Thursday, November 19, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 8 Part 1

Ketika masuk ke dalam rumah, Ri Hwan melihat sepasang sepatu didepan rumah ibunya. Lalu Nyonya Park mendengar semua ucapan anaknya menghentikan lalu menyuruhnya pulang. Ri Hwan memohon untuk tidak menentang hubungan mereka dan menghalanginya.
“Jangan menganggap hubungan kami adalah pertanda yang sial dan Jangan menyalahkan Haeng Ah atas luka di masa lalu ibu. Ibu bisa mengatakan apa saja padaku. Tapi... ibu jangan pernah mengatakan hal yang tidak-tidak pada Haeng Ah lagi.” tegas Ri Hwan, Haeng Ah terus mengalirkan air matanya.
“Sudah kubilang, pulang!” teriak Nyonya Park sinis, Ri Hwan tetap memohon agar tak menyakiti  Haeng Ah.
“Terserah kau mau mau pulang atau tidak. Karena keputusanku tak akan berubah. Bahkan jika Haeng Ah juga ada di sini, keputusanku tak akan berubah. Aku tak akan pernah menyukainya.”  tegas Nyonya Park, Ri Hwan akhirnya keluar dari kamar.

Nyonya Park memberitahu Haeng Ah kalau Ri Hwan sudah pulang. Haeng Ah menghapus ari matanya keluar dari persembunyianya. Nyonya Park to the point, mengatakan mengidap penyakit Early Onset Familial Alzheimer. Early Onset adalah gejala yang berbeda dari yang biasanya menyerang usia 70an Dan "familial" adalah penyakit yang kemungkinan akan menyerang anggota keluarganya juga.
“Kemungkinannnya ada 50:50. Ri Hwan tidak mirip denganku dan juga sikap kami berbeda, jadi Dia pasti bebas.. Tapi....” jelas Nyonya Park. Haeng Ah tetap berharap supaya tak terjadi sesuatu yang fatal.
“Tapi, jika itu terjadi... Ri Hwan tidak boleh sampai sendiri. Seseorang yang tak akan lelah untuk terus menjaganya hingga dia mati nantinya.Bahkan jika ada yang berusaha mengusir Ri Hwan, orang itu akan tetap menjaga Ri Hwan. Dan hubungan itu disebut dengan "keluarga", kan? Hubungan di mana kau tak bisa mengusir seseorang tapi tidak bisa. Kau pasti tahu bagaimana kuatnya ikatan keluarga, 'kan?” jelas Nyonya Park, Haeng Ah menatap ibu Ri Hwan berkaca-kaca.

“Jika kau menjadi keluarga Ri Hwan, maka ia hanya akan memiliki satu anggota keluarga. Kau tahu apa yang aku maksud, 'kan? Karena kau adalah orang yang cerdas, Haeng Ah. Aku sudah tak punya waktu. Hanya menghitung hari sebelum penyakitku ini diketahui semuanya. Dan tentunya, Ri Hwan juga pasti akan mengetahuinya juga.” ucap Nyonya Park dengan nada sinis
Haeng Ah yang kasihan ingin memeluknya, tapi Nyonya Park langsung menolak dan menyuruhnya pulang. Haeng Ah memutuskan ingin tinggal dirumah itu, Nyonya Park menyindir Haeng Ah yang ingin membuat marah lagi, Haeng Ah hanya bisa menatap sedih ibu Ri Hwan yang menjadi walinya setelah sang ayah meninggal. 

Haeng Ah berjalan ditengah derasnya hujan, Suk Joon melihat Haeng Ah yang berjalan sendirian dengan mengikutinya dari mobil. Haeng Ah terus menangis karena kisah cintanya malah membuatnya harus melepas Ri Hwan, tiba-tiba ia terlihat jatuh lemas ditengah trotoar.
Suk Joon yang melihatnya langsung keluar dan menghampirinya dengan memanggil namanya. Haeng Ah melihat siapa yang memanggilnya lalu mengatakan kalau baik-baik saja, saat akan berdiri tubuhnya lemah dan akhirnya pingsan dipelukan Suk Joon. 

Haeng Ah memakai kain kompres di bagian lehernya, matanya sedikit terbuka dan samar-samar melihat wajah didepanya. Lama kemalamaan terlihat wajah Ri Hwan yang menunggunya, Ri Hwan melihat Haeng Ah membuka mata menyuruhnya agar tidur lebih lama lagi, Haeng Ah pun kembali menutup mata dan kembali tertidur.
Flash Back
Malam hari, Suk Joon yang membawa Haeng Ah sampai kerumah dan membaringkan diatas tempat tidur, seperti Haeng Ah masih pingsan. Ponsel di kamarnya terus saja bergetar, Suk Joon melihat nama yang tertulis adalah “ [Kakak yang mencintai Haeng Ah] dengan foto Ri Hwan. 

Ri Hwan dan Ji Hoon mencoba memindahkan burung yang mati tertabrak ditengah jalan untuk dimasukan ke dalam kotak dan menguburkanya. Ponsel Ri Hwan berdering, melihat nama Haeng Ah yang menelpnya wajahnya tersenyum.
Ia bertanya apakah Haeng Ah sudah selesai, tapi yang terdengar suara Suk Joon yang berbicara. Dengan nada marah bertanya kenapa ponsel Haeng Ah ada padanya, setelah mendengar penjelasanya memutuskan untuk datang lalu masuk kedalam rumah untuk mengambil kunci.
Ji Hoon binggung yang ditinggal begitu saja, saat Ri Hwan keluar rumah ia bertanya ada apa dengan Haeng Ah. Ri Hwan mengatakan tak mengetahuinya lalu berlari masuk ke dalam mobil tanpa payung. Ji Hoon yang melihatnya merasakan perasaan yang tak enak dengan burung merpati yang mati dengan Ri Hwan. 

Haeng Ah tertidur lelap di kamarnya, ditengah hujan deras, Ri Hwan bertanya dengan mata melotot menanyakan apa sebenarnya yang terjadi.  Suk Joon mengatakan tak bisa meninggalkannya sendirian dan Haeng Ah pasti akan kaget  melihatnya saat tersadar nanti.
“Kenapa kau bisa ada di sini?” teriak Ri Hwan
“Kenapa kau ribut sekali? Haeng Ah sedang tidur.” tegas Suk Joon, Ri Hwan tetap meminta penjelasan tentang semuanya.
“Seharusnya aku yang bertanya begitu, Kemarin dia tak pernah murung bahkan Sore tadi juga seperti itu.” jelas Suk Joon
Ri Hwan pun bertanya apa yang terjadi dimalam hari, Suk Joon pikir Ri Hwan pasti tahu apa yang terjadi  karena sebelumnya pernah berkata kalau selama bersama dirinya Haeng Ah merasa terluka seperti tertusuk jarum, tapi tak  pernah sekalipun pingsan saat bersamanya. Haeng Ah didalam kamar sedikit mengerakan tubuhnya.
“Dan sekarang, aku tak akan membuat Haeng Ah menungguku lagi. Jika dia memang bahagia bersamamu, Aku tak punya alasan untuk mengejarnya lagi.” jelas Suk Joon, Ri Hwan akhirnya berterimakasih karena sudah menelpnya.
“Jika saja dia tak takut dengan rumah sakit, dan jika kau bukan dokter, aku tak mungkin meneleponmu. Aku memintamu ke sini sebagai dokter. Tolong, obati dia.” tegas Suk Joon memberitahu alasan menelpnya lalu masuk ke dalam kamar, Ri Hwan meremas jarinya untuk menahan amarahnya. 

Ri Hwn akhirnya menelp Tae Hee bertanya apa terjadi sesuatu di radio sebelumnya. Tae Hee bertanya apa  balik memangnya Haeng Ah kenapa. Ri Hwan memberitahu Haeng Ah sedang sakit. Tae Hee kaget mengetahui Haeng Ah yang sakit padahal sebelumnya masih sehat-sehat saja.
“Dia pingsan tadi.di jalan  Apa kau tahu siapa saja yang baru-baru ini dia temui?” tanya Ri Hwan, Tae Hee mengingat terakhir kali bertemu Haeng Ah mengatakan akan bertemu dengan ibu Ri Hwan.
“Kau dari mana saja? Kau di mana saja saat Haeng Ah sedang dicaci maki tadi? Menurutmu siapa lagi yang bisa membuatnya begitu tertekan? Jika kau tak bisa melindunginya dari ibu. Kenapa kau tak melepasnya saja?” teriak Tae Hee kesal 

Ri Hwan teringat saat masuk ke dalam rumah melihat sepasang sepatu bukan milik ibunya, lalu berbicara dengan ibunya kalau Haeng Ah tak ingin mengecewakannya dan kalimat ibunya “Bahkan jika Haeng Ah juga ada di sini, keputusanku tak akan berubah. Aku tak akan pernah menyukainya.” Ri Hwan hanya bisa diam ternyata Haeng Ah ada dirumahnya mendengar semua pembicaranya. 

Ri Hwan menatap cermin melihat ada noda dibagian jaketnya dari tinta pulpen yang bocor, lalu bergumam “Sebuah pertanda buruk yang lebih menakutkan dari teror apapun.”
Setelah itu mengompes Haeng Ah melihat pacarnya yang sedang tertidur merasa itu sangat ketakutan sekarang
“Tapi...Dia terus menyembunyikan ketakutanku dan aku bahkan tak menyadarinya.Aku tak bisa menyadari ketakutannya.”
Ri Hwan melihat Haeng Ah sedikit tak tenang dalam tidurnya, tanganya mengelus pipi Haeng Ah memohon supaya sang pacar bisa berbahagai walaupun hanya dalam mimpinya saja. 

Haeng Ah akhirnya terbangun dari tidurnya melihat Ri Hwan duduk didepannya, menyuruhnya untuk tidur lebih lama lagi. Haeng Ah melepaskan kompresan dan berusaha untuk duduk. Ri Hwan akhirnya duduk disamping Haeng Ah memberitahu denyut nadinya tidak teratur semalam. Haeng Ah tetap merasa baik-baik saja. Haeng Ah mengucpakan permintaan maafnya, Ri Hwan binggung untuk apa Haeng Ah meminta maaf.
“Kemarin aku terlalu sibuk hingga lupa makan, lalu Aku naik taksi kemarin dan mabuk darat, setelah kehujanan dan pingsan. Awalnya, hujannya tidak deras, tapi tiba-tiba saja...” cerita Haeng Ah berbohong, Ri Hwan langsung memegang tanganya.
“Maaf...” ucap Ri Hwan tertuduk, kali ini Haeng Ah yang binggung melihat Ri Hwan yang meminta maaf.
“Maaf..... Untuk semuanya.” kata Ri Hwan tak berani menatap mata Haeng Ah karena merasa bersalah lalu memberikan air minum pada pacarnya. Haeng Ah menghabiskanya dan memberikan senyuman sumringahnya.
“Apa yang lebih menyakitkan dari kata, "Kenapa kau menyakitiku?" Dia bahkan berbohong bahwa dia baik-baik saja.  Dia hanya bisa berkata, "Semua baik-baik saja".” gumam Ri Hwan melihat senyuman manis Haeng Ah tapi di dalam hatinya sebenarnya sedang sedih
Ri Hwan memeriksa dahi Haeng Ah kembali, Haeng Ah meyakinkan kalau ia baik-baik saja, lalu bertanya dengan apakah Ri Hwan baik-baik saja, Ri Hwan pikir untuk apa  menayakan hal itu. Haeng Ah akhirnya hanya bisa diam.
“Ulang tahun macam apa ini?” keluh Ri Hwan, Haeng Ah terlihat kebingungan.
“Kau siaran live hari ini, 'kan? Apa kau tak bisa ijin saja?” ucap Ri Hwan.
“Tidak. Aku sudah baikan,Dan juga, penyiarku sudah memberitahupendengar bahwa hari ini aku ulang tahun. Mereka pasti sudah mengirimkan ucapan selamat ulang tahun padaku, jadi Aku harus membalas ucapan itu.” jelas Haeng Ah penuh semangat
“Aku akan menjemputmu setelah pulang kerja.” kata Ri Hwan
“Tidak Perlu, Tunggu aku di rumah saja. Aku akan pindah ke lantai 3, karena Aku pikir, inilah pilihan yang terbaik.” ucap Haeng Ah
Ri Hwang mengatakan belum memberitahu ibunya, Haeng Ah memutuskan akan memberitahu ibu Ri Hwan langsung dan berpikir kakeknya juga sudah setuju, menurutnya ini cara yang terbaik dengan pindah ke lantai sebagai hadiah ulang tahun untuknya. 

Haeng Ah pergi naik taksi lalu dengan membawa kopernya menaiki di ruangan lantai 3 dan duduk di atas sofa yang tertutup kain. Setelah itu menuruni tangga, dan betapa terkejutnya melihat Bibi Gong baru keluar dari pintu. Bibi Gong lebih kaget lagi melihat Haeng Ah langsung menariknya keluar rumah
“Sun Young akan segera turun, jadi Cepatlah pulang.” ucap Bibi Gong panik
“Bibi, aku membawa koperku ke sini dan Aku akan pindah ke lantai 3.” kata Haeng Ah
“Tidak boleh! Maksudku Tidak sekarang.” kata Bibii Gong
“Aku tak bisa meninggalkannya sendirian.” ucap Haeng Ah khawatir.
Bibi Gong mengatakan dirinya yang akan menemani Nyonya Park, Haeng Ah pikir Bibi Gong akan menjaga disiang hari dan ia yang akan menjaga di malam hari. Bibi Gong perlahan memberitahu Nyonya Park yang  tak boleh tertekan dan ia sendiri sudah stres sekarang, lalu mengajaknya untuk bicara di toko dan mendorongnya agar pergi sebelum Nyonya Park melihatnya. 

Nyonya Park keluar saat Haeng Ah sudah pergi, Bibi Gong masih terlihat panik lalu melihat Nyonya Park yang mengunakan sandal rumah, lalu memintanya agar menunggu dimobil dan akan mengambilkan sepatunya. Nyonya Park pun menunggu di mobil dan Bibi Gong masuk mobil dengan membawakan sepatu.
“Ada tiga hal yang tak ingin aku lupakan. Aku akan terus mengulanginya hingga aku tak akan bisa lupa. Tapi, jika aku lupa...” ucap Nyonya Park terhenti, Bibi Gong dengan wajah serius meminta untuk mengatakan saja.
“Ayahku sedang sakit, jadi Aku harus memberitahunya penyesalanku. Ri Hwan tak harus hidup dengan seseorang yang ingin dia lindungi jadi Dia harus menikahi seseorang yang bisa melindunginya. Dan hal terakhir. Hari itu... Aku sangat bahagia. Bahkan, saat aku merasa sangat membenci dunia ini dan semua isinya Dan saat aku merasa tak pernah bahagia. Katakan padaku, bahwa hari itu ada.” ucap Nyonya Park, Bibi Gong sempat terdiam mendengar hal yang terakhir. 

Haeng Ah akan masuk ke dalam lift, melihat ponselnya bergetar sengaja membiarkanya. Ketika di rooftop baru menelp Suk Joon dengan meminta maaf sebelum tak mengangkat telp karena banyak orang.
Suk Joon yang duduk dicafe mengerti. Haeng Ah ingin membahas kejadian kemarin tapi Suk Joon memotong menanyakan keadaannya. Haeng Ah bertanya balik apakah Suk Joon baik-baik saja. Suk Joon mengucapkan terimakasih kareha Haeng Ah sudah mengkhawatirkannya, lalu dengan wajah serius mengatakan ada sesuatu yang ingin ditanyakan.
Beberapa saat kemudian, seorang pria datang menyapa Suk Joon dengan nama  Ko Jung Hyun dari Channel Korea dan berjabatan tangan dengan Suk Joon yang memperkenalkan namanya. 

Ri Hwan membawa pulang dua buket bunga ke dalam klinik, lalu melihat Ji Hoon sedang mengali tanah, mulutnya langsung berkomentar kalau memang digali lebih baik tak usah menguburnya.
“Aku memang tak mungkin memiliki 2 hal sekaligus, Tae Hee mengalahkan alkohol. Tapi Kenapa kau bawa 2 bunga? Siapakah wanita lain itu?” tanya Ji Hoon.
“Ibuku. Aku ingin meminta maaf padanya.” kata Ri Hwan dengan senyuman
Ji Hoon berkomentar warna bagus dan baunya juga enak, lalu mengoda Ri Hwan untuk mencucikan tangan yang kotor kena tanah. 

Ibu Yi Seul meminta maaf karena datang terlambat, lalu menyindir lebih baik terlambat daripada tidak datang sama sekali. Nyonya Park meminta maaf tentang kemarin, Ibu Yi Seul mengaku dirinya shock kareena selama ini tak ada yang pernah membuatnya menunggu dan mengetahui kalau salah satu pasien Nyonya Park ada yang meninggal.
Nyonya Park terlihat binggung membenarkan, lalu diam-diam membuka catatan dalam ponselnya bertuliskan “Pernikahan Ri Hwan, Taeyang Grup, Hong Yi Seul, Maaf untuk kejadian kemarin, Berbohong tentang pasienku yang meninggal.”  Sementara Ibu Yi Seul sibuk melihat tas yang dipakai oleh Nyonya Park
“Apa dia wanita yang kikir ataukah miskin?” gumam Ibu Yi Seul angkuh melihat dari pakaian sampai tas yang dipakai oleh calon besanya. 
Keduanya akhirnya minum teh bersama, Ibu Yi Seul langsung membahas Satu-satunya kesamaan antara anak mereka  adalah, kalau Ri Hwan tak tertarik bekerja di rumah sakit kakeknya dan membuka klinik herbal yang kecil. Sementara Yi Seul tak tertarik dengan Taeyang Grup dan membuka klinik gigi yang kecil juga.
“Kudengar, anak anda orang yang sangat merendah diri, karena Anakku juga begitu.” kata Nyonya Park
“Anda akan langsung tahu jika mengunjungi kliniknya. Interior dan semuanya sangat sederhana, maksudku...Tak ada bahan marmer sedikitpun di sana. Dia adalah wanita yang sederhana dan Banyak yang ingin menikah dengannya. Tapi, banyak juga yang hanya mau memanfaatkan uangnya saja.” jelas Ibu Yi Seul

“Dia bahkan membayar utang atas sewa bulanan pada kakeknya.Setelah dia lulus sekolah, dia tak pernah meminta uang padaku.” balas Nyonya Park
Ibu Yi Seul menjerit  mengetahui Ri Hwan membayar sewa bulanan, Nyonya Park memberitahu Ri Hwan masih belum bisa membeli rumah sendiri. Ibu Yi Seul kaget, menduga itu bukan anak kandungnya dan akan tinggal dirumah itu juga setelah menikah. Nyonya Park menyakinkan kalau tak akan seperti itu.
“Taeyang Grup tak mungkin mengincar kekayaan ayahku. Jika anda memang ingin menguasainya, anda pasti bisa tanpa harus melakukan pernikahan ini Tapi, anda tetap saja ingin melakukannya.” ucap Nyonya Park
“Sepertinya, anda sudah salah paham. Pernikahan ini bukanlah keinginanku.” kata Ibu Yi Seul
“Aku yakin, anda pasti sangat menyukai kebaikan yang anakku miliki. Selama hidupnya, dia tak pernah menjadi anak yang nakal. Dia bahkan rela untuk berkorban demi orang yang disayanginya. Jika anda juga tak menginginkan anakku, aku tak mungkin memaksanya menerima pernikahan ini.” jelas Nyonya Park. 

Nyonya Park datang ke klinik Yi Seul berpikir calon menantunya itu sedikit kaget dengan kedatanganya. Yi Seul mengatakan tidak lalu merasa Ri Hwanbelum memberitahu kalau anaknya menyukai orang lain. Nyonya Park tahu kalau wanita itu Haeng Ah dan memintanya tak perlu khawatir karena keduanya tak ingin bersama.
“Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu padanya, Yi Seul. Apa kau bisa memberitahuku?” ucap Nyonya Park
“Aku ingin terlihat baik di depan Ri Hwan dan ingin menjadi seseorang yang cocok untuknya. Tapi, aku tak mungkin menjadi jahat untuk memaksanya bersamaku, 'kan?” kata Yi Seul
“Tapi, bagaimana jika aku yang memintamu? Aku mungkin terlihat seperti ibu yang kejam dan Aku juga melarang hubungan mereka. Aku tak menyukainya Haeng Ah.” tegas Nyonya Park blak-blakan
“Jika anda bukan ibunya, mungkin tak akan terlihat terlalu kejam. Apa Anda telah bertemu dengan ibuku? Di mata ibuku...Sebagai wanita, maupun sebagai orang lain... Terkadang aku tak bisa mengenalinya, kita bisa saja jadi lemah dan serakah. Dia terkadang menyalahkan orang lain atas permasalahan yang dia hadapi. Karena dia sangat lemah dan tak bisa berkorban dan Dia juga tak bisa memahami situasi apapun. Tapi, aku tak menganggapnya jahat. Dan juga... Ri Hwan pasti sangat menyayangi anda.” cerita Yi Seul
Ibu Ri Hwan sempat terdiam mendengarnya seperti mengingat sikapnya jahat pada Haeng Ah tapi anak itu tetap mencintainya. Yi Seul meminta maaf kalau kalimatnya terkesan mengurui.
“Aku mungkin terlihat seperti ibu yang jahat,. Tapi, jangan khawatir. Aku akan segera meninggalkan kehidupan Ri Hwan, karena Aku mengidap Alzheimer dan Ri Hwan tidak mengetahuinya.” cerita Nyonya Park
“Aku akan menemukan pengobatan untuk anda.” kata Yi Seul cepat.
“Aku akan menitipnya padamu.” pesan Nyonya Park
“Tidak. Aku pasti bisa menemukan pengobatan yang bisa membantu anda.” kata Yi Seul yakin
Nyonya Park melihat ada tak ada ketakutan dari mata Yi Seul, saat itu Yi Seul mengakui semua dilakukan untuk Ri Hwan. Nyonya Park mengerti kalau yang dimiliki Ri Hwan satu-satunya adalah ibunya. Yi Seul pun tak bisa berkomentar. 
bersambung ke part 2 

Sinopsis Bubblegum Episode 8 Part 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top