Wednesday, November 25, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 9 Part 1

Dong il memasang ramen dalam kamarnya, lalu membuka kulkas melihat sekotak kimchi dari Tae Hee, kebingungan mau diapakan Kimchi sebanyak itu olehnya. Sementara Tae Hee  duduk di depan komputernya, mengetik materi siaran.  [Senin, November 16, 2015 Malam Pembukaan] lalu melamun kemudian mengetik   [Ketakutan..]
Flash Back
Tae Hee meminta jawaban dari pertanyaan, apakah Dong il menyukainya. Dong il pun menjawab kalau ia merasa takut pada Tae Hee, mendengar jawaban Dong Il membuat Tae Hee tak puas karena bukan jawaban dari pertanyaan.
“Aku merasa takut padamu. Kau pikir kau tak menakutkan? Kau tak suka saling tos, kau menganggapnya menjijikkan. Lalu Kau menatapku dengan tatapan mematikan Dan kau bilang, Suk Joon memperlakukanku seperti anjing. Kau juga suka seenaknya menyuruhku Dan kau menerobos ke asramaku saat aku tak memakai celana, membawakanku setoples kimchi. Lalu kau bertanya apa aku menyukaimu? Kau mau aku jawab apa? Coba pikir, dengan sikapmu itu, apa aku bisa menyukaimu? apa kau bisa seenaknya bersikap seperti itu padaku? Jadi, siapa yang tidak takut dengan sikapmu itu?” jelas Dong il panjang lebar.
“Jadi... Kau... mempunyai perasaan yang sama denganku, 'kan?” ucap Tae Hee

Dong il menghela nafas menurutnya Tae Hee memang aneh, menyuruh Tae Hee memikirkan umur dirinya sekarang dan juga bercermin agar melihat berapa umurnya sekarang, setelah itu melupakan semua yang sudah dikatakan tadi dan carilah seseorang yang cocok denganya.
“Jika memang ada, kenapa aku harus bertanya padamu?” ucap Tae Hee berkaca-kaca
“Sejak kapan kau... Kenapa harus aku orangnya? Sudah Lupakan saja. Tak usah katakan apa-apa lagi. Aku akan berpura-pura hal ini tak pernah terjadi.” kata Dong il lalu pamit pergi lebih dulu.
“Sejak kau meneleponku dulu... Aku takut.” akui Tae Hee saat Dong il baru berjalan beberapa langkah. Dong il tak menanggapinya memilih untuk berjalan pergi. 

Tae Hee mulai mengetik materinya kembali “Sebuah cinta tanpa rasa takut, Sebuah perang tanpa korban. Langit malam yang terang benderang. Semua hal itu tak pernah ada.” Siaran Radio terdengar dengan suara penyiar yang lembut “Saat seseorang jatuh cinta, akan ada saat kau tak akan bisa menahan rasa sukamu.” Tae hee mencari keyword dalam laptopnya. [Musim Dingin yang Terakhir]  lalu menulis dalam bukunya.
“Saat cinta pertamamu pergi, kau harus mengikhlaskannya. Tapi, seperti anak-anak yang menangis melihat dinasaurus. Padahal mereka sangat menyukai mainan dinasaurus. Ini juga sama saja dengan rasa takut yang tak bisa kita hindari. Meskipun kau menangis, kau akan tetap mencintainya. Rasa takut yang terus menghantuimu. Itulah yang dinamakan cinta.  Sebuah cinta tanpa luka...hanyalah cinta dinegeri dongeng.”
Dong il berjalan ke meja kerja menelp anak yang berulang tahun, menanyakan keadaan di Amerika, terdengar suara khawatir dengan anaknya yang belum mengunakan jaket, saat bertanya tentang ibu dari anak-anaknya, harus terputus karena anaknya sedang sibuk. Akhirnya ia berbicara di telp sendirian mengutarakan perasaan sangat merindukan anaknya.
Tae Hee melihat dari dalam ruangan, Dong il seperti sedih hanya sendirian tinggal di Korea dan sang anak yang tak merindukan dirinya. Lalu sengaja mematikan lampu agar tak terlihat dari luar ada orang didalam. Dong il berjalan keluar tanpa mengetahui ada Tae Hee yang sedari tadi melihatnya. 

“Ada yang bilang, jika kau terluka, maka itu bukanlah sebuah Cinta. Putus cinta memang akan sangat menyakitkan. Tapi, lagu ini akan mengobati lukamu.”
Tae Hee keluar ruangan melihat Dong il yang berjalan tanpa gairah di lorong, lalu pergi ke tempat Dong il dengan lampu yang masih menyala.
“Aku akan menghilang dalam kedalaman sebuah cinta. Saat putus cinta begitu menyakitkan, aku akan tertawa. Aku akhiri acara malam ini dengan lagu, "Afternoon Scenery" oleh Hei. Semoga hari kalian bahagia. Aku PD Yoon Ji Won.”
Ia melihat kopi instant dan foto anak dengan mantan istrinya masih di taruh diatas meja, sandal yang berada di lantai, lalu merapihkan jaket yang ada dikursi, setelah itu meninggalkan ruangan. Ketika keluar bertemu dengan Dong il yang baru saja membeli makanan.
Dong il bersikap biasa seperti tak terjadi apapun menyapa Tae Hee yang lembur. Tae Hee melihat bungkusan yang dibawa Dong il adalah kimchi, padahal sebelumnya memberikan sekotak kimchi.
[22 December 2014

[16 November 2015]
Dong il keluar dari kamar melewati kedai tempat Ri Hwan minum dengan Ji Hoon. Ri Hwan berjalan sempoyongan di tangga penyebarangan dan melihat Haeng Ah berdiri didepanya dengan menahan air matanya, lalu berjalan perlahan dan memeluknya.
Haeng Ah menepuk punggung pacarnya, Ri Hwan membisikan permohonan maafnya  dan meminta untuk tak pergi darinya. Haeng Ah menangis meminta maaf. Ri Hwan memeluk erat Haeng Ah diatas tangga penyebrangan tengah malam. 

Ji Hoon akhirnya mengendong  Ri Hwan pulang sampai ke kamarnya, saat akan keluar kamar tangan Ri Hwan menahan Haeng Ah untuk tak pergi. Ji Hoon yang pengertian sengaja mematikan lampu dan memilih untuk keluar rumah dan akan pulang pagi hari.
Haeng Ah langsung jatuh diatas tempat tidur saat Ri Hwan menariknya, lalu Ri Hwan dengan sengaja membuat Haeng Ah bisa saling berhadapan dan memeluknya. Tangan Ri Hwan mengepal, seperti menahan rasa sakit dihatinya.
“Saat kita mengetahui kebenaran yang tak bisa kita terima, Tutuplah mata kita.” Haeng Ah pun mulai menutup matanya.
“Dalam kegelapan, berharaplah kebenaran itu akan menghilang.” Haeng Ah membuka matanya kembali berusaha untuk bangun tapi Ri Hwan menahanya dengan memeluknya erat.
“Menghilanglah, menghilanglah. Bawalah kebenaran itu ke dalam dunia mimpi.”

Ji Hoon pergi ke restoran ayam memanggil Joon So, tapi tak keluar sosok yang dicarinya. Bibi pelayan datang, Ji Hoon menyapa berpikir Joon So sedang mengantar makanan. Si bibi mengelengkan kepala, karena tak tahu kemana pergi si pegawai part time itu, berpikir sedang sibuk berkerja di kantor.
Akhirnya Ji Hoon memesan menu seperti biasa, saat mencari tempat duduk melihat Dong il duduk sendirian tanpa memesan ayam, hanya soju. Lalu Dong il mengajak untuk duduk bersama dan memulai percakapan dengan minum dulu. Ji Hoon teringat janjinya untuk tak minum lagi.
“Kenapa kau berhenti minum?” tanya Dong il heran
“Karena kisah sedihku dengan seorang wanita.” cerita Ji Hoon menatap sedih. 

Haeng Ah perlahan melepaskan pelukan Ri Hwan yang sudah tertidur pulas, lalu duduk sambil menatapnya mengucapkan kata maaf karena tak bisa menepati janjinya. Sebelumnya Haeng Ah berjanji  tak akan melarikan diri karena sekarang sudah menyukai Ri Hwan, lalu menutup pintu kamar Ri Hwan.
Ri Hwan membaringkan badanya dengan menaruh tangan diatas dahinya, seperti ia sengaja membiarkan Haeng Ah berpikir untuk tertidur pulas.
“Sekarang... Aku harus membuka mata dan sadar. Kemarin hanyalah sebuah mimpi yang bodoh. Aku memelukmu.”
Haeng Ah masuk ke dalam kamarnya di lantai tiga dan Ri Hwan membuka matanya dan bangun dari tidurnya.
“Syukurlah. Itu hanya mimpi. Jika aku bisa berbicara denganmu sekarang... Jika semua ini... hanyalah mimpi.”
Ri Hwan meraba kasurnya, terlihat anting Haeng Ah yang tertinggal di atas tempat tidurnya. Haeng Ah hanya bisa duduk dilantai dengan bersandar di dinding. 

Pagi hari
Ri Hwan melihat Ji Hoon yang berbaring di sofa, Ji Hoon terbangun lalu mengajak Ri Hwan untuk makan sup pereda mabuk. Saat makan sup, keduanya sama-sama ingin bicara tapi Ji Hoon membiarkan Ri Hwan berbicara lebih dulu karena ia masih ingin memikirkanya lagi sebelum bicara.
“Maaf. Tapi, apa aku bisa kerja pada pagi hari saja?” kata Ri Hwan
“Aku bahkan bisa bertugas sendiri untuk sementara ini. Tapi, kenapa memangnya?” tanya Ji Hoon.
“Aku harus terus menemani ibuku. Ibu mengidap... Alzheimer.” ucap Ri Hwan
Ji Hoon sempat terdiam, lalu berpikir Ri Hwan masih mabuk karena menurutnya orang yang sudah tua wajar jadi pelupa dan menurutnya Ri Hwan itu hanya bercanda. Ri Hwan hanya bisa tertunduk diam, Ji Hoon masih saja berteriak tak percaya menanyakan siapa dokter bodoh yang mengatakan itu. 

Haeng Ah mendengar bunyi ketukan pintu dikamarnya, melihat Ri Hwan ada didepan kamarnya padahal mobilnya sudah tak ada diluar jadi seharusnya pacarnya itu sudah pergi berkerja. Ri Hwan memberitahu kembali lagi, lalu mengajaknya pergi makan. Haeng Ah tahu Ri Hwan baru saja makan dengan Ji Hoon. Ri Hwan mengaku lapar jadi menyuruhnya untuk keluar. 

Ri Hwan ingin membuka penutup nasi, Haeng Ah mengatakan bisa membukanya sendiri, tapi Ri Hwan tetap membukanya. Haeng Ah pun menutup kembali mangkuk nasinya, Akhirnya Ri Hwan membiarkan Haeng Ah membuka sendiri mangkuknya.
Haeng Ah kembali terdiam saat Ri Hwan menaruh sayuran diatas nasinya, menyuruh untuk tak melakukan hal seperti itu padanya. Ri Hwan tahu yang ada dipikiran Haeng Ah sekarang tapi memintanya agar tak melarangnya dan Haeng Ah pasti tahu alasanya.
“Kau bersikap seperti itu waktu kita masih pacaran Dan sekarang, kita sudah putus. Aku bisa membuka tutup nasi ini sendiri dan juga bisa mengambil lauk sendiri tanpa kau ambilkan.” Kita masih bisa seperti dulu, dengan Makan sambil tetap bercanda.” jelas Haeng Ah
“Kenapa harus begitu?” tanya Ri Hwan
“Karena keadaan yang memaksa kita dan Banyak yang menderita karena kita.” tegas Haeng Ah
“Jadi, hanya kita yang boleh menderita? Kenapa hanya kita yang menanggungnya? Bagaimana dengan hati kita? Apa hati kita tak terhitung?” kata Ri Hwan tak terima
“Hati apanya? Apanya yang penting dari itu? Kita bisa tetap hidup, 'kan?” balas Haeng Ah, Ri Hwan tak terima Haeng Ah mengangap hati mereka tak penting.
“Saat seseorang ditempatkan dalam alat pemenggal kepala, Jika satu tetes air saja mengenainya, orang itu akan mati. Dan hati akan berhenti. Apa kau tak tahu kenapa ibuku dulu mencoba bunuh diri? Kenapa kau malam menganggap hati itu tidaklah penting?” ucap Ri Hwan
Haeng Ah menegaskan dirinya tak seperti Nyonya Park karena  tak akan bunuh diri dan pasti akan melupakan semuanya suatu saat nanti. Ri Hwan tak percaya Haeng Ah bis melupakan begitu saja, Haeng Ah menegaskan kalau ia bisa melupakan semanya.

“Apa Kau tak sedih melihatku pacaran dengan orang lain?” tanya Ri Hwan, Haeng Ah mengatakan Ya
“Lalu, kenapa sikapmu jadi seperti ini? Kenapa kau tak mau makan jika aku menyentuhnya? Kau bisa bilang "Selama beberapa hari ini, aku telah mempermainkanmu, Park Ri Hwan." Kenapa kau tak makan saja? Jika kau menganggapnya tak penting. Kenapa sikapmu jadi begini?”teriak Ri Hwan
“Jadi, aku harus bagaimana? Apa aku harus berpura-pura mengabaikan semuanya? Dan hanya ada kita berdua di dunia ini? Kau pasti tak bisa sekejam itu.” balas Haeng Ah
Ri Hwan menegaskan bisa kejam, Haeng Ah pun bertanya apakah Ri Hwan bisa meninggalkan Ibunya dan menggenggam tangannya. Ri Hwan hanya diam tak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan Haeng Ah. 

Nyonya Park membuatkan jus seperti biasa di pagi hari ditemani oleh bibi Gong, terdengar bunyi seseorang yang datang, Bibi Gong buru-buru pergi takut ketahuan dengan Ri Hwan kalau menginap dirumahnya.
Ri Hwan masuk ke rumah meminum jus buatan ibunya, Nyonya Park berpesan pada anaknya agar mengunakan jaket saat pergi jogging, karena anaknya itu tak seperti dirinya yang kuat dingin. Ri Hwan pun menghabiskan segelas jus penuh buatan ibunya.
Nyonya Park menyuruh anaknya pergi berkerja, Ri Hwan berpura-pura menyuruh ibunya juga pergi berkerja. Setelah ibunya masuk kamar, Ri Hwan memasukan kembali jus dari gelas lalu menambahkan yoghurt yang lupa dicampurkan oleh ibunya. 

Di dalam kamar, Nyonya Park membalas pesan dari ponselnya memberitahu akan bertemu dengannya dan tak akan telat. Bibi Gong masuk ke dalam kamar merapihkan selimut karena Nyonya Park ingin berbaring.
“Bagaimana perasaanmu? Kau harus datang hari ini. Oh ya, anakmu datang ke rumah sakit kemarin.Dia masih tak percaya. Tapi, dia sudah tahu semuanya. Lagipula, cepat atau lambat dia pasti akan tahu.”
Pesan dari Sang Gyo masuk dan tertutup dengan telp dari Yi Seul. Bibi Gong pun memberikan ponsel pada Nyonya Park. Sepertinya Yi Seul mengajak untuk bertemu dengan Nyonya Park. 

Se Young memulai syutingnya sebagai wanita yang bisa menaklukan pria dengan parfumnya dengan adegan saling menjambak. Joon So sebagai managernya, membantu Se Young merasa pusing setelah rambutnya ditarik-tarik, lalu menawarkan untuk membelikan kopi. Se Young mengeluarkan dompetnya.
Joon So mengaku masih memiliki uang, Se Young memberitahu bukan itu tapi kartu kupon dengan meminta stampel. Beberapa pria datang membicarakan Joon So yang tak sopan karena Se Young memberinya kartu kredit tadi. Semua menduga Joon So itu pacarnya yang hanya bergantung pada wanita, tanpa kerja keras.
Se Young yang membalikan kursinya mendengar pikiran orang-orang tentang Joon So, ketiga pria itu tiba-tiba berhenti. Joon So sudah berdiri dibelakang Se Young memberikan kopi dan juga kartu kupon yang sudah stampel. Se Young sedih melihat Joon So yang dianggap mengunakan uang darinya. 

Bibi Gong menarik Haeng Ah keluar tak ingin berada dirumah Nyonya Park sekarang. Haeng Ah khawatir dengan keadaan Nyonya Park sekarang. Bibi Gong memberitahu akan mengantarnya kerumah sakit jadi nanti akan memberitahunya.
 “Jika sedang tak bekerja, aku akan ada di lantai 3, jadi jika bibi membutuhkanku...” ucap Haeng Ah dipotong oleh bibi Gong
“Haeng Ah....Jika Sun Young tahu kau tinggal sana, dia bisa saja...” kata Bibi Gong terhenti melihat orang yang datang.
Yi Seul turun dari mobil melihat Haeng Ah dengan tatapan sinis bertanya sedang apa dirumah Ibu Ri Hwan. Haeng Ah hanya diam melihat Yi Seul yang datang, Yi Seul memilih untuk masuk ke dalam rumah. 

Di dalam rumah
Nyonya Park mengucapkan terimakasih, lalu mengutarakan tak bisa menerimanya. Yi Seul bisa mengerti lalu keluar dari rumah dengan tertunduk sedih, didepan gerbang ternyata Haeng Ah menunggunya sambil bersandar di dinding. Haeng Ah berdiri melihat Yi Seul yang datang, seperti ingin tahu keadaan Nyonya Park didalam rumah.

bersambung ke part 2  

Sinopsis Bubblegum Episode 9 Part 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top