Friday, December 4, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 11 Part 1

[Musim Gugur, 1989]
Haeng Ah berlari masuk ke dalam rumah lalu membuka pintu kamar mandi karena ingin buang air kecil. Ri Hwan yang sedang dihanduki oleh ayah Haeng Ah, kaget melihat Haeng Ah yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Ayah Haeng Ah malah tertawa meminta anaknya tak usah kaget karena Ri Hwan sudah dianggap sebagai anaknya juga. Haeng Ah tersenyum berpikir ayahnya sudah membelikan adik untuknya.
Bukannya ayah sudah bilang harga adik itu mahal.” Jelas Ayah Haeng Ah sambil mengeringkan rambut Ri Hwan dengan handuk
Ayah, kenapa dia putih sekali?” tanya Haeng Ah heran
Entahlah. Ri Hwan mungkin mirip dengan ibunya.” Kata Ayahhnya
“Jadi...Dia punya ibu?” ucap Haeng Ah

Ri Hwan dengan bangga menegaskan memiliki ibu, Haeng Ah bertanya apakah Ri Hwan punya ayah. Ri Hwan mengeleng karena tak memiliki ayah. Haeng Ah menegaskan dirinya punya ayah lalu mengajaknya untuk saling bertukar. Ayah Haeng Ah marah karena anaknya seperti tak mengingikan ayahnya jadi dengan mudah membuangnya.
Aku tak mau!!!” teriak Ri Hwan menolaknya.
“Jadi...Kau menolakku? Aku merasa sangat terbuang sekarang.” Keluh Ayah Haeng Ah
Kenapa? Karena ayahku jelek?” tanya Haeng Ah dengan senyuman mengejek
Kim Haeng Ah! Aku sangat sedih sekarang.” tegas Ayah Haeng Ah
Aku harus melindungi ibuku.” kata Ri Hwan dengan wajah serius. 

Haeng Ah duduk sambil menatap cermin menanyakan apakah Ri Hwan akan datang lagibesok. Ayah Haeng Ah dengan telaten menyisir rambut anaknya memberitahu mulai hari ini, Ri Hwan  akan datang setiap hari. Haeng Ah menanyakan alasan.
Kau ingat bibi yang dating ke toko dan mengatakan "Wow, kau mirip sekali dengan ibumu." Wanita itu punya urusan penting. Dia perlu menyelesaikan studinya menjadi dokter. Jadi sementara belajar, Ri Hwan akan tinggal di toko kita.” Jelas Ayah Haeng Ah lalu menyuruh anaknya berbaring. Haeng Ah kembali menanyakan alasan membiarkan Ri Hwan tinggal bersama mereka.
Em, Bibi itu adalah orang yang mempertemukan ayah dan ibumu.” Cerita Ayah Haeng Ah, anaknya terlihat tak begitu percaya 
Saat ayah masih kuliah, dia adalah juniorku di club. Anak Junior itu seperti adik kita. Suatu hari, seseorang datang ke club mencari bibi itu, namanya Park Sun Young Dan dia sangat, sangat cantik. Jadi, aku memohon pada Sun Young untuk mengenalkanku padanya dan wanita itu adalah ibumu.Ibu dan ayah jatuh cinta, menikah, dan memiliki anak, Haeng Ah Lalu Haeng Ah...” cerita Ayah Haeng Ah seperti mendongeng lalu tersadar anaknya sudah tertidur pulas dan melanjutkan Tumbuh besar dengan cantik seperti ini.

Ayah Haeng Ah berbicara ditelp dengan Nyonya Park menceritakan Anak-anak sedang bermain, menurutnya jika Ri Hwan tak ada maka harus menemani Haeng Ah main , tapi Sekarang anaknya sudah punya teman dan tak perlu kuteman dan meminta Nyonya Park tak perlu khawatir.
Haeng Ah mengambar “pup” lalu memperlihatkanya, Ri Hwan langsung menutup hidungnya seolah-olah mengeluarkan bau. Haeng Ah kembali mengambar dengan ukuran yang besar kalau itu “pup” ayahnya. Ri Hwan kembali tertawa sambil menutup hidungnya.
Ayah Haeng Ah datang bertanya apa yang membuat dua anak itu tertawa dan ingin ikut bermain.  Haeng Ah menceritakan gambarnya, Ayah Haeng Ah tersenyum melihat keduanya lalu berpesan mereka harus bahagia. Lalu memberitahu Ri Hwan kalau ibunya akan pulang telat malam ini jadi mengajaknya menginap. Ri Hwan terlihat sangat bahagia dan keduanya kembali berkemas untuk pulang. 

Haeng Ah dan Ri Hwan tidur bersebelahan. Ayah Haeng Ah membuka pintu kamar menyuruh untuk membiarkan Ri Hwan untuk menginap saja. Nyonya Park merasa tak enak karena anaknya setiap hari harus menginap tapi melihat Ri Hwan seperti senang menginap rumah itu.  Ayah Haeng Ah meminta tak usah membangunkanya saja.
Apa mereka sering bertengkar?” tanya Nyonya Park
Pertengkaran bisa membuat mereka dewasa.” Ucap Ayah Haeng Ah
Jadi, mereka akan sering bertengkar?” kata Nyonya Park terlihat ada gelang yang dipakai ditanganya.
Tidak sering, Mungkin, mereka akan dewasa dan masuk kuliah besok. Ri Hwan pasti akan rangking 1 terus sepertimu.” Komentar Ayah Haeng Ah
Jika Haeng Ah mirip denganmu, dia pasti akan jadi anak baik.” Balas Nyonya Park dengan senyuman. Ayah Haeng Ah pun berharap seperti itu. 

Haeng Ah sedang makan menanyakan keberadan ayahnya, Ri Hwan yang baru datang memberitahu sedang pergi ke apotek. Haeng Ah melihat luka dibagian lutut dan juga kaos kaki Ri Hwan yang turun, Ri Hwan ketakutan menyangkal tak main trampoline. Haeng Ah malah bisa menebak Ri Hwan main trampolin.
Sol Mi mengajakku main tadi.” Ucap Ri Hwan
Apa kau akan mengiyakan semua ajakan orang?” teriak Haeng Ah marah
Hanya sekali saja, Saat aku bermain tadi, aku terus memikirkanmu.” Kata Ri Hwan tertunduk sedih
Aku tak mau dengar. Keluar!” teriak Haeng Ah mengusirnya.
Tapi, ini rumahku.” Kata Ri Hwan binggung, Haeng Ah tak mau tahu menyuruh Ri Hwan keluar dari rumah sekarang. 

Ri Hwan tertunduk sedih didepan rumah, Ayah Haeng Ah yang baru datang menghampiri sambil bertanya kenapa Ri Hwan ada didepan rumah. Ri Hwan menceritakan Haeng Ah menyuruhnya keluar.
Kau pasti memberitahunya kalau kau main dengan Sol Mi. Kenapa kau memberitahunya? Kau harus merahasiakannya.” Bisik Ayah Haeng Ah,  
Kami berjanji tak ada rahasia diantara kami.” Kata Ri Hwan yang tak ingin membohongi Haeng Ah
Ayah Haeng Ah tersenyum lalu melihat gelang yang ada ditangan Ri Hwan, menduganya itu gelang milik Sol Mi. Ri Hwan mengeleng karena mau memberikan gelang itu pada Haeng Ah. Ayah Haeng Ah bertanya darimana mendapatkanya, Ri Hwan memberitahu itu Gelang milik ibunya.
Apa kau mencuri gelang ibumu?” kata Ayah Haeng Ah
Tidak, aku hanya mengambilnya saja, kok.” Ucap Ri Hwan polos. Ayah Haeng Ah tersenyum karena itu sama saja.
Di rumah Nyonya Park kebinggungan mencari gelang di laci, menurutnya Tak mungkin adapencuri yang hanya mengambil gelang saja.

Bel berbunyi, Bibi Gong datang membawakan makanan atas perintah Ibu Nyonya Park dan harus segera dimasukkan ke kulkas. Nyonya Park menyuruhnya untuk dimasukan ke dalam kulkas saja.
Apa kau tak bisa memanggilku "Sun Young" saja?” ucap Nyonya Park
Oh, tidak mungkin. Jika ayah anda tahu, dia pasti akan marah.” Kata Bibi Gong menolak
Aku kan sudah diusir dari rumah.” Balas Nyonya Park
Ayah anda pasti tidak serius dan Dia juga pasti tahu aku ke sini.” Jelas Bibi Gong.
Telp rumah berbunyi, Nyonya Park mengangkatnya memberitahu baru saja akan menjemput Ri hwan. Matanya langsung melotot kaget menanyakan “Apa lukanya parah?” 

Nyonya Park menjahit luka sobek dengan asisten Bibi Gong yang memberikan gunting dan juga perban, setelah selesai si pria bertato pun sudah bisa memakai bajunya. Ayah Haeng Ah menanyakan apakah luka pria itu parah, Nyonya Park memberitahu Lukanya tidak dalam.
Apa kau masih belum sadar sekarang? Jika kau suka memegang pisau, gunakan itu pada daging babi dan sapi di dapur. Aku akan menggajimu.” Teriak Ayah Haeng Ah yang memberi perkerjaan pada paman No
Bagaimana ini? Perbannya harus tetap diganti, tapi Aku akan lembur besok.” Kata Nyonya Park
Biar aku saja. Aku sudah tahu caranya.” Ucap Bibi Gong dan ingin memperkenalkan diri sebagai pelayan, tapi Nyonya Park langsung menyela.
Ia memperkenalkan Bibi Gong sebagai temanya dan sesekali datang menemuinya, lalu berjalan ingin akan menjemput anaknya sekarang. Ayah Haeng Ah pikir lebih baik membiarkan saja untuk menginap. Nyonya Park bertanya apakah keduanya bertengkar lagi. Ayah Haeng Ah menceritakan keduanya bertengkar tentang siapa yang lebih muda Dan akhirnya, bersepakat ingin mempunyai adik baru. Keduanya tertawa mendengarnya. 

Bibi Gong kaget karena tiba-tiba Ri Hwan dan Haeng sudah berdiri dibelakangnya dengan kepala mendongak. Ri Hwan menanyakan darimana asalnya bayi itu. Bibi Gong binggung menjelaskan pada dua anak yang masih kecil.
Oh, itu... bayi...Dua orang manusia harus memiliki hubungan yang baik Dan menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama.” Jelas Bibi Gong
Haeng Ah dan Ri Hwan mengikuti penjelasan bibi Gong dengan menikmati hidup bersama sambil makan coklat. Lalu Haeng Ah bertanya apakah Ri Hwan sudah punya bayi. Ri Hwan mengatakan ingin muntah karena terlalu banyak makan coklat. Haeng Ah juga mengaku juga ingin muntah. 

Paman No dikagetkan juga dengan Haeng Ah dan Ri Hwan yang datang ke dapur. Ri Hwan menanyakan “Bagaimana caranya membuat bayi?”. Paman No menceritakan “Jika dua orang minum bersama-sama...
Haeng Ah dan Ri hwan minum berbotol-botol yoghurt bersama-sama, lalu Haeng Ah memegang perutnya bertanya pada Ri Hwan apakah ia sudah memiliki bayi. Ri Hwan mengeleng dan mengaku ingin muntah lagi. Haeng Ah pun mengaku ingin muntah juga. 

Akhirnya keduanya bertanya dengan Nyonya Park yang akan pergi ke rumah sakit.
Seorang pria dewasa harus memiliki sesuatu yang disebut dengan sperma. dan sperma itu akan dihasil dalam stimulasi khusus, lalu sperma itu masuk ke tubuh wanita dewasa. Setelah bertemu dengan sel telur, akan terjadi proses pembuahan. Telur dibuahi, lalu akan terjadi pertumbuhan di dalam rahim. Segmentasi sel akan dimulai.Telur yang sudah dibuahi dengan sel...” jelas Nyonya Park dengan bahasa kedokteran.
Ri Hwan dan Haeng Ah melonggo memilih untuk masuk saja, Nyonya Park berteriak memberitahu akan pergi kerumah sakit jadi menyuruh keduanya untuk bersenang-senang. Haeng Ah mengaku terkadang tak tahu apa yang bibi katakan. Ri Hwan merasa ibunya itu sedang berbicara dalam bahasa Inggris.
Haeng Ah lalu mengajak Ri Hwan untuk minum yoghurt lagi, Ri Hwan pikir Ayah Haeng Ah bisa tahu mengenai pertanyaan mereka. Haeng Ah berbisik ayahnya tak mungkin tahu hal seperti itu.

Keduanya lalu menanyakann pada Ayah Haeng Ah tentang cara membuat bayi. Ayah Haeng Ah menjelaskan kalau mereka sudah lebih tinggi pasti akan tahu bagaimana caranya. Dengan ukuran garis di dinding, Ri Hwan melihat jaraknya masih jauh, Haeng Ah yang merasa tinggi mengukur ternyata masih jauh untuk mengetahui cara membuat bayi.
Sementara ditaman bermain, semua berkumpul membahas tentang cara membuat bayi. Salah seorang anak mengejek semuanya masih anak kecil dan menjelaskan dengan gambar, Haeng Ah dan Ri Hwan dalam pikiran wanita bertemu lalu terlihat ada tanda hati. 

Akhirnya keduanya naik ke lantai dua dan menuruni tangga yang berubah jadi remaja. Keduanya membawa bekal makanan masing-masing dan pergi kesekolah. Saat istirahat radio sekolah akan memutar request lagu dari murid-murid. Seorang pria bernama Maeng Woo Bin, membawa video dari film yang berjudul, "The Secret of the Red Billiard Ball." Dengan Wanita  tiba-tiba saja...
Teman lainnya menyambarnya karena Woo Bin ternyata memiliki kaset video itu, Woo Bin meminta untuk mengembalikanya karena ayahnya yang menyewa jadi harus memulangkanya. Ri Hwan yang ada didekat Woo Bin terlihat binggung. Akhirnya Woo Bin mengajak untuk menonton bersama-sama.
Haeng Ah datang ingin meminjam seragam olahraga Ri Hwan. Dengan wajah polos Ri Hwan memberitahu baru saja memakainya jadi kotor. Haeng Ah tak peduli dan langsung mengambilnya terdengar suara radio yang meminta request dengan nama samaran dari kelas 2-5, Ri Hwan menduga itu Haeng Ah yang mengirimnya. Haeng Ah menyangkal.
"Park Ri Hwan anak kelas 2-4, aku sangat menyukaimu. Terimalah perasaanku. Ini adalah lagu yang ingin aku putarkan untukmu."
Woo Bin masuk mengejek Haeng Ah yang baru saja mengakui perasaannya pada Ri Hwan. Haeng Ah bisa menduga kalau itu kerjaan Woo Bin, Teman yang berkacamata pikir keduanya itu sudah dijuluki pasangan suami-istri. Haeng Ah menegaskan akan pergi ke ruang radio dan mencaritahu dari tulisan, siapa yang mengirimkan request itu. Ri Hwan milih untuk membiarkanya, Woo Bin menegaskan bukan dia pelakunya karena tak tahu lagu yang direquest. 

Haeng Ah keluar ruangan dengan wajah penuh amarah, Seorang gadis berkunci dua mengejeknya sebagai pacar dari Park Ri Hwan setelah mendengar siaran di radio sekolah. Haeng Ah menegaskan bukan dia yang mengirimkanya, tapi beberapa murid yakin karena Haeng Ah mengunakan pakaian olahraga bertuliskan nama Park Ri Hwan dibagian punggungnya.
Sementara dirumah sakit, Nyonya Park bahagia bisa mendapatkan ruangan prakteknya sendiri. Sang Gyo datang memberikan selamat, Nyonya Park merasa telat setahun dari yang direncanakanya, Sang Gyo merasa tetap saja Nyonya Park berhasil dan wajahnya yang terlihat semakin ceria, menduga temanya itu sudah memiliki pacar.
Nyonya Park pikir seperti itu, Sang Gyo pun mengeluh dirinya yang baru saja ingin bercerai dan temanya itu pasti sangat bahagia sekarang. Nyonya Park merasa seperti itu dan berharap dirinya pasti akan bahagia. 

Diatas bangku ada amplop bertuliskan [Park Ri Hwan, Jung Ji Hyun] dan Ri Hwan sedang membaca isi suratnya. Haeng Ah tiba-tiba datang mengambil surat yang dibawa Ri Hwan dan membacanya keras-keras dengan nada mengejek.
"Hai, Park Ri Hwan. Namaku, Jung Ji Hyun.Kau mungkin sudah lupa padaku. Pertama kali aku melihatmu dan kau sangat mirip dengan Ahn So NiAku merasa hatiku jadi berdebar-debar."” Ucap Haeng Ah membaca surat cinta dari Ji Hyun
Kembalikan sebelum aku marah. Aku bisa menangkapmu hanya dengan 2 langkah saja.” Teriak Ri Hwan mengancam
Haeng Ah tetap saja membaca surat dari Ji Hyun, "Aku pikir, cewek berambut panjang jelek itu adalah pacarmu. Dan aku benar-benar kecewa..." setelah membacanya, Haeng Ah kesal karena yang dimaksud itu adalah dirinya. Ri Hwan menegaskan memang siapa lagi teman cewek yang ada disampingnya Akhirnya Haeng Ah memilih untuk pergi meninggalkan dengan wajah marah sambil mengingat nama Ji Hyun.  
Woo Bin masuk kelas wanita memberikan surat pada Ji Hyun, yang beralasan dari Ri Hwan atas jawaban suratnya, lalu keluar kelas dengan menahan tawa. Ji Hyun dkk membaca surat balas langsung berubah marah. Woo Bin mengintip dari balik jendela terlihat ketakutan.

Ri Hwan sedang menyapu ruangan kelas, tiba-tiba didatangi Ji Hyun dan langsung ditampar. Woo Bin yang melihatnya memilih mundur. Ri Hwan melonggo kaget dan teman berkacamata mengambil kertas yang dibuang Ji Hyun sebelum pergi dan membacanya.
"Surat ini awalnya ada di Inggris dan terus berputar selama setahun."  Setelah membaca temanya memarahi Ri hwan yang kejam menuliskan kalimat itu pada seorang perempuan. Ri Hwan terlihat masih shock yang tiba-tiba menerima tamparan dari seorang wanita, teringat sebelumnya Haeng Ah yang membaca suratnya. 

Dilapangan, Haeng Ah penuh semangat mengelu-ngelukan nama Hong Jung Woo, dengan beberapa wanita yang melihat Jung Woo bermain sepakbola. Ri Hwan memberikan surat yang pasti dikirim Haeng Ah dan menyuruh Woo Bin. Haeng Ah melirik sinis menyangkalnya.
Ri Hwan yakin karena mengenal tulisan tangan Haeng Ah. Dengan santai Haeng Ah tak mengakuinya, karena sudah menganti tulisan tanganya sejak kemarin dan berjalan meninggalkan lapangan. Ri Hwan yakin itu tulisan Haeng Ah karena sebelumnya pernah menuliskan dibukunya.
Lalu kenapa? Kau memganggu proses jadianku dengan Woo Bin dulunya.” Keluh Haeng Ah
Kenapa murid SMA harus pacaran dengan murid SMP?” balas Ri Hwan
Bagaimana denganmu? Apa kau itu Oppa-ku?” kata Haeng Ah
Memangnya, aku ini Unni-mu?” ucap Ri Hwan, Haeng Ah mengeluh lelah karena mereka selalu saja bertengkar terus dan meninggalkan Ri Hwan. 

Di restoran
Ayah Ri Hwan menyediakan makanan sambil bertanya apakah anak mereka masih bertengkar.  Nyonya park melihatnya seperti itu, Ayah Haeng Ah heran dengan keduanya seperti anak-anak dan bertanya-tanya kapan keduanya bisa bersikap dewasa.
Kenapa kau datang ke sini tiba-tiba?” tanya Ayah Ri Hwan,
Ingin mampir saja. Karena kau tak pernah mampir di rumah sakit. Apa aku tak bisa mampir di sini?” jawab Nyonya park
Siapa yang melarangmu? Kau bahkan bisa tinggal di sini.” Kata Ayah Haeng Ah  dengan senyuman
Apa aku sungguh bisa tinggal di sini?” balas Nyonya Park dengan wajah tertunduk memberikan kode.
Ayah Haeng Ah terlihat binggung menjawabnya. Nyonya Park mengubah suasana mengatakan kalau hanya bercanda. Ayah Haeng Ah merasa telah membuat Nyonya Park menunggu begitu lama. Nyonya Park pikir  sudah terbiasa menunggu dan waktu mereka juga masih sangat panjang. Ayah Haeng Ah setuju, menurutnya Setelah anak-anak sedikit dewasa dan sudah menyelesai urusanya.  
Tapi, kau akan tetap membuatku menunggu, 'kan Ataukan kau tak mau membuatku menunggu?” ucap Nyonya Park

Tiba-tiba Haeng Ah datang mengadu kalau Ri Hwan sudah membuatnya gila dan mengeluh menjadi lebih cerewet. Ri Hwan tak mau kalah mengadu pada Ayah Ri Hwan dengan yang dilakukan Haeng Ah pada wanita yang disukainya. Haeng Ah tetap menyangkal bukan dia pelakunya tapi Won Bin yang memberikanya.
Tapi, kau yang menyuruhnya.” Teriak Ri Hwan tak mau kalah
“Apa kau punya bukti? Kau bodoh sekali bias menyukai perempuan yang munafik.” Balas Haeng Ah
“Lalu Kau sendiri? Kenapa bias menyukai laki-laki yang jorok. Kau malah memujanya di lapangan basket. Apa dia itu Cha In Pyo? Kenapa dia terus mengibaskan jarinya?” ejek Ri Hwan
Jangan mengejek Jung Woo-oppa seperti itu.” Jerit Haeng Ah
Ri Hwan mengeluh Haeng Ah yang memanggilnya Oppa, lalu mengadu pada ayah Haeng Ah kalau anaknya sudah mengubah nama keluarganya jadi Hong. Ayah Haeng Ah dan Nyonya Park hanya bisa tersenyum, lalu Ayah Haeng Ah menyuruh mereka menghentikan karena Ibu Ri Hwan jadi tak bisa makan karena terlalu berisik. Ri Hwan ingin duduk disamping ibunya, tapi Haeng Ah mendorongnya karena itu kursi miliknya.

Keduanya duduk berhadapan, Haeng Ah kembali mengadu Ri Hwan sungguh jahat pada perempuan dan merasa nantinya pasti punya pacar yang aneh. Ri Hwan membalas untuk menunggu saja Siapa yang akan jadi pacarnya. Haeng Ah pikir untuk  apa menungunya, karena sama sekali tak tertarik. Ayah Haeng Ah dan Nyonya Park tetap tersenyum bahagia melihat keduanya anak mereka seperti kucing dan anjing yang selalu bertengkar. 

Nyonya Park menerima pesan dari pagernya, lalu menelp untuk mengetahui pesan yang diterimanya, setelah itu dengan wajah bahagia berlari keluar dari rumah sakit dan melihat Ayah Haeng Ah yang datang menemuinya. Ayah Haeng Ah tahu kalau sekarang jam istirahat, Nyonya Park memberitahu sedang sibuk.
Ayah Haeng Ah bertanya berapa lama waktu istirahatnya, Nyonya Park mengatakan hanya 30 menit. Ayah Haeng Ah pikir itu lebih dari cukup untuk melakukan semaunya. Nyonya Park binggung, Ayah Haeng Ah meminjam kursi roda dari seorang pasien lalu meminta Nyonya Park untuk duduk dan mengajaknya berangkat.
Ternyata Ayah Haeng Ah hanya mendorong berkeliling dirumah sakit dan terlihat Nyonya Park sangat bahagia, lalu memulangkan kembali kursi roda si pasien. Ayah Haeng Ah merasa sudah berkeliling, jadi sekarang akan mengajaknya makan dengan memilih menu yang disukai Nyonya park yaitu ikan. 

Ayah Haeng Ah memberikan bungeppang, dalam menu siangnya. Nyonya Park tertawa menerima menu ikan yang dipilih. Tiba-tiba Ayah Haeng Ah bertanya apakah Nyonya Park membawa dompet, Nyonya Park mengeleng dengan wajah panik. Ayah Haeng Ah mengajak Nyonya Park untuk kabur dan lari dari si penjual.
Nyonya Park pun berlari tapi sebelum pergi Ayah Haeng Ah sengaja menaruh uang untuk membayarnya. Si penjual berkomentar dua pasangan itu sungguh tahu bagaimana caranya bermain saat sudah tua. Setelah itu Ayah Haeng Ah minum kopi bersama, tapi karena terlalu bersemangat saat bersulang kopi digelas Nyonya Park malah tumpah dan ada noda dibajunya. 

Ayah Haeng Ah mengajak ke studio foto, Nyonya Park binggung diajak ke tempat itu, lalu keduanya sudah duduk bersama didalam studio. Ayah Haeng Ah membahas tentang apa yang ditanyakan lebih dulu, “Apakah aku akan memintamu menunggu?” Nyonya Park menatap Ayah Haeng Ah dengan serius. Ayah Haeng Ah meminta agar Nyonya Park tetap menatap lurus kedepan.
Orang pasti akan berpikir, aku adalah pria yang kaya jika bersamamu. Semua orang pasti heran, kenapa kau bisa menyukaiku Bahkan saat kita masih muda dulu, aku masih tak percaya itu.Aku memang pria yang rajin dan sangat baik. Aku jago masak dan bisa membuatmu tertawa serta  sangat populer. Tapi, tanpa itu semua. Siapa aku ini? Aku merasa sangat menyesal dan merasa sangat malu.” Jelas Ayah Haeng Ah
Aku mengerti apa maksudmu. Tapi... Tolong bersabarlah sedikit lagi. Setelah anak-anak dewasa nanti, tokoku menjadi lebih stabil. Mungkin, hanya akan memakan waktu setahun saja. Ahh...Mungkin 11 bulan dan 28 hari.” Kata Ayah Haeng Ah
Akan kutunggu!!!” tegas Nyonya Park, Ayah Haeng Ah mengucapkan terimakasih dan keduanya saling berpandangan dengan senyuman sumringah.
Si fotographer melihat ekspresi keduanya meminta mereka menghadap kamera, dengan senyuman bahagia ayah Haeng Ah dan Nyonya Park foto bersama. 

Keduanya berjalan kerumah sakit, Nyonya Park tak menyanga mereka bisa tiba tepat waktu. Ayah Haeng Ah menceritakan mereka hari ini sudah keliling, makan dan bahkan berfoto, lalu berlari ke rumah duka, dengan membungkuk dan meminta maaf lebih dulu, lalu mengambil salah satu bunga dari karangan bunga duka cita dan memberikan pada Nyonya Park.
Nyonya Park melihat bunga krisan yang diberikanya, Ayah Haeng Ah pikir tetap saja bunga itu cantik. Nyonya Park mencium dan tersenyum menerimanya lalu pamit untuk kembali berkerja. Sebelum pergi Ayah Haeng Ah mengajak untuk berjabat tangan, terlihat wajah Nyonya Park tersenyum bahagia lalu meninggalkan Ayah Haeng Ah dengan lambaian tangannya. 

Nyonya Park berlari di lorong rumah sakit, tubuhnya langsung lemas ketika beberapa dokter dan juga perawat membawa alat kejut jantung.
Cinta pertamaku pernah sekali meninggalkanku dulu. Saat aku perlahan-lahan, mengisi ruang kosong di hatinya...Dan sekarang dia meninggalkanku sekali lagi.Dengan penyakit yang sama, yang membuatnya terpisah dengan cintanya. Seperti puzzle yang tak akan pernah bisa sempurna.
Ayah Haeng Ah mendapatkan beberapa kali kejutan jantung dan dibantu dengan menekan dibagian dadanya. Haeng Ah hanya bisa duduk sambil menangis melihat ayahnya yang sudah tak ada detak jantung dari monitor, Ri Hwan berlari menaiki tangga rumah sakit membawakan mobil remote control.
Semua alat ditubuh Ayah Haeng Ah dilepas, dan dokter memberikan rasa duka dengan menepuk pundak Nyonya Park. Haeng Ah hanya bisa menangis karena ayahnya tak bisa tertolong lagi. Ri Hwan duduk dilorong tak jauh ikut menangis dan mendengar kalau penyebab kematian ayah Haeng Ah kemungkinan karena alkohol, tapi tak mungkin dirumah sakit menyediakan alkohol.
bersambung ke part 2  

Sinopsis Bubblegum Episode 11 Part 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top