Saturday, December 5, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 12 Part 1

Ri Hwan berbicara dengan keluarga pasien yang harus berkonsultasi di rumah sakit lain, menurutnya Masalahnya bukan pada amputasi atau anggota badan buatan. merasakan sakit pada bagian yang sudah diamputasi. Si anak menyimpulkan rasa sakit suaminya hanya halusinasi saja.
“Apa Seperti penyakit mental?” tanya Si anak pasien
Kita bisa menganggapnya seperti itu. Tapi, dalam ilmu kedokteran herbal, emosi akan menciptakan sebuah energi. Keinginan melihat, tapi tak bisa. Keinginan untuk marah, tapi tak bias Dan perasaan stress akan menyerang anggota tubuh. Dalam kasus ayah anda, anggota tubuh itu sudah tak ada. Dan dia tak bisa menerimanya. Karena itulah dia merasa sakit. ” Jelas Ri Hwan
Si anak akhirnya memdorong kursi roda ayahnya meninggalkan klinik sambil mengingat percapakan dengan Ri Hwan bahwa rasa sakit yang tak nyata itu tak akan ada obatnya. Ri Hwan menjelaskan Obat masih bisa membantu, serta selimut bias membantu melupakan sakitnya dan sesekali melepas selimutnya untuk menunjukkan kakinya yang sudah diamputasi, dan menyarankan untuk sering mengatakan tentang kakinya hingga ayahnya bisa menerima kenyataannya.

Ri Hwan memejamkan matanya ingin melakukan hal yang sama bahwa semua sudah menghilang, dalam ruangan mulai dari bunga pemberian Haeng Ah, Bebek yang dimakainkan HaengAh, Pin yang ditancapkan pada peta tempat mereka untuk berlibur, semua seperti menghilang dan mensugesti diri walaupun semua menghilang tetap akan baik-baik saja.
Ji Hoon melihat Haeng Ah yang memejamkan matanya, memilih untuk keluar ruangan lalu memberitahu perawat apabila ada pasien lain untuk diberikan padanya. Ri Hwan masih memejamkan mata sampai sore menjelang dan malam pun tiba. Ketika membuka mata sudah pukul enam kurang dua puluh menit.
Di radio terdengar suara Se Young yang sedang bersiaran.
Ada saat kau ingin menanyakan itu,tiba-tiba kau teringat dengan sebuah kenangan indah.Dan kau ingin menceritakannya pada orang lain.tak peduli seberapa banyaknya teman yang kau punya, hanya ada satu orang yang ingin kau ceritkan kenangan itu.

Se Young siaran radio dengan memegang bungepang ditanganya,
Apa kau masih mengingatnya? Malam itu, kita berjalan tanpa tujuan. Entah Apa kita haus atau lapar? Kita pergi ke sebuah toko. Dompet kita kosong, dan hanya ada recehan saja dah hanya memakai celana training.
Haeng Ah melihat bungeppang yang ada ditangan Se Young, lalu melampun.
Flash Back
Haeng Ah meminta Ri Hwan tak menghabiskan minuman seharaga 200 won. Ri Hwan yang dikuncir rambutnya berbagi minuman yang masih belum dihabiskanya. Tapi saat Haeng Ah ingin minum ternyata Ri Hwan dengan sengaja menghabiskan dan memberikanya.
Ri Hwan tertawa mengejeknya seperti gelandagan, lalu memberitahu uang mereka tinggal 100 won saja. Haeng Ah kesal karena sebenarnya mereka tak memilik 1 won dalam kantung mereka. Ri Hwan menyalahkan Haeng Ah yang tak membawa dompet, Haeng Ah membalas kalau Ri Hwan yang tak membawakan dompet. Lalu keduanya menelan air liur melihat sepasang wanita dan pria makan bunggeppang.
Haeng Ah merengek ingin makan bunggepang. Ri Hwan juga ingin dan berpikir ada uang yang jatuh jadi mereka lebih baik mencarinya. Haeng Ah dengan penuh semangat menyari uang yang kemungkinan jatuh dijalan. Ri Hwan tertawa lalu memperlihatkan dompet ditanganya. Haeng Ah tak percaya bisa dikerjai lagi oleh pacarnya. 

Tolong berikan aku 1000 won.” Ucap Haeng Ah mengulurkan tanganya.
“kau harus Bilang, "Oppa, aku minta uangmu."” Perintah Ri Hwan
Haeng Ah mengejek Ri Hwan itu bukan Oppa tapi Ahjussi, Ri Hwan tetap menyuruh Haeng Ah mengucapkan kalimat itu. Haeng Ah mau tak mau mengatakan kalimat yang sama untuk membeli Bunggepang. Ri Hwan tak berhenti mengerjainya meminta agar Haeng Ah membungkuk memberi hormat. Haeng Ah sempat berteriak tapi akhirnya menuruti permintaanya dengan mengucapkan terima kasih.
Akhirnya Haeng Ah mendapatkan 3 buah bungeppang, Ri Hwan melihat Haeng Ah yang senang meminta satu. Haeng Ah menolak, Ri Hwan merengek karena hanya minta satu gigitan saja dan Haeng Ah punya tiga. Haeng Ah akhirnya memberikan dari celah tiang, Ri Hwan pun menuruti masuk ke dalamnya, sambil memberikan bunggepang, Haeng Ah menarik rambut Ri Hwan dengan gemas. 

Hari itu sama dengan 365 hari lainnya dalam setahun. Kenangan itu masih sangat segar di otakku. Kenapa aku harus memberikan semua hatiku padamu?
Haeng Ah terus melamun mendengarkan siaran Se Young, sedangkan Ri Hwan berjalan seperti mayat hidup keluar dari kliniknya. Ji Hoon memeluk temannya untuk bersama-sama pulang ke rumah.
Kenapa aku harus sangat menyukai orang sepertimu? Aku mungkin tak bisa melupakanmu.
Haeng Ah mengeluarkan isi tasnya untuk mencari ikat rambutnya, Se Young yang baru masuk dengan Joon So melihat ada alat yang aneh diatas meja siaran, lalu bertanya alasan Haeng Ah yang akhir-akhir ini sering berolahraga,minum vitamin dan belajar mengemudi dan berpikir sedang ikut lomba balapan. Haeng Ah hanya tersenyum.
Se Young merasa sangat lapar dan ingin makan yang enak tanpa lemak, Tae Hee mengingatkan Se Young kalau topik berita sekarang sedang membicarakan tentang berat badannya. Se Young merasa tak terhina tapi semua karena pendengar membencri akting dalam dramanya yang terlihat bagus.
Dan ingat, usiamu akan bertambah setahun lagi tahun depan.” Komentar Tae Hee dingin
Aku harap, orang yang mendoakanku umurnya malah bertambah 2 tahun.” Balas Se Young sinis

Se Young membahas Radio Generation yang membagikan hadiah kimchi hari ini, menurutnya jika melakukan itu juga pasti akan banyak surat yang masuk kepada mereka. Haeng Ah melihat itu ada positif dan negatif, dengan beberapa ID yang sudah diblacklist akan membuat akun palsu untuk memenangkan hadiahnya.
Dan juga, kita hanya siaran malam saja. Kemungkinan tak akan banyak yang merespon surat yang kita bacakan.” Jelas Haeng Ah, Se Young terlihat binggung.
“Mereka adalah Akun pemburu hadiah dan sering menggunakan berbagai cara untuk bisa menang. Bahkan ada penulis radio yang melakukannya juga.” Jelas Joon So
Padahal aku ingin memberikan hadiah pada seorang pendengar kita. Kau masih ingat murid SMA yaang tak bisa ikut ujian karena harus mencari uang. Dia bilang iri dengan temannya yang kaya. Mungkin karena aku dari keluarga yang miskin, aku jadi mengerti dia.” Kata Se Young dengan wajah sedih tapi mengeluarkan keluhannya.
Setelah itu terlihat panik takut apakah micnya itu masih menyala. Haeng Ah memuji Se Young yang sudah banyak berubah untuk siaran. Joon So juga memberikan jempolnya sebagai pujian. Tae Hee memberitahu pasti akan ada orang yang meminta uang perhati dari orang yang mengirim surat pada mereka.  Se Young menghela nafas memikirkan berapa banyak uang yang harus dimilikinya untuk memberi itu.
Tapi, aku ingat. Aku akan dapat rejeki lagi minggu ini. Apa kalian sudah tahu? Aku mendapat tawaran main iklan Jimyung?” kata Se Young bangga
Aku mungkin sudah lupa, karena kau baru menceritakannya 4 kali saja.” sindir Tae Hee sinis, Se Young malah sengaja ingin mengulang ucapanya dengan bangga. Haeng Ah tertawa mendengar Se Young yang mengoda Tae Hee. 

Ketiga berdiri dilobby, Haeng Ah menyuruh keduanya pulang karena ia harus menulis skrip pembukaan jadi  akan begadang lagi. Se Young melihat spanduk didepan sudah berubah, Haeng Ah pikir Mungkin restrukturisasinya sudah selesai.
Kang Suk Jon... dia sangat menyukaiku. Kami bahkan baru bicara sekali, dan dia harus pergi.” Ucap Se Young sedih, Haeng Ah berusaha mengertinya.
Joon So melihat Dong il yang kembali dan langsung menyapanya, Dong il binggung melihat ketiganya tak siaran. Haeng Ah memberitahu baru saja selesai rekaman untuk siaran. Dong il mengeluh mereka harus melakukan rekaman saat terjadi restrukturisasi dan menyuruhnya untuk siaran live.
Aku juga maunya begitu. Tapi, aku sedang sibuk besok dan harus ke salon jam 4 pagi.” Jelas Se Young. Haeng Ah melihat Dong il seperti mencari seseorang dan bertanya kemana tujuanya. Dong il terlihat gugup mengatakan ingin bertemu seseorang dulu.

Di restoran
Ji Hoon membahas tentang beruntungnya orang-orang dibanding mereka, ketika mengantar dibandara semua pergi kecuali dirinya, begitu juga saat ada diclub, merasa tak bahagia, dalam pikirannya hidup orang yang dilihatnya sangat bahagia.
Ri Hwan menoleh kebelakang, Ji Hoon merasa orang-orang juga pasti akan melihat dirinya yang terlihat mengeluh padahal sudah memiliki pekerjaan. Sama seperti saat mereka kuliah yang berpikir kalau anak orang kaya itu, pasti tak pernah menderita.
Kenapa kau berpikir begitu? Kau sudah sering mengatakan itu saat kita pergi minum bersama.” Keluh Ji Hoon.
Aku memang suka mengeluarkan apa yang aku pikirkan. Kau suka ada di luar dengan udaranya yang segar, 'kan? Ibumu punya penjaga tersendiri di malam hari. Perawat itu sepertinya orang yang baik. Ini semua berkat, Yi Seul. Aku juga sudah mencarinya Dan memang ternyata mencari perawat yang baik itu sangat sulit. Tapi, dia berhasil menemukannya.” Cerita Ji Hoon
Aku juga berterima kasih padamu, karena Karena mengajakku keluar” ucap Ri Hwan
Kalau begitu, kita harus sering-sering keluar bersama dan juga kau harus banyak tidur.” Pesan Ji Hoon yang khawatir.
Dong il masuk tanpa melihat ada Ji Hoon didalam restoran, keduanya terlihat sama-sama kaget. Ji Hoon memberitahu tempat itu yang sering didatangi dengan Tae Hee. Dong il mencoba mengerti dan memilih untuk pergi saja.

Ri Hwan dengan sopan mengajaknya untuk bergabung saja. Dong Il menolak karena sudah memiliki teman untuk minum, lalu menelp seseorang untuk pergi ke tempat lain saja. Tapi Suk Joon yang menerima telp sudah masuk dan melihat Ri Hwan sedang bersama Ji Hoon dada didalam. 
Keempatnya duduk berhadapan, Ri Hwan dan Suk Joon saling menatap tanpa berbicara. Dong il memecah kesunyian menanyakan kabar ibu Ri Hwan sekarang. Ri Hwan tahu Dong il sudah sering membantu. Dong il mengerti selama ini membantu Haeng Ah saat siaran. Ri Hwan merasa harus mengucapkan terimakasih walaupun telat.
Dong il merasa hanya sesekali saja, jadi tak perlu berterimakasih lalu menceritakan Haeng Ah yang akhir-akhirnya dan tiba-tiba terdiam, karena Ri Hwan dan Suk Joon seperti penasaran dengan kabar Haeng Ah. Dong il memilih untuk berpura-pura sakit perut dan Ji Hoon pun mengikutinya. Suk Joon dan Ri Hwan tetap saja saling bertatapan tanpa berbicara.
Di depan restoran, Dong Il tak habis pikir mereka ingin bersantai malah keadaannya seperti ini, tapi menurutnya sekarang urusan dengan Ji Hoon yang mengharuskan mereka bicara. Ji Hoon ingin pindah tapi mengkhawatirkan Ri Hwan. Dong il mengerti, Ri Hwan pasti tertekan antara memilih ibunya atau Haeng Ah. 

Bukannya kau akan menghilang? Kenapa kau ada di sini? Ini adalah bar yang sering kami kunjungi.” Tegur Suk Joon
Aku tak tahu itu dan Aku tak akan dating jika aku tahu itu.” Ujar Ri Hwan
Dunia ini sangat kecil. Kita bisa saja sering bertemu. Kau harus berhati-hati...” tegas Suk Joon
Kami sudah tak punya hubungan lagi.” Balas Ri Hwan

Suk Joon tahu hanya Ri Hwan yang mengatakan “berakhir” tapi Haeng Ah pasti belum bisa menerimanya, menurutnya Ri Hwan benar-benar tak mengenal Haeng Ah. Ri Hwan sudah tak ingin membicarakanya lagi. Suk Joon merasa kalau memang Ri Hwan tak bisa menyebut nama Haeng Ah itu berarti Ri Hwan juga belum melupakannya juga dan seharusnya tak egois dengan perasaanya lalu menuangkan soju ke dalam gelas. 

Tepat didepan restoran, Dong il dan Ji Hoon duduk membahas masalah mereka. Dong il meminta agar perkataannya waktu itu tak usah dimasukan hati, Ji Hoon merasa Tae Hee itu punya alasan sendiri melakukan itu. Dong Il pikir Tae Hee hanya melihatnya sebagai pria yang menyedihkan saja.
Insting seorang ibu mungkin tiba-tiba muncul dalam dirinya. Karena itulah dia memberikan kimchi itu padaku. Jika bukan insting ibu, dia pasti akan memberikanku bunga.” Cerita Dong il
Jadi, dia memberikanmu kimchi?” ucap Ji Hoon lemas, Dong il kaget karena Tae Hee tak mengetahui tentang pemberian kimchi padanya dan meminta berpura-pura tak mendengarnyakan saja.
Kau tak menyukainya sama sekali, 'kan?”kata Ji Hoon ragu
Aku bahkan tak pernah memikirkannya! Kenapa kau harus khawatir? Dia sangat cantik dan cerdas Dan jika kau lebih mengenalnya, dia orang yang tulus.” Ucap Dong il menyangkal
Aku belum bisa menyerah.” Tegas Ji Hoon, Dong il menatap Ji Hoon dan akhirnya tak bisa berkata-kata lagi. 

Didalam restoran
Suk Joon ingin memberitahu kabar Haeng Ah kalau memang penasaran. Ri Hwan menegaskan tak mau dan tak ingin mendengarnya. Suk Joon tetap mengatakan bahwa Haeng Ah baik-baik saja. Ri Hwan memilih untuk berdiri dan meninggalkan restoran, karena ada praktek pagi esok.
Aku akan memberitahu Haeng Ah bagaimana kabarmu.” Ucap Suk Joon
Tak perlu repot-repot.” Balas Ri Hwan lalu meninggalkanya.
Ji Hoon dan Ri Hwan pulang kerumah, temanya tahu Ri Hwan akan tidur dilantai satu dan masih merasa tak enak karena mengajaknya keluar. Ri Hwan mengatakan tak apa-apa malah lebih mengkhawatirkan temanya. Ji Hoon pikir Ri Hwan sudah tahu sifatnya lalu mengajaknya masuk saja. 

Di restoran
Dong il menanyaka ekspresi Suk Joon yang terlihat dingin. Suk Joon mengakui sudah berbohong dan mengaku keadaannya sekarang tidak baik-baik saja. Dong il merasa mereka itu berada dalam situasi yang sama, lalu mengajaknya kembali minum.

Flash back
Suk Joon tak sengaja bertemu dengan Haeng Ah saat ingin masuk ke kantor pemasaran. Haeng Ah tak menyanga sudah dua tahu Suk Joon tinggal ditempat itu dan ia juga harus  memperbaruhi kontraknya karena Pemilik ingin menaikkan sewa bulanannya dan berpikir akan pindah.
Tiba-tiba Suk Joon mengajak Haeng Ah makan, walaupun belum waktunya makan siang pasti Haeng Ah belum makan. Haeng Ah menolak karena harus mengurus sesuatu. Suk Joon menegaskan akan menunggu, Haeng Ah pikr akan agak lama. Suk Joon tetap akan menunggunya jadi tak usah terburu-buru. 


Di restoran
Suk Joon membaca buku menu dengan wajah serius, Haeng Ah tertawa menurutnya Tak peduli apapun yang dilakukannya, Suk Joon tetap saja terlihat seperti sedang bekerja. Pelayan datang, Suk Joon menanyakan pesanan Haeng Ah.
Haeng Ah memesan Jjamppong, Suk Joon pun memesan yang sama. Lalu Haeng Ah kembali tertawa karena mereka baru pertama kali makan Jjamppong bersama-sama. Suk Joon menanyakan biasanya memakan apa. Haeng Ah ingat tidak banyak karena mereka jarang makan bersama-sama.  Suk Joon tertunduk diam mendengarnya.
Oh, aku sudah menonton acara beritamu. Semua orang di kantor juga menontonnya. Kami selalu menyemangatimu.” Cerita Haeng Ah bersemangat, Suk Joon pun mengucapkan terimakasih
“Sekarang Kantor direstrukturisasi, 'kan?” kata Suk Joon, Haeng Ah membenarkan dan membuat mereka jadi tidak terlalu sibuk. 

Setelah makan, Haeng Ah pamit pulang lebih dulu. Suk Joon pikir mereka harus lebih sering bersama-sama lagi lalu ponselnya berdering. Haeng Ah memberitahu ponsel Suk Joon berdering. Tapi Suk Joon membiarkan dan akan bertemu lagi dengannya.
Sunbae, aku sudah mengatakannya berulang kali.” Kata Haeng Ah tak enak hati
Aku tak akan memaksamu untuk kembali padaku. Aku hanya ingin menikmati waktu  kita sama seperti saat pertama bertemu.” Ucap Suk Joon, Haeng Ah memberitahu ponsel Suk Joon tetap berbunyi tapi Suk Joon tetap membiarkanya.
Mulailah dari awal. Aku akan menjadikanmu prioritas pertama. Dan Aku yang akan mengejarmu. Tak peduli apa yang orang lain katakan. Kita akan pergi ke manapun yang kita inginkan. Pergi menonton film bersama. Dan jika kau mau, kita bias memberitahu semua rekan kerja kita. Jika kau mau memulainya kembali, hubungan kita akan lebih baik lagi. Kita tak perlu buru-buru, yang penting adalah kita bisa memulainya kembali.” Jelas Suk Joon, Haeng Ah menghela nafas panjang. 

Dong il mengetuk gelasnya yang sudah kosong, Suk Joon tersadar dari lamunan dan menuangkanya dan saling bergantian. Suk Joon menanyakan kenapa Dong il hanya diam saja. Dong il merasa semakin hari sifatnya itu mirip Suk Joon.
Apa kau berpikiran sama denganku? Bahwa mungkin ini adalah kesempatanku yang terakhir? Saat aku melihat Haeng Ah, aku merasa darahku mendidih, dan mungkin hanya dia yang bisa membuatku merasakan hal seperti itu.” Cerita Suk Joon
Aku tahu itu. Saat semua bunga mulai berguguran. Aku terus menjalani hidupku dengan pikiran bahwa bunga itu akan mekar kembali. Tapi, anehnya. Saat aku melihat bunga itu gugur. Aku merasa, bunga itu tak akan pernah mekar lagi. Kita pasti pernah merasakan hal itu Ataukah mungkin aku terlalu serakah?” ujar Dong il, Suk Joon terlihat binggung dengan menganggap serakah
Kita masih tak mengerti perasaan kita. Bukankah ini kesalahan kita karena tak menyadarinya? Dan aku merasa sangat serakah. Bagimu, Haeng Ah adalah... Em, kau pasti tahu siapa dia untukmu.” Jelas Dong il. 

Haeng Ah masuk ke dalam rumah sakit dengan kepala tegas, dalam sugesti pikiran dalam hati terdengar Rumah Sakit... sebuah rumah sakit yang besar. Banyak darah di sini. Sebuah tempat di mana penyakit bisa disembuhkan.Tempat yang akan membuat orang tersenyum.
Di ruangan, Sang Gyo menanyakan perjalanan Haeng Ah saat masuk ke ruma sakit. Haeng Ah mengatakan baik-baik saja dan ingat dengan pesanya agar tak memaksakan dirinya, tapi dengan senyuman Haeng Ah menceritakan bisa dengan mudah membuka pintu rumah sakit, tak melihat lantai lagi tapi berjalan lurus kedepan.
Saat aku di Lift, ada seorang wanita yang menangis. Aku sedikit gugup, karena mungkin dia akan memegang tanganku. Tapi, dia tak memegangku. Aku membaca lirik lagu untuk mengalihkan perhatianku.” Cerita Haeng Ah yang ingin menghilangkan fobianya. 

Sang Gyo mengantar Haeng Ah kedepan ruangan, sambil memujinya sudah berusaha dengan keras dan akan bertemu lagi di Sabtu pagi. Sebelum pergi Haeng Ah ingin menanyakan sesuatu, tentang Nyonya Park yang  sudah sering mengingatnya, jadi apakah artinya kondisinya mulai membaik.
Memang kita masih belum bias berharap lebih dari Alzheimer.” Jelas Sang Gyo
Tapi, apa kasus bibi berbeda dengan pasien yang biasanya?” tanya Haeng Ah khawatir
Dr. Park adalah orang yang hebat, pintar, dan sangat terampil. Meskipun dia memiliki semua kelebihan itu. Tapi, aku tak bisa menjamin bahwa kondisinya akan membaik. Mungkin dia ingin melupakan kenangan yang membuatnya menderita Dan juga karena ayahnya. Serta dengan kondisi seperti ini, dia sama saja dengan hilang ingatan. Bukannya masalah pada sel tubuhnya. Melainkan masalahnya terdapat pada hal lain.” Jelas Sang Gyo
Haeng Ah terlihat sedih, Sang Gyo meminta tak perlu kecewa, karena Nyonya Park rutin menjalani pengobatannya. Haeng Ah bertanya apabila kondisinya kembali memburuk, dikarenakan mengingat mengingat hubungannya dengan Ri Hwan. Sang Guo meminta Haeng Ah mempercayainya kalau ia tak melakukan kesalahan apapun.

Ri Hwan mengantar ibunya sampai ke depan restoran dan tak lupa memeluknya dan akan bertemu nanti malam karena akan pulang cepat, lalu meminta untuk tetap bersama Paman No, Bibi Gong dan Dong Hwa. Nyonya Park juga berpesan agar anaknya juga harus bersenang-senang. Ji Hoon pun mengantar ibu Ri Hwan untuk masuk ke dalam restoran.

Ri Hwan tak masuk lagi.” Ucap Bibi Gong, Ji Hoon membenarkan karena Ri Hwan hanya menunggu di mobil.
Kenapa dia tak masuk dan makan dulu? Tak akan ada yang marah jika dia datang.” Keluh bibi Gong
Ji Hoon ingin pergi tapi melihat Dong Hwa dengan wajah binggung. Dong Hwa dengan percaya diri berpikir dirinya terlihat cantik. Ji Hoon heran melihat Dong Hwa yang tak sekolah. Dong Hwa pikir Ji Hoon tak perlu peduli karena sebentar lagi akan lulus.
Karena itulah kau harus giat belajar dan jangan membolos.” Perintah Ji Hoon
Kau ini kenapa? Kau cerewet sekali, sih. Kenapa memarahiku begitu?” keluh Dong Hwa kesal 

Haeng Ah berdiri didepan restoran mengingat ucapan Sang Gyo padanya. Sebagai teman Sun Young dan bukan sebagai dokter...Mungkin dia sedang melewati tahap yang paling sulit dalam hidupnya. Kenangannya secara perlahan memudar. Dia akan berubah menjadi alien dan perlahan-lahan akan menjadi seperti anak kecil. Inilah dampak penyakit Alzheimer yang dikemukan di Mesir kuno. Dr. Park akan bersikap seperti anak kecil.
Nyonya Park mencari sesuatu dalam buku yang sering dibacanya. Dong Hwa datang dengan membawakan berbagai pensil diatas meja, Nyonya Park yakin sebelumnya pensilnya terselip dalam bukunya. Dong hwa menyodorkan pensil yang sama dan menuliskan diatas kertas agar Nyonya Park yakin. Nyonya Park pun mengambil pensil dari Dong Hwa walaupun masih terlihat binggung.
Sementara Ji Hoon dan Ri Hwan sarapan bersama. Ji Hoon mendengar cerita dari Bibi Gong kalau Haeng Ah tak pernah dating, jadi menurutnya Ri Hwan bisa masuk dan tak perlu keduanya harus menyiksa diri. Ri Hwan menegaskan sudah membuat janji yang Ji Hoon tak akan mengerti.
Nah, kita sebut saja ini adalah resiko kesukaanmu. Namanya, "Happy Girl." Tapi, jika kau ke sana. Pemiliknya akan kesusahan. Karena pemilik itu sangat menyukaimu dan dia akan memasakkanmu makanan yang enak. Dan kau akan merasa tak enak, dan tak datang lagi ke sana.” Ucap Ji Hoon yang merasa sulit untuk dijelaskan dan lebih enak dengan tindakan
Aku mengerti maksudmu.” Ucap Ri Hwan
Jadi, maksudku adalah... Kenapa kau harus menjauhi Haeng Ah?” kata Ji Hoon to the point
Ini adalah keputusanku. Karena aku tak tahu apa lagi yang akan terjadi Bahkan jika tak ada yang terjadi seperti sekarang. mungkin saja, sebentar lagi!” ujar Ri Hwan pasrah.
Ji Hoon bertanya apakah alasanya menjauhi Haeng Ah itu karena ibunya. Ri Hwan hanya tertunduk diam. Ji Hoon merasa apabila terus hidup seperti sekarang dengan tidak menikah lalu menjadi tua dan pria yang kesepian, jadi mungkin akan ke rumah saat tahun baru dan makan sup dan akan mengucapkan selamat tahun baru dan berjanji  akan terus mengunjunginya.
Ri Hwan terdiam sejenak. Ji Hoon menjelaskan maksudnya adalah akan selalu berada disisinya tak peduli apapun itu, lalu menyarankan untuk tes DNA dan  akan mengurusnya. 

Ketika sampai di klinik, Ri Hwan ingin mengambil tasnya, tak sengaja melihat pensil ibunya yang terjatuh dan berpikir ibunya pasti  akan mencari pensil itu. Ji Hoon pikir karena dari restoran tak menelp jadi ibunya pasti akan baik-baik saja, tapi kala memang Ri Hwan masih khawatir, akan menemuinya.
Ri Hwan menolah menyuruh Ji Hoon untuk masuk saja karena ia sendiri yang akan menaruh didepan restoran dan menelp Bibi Gong. Ji Hoon pikir lebih baik dirinya saja yang pergi . Ri Hwan tak enak hati apabil sampai Ji Hoon yang pergi. Ji Hoon pun membiarkan Ri Hwan untuk membawa pensil untuk ibunya. 

Dong Hwa menghela nafas, bercerita tentang seseorang yang sebelumnya terlihat seperti cumi-cumi tapi sekarang terlihat sangat tampan, tanpa tahu alasan bisa seperti itu. Nyonya Park tersenyum mendengar ceritanya.
Sama seperti saat kau melihat foto seseorang. Visualnya akan masuk ke saraf optik dan menuju ke otak. Jadi, jika hatimu menyukainya, maka otakmu akan berekasi. Jika, kau menyukai seorang pria, maka dia akan terlihat tampan bagimu.” Jelas Nyonya Park
Ahjumma kenapa, sih? Kau selalu saja lupa namaku, Dong Hwa. Aku pasti sudah mulai tua, karena Type priaku juga mulai berubah.” Keluh Dong Hwa sambil menjatuhkan kepalanya kembali keatas meja. 

Nyonya Park hanya tersenyum lalu melihat ke jendela kalau mataharinya terlihat cerah dan ingin keluar untuk mencari Chung Hee. Dong Hwa binggung siapa yang bernama Chung Hee. Bibi Gong datang, Nyonya Park memanggilnya Chung Hee lalu mengajaknya untuk pergi berjalan-jalan keluar.
Dong Hwa terlihat binggung siapa sebenarnya Chung Hee. Bibi Gong mengeluh Nyonya Park yang mengingat nama lamanya, sambil memasang jaket dan syal, tapi menurutnya lebih baik karena bisa mengingat kenangan lamanya. Dong Hwan tak percaya nama ibunya dulu adalah Shin Chung Hee dan dipanggil dengan "Princess"
Paman No memberitahu kalau panggilan "Princess" darinya. Dong Hwa tak percaya keduanya saling memanggil Princess dan Gengster lalu mengejeknya dengan berpura-pura ingin muntah. 

Bibi Gong dan Nyonya Park terlihat sumringah ketika keluar dari restoran, Haeng Ah masih berdiri melihat keduanya yang berjalan bersama, setelah itu memilih untuk meninggalkan restoran sambil memasang earphonenya.
Ri Hwan berjalan akan menuju ke restoran dengan membawa pensil milik ibunya. Ketika di persimpangan, keduanya berbeda arah, Ri Hwan akan berbelok sementara Haeng Ah berjalan lurus tanpa sadar saling berpapasan. Ri Hwan sampa didepan restoran dan sengaja menempelkan plastik berisi pensil dilampu taman. Haeng Ah menunggu bus di halte sambil mendengarkan siaran radio.
bersambung ke part 2 

Sinopsis Bubblegum Episode 12 Part 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top