Thursday, November 26, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 9 Part 2

Haeng Ah sudah duduk dengan Yi Seul disebuah restoran memberitahu tentang tas yang belum digantinya. Yi Seul mengatakan Haeng Ah tak perlu mengantinya, Haeng Ah melirik Yi Seul sudah memiliki tas yang baru, lalu menanyakan tentang Nyonya Park.
Yi Seul memberitahu Nyonya Park yang lebih dulu menemuinya dan menceritakan semuanya, jadi sekarang sedang mencari solusinya, tapi ternyata tak ada perawatan untuk penyembuhan total, tapi bisa menguranginya. Haeng Ah bertanya pengobatan seperti apa. Yi Seul memberitahu Nyonya Park menolak solusinya.
“Aku tak akan menyerah mencari solusi lain. Jika kita bisa memperlambatnya sehari, Ri Hwan akan bisa bersama ibunya lebih sehari juga. Dia bisa menghabiskan waktu dengannya. Aku bisa melakukan itu untuknya.” jelas Yi Seul, Haeng Ah mengucapkan terimakasih
“Kenapa kau yang berterima kasih, Haeng Ah? Bibi sepertinya tidak menyukaimu. Bukankah sikapmu ini sangat egois? Kau meminta Ri Hwan untuk memilih antara ibunya dan kau.” komentar Yi Seul sinis, Haeng Ah ingin menjelaskan tapi Yi Seul kembali berbicara
“Aku mencintai ibuku tapi aku juga membencinya. Aku tak suka jika ada orang yang mengejeknya. Tapi, aku suka berada di klinikku agar aku tak melihat wajahnya itu. Tapi, tetap saja... Jika ibuku mengidap penyakit yang tak bisa disembuhkan. Aku akan ada disisinya dan tak akan membuatnya kecewa. Kau tak mengerti itu, Haeng Ah?” ucap Yi Seul
Haeng Ah berusaha menjelaskan tapi Yi Seul kembali menyelanya. Yi Seul mengatakan Haeng Ah tak perlu mengganti tasnya dan bisa mengambil semua yang dimiliki bahkan harga dirinya, tapi ada satu permintaan yang dinginkanya.
“Tapi, apa kau bisa menghilang... dari kehidupan Ri Hwan?” ucap Yi Seul dengan menahan tangisnya, Haeng Ah melonggo mendengarnya.
“Aku.. Menghilang seperti itu...” kata Haeng Ah binggung untuk berbicara.
Yi Seul meminta maaf dan memilih untuk pergi. Haeng Ah menariknya, menanyakan apakah memang Yi Seul punya solusinya karena yang dicari diinternet tak ada obatnya, sebenarnya ingin bertanya ke rumah sakit tapi ia tak bisa masuk ke sana jadi tak ada yang bisa dilakukan. Yi Seul mengatakan akan melakukan.
Haeng Ah berjanji  tak akan menemui Ri Hwan lagi tapi tak bisa menghilang begitu saja, karena akan membuat hubungan mereka seperti dulu lagi, walaupun Ri Hwan masih belum bisa menerimanya tapi ia yakin bisa melakukanya, karena itu satu-satunya cara untuk mengobati Bibi.
Yi Seul terisak meminta untuk melupakan semua yang dikatanya tadi, Haeng Ah tak masalah hanya meminta agar Yi Seul bisa membantu Nyonya Park dan meminta maaf. Yi Seul masih saja terus menangis, Haeng Ah sadar tanganya masih memegang lengan Yi Seul dan melepasnya. Yi Seul pun pergi sambil menangis. 

Joon So meminta Se Young tak menghiraukan perkataan orang lain. Se Young malah menyuruh Joon So yang berhenti mengikutinya lagi. Joon So pikir tak ada alasan dirinya berhenti. Se Young kaget mendengar Joon So yang mengunakan bahasa informal padanya. Joon So merasa mereka tak melakukan kesalahan. Se Young pikir hanya Joon So yang merasa seperti itu. Joon So pun tak terima Se Young itu harus memikirkan ucapan orang lain dan merasa sakit hati.
“Apa kau pikir aku sakit hati karena ucapan mereka? Selama 20 tahun, aku telah menjalani kerasnya kehidupan ini. Sebagian orang mungkin akan berkata bahwa aku cantik, tapi, sebagian orang akan meludahiku, mengutukku, dan menginjakku tanpa alasan sama sekali. Tapi, aku masih bangun di pagi hari, mengenakan makeup, dan tersenyum. Aku bisa bertahan dan tidak masalah sama sekali.” ucap Se Young, Joon Su menatapnya berkaca-kaca
“Tapi... Saat aku mencapai titik terendah... Aku meihat ke sekeliling. Dalam kehidupan keras itu...Ibuku juga ada di sana. Saat aku melakukan sesuatu yang salah, maka Keluargaku akan terkena juga. Bahkan Mereka juga akan meludahi ibuku. Jadi, jika kau bersamaku...kau harus menjalani hidup yang keras dan diludahi seperti itu.” kata Se Young sambil menangis.  
Joon So memeluk Se Young, mengaku tahu dengan hal itu, Se Young yakin Joon Su tak akan mau seperti itu. Joon So membenarkan. Se Young menceritakan kalau orang-orang berpikir Joon So itu hanya memanfaatkan uangnya saja, padahal ia sendiri sedang tak punya uang dan juga tak sebanding antara pengeluaran dan pendapatan. Joon So mengerti sambil ikut menangis.
Se Young mengakui kalau usianya itu lebih tua 3 tahun dari biodata yang ada dikantor dan juga melakukan operasi dibagian mata dan hidungnya. Joon So tahu, Se Young merasa sudah memberitahu semuanya, lalu tersadar mascara yang dipakai tidak tahan air dan pasti wajahnya jadi jelek sekarang. Joon So tersenyum mendengarnya berpikir mereka itu sekarang lebih baik berpelukan seperti ini saja. 


Tae Hee tak percaya Haeng Ah dan Ri Hwan akan kembali ke hubungan seperti dulu dengan begitu perasan mereka akan goyah karena akan tinggal satu bangunan yang dana dan bertemu setiap hari bahkan tak akan saling melupakan. Haeng Ah merasa yakin bisa melakkan semuanya. Tae Hee menyuruh Haeng Ah sadar dan jangan banyak bercanda.
“Aku harus merawat bibiku sekarang.” ucap Haeng Ah
“Kau bisa membantu apa di sana? Apa Kau, Ri Hwan,ibunya? Dia akan sembuh dengan lukamu itu? Bukan begitu caranya! Aku memintamu, agar Ri Hwan yang menjadi pihak yang hancur. Kenapa harus kau? Dia juga bukan ibumu, bahkan Ibu dan ayahmu telah pergi. Jadi, kenapa kau harus menderita lagi? Kembalilah pada Kang Suk Joon. Dasar bodoh!” teriak Tae Hee lalu melihat Dong il yang akan masuk ke roof top tapi melihat Tae Hee memilih untuk pergi. 

Tae Hee mengejar Dong il yang terlihat ketakutan, Dong Il menghadangnya bertanya apa lagi sekarang. Tae Hee meminta nomor Kang Suk Joon dan Dong Il pasti mendengarnya. Dong il merasa harus meminta persetujuan Haeng Ah dulu. Tae Hee memberitahu kalau Haeng Ah sudah "sekarat" sekarang, jadi meminta Dong il untuk cepat memberikan nomornya. Suk Joon sedang ada di ruang kerjanya menerima telp dari Tae Hee, hanya mengatakan kalau ia mengerti dengan cerita Tae Hee, lalu keluar dari ruanganya. 

Ri Hwan tak tahu, jika Suk Joon segitu tertariknya dengan urusannya. Suk Joon mengatakan semua ini menyangkut Haeng Ah. Ri Hwan menegaskan bahw semua ini adalah urusanya dengan Haeng Ah jadi tak seharusnya tidak melibatkan dirinya.
“Aku tak seharusnya percaya pada orang yang suka menerobos masuk. Sepertinya, aku ingin meminta bantuanmu,Sama seperti yang kau lakukan dulu.” ucap Suk Joon yang mengingat saat itu Ri Hwan memohon bantuan agar tak menemui Haeng Ah
“Kecuali kau ingin terus menggenggam tanggannya dan menyakitinya.” ucap Suk Joon
“Aku tak menggenggam tangannya hanya untuk menyakitinya.” balas Ri Hwan
“Kecuali, kau mencintainya dan membuatnya menangis.” kata Suk Joon.
“Aku tak mencintainya hanya untuk membuatnya menangis.” ucap Ri Hwan
“Kau bertanya, apa aku mengenal Haeng Ah? Haeng Ah memutuskanku karena dia pikir aku tak membutuhkannya. Jika kau berada dalam posisi seperti itu, tak peduli berapa kali dia pingsan di jalan. Dia tak akan mampu meminta putus duluan.” kata Suk Joon

Ri Hwan menegaskan kejadian seperti itu  tak akan terulang lagi dan tak akan membiarkan Suk Joon yang lebih dulu tahu keadaannya. Suk Joon memberitahu alasan melakukan semua ini adalah untuk menebus semua kesalahannya yang membuatnya menderita ketika mereka pacaran dulu. jadi sekarang ia tak akan membuatnya menunggu dan tak ingin Haeng Ah menangis dan ketika sakit akan tetap disisi Haeng Ah walaupun menolaknya.
“Aku akan selalu bersamanya.  Jika dia membutuhkan teman menangis. Aku akan menemaninya. Jika dia sakit, aku juga akan menemaninya. Apa pun itu, aku akan selalu menemaninya.” tegas Ri Hwan
“Kenapa Haeng Ah harus bersamamu?” tanya Suk Joon
“Karena jika kami terpisah, kami pasti akan terluka. Dan juga, kami akan menangis. Daripada harus menangis di tempat yang berbeda, kami akan menangis bersama.” jelas Ri Hwan
Ia duduk dikursinya menatap gelang pemberiaan darinya saat masih kecil pada Haeng Ah ada diatas mejanya, lalu keluar dari ruanganya.

Haeng Ah akan keluar bersama dengan timnya, tiba-tiba Ri Hwan menariknya menjawab pertanyaan Haeng Ah “apakah kau bisa menggenggam tanganku?” kalau ia bisa melakukanya dan untuk sekarang ini bisa melakuka dimana saja. Haeng Ah binggung melihat Ri Hwan yang datang hanya ingin mengatakan hal itu.
“Aku merasa bisa gila. Aku berjalan ke sana dan kemari, Berusaha untuk tak ke sini. Tapi, kakiku menuntunku ke sini. Kita akhirnya bisa bersama, Kita dulu sudah menghindarinya dan berpura-pura dan melarikan diri. Tapi, akhirnya kita saling menggenggam juga. Bahkan jika kita putus sekarang, kita pasti akan kembali lagi. Pada akhirnya, hanya kau. Sejak awal hanya kau yang kupilih. Apa yang kukatakan ini...semuanya salah?” ucap Ri Hwan. Haeng Ah terdiam

“Aku selalu menganggap kata "Semangat" adalah kata yang lucu. Tapi, saat kau mengatakan itu, aku merasa kuat kembali. Jika kau ada di sisiku, aku bisa melakukan apapun dan  pasti akan baik-baik saja, begitu juga hubunganku dengan ibu. Aku akan bisa dan akan membuat ibu mengatakan  "Syukurlah Haeng Ah ada untuknya."” tegas Ri Hwan dengan sangat menyakinkan.
 “Aku tetap bisa menggenggammu.Tapi, aku tak akan... tidak akan melakukan apa yang tak kau suka. Aku tak akan melakukan apapun yang membuatmu tertekan. Jadi... kembalilah bekerja. Jangan takut dan jangan menangis, Jangan ada yang berubah.” ucap Ri Hwan merapatkan jaket Haeng Ah sambil mengelus rambutnya lalu memegang pipinya. 

Yi Seul kembali keruangan melihat ibunya kembali datang, Ibu Yi Seul melihat lukisan yang dibeli anaknya bertanya karya siapa lukisan itu. Yi Seul  memberitahua hanya replika. Ibunya kembali mengomel karena anaknya membeli replika murahan. Yi Seul melirik sinis menanyakan ada urusan apa ibunya datang karena pasiennya sudah menunggu.
“Hari ini ulang tahun Pamanmu.” ucap Ibu Yi Seul
“Aku sibuk malam ini dan akan meneleponnya nanti.” kata Yi Seul
“Baguslah.... Semua kerabatmu akan datang. Aku malas menjawab pertanyaan, "Kapan anakmu menikah?" itu. Lebih baik, kau bertugas saja di sini.” kata Ibu Yi Seul lalu memperlihatkan foto pria yang berkerja sebagai jaksa yang kakeknya adalah mantan Hakim Mahkamah Agung dan Ayahnya Jaksa Penuntut Umum.
“Aku sudah menyukai pria lain.” ucap Yi Seul, Ibunya merasa tak penting

“Apa pentingnya itu? Cinta dalam pernikahan itu hanyalah sebuah mitos sekarang. Bahkan kakek-nenekmu belum pernah bertemu sebelum menikah” ucap ibu Yi Seul
“Sudah tak jamannya dijodohkan.” balas Yi Seul
Ibunya merasa anaknya apabila anaknya ingin hidup di negeri dongeng dengan cinta lebih baik cari saja seorang pangeran. Yi Seul memanggil ibunya, lalu berharap agar tak sakit. Ibunya malah berpikir anaknya mengalihkan pembicaran dan mendoakan agar dirinya sakit.
“Aku tak mau... menuruti perintah ibu. Aku tidak mau dijodohkan” teriak Yi Seul. Sang ibu kaget mendengar anaknya menolak dijodohkan.

Bibi Gong baru saja mengantar Nyonya Park dari rumah sakit dan menyuruhnya istirahat sesuai dengan perintah dokter. Nyonya Park enggan karena belum lelah dan harus mulai mencatat semua yang ada dalam pikirannya. Bibi Gong yang akan mengambil minuman mengerti.
“Dimulai dengan tiga hal yang tak boleh aku lupakan. Aku tak akan melupakan ketiga hal itu. Aku harus menemui ayahku sebelum kondisiku semakin memburuk.” jelas Nyonya Park
“Kita ke sana akhir pekan ini, Sekarang pergilah beristirahat.” kata Bibi Gong
Nyonya Park berjalan ke kamarnya terdengar deringan telp, tapi didiamkan begitu saja. Bibi Gong heran melihat Nyonya Park tak mengangkatnya. Nyonya Park merasakan ada firasat yang buruk. Bunyi deringan telp pun berhenti, bibi Gong pikir apabila memang penting pasti orang itu akan menelpnya lagi.
Deringan telp kembali terdengar, akhirnya Nyonya Park mengangkatnya, ternyata dari kakaknya yang mengabari tentang ayahnya, Nyonya Park langsung menjatuhkan telp dan menangis.
“Dia berusaha keras untuk menghentikanmu, tapi kau pergi bersama dengan anakmu itu. Tapi, kepada ayahmu sendiri, kau bahkan tak sempat mengatakan maaf hingga dia meninggal? Kenapa kau bisa egois sekali? Apa kau tahu, ayah selalu menunggumu?” ucap kakak dari Nyonya Park 

Ri Hwan membawa ibunya kedalam kamar setelah upcara kematian kakeknya, bibi Gong pun menemani Nyonya Park yang masih terlelap sampai malam hari. Dalam pikiran Nyonya Park mengulang ucapan Ri Hwan sebelumnya tentang kakeknya.
“Jika waktu bisa terulang, aku tak akan menemani ibu. Aku akan mengusir ibu juga.” ucap Ri Hwan
“Hubungi dia saat pernikahanmu sudah ditetapkan. Kakekmu pasti sangat penasaran.” kata Nyonya Park
“Jika putri bungsuku kabur...” ucap Ri Hwan dan Nyonya Park tak ingin mendengar saat itu sengaja membunyikan blender agar bising.
Bibi Gong yang menunggu, berganti dengan Ri Hwan yang menatap ibunya sambil bertanya kenapa tidur lama sekali.
18 November, 9 Pagi
“Saat kita mengetahui kebenaran yang tak bisa kita terima Tutuplah mata kita.”
Nyonya Park bangun dari tidurnya lalu melihat vas bunga diatas mejanya masih kosong, Ri Hwan menceritakan ibunyamemejamkan matanya dan bertanya-tanya dalam tidurnya panjang, apa saja yang dlihat dalam mimpi dan kenangan mana yang di pertahanan dan mana yang akan dibuang, 

Yi Seul memberikan berkas tentang penyakit Nyonya Park yang bisa mengurangi penyakitnya, Ri Hwan pun mengucapkan terimakasih atas bantuanya. Jam 3 Sore, Nyonya Park Kembali tertidur, dalam mimpinya kembali ke bulan Juli, 1983.
Di dalam rumah sakit bertanya tentang bayinya, perawat yang ada disana menunjuk seorang bayi yang menangis diranjangnya. Pada tanggal 18 Juli 1983, melahirkan seorang bayi.
19 November, jam 8.20 pagi. Nyonya Park terbangun melihat vas bunga sudah ada mawar merah dan kembali tertidur.
18 November, jam 11 malam. Haeng Ah sengaja datang ke kamar Nyonya Park menaruh  mawar lalu perlahan keluar dari kamar dan tinggal di lantai 3 dengan kamar yang gelap
“Kita bisa melihat tidur panjang ibu dengan perasaan yang sama. Kalau saja ini semua hanyalah mimpi. Menghilanglah, menghilanglah. Bawalah kebenaran itu ke dalam dunia mimpi.”

20 November, 10 malam.
Nyonya Park duduk diatas tempat tidurnya, dengan mata terpejam memegang perutnya. Ingatanya kembali saat bulan desember tahun 1982, ia pergi dari rumah dengan perut yang mulai membesar.
21 November, 1 siang
Ri Hwan memberikan obat untuk ibunya, lalu ibunya kembali tertidur. Ingatan Nyonya Park kembali ke bulan januari tahun 1983,saat itu ayah Haeng Ah masuk ke dalam kamar mengetahui Nyonya Park yang ingin bunuh diri dengan meminum banyak pil.
22 November, 4 Sore
Air mata Nyonya Park yang tertidur mengalir, dalam pikiran terdengar suara ayah Haeng Ah yang memarahinya karena sikapnya bukan seperti seorang dokter. Suara Ri Hwan bergumam terdengar “Menghilanglah, menghilanglah.Bawalah kebenaran itu ke dalam dunia mimpi.”
Bibi Gong masuk ke dalam kamar, melihat Nyonya Park yang tertidur seperti sedang bermimpi, lalu menaruh gelas minum dan keluar dari kamar dengan tatapan sedih.
22 November, 11 malam,
Nyonya Park terbangun dari tidurnya,hanya melihat sekeliling dan seperti masih mengantuk. 

Dalam ruang siaran, Joon So melihat kalender tak terasa sebulan lagi natal akan datang, Se Young mengaku sangat benci natal karena Setelah Natal, Tahun Baru  berarti umurnya bertambah tua lagi. Joon So merasa tak ada yang salah.
Se Young merasa umur mereka akan semakin jauh berbeda. Joon So menanggapi dengan senyuman kalau umurnya juga akan bertambah. Se Young tersenyum mendengarnya. Haeng Ah yang melihat keduanya ikut tersenyum karena keduanya terlihat akur dengan umur yang berbeda jauh.
Ri Hwan mengirimkan pesan kalau sudah menunggu didepan gedung, memintanya untuk tak terburu-buru keluar ruang siaran kalau sudah selesai. Haeng Ah menyuruh Ri Hwan menunggu didalam mobil karena udara semakin dingin. 

Tae Hee baru saja selesai fotokopi melihat meja Dong Il yang menyapa tanpa ada orangnya dan memilih pergi. Dong il berjongkok didepan lemari esnya, terlihat kebinggungan apa yang akan dilakukan.
Ri Hwan mengantar Haeng Ah sampai rumah, Haeng Ah melihat Ri Hwan yang lelah. Ri hwan mengelengkan kepala. Haeng Ah bertanya apakah Ri Hwan ingin bertemu dengan ibunya sebelum pulang. Ri Hwan membenarkan. Haeng Ah memikirka apabila terjadi sesuatu padanya, Ri Hwan memotong akan memberitahunya lalu menyuruh Haeng Ah masuk lebih dulu ke dalam rumah. Haeng Ah pikir Ri Hwan tak perlu datang lagi karena pasti akan tertekan, Ri Hwan pikir mereka akan melihat besok saja. 

23 November, 1 pagi
Nyonya Park membuka matanya, suara gumam Ri Hwan kembali terdengar “Menghilanglah, menghilanglah Bawalah kebenaran itu ke dalam dunia mimpi.”Ingatan Nyonya Park kembali ke Bulan Juli 1983, saat dirumah sakit bertanya kemana bayinya. Perawat terlihat sedih karena tak ada bayi didalam box dan nama yang tertera di papan juga hilang.
Pagi Hari, Nyonya Park membuka matanya melihat Ri Hwan berdiri didepanya. Ri Hwan menyapa ibunya yang baru saja bangun dari tidurnya. Nyonya Park terlihat binggung, Bibi Gong masuk kedalam kamar membawakan gelas minum. Nyonya Park menarik bibi Gong, bertanya siapa anak muda yang ada didepanya.
“Bagaimana dengan Haeng Ah? Di mana Haeng Ah?” tanya Nyonya Park yang tak mengenal anaknya sendiri.
Bibi Gong tak bisa menutup rasa shocknya, tanganya bergetar, Ri Hwan memegang tangan Bibi Gong agar bisa tenang. Nyonya Park memandang Ri Hwan dengan tatapan aneh, Ri Hwan duduk didepan ibunya memperkenalkan dirinya. Nyonya Park seperti masih belum mengenalnya.
 [Cinta, adalah hal yang menyulitkan dan juga menakutkan.]

Dibuat gambar lukisan pasir dengan menceritakan si kerudung merah dengan suara Nyonya Park.
“Gadis berkerudung merah lelah berjalan jauh. Setelah berhenti sejenak, Dia meletakkan boneka kelinci favoritnya di bawah pohon. "Selamat tinggal, aku tak akan mengingatmu lagi."”
Ri Hwan yang bermain pasir bertanya pada ibunya, kenapa gadis itu membuang boneka kelincinya. Nyonya Park memberikan alasan karena bonekanya berat dan si gadis itu kesulitan membawanya. Ri Hwan mengerti dan Nyonya Park kembali melanjutkan ceritanya.
“Gadis berkerudung merah mulai berjalan lagi. Dan dia menemukan burung kecil yang terluka, lalu menggendongnya di dekat dadanya. "Maaf. Kau pasti sangat kesakitan."
Haeng Ah bertanya pada bibinya, kenapa gadis itu meminta maaf pada burung kecil, Nyonya Park menjelaskan karena sebelumnya gadis itu selama ini tak menyukai burung itu. Haeng Ah mengerti sambil bermain pasir dan Nyonya Park kembali membaca dongengnya.

“Gadis berkerudung merah mulai berjalan, berbalik, dan bingung memilih jalan. "Haruskah aku berhenti dan beristirahat sekarang? Haruskah aku melepaskannya sekarang?"”
Lukisan pasir mengambarkan si gadis kerudung merh yang terlihat binggung menatap kearah belakang. Nyonya Park masih menatap Ri Hwan dengan wajah binggung karena tak menggenal pria yang ada didepanya. Ri Hwan dengan mata  berkaca-kaca kembali memperkenalkan dirinya bernama “Park Ri Hwan”
Bersambung ke episode 10 

Sinopsis Bubblegum Episode 9 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top