Friday, November 27, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 10 Part 1

Ji Hoon melihat Ri Hwan keluar klinik berpikir akan pergi makan siang. Ri Hwan menghampiri Ji Hoon memberitahu harus pulang kerumah sekarang karena ibunya sudah sadar dan bisa mengingatnya. Ji Hoo sedikit terkejut lalu menyuruh Ri Hwan pulang cepat dan berhati-hati saat menyetir dan tak boleh mati.
“Hyung. Kau pernah liat di TV, ada orang gila yang berpura-pura menjadi dokter? Banyak yang bertanya padaku, apa kau itu gila? Jangan melakukan sesuatu yang bodoh yang saat aku pergi.” pesan Ri Hwan dengan wajah serius. Ji Hoo mengerti dengan wajah tersenyum, Ri Hwan pun meninggalkan kliniknya.
“Setidaknya dia tersenyum hari ini... Baguslah.” komentar Ji Hoon melihat Ri Hwan yang meninggalkan klinik. 

Ri Hwan keluar kamar melihat Bibi Gong sedang makan, memberitahu kalau ibunya sudah tidur. Bibi Gong khawatir melihat Nyonya Park yang selalu tertidur. Ri Hwan menjelaskan reaksi tiap pasien itu berbeda. Bibi Gong juga mengkhawatirkan dengan Haeng Ah. Ri Hwan mengatakan akan mengurusnya.
“Satu penyakit saja membuat semuanya menjadi kacau balau. Semoga ini adalah jalan yang terbaik. Lebih baik taruh saja pakaian itu di sana. Dia mungkin ada melihatnya dan mengingatmu terus.” ucap Bibi Gong melihat Ri Hwan membawa keluar bajunya.
“Dia mungkin akan lebih bingung lagi jika dia melihat ini dan Aku telah mengambil fotoku.  Bibi pasti kesulitan saat mengurus ibuku.” kata Ri Hwan merasa kasihan.
“Aku makan enak saat Sun Young sedang tidur,  Dan Kau harus kerja, 'kan? Kita tak perlu sungkan satu sama lain.” kata Bibi Gong, Ri Hwan mengucapkan terimakasih dan pamit pergi. 

Ibu Yi Seul menelp anaknya memberitahu sedang di klinik obat herbal. Yi Seul kaget, Ibunya mengingat nama pria itu Park Ri Hwan lalu berkomentar nama Klinik "Hoon&Hwan" adalah nama yang aneh. Yi Seul menanyakan tujuan ibunya kesana. Sang ibu sudah masuk ke klinik langsung bertanya dengan perawat ruangan dokter.
Perawat yang kebinggungan melihat Nyonya Park menunju ke lantai atas. Ibu Ji Yi Seul tak bisa melarangnya karena sebelumnya sudah menolak acara perjodohan yang sudah direncanakan dengan seenakanya. Menurutnya sejak kecil dalam keluarga sudah di ajarkan tata krama apabila makanan tak enak tetap harus menghabiskanya.
“Lalu kau membantah ibu, kau pikir aku akan diam saja? Aku tak akan diam saja melihatmu tingkahmu. Kau harus menuruti ibu, atau ibu akan melakukan sesuatu yang konyol di klinik ini. Tunggu dan lihat saja nanti. Sudahlah!” ucap Ibu Yi Seul menutup telpnya.
Yi Seul memanggil ibunya memohon agar tak pergi, tapi tak ada sahutan, akhirnya memilih untu mengambil jaket dan membawa tasnya lalu pergi. 

Ji Hoon sedang mencari-cari penjepit kertas diatas meja, Ibu Yi Seul datang melihat Ji Hoon dengan papan nama Park Ri Hwan, dengan keyakinan pasti anaknya sudah menelpnya. Ji Hoon terlihat binggung dan berpikir kalau anak dari pasien itu sudah membuat janji.
“Dan karena memandang kakekmu, aku akan menjaga sikapku. Aku ke sini untuk menanyakan beberapa pertanyaan padamu.” ucap Ibu Yi Seul, Ji Hoon pun mengajak ibu Yi Seul untuk duduk, menanyakan keluhanya.
“Kau pasti jago sekali Photoshop. Wajahmu sangat berbeda dengan yang di foto.” komentar Ibu Yi Seul, Ji Hoon pikir pasiennya itu melihat ID Cardnya yang mengunakan foto lama.
“Pertama, aku ingin bertanya tentang ayahmu. Aku sudah ke sana dan ke sini. Tapi, aku tak menemukan apapun.” ucap ibu Yi Seul, Ji Hoon terlihat binggung, Ibu Yi Seul berkomentar melihat Ji Hoon yang lucu.
Ji Hoon mengaku ayahnya baik-baik saja, Ibu Yi Seul kaget mengetahui ayah calon menantunya ternyata belum meninggal, lalu memberitahu kalau pernah bertemu ibunya satu kali. Ji Hoon kembali binggung berpikir sudah bertemu dengan ibu tirinya karena 15 tahun yang lalu ibunya sudah meninggal.
Ibu Yi Seul terkejut merasa calon menantunya itu sedang bercanda. Ji Hoon berpikir wanita didepan adalah ibu dari Tae Hee. Ibu Yi Seul marah karena menyebut nama wanita lain dan mengumpat Yi Seul yang menyukai pria seperti itu. Ji Hoon mendengar nama Yi Seul baru sadar kalau wanita itu dari Taeyang Group. Ibu Yi Seul tersadar dengan nama di bajunya adalah “Kwon Ji Hoon” dengan tertunduk malu keluar dari ruangan. 

Ji Hoon menceritakan pada Ri Hwan ada seorang Nyonya Bling-bling datang dan baru saja pulang. Ri Hwn mengantungkan jaketnya tak melihat siapapun saat masuk. Yi Seul tiba-tiba menerobos masuk dengan pakaian dokter memanggil ibunya, Keduanya terlihat binggung melihat Yi Seul datang dengan pakaian dokter.
Keduanya duduk diruangan sambil meminum teh, Yi Seul meminta maaf karnea membuat Ri Hwan terkejut. Ri Hwan pikir Yi Seul itu pasti lebih terkejut lagi. Yi Seul tak tahu kelakuan konyol macam apa lagi yang akan terjadi, mengenai dirinya, ibu dan juga  yang sudah dilakukannya pada Haeng Ah. Ri Hwan bertanya apa yang dikatakan Yi Seul pada Haeng Ah.
“Apa kalian sudah putus?” tanya Yi Seul, Ri Hwan nampak kaget menanyakan apa yang dikatakan Yi Seul pada Haeng Ah.
“Aku meminta Haeng Ah memutuskanmu,sebagai balasan dari bantuanku.” ucap Yi Seul, Ri Hwan tak ingin membahasnya menyuruh Yi Seul kembali berkerja saja.
“Haeng Ah tak punya ibu, jadi aku pikir dia tak mengerti. Aku memintanya untuk melakukan sesuatu. Dia harus memintamu memilih antara ibumu atau dia. Aku memintanya menghilang dari kehidupanmu.” ucap Yi Seul dengan nada tinggi, Akhirnya Ri Hwan yang pamit untuk kembali berkerja.

“Jika ibumu kembali lagi, aku akan bicara padanya. Kau tak perlu ke sini lagi.” tegas Ri Hwan,  Yi Seul menahan jaket Ri Hwan sebelum melangkah pergi.
“Aku memang hanya memegang jaketmu sekarang. Karena aku tak bisa memegang hatimu. Tapi, aku... Jika kalian putus... apa aku tak bisa berada di sisimu? Aku tak memintamu untuk menyukaiku sekarang. Sama seperti saat pergelangan kakiku terluka Dan juga, ibumu menyukaiku. Kau bisa memberitahu ibumu kita berkencan.” kata Yi Seul sambil memegang jaket Ri Hwan
“Hal itu tak akan mengubah apapun. Terima kasih atas kekhawatiranmu. Tapi, aku yang akan...” kata Ri Hwan lalu disela oleh Yi Seul
“Aku bisa membantumu, Jika kau ingin berada disisiku. maka, aku bisa leluasa membantumu. Ri Hwan, kau adalah orang yang baik. Aku menyukaimu, Ri Hwan. Setelah kau memilihku, aku akan melakukan semua yang aku bisa.” kata Yi Seul, Ri Hwan melihat tangan Yi Seul yang memegang erat ujung jaketnya. 

Yi Seul masuk ke dalam ruangan melihat sang ibu sudah ada didalam, Ibu Yi Seul mengeluh dokter jaman sekarang sering kali meninggalkan ruanganya, lalu terkejut melihat anaknya yang keluar dengan pakaian dokternya.
“Ibu, kaulah yang membuatku keluar dengan pakaian ini.” ucap Yi Seul kesal
“Omo! Kau tak pernah menyalahkanku begini. Memangnya aku salah apa? Aku tak bertemu dengan bocah itu juga tadi.” kata Ibu Yi Seul.
Yi Seul tak suka ibunya memanggail Ri Hwan dengan panggilan “bocah”. Ibunya merasa tak sebanding dengan anaknya jadi tak harus menghormatinya. Yi Seul memberitahu pria yang tak sebanding denganya adalah pria yang hanya terus berpesta saja dengan seenaknya menjadi manager dan direktur di perusahan ayahnya lalu tak bisa membeda mana yang "Mahal" dan "Baik".Dan hanya dengan uang, mereka bisa menarik wanita, serta Seseorang memperlakukan karyawannya seperti budak perusahaan. Ibu Yi Seul mengerutkan dahinya.
“Orang itulah yang tak pantas denganku, jadi... dia bukanlah orang yang biasa saja. Dia adalah... pria yang baik.” tegas Yi Seul
“Kau pasti sangat mencintainya, 'kan?” kata Ibunya
“Tidakah aneh kalau seusia ini aku belum mencintai seseorang? Jika aku menikah dengan orang yang tak ku suka, lalu dia selingkuh dan hanya menikah untuk menutupi kesalahannya... Bukankah itu yang lebih aneh?” tegas Yi Seul
“Aku sudah tahu bagaimana perasaanmu dan akan mengurusnya sekarang.” kata ibunya dan berjalan pergi.
Yi Seul berteriak memohon, dengan wajah tertunduk memohon agar ibunya tak melakukan apapun, karena tak ingin tertendang lebih jauh lagi. Ibu Yi Seul menegaskan bahwa Tak ada kata gagal untuk keluarga mereka. Yi Seul memberitahu sudah memamerkan uang mereka padanya, tapi menurutnya itu gagal. Ibunya pikir kakaknya tak akan tingga diam melihat adiknya sudah seperti orang gila begini, jadi memberikan pilihan apakah kakaknya atau dirinya sendiri yang akan bergerak, lalu keluar ruangan. 

Sang Gyo yakin Ri Hwan tak menyangka keadaanya akan seperti ini. Ri Hwan sudah bisa menduga kondisinya, tapi mengenai ibunya yang tak bisa mengingat dirinya membuatnya sangat kaget.
“Bagaimana dalam minggu ini, Apa dia tak bisa mengingat kau bahkan sekali?” tanya Sang Gyo, Ri Hwan memberitahu ibunya sudah mengingatnya hari ini.
“Apa Dia masih terobsesi dengan keponakannya?” tanya Sang Gyo,
“Ya... dan Sejujurnya...Dia bukanlah keponakannya, tapi Dia adalah pacarku.” akui Ri Hwan
Sang Gyo tampak kaget kembali menanyakan apakah ibunya sudah mengetahuinya dan menentangnya. Ri Hwan membenarkan, Sang Gyo menyarankan agar datang juga. Ri Hwan menjelaskan kalau pacarnya memiliki fobia rumah sakit, sebelumnya ingin menghilangkan tapi ibunya jatuh sakit, jadi menurutnya mereka bisa bertemu diluar rumah sakit. Sang Gyo mengangguk mengerti.
“Tapi, aku lebih khawatir padamu. Kau bilang, kau tak tahu tentang traumanya.” kata Sang Gyo
“Aku baik-baik saja dan Aku tahu, dulu kelahiranku sangat tak diinginkan. Ibu ingin bunuh diri saat mengandungku, Saat usia ibu 24 tahun, jadi Ibu bisa saja memimpikan hal itu.” jelas Ri Hwan
“Sun Young telah menghapusmu dari ingatannya, Kau pasti sedih.” komentar Sang Gyo, Ri Hwan sangat mengerti kondisi ibunya dan mengungkap keadaannya baik-baik saja, padahal dari sorot matanya terlihat sangat sedih.
“Aku juga ingin kau menjalani pengobatan. Jika ibumu sakit begini, kemungkinan kau juga akan terkena. Meskipun ibumu selama ini selalu melindungimu. Itu tak berarti kau akan terbebas dari ini. Kelahiranmu bukanlah sebuah kesalahan. Kau tak perlu menyalahkan dirimu.” jelas Sang Gyo, Ri Hwan mengaku tak pernah berpikir seperti itu.
“Jika kau menjadi pasien, apa yang akan kau katakan pada dirimu?” tanya Sang Gyo
“Aku akan memberitahu diriku untuk menerima kenyataannya. Kenyataan tentang sakit yang aku alami, Menangislah dan bersandarlah pada orang lain.” ucap Ri Hwan, Sang Gyo bertanya siapa orangnya. 

Haeng Ah keluar dari gedung sambil berlari, Ri Hwan khawatir melihat Haeng Ah yang lari karena takut nanti terjatuh. Haeng Ah pikir terjadi sesuatu, Ri Hwan mengatakan tak terjadi apa-apa. Haeng Ah panik karena Ri Hwan tiba-tiba datang dan pasti terjadi sesuatu dengan ibunya. Ri Hwan mengatakan ibunya baik-baik saja.
“Aku tahu kau akan merasa tak nyaman dengan sikapku ini.Tapi, aku hanya ingin melihatmu sebentar. Apa aku bisa memelukmu sebentar?” ucap Ri Hwan, Haeng Ah terdiam lalu mendekati Ri Hwan untuk memberika pelukan.
“Kita begini untuk semenit saja.” kata Ri Hwan memeluk erat Haeng Ah, saat Haeng Ah ingin melepasnya Ri Hwan tak ingin melepaskanya, matanya terpenjam sambil bergumam.
“Jika kau melihat kami dari atas langit sana. Kami akan terlihat seperti apa?< Apakah kami terlihat sepasang kekasih yang berpelukan untuk terakhir kalinya Ataukah sepasang kekasih yang tak tahu apa yang harus dilakukan? Apakah sepasang kekasih yang tak berdaya untuk saling melepaskan?”

Ri Hwan menelp Bibi Gong menanyakan apakah Haeng Ah masih ada dirumah, Bibi Gong menceritakan ibunyatak mengijinkannya pergi ke manapun. Ri Hwan tahu Haeng Ah harus berangkat kerja. Bibi Gong meminta agar Ri Hwan tak khawatir karea akan mencoba bicara. Perawat memberitahu Ri Hwan kalau pasien sudah menunggu. Ri Hwan memberitahu akan segera turun lalu berjanji pada bibi Gong akan menghubunginya lagi.
Nyonya Park duduk di sofa meminta tolong agar Haeng Ah mengambilkan bukunya, Haeng Ah memberikan buku yang berjudul [Finding Lost Time] lalu memuji Haeng Ah adalah anak yang baik karena tak bertengkar dengan temanya. Haeng Ah pamit pergi ke kamar mandi, Nyonya Park ketakutan kalau Haeng Ah akan pergi meninggalkanya.

Haeng Ah meyakinkan tak akan meninggalkanya lalu pergi ke kamar mandi untuk menelp Joon So dan aan menelp manager sendiri, Terdengar teriakan Nyonya Park yang mencari Haeng Ah. Bibi Gong datang memberitahu kalau Haeng Ah akan kembali dan meminta untuk meminum obatnya. Haeng Ah pun buru-buru keluar dari kamar mandi.
“Kenapa kau egois sekali?!” teriak Nyonya Park, Haeng Ah hanya bisa mengucapkan kata maaf lalu bertanya apakah buku yang dibacanya menarik
“Mataku sudah lelah.” ucap Nyonya Park bertingkah seperti anak kecil yang mengambek.
“Haeng Ah, apa kau sakit lagi? Apa Kau tak menggunakan resepku, 'kan? Apa Kau yang membelinya sendiri? Kenapa sikapmu begini? Kenapa kau tak mau mendengarkanku?” jerit Nyonya Park mengomel.
Haeng Ah binggung lalu tersadar kalau yang dimaksud obat yang didepanya, Bibi Gong yang mendengarnya terlihat sedih. Haeng Ah perlahan memberitahu kalau itu obatnya dan harus diminum setelah makan dengan memperlihatkan namanya disana. Nyonya Park seperti malu sendiri lalu seperti bertingkah anak-anak mengeluh sangat lelah jadi ingin pergi ke kamarnya saja.

Se Young kembali siaran dengan membacakan surat dari pembaca yang ingin memberikan semangat pada pendengar karena baru saja mendapat pemberitahuan kalau tak lulus, lalu mengajak bicara Dong il yang mengantikan Haeng Ah, tapi Dong il seperti tak mendengar.  
“Astaga, reaksi yang lamban sekali. Hari ini PD Kim tak bisa hadir dan telah digantikan oleh seseorang. Tapi, pikiran PD penggantinya ini entah melayang ke mana.” ucap Se Young berceloteh di depan mic.
Dong il panik meminta Se Young tak berbicara, keseluruh penjuru Seoul, tatapanya melirik ke arah Tae Hee yang duduk diluar tanpa berkedip melihatnya.

Flash Back
Dong il berkomentar wanita yang disukai oleh Ji Hoon adalah wanita yang kuat, Ji Hoon membenarkan karena dari itu sangat menyukainya tapi sayangnya tak memberikan harapan. Dong il pikir apabila Ji Hoon itu menyukainya maka tak boleh menyerah.
“Aku pikir, alkohollah yang paling berharga buatku. Tapi, dia mengalahkan alkohol. Dan saat dia bilang, dia sudah menyukai orang lain. Wow! Rasanya aku mau memasukkan jariku ke tenggorokanku, lalu memuntahkan semua alkohol yang pernah aku minum. Aku ingin memutar kembali waktuku.” cerita Ji Hoon menyesal.
“Aku bisa mengerti. Tapi, wanita seperti itu bukan apa-apanya bagiku. Dari semua wanita yang aku temui, dialah yang paling aneh. Jika orang lain melihat kami, mereka pikir aku adalah bawahannya, karena Dia selalu memerintahku ke sana-ke sini. Dan suatu malam, dia membawakanku kimchi. Kami saling menatap ketakutan.  Menurutmu dia wanita seperti apa?” ucap Dong il yang sudah mulai mabuk.
Ji Hoon yakin kalau wanita itu memang menyukainya, Dong il merasa karena ucapanya itu membuatnya menjadi gila, lalu menceritakan bahwa wanita itu adalah teman dari Haeng Ah dan kenapa harus ia yang disukainya. Ji Hoon terdiam karena ternyata Tae Hee menyukai Dong il, pria yang duduk didepanya. Dong il pun menyadari kalau ternyata wanita yang diceritakan Ji Hoon itu juga Tae Hee. 

Dong il masih saja melamun, Se Young kembali mengomel karena melihat Dong il seperti tak mau mengantikan Haeng Ah karena ada keluarganya yang sakit. Haeng Ah tiba-tiba datang, Se Young berbisik meminta Dong il untuk memutar iklan, akhirnya Haeng Ah pun masuk ruang siaran.
Haeng Ah pun masuk meminta maaf akan menyelesaikan walaupun hanya di menit terakhir. Dong il buru-buru keluar ruangan menagih traktiran dari Haeng Ah karena sudah mengantikanya. Se Young dan Joon Su menanyakan keadaan bibinya. Haeng Ah dengan senyuman berbohong kalau bibinya sedang tak enak badan jadi harus menunggunya. Tae Hee sinis melihat Haeng Ah yang menutupi beban hidupnya dengan senyuman. 

Selesai siaran, Haeng Ah mengutarakan niatnya untuk mengambil cuti saja. Dong il meminta Haeng Ah tak perlu merasa tak enak hati karena daripada hanya duduk dikamarnya sendirian lebih baik ikut siaran walaupun dengan orang-orang aneh dalam timnya.
“Tapi, janjilah padaku Jangan pernah melewatkan makanmu, Dan jangan lupa memakai makeup.” ucap Dong il, Haeng Ah mengangguk dengan senyumanya.
“Aku tahu kau sangat khawatir, tapi tidak bisakah dia sesekali dijaga perawat saja? Ini Bukan anak durhaka namanya, jika hanya menitip orang tuanya sebentar, Kau hanya ingin bebas sedikit. Aku juga pernah mengalaminya.” saran Dong il
Haeng Ah mengerti, Dong il pun akan pergi dan dikagetkan dengan Tae Hee yang sudah berdiri dibelakanganya dengan membawakan tas. Tae Hee dengan tatapan sinisnya akan mengantar temanya. Haeng Ah mengatakan bisa naik taksi. Dong il menyarankan Haeng Ah menurutinya sebelum temanya itu mengamuk. Haeng Ah pun berjalan sambil memeluk temanya dengan penuh senyuman. 

Ri Hwan sudah menunggu didepan rumah, Haeng Ah bertanya sedang apa pacarnya menunggu disana. Ri Hwan bersandar melihat hari ini adalah hari terberat untuk Haeng Ah. Tapi menurut Haeng Ah tak seperti itu karena tak masuk kerja jadi teman-teman kantornya banyak membantu.
Keduanya sama-sama bersyukur memiliki orang-orang seperti itu. Ri Hwan menanyakan apakah Haeng Ah sudah makan malam. Haeng Ah menghitung ada 7 sampai 8 orang menanyakan pertanyaan yang sama. Ri Hwan pikir karena semua memberikan perhatian padanya. Keduanya lalu berjongkok didepan gerbang.

“Apa Kau sudah menonton video itu? Ada seorang suami yang melamar istrinya setiap hari. Dia juga mengidap Alzheimer, tapi kasusnya sedikit berdeda dengan bibi. Pria itu mengalaminya setelah mengidap stroke.” cerita Haeng Ah, Ri Hwan tak percaya Haeng Ah bisa tahu kasus seperti itu.
“Tentu saja, aku mencari di internet tentang penyakit bibi. Dan, suaminya itu hanya bisa mengingat saat dia pacaran dengan istrinya. Dia ingat mengajak istrinya pergi ke Danau Baikal, mengingat nama istrinya dan perasaan cinta pada istrinya. Jadi, dia akan melihat peta setiap hari, dan pergi ke danau itu. Lalu Dia memanggil nama istrinya dan melamar istrinya setiap hari. Ia mengatakan padanya bahwa dia mencintainya.” cerita Haeng Ah
“Haeng Ah.... Menikahlah denganku....Seperti itu?” kata Ri Hwan
Haeng Ah tersenyum membenarkan kalimat yang selalu diucapakan si suami yang menderita alzheimer. Ri Hwan kembali memberikan contoh dengan mengungkapkan bahwa ia menicintainya. Haeng Ah kembali tersenyum membenarkan seperti itu contohnya dan dilakukannya setiap hari. 


Haeng Ah tinggal dilantai atas mengirimkan pesan pada Ri Hwan yang ada dilantai dua.
“Aku harap bibi tak menderita dalam ingatan masa lalunya.” tulis Haeng Ah
“Ibu... apa ibu tidak tahu apa yang ibu lakukan sekarang? Menghapus ingat menyakitkan ibu,” balas Ri Hwan
“Aku ingin kita bertiga pergi berlibur.” tulis Haeng Ah
Ri Hwan duduk didalam kamarnya mengajak Haeng Ah untuk pergi sekarang, lalu bertanya kapan mereka akan pergi. Haeng Ah berdiri dibalkon mengusulnya besok, Ri Hwan keluar menuju balkon mengajak Haeng Ah untuk berlibur.
Haeng Ah pikir mereka lebih baik memakan panah untuk menunjuk tempat mana yang akan dituju. Ri Hwan setuju, lalu memanggilnya, Haeng Ah menyahut tapi tak dibalas oleh Ri Hwan, Haeng Ah pun membiarkan Ri Hwan tak membalasnya dengan menahan rasa sedihnya. 

Nyonya Park mengamuk dengan melempar gelas karena Haeng Ah tak juga datang kerumah. Bibi Gong sambil membersihkan pecahan kaca menelp Haeng Ah. Nyonya Park terus bertanya dimana Haeng Ah sekarang, saat telp tersambung Bibi Gong memberikan ponselnya.
“Haeng Ah....Bajunya putih dengan corak polkadot hitam.” ucap Nyonya Park, Haeng Ah berlari keluar dari ruang siaran
“Bibi, kau bisa memberitahuku lebih spesifik lagi? Aoa Dia adalah dokter dan  bekerja di rumah sakit bibi?” tanya Haeng Ah binggung
“Dia bekerja di bagian "Penyakit Pernapasan".” kata Nyonya Park
“Apa Bibi tak tahu namanya? Berapa usianya? Sekarang  Tenanglah,  Aku akan menghubungi bibi jika aku sudah menemukannya.” kata Haeng Ah lalu menutup telpnya.
bersambung ke part 2  

Sinopsis Bubblegum Episode 10 Part 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top