Friday, November 13, 2015

Sinopsis She Was Pretty Episode 16 Part 2

Hye Jin memberikan buku tabungan dan ingin ayahnya membeli mesin cetak baru karena sebelumnya keluar dari perusahaan jadi mengumpulkanya agak lama, jadi meminta ayahnya bisa menerimanya. Sang ayah sedikit kaget menolaknya, karena apabila mesinnya rusah tinggal di perbaiki saja.
“Benar sekali. Mana bisa kami menerimanya? Kami tak pernah lakukan apapun untukmu, kau simpan saja, gunakan kalau butuh.” ucap ibunya.
“Iya benar. Gunakan untuk pernikahanmu.” saran ayahnya.
Tidak, ayah ibu. Saat kami menikah, Hye Jin hanya perlu membawa dirinya saja. Bahkan tak perlu Bawa sendok, dia cukup bawa dirimu saja.” kata Sung Joon
Hye Jin meminta ayahnya menerima karena sudah berjanji dalam hati dan hanya akan tenang setelah ayahnya menerimanya. Sang ayah terdiam seperti tak ingin menerima pemberian uang dari anaknya. Hye Jin memohon agar bisa menerimanya, Sung Joon terlihat terharu melihat keluarga yang selama ini tinggal jauh denganya. 

Hye Jin mencuci piring, tiba-tiba Sung Joon datang menghampirinya. Hye Jin bertanya apakah Sung Joon membutuhkan sesuatu. Sung Joon mengeleng lalu mengelus rambut Hye Jin memuji pacarnya yang terlihat sangat cantik. Hye Jin tersenyum mendengarnya.
Sung Joon pun memeluknya, pelahan mencium keningnya, Hye Jin sempat kaget setelah itu tak bisa menahan tawa bahagianya, Sung Joon begitu ikut tertawa melihat kebelakang takut ada orang yang melihatnya, lalu mengajak Hye Jin membantu bersama.
Hye Jin menolak, Sung Joon tetap ingin melakukanya bersama-sama lalu mengodanya dengan berbisik situasi seperti ini. Hye Jin tersipu malu menyenggol Sung Joon, tapi karena terlalu bersemangat membuat sang pacar terpental jauh. Hye Jin pun menjerit membantu Sung Joon bangun. 

Hye Rin sudah tidur lelap sementara Hye Jin gelisah akhirnya membuka pintu kamarnya, wajah Sung Joon tepat berbaring didepan pintu. Hye Jin sedikit menjerit lalu Sung Joon dengan senyuman memintanya untuk tak berisik takut membuat bangun.
Tangan Sung Joon pun melambaikan tanganya, Hye Jin tersenyum sumringah membalas lambaian tanganya. Sung Joon lebih mendekat, Hye Jin tertawa bahagia, Sung Joon kembali meminta pacarnya untuk tak berisik, keduanya saling menatap.
Keduanya saling menatap, Sung Joon mengulurkan tanganya, Hye Jin pun mengenggam dua tanganya. Keduanya sama-sama berbaring dengan celah pintu yang terbuka dan saling bergenggam tangan. 

Hye Jin menolak untuk diantar karena lebih baik Sung Joon pergi kerja saja, tapi Sung Joon tetap ingin mengantarnya lebih dulu. Hye Jin tersenyum lalu melihat sesuatu yang terselip didalam tasnya dan ada note yang tertulis disana.
“Kami tidak bisa membayar pendidikanmu, saat kau menikah, ayahmu ingin menghadiahkan selimut yang bagus jadi dia menabung selama 10 tahun. Sekarang saatnya memberikan ini padamu. Terima kasih, maaf.Kami mencintaimu”
Hye Jin membaca note lalu melihat buku tabungan yang sudah dikumpulkan ayahnya selama 10 tahun, lalu menangis haru. Sung Joon binggung melihat Hye Jin yang menangis. Hye Jin dengan nada terisak sedih karena ayahnya memberikan uang itu padanya karena seharusnya membeli mesin yang baru. Sung Joon mengelus kepala Hye Jin merasa sudah menjadi anggota keluarganya. Hye Jin mengengangamnya dan Sung Joon memberikan kecupan ditanganya. 

Sung Joon masuk ke dalam kantor menyapa semua tim sambil membaca tabnya, Joo Young yang melihat Sung Joon masuk ke dalam ruangan berteriak memanggilnya, Sung Joon siap membuka jaketnya, Joo Young lebih menyaringkan suaranya. Sung Joon akhirnya menengok melihat Joo Young yang duduk dikursinya.
Joo Young memberitahu Sung Joon salah lagi masuk ke dalam ruangan, Sung Joon tersadar sekarang sudah menjadi pimred dan ruanganya ada diatas, sambil meminta maaf pada Joo Young karena sudah menjadi kebiasan masuk ke dalam ruangan itu, lalu keluar ruangan. Joo Young ingin memberitahu jaket Sung Joon belum terpasang sempurna tapi Sung Joon buru-buru keluar ruangan dan mengakui alasan mereka memanggilnya “Ji dunggu”

Ah Reum hampir jatuh karena roda kursinya jatuh, lalu bertanya apakah mereka memiliki palu. Han Sul mengelengkan kepalanya, lalu melihat Poong Ho sedang mengelap papan namanya sebagai wakil Presdir, meminta izin untuk meminjamnya. Poong Ho pikir Han Sul ingin membantu membersihkanya, tapi ternyata sebagai penganti palu untuk memperbaiki roda kursi.
“Hei, hati-hati dengan itu!!! Aku... ini tetap anaknya presdir.” jerit Poong Ho,
Han Sul dan Ah Reum seperti tak peduli, malah Ah Reu meminta Han Sul untuk memukulnya lebih kuat lagi. Han Sul pun mengembalikanya karena papan namanya itu membantu, Poong Ho mengejeknya dengan mengucapkan terimakasih. 

Pekerja magang baru menanyakan kebenaran Ten yang pernah berkerja di ruangan itu juga.  Joon Woo membenarkan, semua ikut mendengarkan pembicaraan keduanya, Pekerja magang ingin tahu sifat Ten karena dari fotonya sangat terlihat keren.
“Entah keren atau tidak. Bukankah ini saat kita tertawa?” komentar Poong Ho sambil mengambil tongkat pengaruk punggungnya, semua tim lama tertawa mengingat sifat Shin Hyuk tak seperti di foto.
“Aku sangat penasaran. Seperti apa Shin Hyuk Sunbae sekarang?” tanya In Kyung, Eun Young juga merasa penasaran
“Niat sekali sembunyinya, bahkan SNS-nya juga gak pernah update.” kata Sun Min sedih.
Joo Young keluar dari ruanganya melihat kursi Shin Hyuk yang kosong dengan wajah sedih. Poong Ho tak tahu keberadaan Shin Hyuk, yang membuatnya kangen dengan ekpresi wajahnya. Semua Tim lama ikut menghela nafas sedih. Joo Young lalu memberitahu semua tim untuk rapat 10 menit lagi.  

Di sebuah hostel, Pena milik Ten dan note tergeletak dilantai, seseorang sibuk mengetik sementara roomatenya tertidur pulas. Ketika temanya sudah bangun, dan selesai mandi Shin Hyuk masih saja mengetik menyapanya dengan bahasa inggris.
“Kau bepergian sendiri? Sudah dari mana saja kau? Aku baru saja dari Switzerland.” sapa si pri bule
“Keren. Aku dari sana sini, tidak punya tujuan.” jawab Shin Hyuk tetap serius mengetik
Pria itu lalu memuji topi yang digunakan Shin Hyuk bagus, Shin Hyuk mengucapkan terimakasih dengan bangga menceritakan topi itu dari temanya. 

Sebelum Shin Hyuk pergi melalang buana, sengaja meminta dibelikan sebuah topi dan dibayar oleh Hye Jin, wajah Shin Hyuk tersenyum mengingat kenangan manisnya dengan Hye Jin.
Pria bule itu melihat wajah Shin Hyuk, bertanya apakah ia penulis Ten yan terkenal itu. Shin Hyuk membenarkan dengan senyuman, Pria bule langsung bersemangat meminta foto dan tanda tangan. Shin Hyuk langsung berpura-pura hanya bercanda dan berharap dirinya adalah Ten. Pria bule itu terlihat kesal dengan bercanda Shin Hyuk.
Shin Hyuk tiba-tiba melemparkan sesuatu, Pria bule langsung menjerit ketakutan melihat laba-laba karet ada ditanganya. Shin Hyuk tertawa bahagia karena kejahilanya 100% berhasil lalu berpikir kemana lagi akan pergi sekarang. 

Hye Jin melihat buku-buku dongeng dari rak, seorang pria memanggilnya “penulis Kim” tapi Hye Jin yang tak biasa hanya diam saja memilih buku-buku dongeng lainnya. Akhirnya pria itu memanggil dengan suara nyaring “Penulis Kim Hye Jin!” Hye Jin pun akhirnya menengok.
“Aku memanggilmu dari tadi, Apa tidak dengar?” tanya pria itu, Hye Jin mengaku tak tahu kalau di panggil oleh pria itu
“Aku sudah melihat ilustrasinya, daningin membicarakannya. Apa kau bisa ke kantorku bersama tim penulis lainnya?” ucap Si pria
Hye Jin mengerti akan memberitahu penulis lainya, Pria itu pun mengucapkan selamat tinggal dengan panggilan “penulis Kim.”Hye Jin tersadar sekarang panggilanya adalah “Penulis Kim” dan menjerit bahagia. 

Ha Ri sedang interview pekerjaan dengan empat kandidat lainya, Seorang petinggi melihat umur Ha Ri yang tua tapi belum punya pengalaman bekerja. Ha Ri membenarkan dengan wajah gugup. Salah seorang pria bertanya apakah Ha Ri pernah berkerja di Ara Hotel, Ha Ri terlihat kebinggungan.
“Tahun lalu aku bekerja di Ara Hotel. Dan sepertinya aku pernah melihatmu, apa benar?” tanya pria itu, Ha Ri pun membenarkanya.
“Kenapa kau tidak menulisnya di profilmu?”tanya petinggi hotel
“Karena itu bukan hasil jerih payah saya sendiri.” akui Ha Ri dengan penuh keyakinan. 


Penulis Lee membawa setumpuk buku dongeng untuk semuanya yang baru saja keluar, semua langsung berkumpul menjerit gembira melihat hasil kerja keras mereka selama satu tahun, Hye Jin juga melihat warna dari gambar buku dongeng sangat bagus lalu mengambil salah satu buku dongeng berjudul [Cerita tentang Gadis Pengintip].
Flash Back
Hye Jin kecil melihat puzze yang disusun Sung Joon meihat ada orang dibalik si Pria. Sung Joon kaget Hye Jin bisa melihatnya lalu mememberitahu bahwa itu adalah gadis pengintip.
“Tapi gadis ini, seperti permainan gambar tersembunyi. Lihatlah, kalau dilihat baik-baik kau tidak akan menyadarinya. Seperti permainan gambar tersembunyi.”jelas Hye Jin menunjuk gambar si gadis pengintip.
“Itu benar, seperti pemainan gambar tersembunyi.” kata Sung Joon setuju. 

Hye Jin membuka buku dongeng dengan judul “Cerita tentang Gadis Pengintip”dilembaran pertama tertulis “Penulis : Lee Me Eun, Kim Hye Rang, Kim Ee Jin, Yoo Rim Seon, Kim Hye Jin” wajah Hye Jin tersenyum bahagia dan terlihat air mata harunya ingin keluar karena berhasil mengapai impianya menjadi penulis buku dongeng seperti saat masih kecil. 

Sung Joon mengomel pada timnya yang cuma fokus pada warna putih saat membuat proposal dan membuangnya ke tempat sampah lalu menyuruh semua tim memulai dari awal dan melakukan dengan benar.
Poong Ho yang melihatnya berkomentar sudah bakalan jadi begini. Ah Reum yang mendapatkan pukulan dikepalanya langsung memegang bibir Poong Ho agar diam. Joo Young menarik Sung Joon mencoba untuk tersenyum, memberitahu kalau ruangan itu bukan miliknya lagi, saat Sung Joon mengarah ke ruangan Wapemred lagi.
“Apa ruangannya mau kuganti dan bertukar tempat?” tanya Joo Young yang sudah kesekian kalinya Sung Joon masuk ke dlam rungan. Sung Joon menolak dan pergi menaiki tangga dengan wajah malu.
“Ruangannya sendiri saja tidak tahu.” ejek Han Sul kesal 

Sung Joon kembali turun dari tangga meminta semua menerima yang diberikanya, Ah Reum binggung apa yang diberikan Sung Joon pada semua tim. Setelah membagi semuanya, Sung Joon memperlihatkan jarinya yang memakai cincin memberitahu akan menikah.
Han Sul dan yang lainnya langsung menjerit membuka undangan, Poong Ho melihat waktu itu besok, Sung Joon berharap apabila timnya memiliki waktu luang bisa datang untuk makan bersama dan buru-buru masuk kedalam ruangan dengan wajjj gugup.
Joon Woo dan Han Sul tak bisa berkata-kata melihat foto yang ada disana Sung Joon dengan Hye Jin didepan gambar lukisan kesukaan Sung Joon. Sun Min ingat panggilan Shin Hyuk pada Hye Jin itu Jackson yang mereka kenal. Joo Young benar-benar tak percaya Sung Joon akan menikah dengan Hye Jin. Ah Reum bertanya-tanya kapan mereka pernah terlihat bersama-sama.
Poong Ho selama ini berpikir Hye Jin itu akan dengan Shin Hyuk, Joo Young melihat undangan milik Sung Joon berkomentar Seharusnya undangannya lebih bagus dan Lebih terlihat MOST, tapi tersenyum karena pimrednya akan segera menikah. 

Ha Ri menelp Hye Jin dengan panggilan kesayanganya, “Istriku!” memintanya untuk datang dan mengajaknya pergi. Hye Jin binggung kenapa tiba-tiba temanya mengajak pergi. Ha Ri mengatakan untuk terakhir kalinya dan mengajak pergi ketempat yang indah, karena besok Hye Jin akan menikah dan ingin memberikan selamat.
Di sebuah ruangan dengan pepohona dan ada dua buah kursi yang sudah ditata dengan sangat cantik, Ha Ri mengucapkan selamat untuk pernikahan untuk Istrinya. Hye Jin benar-benar tak menyangka Ha Ri menyusun itu semuanya. Ha Ri mengodanya kalau tetap memanggilnya Hye Jin dengan panggilan "Istri", nanti ada yang marah, Hye Jin melirik dengan senyuman.

“Aku berusaha keras untuk ini, kuharap kau hidup bahagia.” cerita Ha Ri, Hye Jin mengucapkan terimakasih merasa temanya itu tak perlu membu itu semua.
“Masih ada lagi yang patut dirayakan.” akui Ha Ri lalu memperlihatkan sesuatu dari ponselnya.
Hye Jin melihat email yang masuk bertuliskan “Selamat atas diterimanya bekerja di Q Hotel.” lalu berteriak gembira temanya kembali mendapatkan pekerjaan, keduanya duduk bersama untuk bersulang, Ha Ri mengucapkan Untuk pernikahan Kim Hye Jin dan Hye Jin mengucapkan Untuk masa depan hotelier Min Ha Ri.

Hye Jin berjalan-jalan ditaman binggung menunggu Ha Ri yang lama sekali ke toilet, tiba-tiba sebuah mahkota dengan rangkain bunga dipasang di kepalanya. Ha Ri juga memberikan sebuket bunga, mengatakan saat Hye Jin menikah ingin memberikan buket bunga buatannya sendiri dan harus bolos demi membuat semuanya. Hye Jin benar-benar terharu melihat pengorbanan sahabatnya.
“Hari ini, tidak boleh menangis dan Aku juga tidak akan menangis!.” kata Ha Ri yang melihat Hye Jin ingin menangis dan berusaha menahan harunya juga.
“Baiklah, tidak akan menangis.” kata Hye Jin
Keduanya saling berpelukan erat, Ha Ri berpesan pada temanya harus hidup bahagia. Hye Jin berjanji akan hidup bahagia. Setelah itu keduanya mengambil foto bersama dengan timer sebelum esok harinya Hye Jin menikah dengan Sung Joon. 

Hye Jin berjalan ke depan pintu dengan mahkota dan buket bunga yang persiapkan Ha Ri untuknya. Sung Joon dengan rambut yang tertata rapih terlihat tampan dengan stelan jas untuk pengantin. Hye Jin menarik nafas panjang merasakan sangat gugup sebelum masuk ballroom.
Sung Joon melihat Hye Jin yang ada disampingnya, berusaha untuk tenang lalu bertanya apakah calon istrinya itu sudah siap. Hye Jin mengangguk dengan senyuman, Sung Joon memberikan lenganya, Hye Jin pun mengalungkan tanganya masu ke dalam ballroom bersama.
Beberapa bingkai dipasang foto Hye Jin dan Ha Ri sebelum menikah, lalu foto Sung Joon dan Hye Jin saat pacaran dengan puzzle gadis pengintip yang dibingkai, dibagian bawah foto saat Hye Jin dan Sung Joon menaiki perahu bersama dan yang terakhir adalah Foto saat keduanya resmi menikah. 

Sebuah rak buku yang penuh dengan tempelan note disana sini, terdengar suara Sung Joon yang bertanya dimana gunting kuku. Hye Jin sibuk menulis menghela nafas menyuruh Sung Joon mencari di laci nomor dua, setelah itu menelp seseorang kalau penulis Choi belum mengirimkan ilustrasinya.
Sung Joo akhirnya masuk ke dalam ruangan memberitahu tak menemukanya, Hye Jin merasa Sung Joon belum mencarinya dengan benar. Sung Joon mengeluh tetap tak menemukanya, lalu duduk disamping Hye Jin kalau suda menemukanya meminta di potong kukunya.
Hye Jin mengerti dengan pandangan tetap serius menatap laptopnya, Sung Joon manyun mencoba mengoda Hye Jin dengan menopangkan kepala dan menatapnya lebih dekat, Hye Jin tak peduli tetap mengetik. Sung Joon hanya bisa menghela nafas lalu tersenyum memikirkan sebuah rencana untuk mengodanya, ia memanyunkan bibirnya untuk meminta cium, Hye Jin hanya mengarahkan sedikit bibirnya dan terus mengetik.

“Apa-apaan itu tadi? Ah Kim Hye Jin berubah. Bukankah dia maniak ciuman?” keluh Sung Joon kesal
“Deadline nya hari ini. Nanti aku akan menciummu” kata Hye Jin tetap fokus mengetik
“Kita sudah menikah, tapi aku kesepian. Saaangat kesepian!” jerit Sung Joon sengaja berbicara disamping telinga Hye Jin lalu berjalan pergi.
Hye Jin tersenyum melihat tingkah Sung Joon yang berjalan pergi. Sung Joon terus berteriak “Sangat amat kesepian sekali!” Hye Jin akhirnya dengan senyuman mengatakan sudah menutup laptopnya, Sung Joon berhenti melirik dengan tatapan mengoda lalu menarik kursi Hye Jin keluar dari ruangan, Hye Jin menjerit dengan bahagia bertanya mau dibawa kemana sekarang. 

Seorang nenek menemui Ha Ri menayakan dimana tempat untuk memperbaiki roda kopernya yang  rusak. Ha Ri tersenyum mengingat nenek itu penghuni kamar #701,  memberitahu sudah melihat kopernya yang rusak dan sudah sudah memperbaikinya. Nenek itu terlihat tak percaya mengucapkan terimakasih banyak, Ha Ri dengan ramah mengucapkan selamat jala pada nenek yang sudah menginap di hotel tempatnya berkerja sekarang. 

Sebuah spanduk besar bertuliskan [Penulis terkenal TEN, menerbitkan buku baru berjudul Ten.] dengan gambar Shin Hyuk saat terakhir kali foto  dengan majalah Most, Shin Hyuk yang melihat gambar dirinya berkomentar Penampilanny tidak begitu.
Hye Jin sangat serius membaca buku karya Shin Hyuk dan tersenyum bahagia sampai akhir cerita, di lembaran terakhir tertulis “Untuk sahabatku, Jackson...” Hye Jin teringat saat di cafe perkataan Shin Hyuk sebelum pergi.
 “Aku akan menariknya kembali. Tentang tidak akan menjadi temanmu, aku akan menariknya kembali. Kupikir-pikir, kita ini adalah teman. Bukan hanya teman, tapi sahabat.”  mengingat itu semua, Hye Jin terlihat terharu memikirkan keberadan Shin Hyuk sekarang. 

Shin Hyuk menunggu di pinggir jalan untuk menyeberang jalan, teringat dengan kenangan dengan Hye Jin saat mabuk dan berteriak karena Shin Hyuk mendorongnya, padahal Hye Jin sendiri yang mabuk seperti akan jatuh. Esok harinya, Shin Hyuk memberikan telunjuknya pada Hye Jin yang menengok dengan wajah kesal mengejeknnya si pemabuk dan memberitahu sudah lampu hijau.
Ketika keluar dari kedai pinggir jalan, Hye Jin kesal karena adik perempuan yang dimasuk Shin Hyuk adalah anjing, Sung Joon mengaku anjing itu sudah dianggap keluarga untuknya, lalu berkomentar Hye Jin yang salah paham. Hye Jin kesal ingin memukulnya, Shin Hyuk  lebih dulu menahan kepalanya memberitahu Coco adiknya itu tak pernah mengigit.
Saat meninggalkan Most beberapa hari, Shin Hyuk kembali dengan gaya jahilnya memanggil Jackson. Hye Jin ingin marah tapi melihat Shin Hyuk yang berdiri disampingnya menjerit gembira. Shin Hyuk tersenyum saat menyeberangi jalan dengan topi pemberian Hye Jin tanpa mau diketahui jati dirinya sebagai Ten penulis buku terkenal. 

Beberapa kotak makan sudah disiapkan, Hye Jin meminta sebentar untuk menaburkan wijen diatas kotak makan. Sung Joon mengeluh yang dilakukan sang istri dan buru-buru menutup semuanya lalu dimasukan ke dalam keranjang. Keduanya harus cepat karena takut terkena macet. Kalender bulan November tahun 2017, terlihat lingkaran di angka 11.
“Suatu hari, aku memikirkan sesuatu, Bahwa pemeran utama itu tidak hanya ada di film dan drama.Tapi juga di kehidupan nyata Dan ada juga pemeran pembantunya...Begitulah pikirku dulu.”
Hye Jin mengingat saat pertama kali bertemu dengan Sung Joon memilih untuk bersembunyi karena merasa tak percaya diri dengan penampilannya, lalu ketika tercebur di kolam renang tanpa ada yang menolongnya. 

Hye Jin mulai menyanyikan lagu dalam perjalanan, Sung Joon ikut menyanyi hanya  mengucapkan “Yeah, yeah, yeah, yeah” tapi suaranya sangat sumbang. Hye Jin terlihat malu mendengar suara suaminya sendiri. Sung Joon merasa apabila istrinya terus mendengarnya akan ketagihan dan kembali menyanyi tanpa irama. Hye Jin tertawa melihat tingkah suaminya, yang sangat percaya diri menyanyi dengan suara sumbang.
“Tapi sekarang, pikiranku berubah...Mungkin akulah yang memilih untuk menjadi pemeran pendukung...Begitulah pikiranku.”
Hye Jin mengingat saat kena omel Sung Joon karena masuk set photo dengan mengunakan sepatu dan kaos kakinya bolong, setelah itu Joo Young yang menawarkan untuk menulis artikel apa saja, tapi Hye Jin merasa tak berani. Joo Young tetap meminta hanya dua halama saja. Hye Jin tetap menolaknya karena merasa tak yakin.
“Dulu aku menyalahkan takdir, atas jalan hidupku. Tapi bukankah aku sendiri yang mematikan lampu sorot yang menyinariku...Begitulah pikiranku.” 

Hye Jin dan Sung Joon bergendang menyusuri sebuah taman yang indah dengan pohon-pohon terlihat tumbuh dengan warna sempurna, lalu duduk di bawah pohon dengan saling memasangkan celemek sebelum makan.
 “Mereka bilang hidup bukanlah sebuah dongeng.Tapi meski seperti anak kecil dan seperti orang bodoh. Bagaimana dengan impian tentang hidup seperti sebuah dongeng?”
Hye Jin menyuapi Sung Joon tahu yang berisi nasi, tiba-tiba Sung Joon merasakan sesuatu dengan memegang pipinya. Hye Jin terlihat sangat khawatir melihat, Sung Joon mengejeknya kalau giginya itu copot. Hye Jin tertawa mendengarnya, keduanya makan bersama dengan mengoyangkan kepala kekanan dan kiri seperti sedang mendengarkan lagu. Setelah itu keduanya berjalan dengan pohon-pohon yang berguguran.
“Kalau kau tidak mematikan lampu sorotnya Dan kau tidak menyerah pada mimpimu. Mungkin suatu saat hidup yang lebih dari sebuah dongeng dan Akan terjadi.Seperti...”

Hye Jin berbaring di pangkuan Sung Joon sambi membaca buku dongeng Ddol ddo yang merayakan kembali atas kembalinya dangen kotak surat berwarna merah didepan rumah Sook Hee, Sung Joon tiba-tiba membungkukan badannya ingin melihat gambar lebih dekat, Hye Jin kembali terus membaca dongen dengan serius.
Tangan Sung Joon sengaja memegang hidung Hye Jin agar tak bisa bernafas, lalu mencium bibir Hye Jin, Wajah Hye Jin tersenyum. Sung Joon kembali memberikan kecupan dikeningya. Hye Jin menatapnya, Sung Joon mencium bibir Hye Jin lebih lama lagi, tangan Hye Jin menutupnya dengan buku dongengnya.
“Cinta pertama yang mustahil bersama dan akhirnya menjadi nyata Atau mimpi masa kecil yang sudah sirna malah menjadi nyata. Keajaiban seperti itu bisa saja terjadi.”

Sepatu boot warna kuning melangkah dengan riang dengan payung warna orange, dibelakangnya terlihat seorang pria memegang payung berwarna merah. Ketika akan menyebrang jalan, pria itu meminta si anak untuk memberikan tanganya agar bisa bergandengan.
Ketika lampu hijau menyala, anak kecil dengan rambut keriting dan pipi merah berteriak “Ah, sudah jalan!” Sung Joon tersenyum mendengarnya dengan payung bergambar lukisan kesukaanya, lalu mengajak anaknya yang bernama Yeon Woo untuk cepat karena ibunya sudah menunggu mereka. 
-THE END- 

Sinopsis She Was Pretty Episode 16 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top