah itu!!! Minta saja yang baru dari putrimu yang bekerja pada perusahaan besar itu.” teriak si pria dengan kesal, Tuan Kim kembali meminta maaf dan berjanji akan pergi esok. Hye Jin terdiam mendengar ayahnya ternyata sedang kesusahan. 

Tuan Kim mengangkat telp di tempat percetakanya, ternyata Hye Jin menelp dari seberang jalan menatap ayahnya. Tuan Kim dengan perhatian menanyakan apakah anaknya sudah makan. Hye Jin berbohong kalau sudah makan, lalu menyuruh ayahna tak makan jajangmyun terus tapi makan nasi juga.
“Semuanya... baik-baik saja, kan?” tanya Hye Jin berkaca-kaca
“Tentu baik-baik saja., Jangan khawatirkan kami. Fokuslah bekerja, Oh iya. Bulan depan, kau masih bekerja kan?” ucap ayah Hye Jin seperti penuh pengharapan.
“Tentu saja!!! Perusahaannya tidak bisa bekerja tanpaku.Percayalah padaku yah.” kata Hye Jin supaya membuat ayahnya tak khawatir
“Wow, mendengarnya saja sudah membuatku bersemangat! Terima kasih, putriku!” ucap ayahnya, Hye Jin menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca 

Hye Jin duduk di atas ayunan menatap nomor Sung Joon, tapi sepertinya masih ragu. Akhirnya dengan penuh keyakinan akan melakukannya demi kepentingan keluarga dan juga dirinya. Teringat kembali ucapan semalam, “Meski demi kepentinganmu, aku tidak akan kembali.”
“Ahhh... Kenapa aku bilang begitu? Tidak. Aku harus melakukannya.” ucap Hye Jin meyakinkan diri akan menelp Sung Joon.
Tapi pikiran kembali teringat dengan ucapanya, “Bekerja denganmu”Sangat tidak nyaman.” lalu merasa kalau ia tak bisa melakukan karena sudah mengucapkan hal itu. Tiba-tiba bunyi ponselnya mengangetkanya, Manager Boo menceritakan sudah menemui temanya dan berbicara dan ia akan menerimanya, jadi akan menghubungi sekarang juga jadi Hye Jin harus langsung mengangkat. Hye Jin sumringah mengucapkan terimakasih. 

Setelah menutup telp, pesan Sung Joon masuk “Dia menangis, karena pemiliknya pergi.Kau akan meninggalkannya seperti ini?” Hye Jin terdiam melihat foto bawang bombaynya yang berubah menjadi mimik sedih bukan gambar mimik senyum yang dibuatnya. 

Sung Joon masuk ke dalam kantor melihat bangku Hye Jin yang masih kosong dan bawang bombaynya masih sendirian disana. Seorang wanita masuk ruangan, terdengar deringan telp tapi tak ada yang mengangkat. Joo Young sedang sibuk mengambil gambar baju menyuruh siapa saja untuk mengangkat telpnya.
“Iya, tim editing MOST Korea dengan Kim Hye Jin.” ucap Si wanita dengan rambut yang ditata dengan lurus sebahu.
Semua melonggo mendengar nama Hye Jin disebut,tapi semuanya makin terkejut melihat penampilan Hye Jin yang berubah. Hye Jin mengubah bentuk rambut dan wajahnya lalu tersenyum mengangkat telp.
bersambung ke episode 9 

Sinopsis She Was Pretty Episode 8 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top