Sunday, December 6, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 12 Part 2

Ketika bus datang, Haeng Ah tak naik ternyata menyadari Ri Hwan ada diseberang jalan kepergian bus. Haeng Ah ingin nekat menyebrang jalan, tapi Ri Hwan memilih berjalan pergi meninggalkanya. Haeng Ah akhirnya mengikuti langkah Ri Hwan, sambil berteriak ingin memberitahu sesuatu. Ri Hwan terus saja berjalan, Haeng Ah berjanji tak akan pergi mendekat jadi meminta Ri Hwan tak pergi. Akhirnya Ri Hwan pun berhenti melangkah.
Aku akan dapat SIM. Sebentar lagi aku sudah bisa menyetir. Aku juga mulai menjalani pengobatan. Mulai minggu lalu, aku mulai pengobatannya di rumah sakit. Aku bisa naik ke lantai 11 sendirian dan tak pernah pingsan atau muntah sama sekali. Setelah selesai berobat, aku bahkan bisa kembali. Aku meminum obat yang kau berikan setiap harinya. Aku juga meminum vitamin yang bibi berikan. Aku tak akan menyerah. Jika kau menungguku sedikit lagi, aku akan bisa mengantar bibi ke rumah sakit juga. Saat itu datang...” ucap Haeng Ah dengan suara nyaring yang bersebrangan jalan.
Ri Hwan seperti menahan tangis akhirnya menatap Haeng Ah yang ada diseberang jalan, terlihat berkaca-kaca
Aku ingin kembali padamu. Bahkan jika kau melarangku. Mungkin sekarang aku masih tak bisa membantumu apapun. Aku tak mendekat agar tak membebankanmu lagi Dan tak akan menangis. Karena mungkin, kau akan mengawasi dari suatu tempat seperti ini. Aku bahkan tak menangis saat aku di rumah. Dan saat aku sangat merindukanmu. Tenggorokanku terasa sangat sakit. Aku selalu berpikir ingin naik taksi dan diam-diam pergi ke klinikmu. Aku juga berpikir, ingin bersembunyi di depan rumahmu. Aku terkadang ingin melakukan semua itu. Tapi, aku bertahan dan tak melakukannya. Aku... sangat merindukanmu.” Akui Haeng Ah dengan suaara nyaring.
Ri Hwan hanya menatap Haeng Ah tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Haeng Ah menanyakan apakah Ri Hwan sudah makan. Ri Hwan hanya berkata dalam hati, apakah Haeng Ah sendiri sudah makan. Haeng Ah seperti bisa mendengarnya mengatakan sudah makan. Ri Hwan pun memilih untuk pamit pergi didalam hati.
Haeng Ah kembali memanggil Ri Hwan dan meminta menunggu, tapi Ri Hwan tetap berjalan. Haeng Ah meminta Ri Hwan untuk menunggu sebentar, Ri Hwan akhirnya berhenti melangkah. Haeng Ah meminta Ri Hwan untuk menunggu sebentar lagi. Ri Hwan seakan tak peduli memilih untuk pergi meninggalkanya. Haeng Ah pun membiarkan Ri Hwan pergi. 

Se Young pergi kedokter gigi, Joon So datang menyusul tapi saat masuk sempat tersenyum pada pasien yang baru keluar dan perawat yang menyapanya, barulah mendatangi Se Young sambil bertanya apakah sudah menunggu lama. Se Young memasang wajah cemberutnya dengan memalingkan wajahnya, mengatakan tidak menunggu lama.
Nilai tes mengemudiku bagus. Sedikit lagi aku akan lulus. PD Kim tak datang hari ini karena dia harus ke rumah sakit.” Cerita Joon So penuh semangat
Aku tak peduli.” Kata Se Young sinis
Apa kau marah karena aku terlambat? Aku tadi kena macet.” Ucap Joon So
Se Young mengeleng, Joon So menanyakan alasan pacarnya bersikap seperti itu. Se Young tak mengaku kalau marah dan merasa untuk apa dirinya marah. Perawat memanggil Se Young untuk masuk ke dalam ruangan. 

Di dalam ruangan, Perawat menyiapkan alat dan Joon So dengan ramah memberikan senyuman saat perawat itu keluar ruangan. Se Young makin cemberut melihat Joon So yang memberikan senyuman pada wanita lain. Joon So terlihat binggung, Se Young memilih untuk tak  membahasnya dengan lirikan sinis.Yi Seul pun datang untuk siap memeriksa giginya.
Apa terjadi sesuatu sebelum aku datang tadi?” tanya Joon So binggung
Tidak, mood-ku sangat bagus sebelum kau datang. Sebelum kau mulai tersenyum dengan semua wanita cantik itu. Nomor: 1, wanita yang tak kau kenal. Nomor: 2, wanita yang tak ingin kau lihat lagi. Nomor : 3, wanita yang seksi. Kenapa kau pura-pura tidak tahu? Ya, aku hanya wanita nomor 3 itu. Dan suster tadi berada pada no. 1-2. Kenapa kau tersenyum saat melihat mereka?” keluh Se Young
Kau imut saat cemburu. Tapi, aku sungguh  tak suka apa yang kau bilang tadi.” Kata Joon So to the point
Se Young mencari pembelaan dari Yi Seul kalau dirinya tak salah. Yi Seul membenarka kalau pria seperti itu dan karena dia bukan pria biasa. Joon So pikir Se Young marah masuk les mengemudi dengan PD Kim. Se Young mengeleng , Joon So yakin karena sebelumnya Se Young pernah bilang, PD Kim adalah wanita yang nomor 1. Yi Seul memberitahu akan memulai pemeriksan jadi apabila ingin bertengkar nanti saja.
Dan jika kau terus minum alcohol saat penyembuhan, gusimu akan infeksi, maka kau harus pasang gigi palsu.” Tegas Yi Seul
Tapi, aku merasa tak ada yang salah, kok.” Ucap Se Young panik
Sebaiknya kau hati-hati selama proses penyembuhan. Saat kau berpura-pura baik-baik saja, maka orang akan berhenti peduli. Itu tidaklah benar.” Pesan Yi Seul dengan tatapan kosong.
Teringat saat datang ke tempat Ri Hwan, dianggap sebagai pasien yang baik karena masih datang walaupun sudah merasa baikan karena memang seharusnya pergi ke dokter agar sembuh total. 

Yi Seul datang ke rumah Ri Hwan hanya ingin menitipkan makanan saja. Bibi Gong tak ingin Yi Seul seperti itu dan mengajaknya masuk untuk minum teh. Yi Seul menolak karena tak mau menimbulkan masalah. Bibi Gong tak merasa seperti itu karena malah Yi Seul yang mencarikan perawat yang baik. Yi Seul mengucap syukur kalau memang menyukai perawat yang dipilihnya. Ketika akan pulang, Nyonya park keluar rumah menanyakan siapa yang datang.
Akhirnya Yi Seul masuk dan terlihat binggung mengenalkan dirinya. Bibi Gong membantu dengan mengenala Yi Seul adalah teman Ri Hwan dan membawakan makanan yang sehat untuknya. Nyonya Park dengan senyuman mengucapkan terimakasih dan memujinya cantik sekali dan juga wangi.
Yi Seul mencium badanya merasa tak mengunakan parfum, tapi Nyonya Park merasakan ada sesuatu yang harum. Yi Seul sadar dengan syal yang dibawanya mungkin itu bau rumah sakit, karena ibunya selalu bilang semua barang milihnya bau rumah sakit.

Aku adalah dokter gigi. Saat aku sampai di kantor, hal yang pertama kau lakukan adalah menyalakan lampu. Aku biasanya lebih cepat datang daripada para suster.” Cerita Yi Seul, Nyonya Park membayangkan dirinya seperti sering melakukan hal yang sama dengan yang diceritak Yi Seul
Setelah itu, aku membuka semua jendela. Aku melepas mantel, meletakkannya di gantungan, dan kemudian mengenakan bajuku. Dokter lain biasanya suka yang warna putih, tapi aku suka pink. Lalu, aku akan mengaktifkan komputerku.
Saat pasien datang, aku akan menanyakan keluhan mereka. Lalu, mereka akan mengatakan sakit pada gigi mereka Atau mereka ingin membuat gigi mereka terlihat lebih indah Atau ingin agar gigi mereka terlihat lebih putih lagi. Terkadang, mereka tak sadar jika gigi mereka sedang bermasalah. Kami akan melakukan x-ray dan melihat kondisi giginya...” cerita Yi Seul terhenti karena melihat Ri Hwan yang menatapnya dari luar jendela. 

Keduanya bertemu direstoran, Yi Seul menjelaskan niat sebenarnya ingin langsung pulang, tapi bibi Gong memintanya untuk masuk, bahkan tak berniat untuk menemuinya atau semacamnya. Ri Hwan mengerti dan tak akan menyalahkanya.
Aku tak punya niat lain dan tak ingin menyulitkanmu lagi. Aku hanya teringat denganmu hari ini. Mungkin kau akan menganggapku aneh. Saat ibumu menemuiku dulu, aku merasa bisa mengerti dia. Aku menyukainya. Bukan karena kau. Aku tak menyukai ibumu karena aku menyukaimu juga.” Jelas Yi Seul
Terima kasih untuk segalanya.” Kata Ri Hwan dengan tatapan tak bergairah
Kau terlihat semakin kurus saja.” Komentar Yi Seul lalu melihat Ri Hwan yang memakai jam padahal sebelumnya tak suka memakai jam.
Kau pernah mengatakan sesuatu padaku, Kita pasti akan bertemu dengan orang baru. Mungkin tidak sekarang. Tapi, nanti.” Ucap Ri Hwan 

Saat itu Yi Seul menangis menanyakan apa yang dilakuan sampai saatnya itu datang, dan caranya agar bisa bertahan.
Kau hanya perlu menjalani hari-harimu seperti biasa. Sampai hari berganti lagi.Tak usah memikirkan hari esoknya. Jangan memikirkan bahwa esoknya dia belum juga datang. Jangan memikirkan, berapa lama kau harus menunggu saat itu. Jalani hidupmu seperti biasanya.” Jelas Ri Hwan menjawab pertanyanya.
Apakah begitu caramu bertahan? Saat itu pasti akan tiba. Memang terdengar aneh, tapi aku tak mengatakan ini demi kau, tapi demi aku sendiri. Jika Ri Hwan, kau... bisa menyukaiku. Mungkin akan terasa sangat menyenangkan. Tapi, kau tak akan bisa.” Kata Yi Seul sadar diri, Ri Hwan pun hanya bisa diam.
Aku akan mencoba untuk menunggu saat itu juga. Aku pasti bisa melakukannya. Mungkin kau sudah lelah, aku akan pulang sekarang.” Kata Yi Seul lalu keduanya keluar dari restoran 

Ri Hwan pulang kerumah melihat jam setengah sembilan, lalu mengingat ucapanya sendiri Kau harus menjalani harimu seperti yang biasanya. Sampai esok harinya datang. Lalu duduk dikursi melihat brosur Sanatorium Rumah Sakit
Flash Back
Ri Hwan menemui ibunya yang terdiam sambil mengenggam sesuatu ditanganya, lalu memberitahu kalau menemukan penjepit pita diatas meja riasnya, lalu bertanya apakah kakeknya itu sudah meninggal. Ri Hwan membenarkan kalau kakeknya meninggal satu bulan yang lalu.
Apa aku hadir di pemakamannya? Bagaimana pikiranku saat itu? Apa aku melakukan kesalahan lagi?” tanya Nyonya Park yang lupa akan hal itu.
Tidak sama sekali dan Tak ada yang tahu penyakit ibu.” Jelas Ri Hwan
Dan bagaimana dengan ini? Apa aku pergi ke sana?” tanya Nyonya Park memberikan brosur sanotarium. Ri Hwan mengatakan tidak dan tak ingin memberitahu ibunya
Apa aku memang berencana ke sana? Jika saat itu kondisiku dalam keadaan yang seperti sekarang, aku pasti akan pergi ke sana Tapi, aku masih di sini. Jadi, untuk sementara waktu... aku hanya perlu istirahat saja. Bukankah begitu?” ucap Nyonya Park terlihat mulai menyadari sesuatu.

Lalu ia meminta anaknya mendengar perkataan yang ingin dikatakan. Ri Hwan duduk disamping ibunya. Nyonya Park menatap dengan wajah serius meminta maaf pada anaknya karena terlalu gengsi untuk bisa menemui ayahnya dulu, karena ingin Ri Hwan tumbuh dengan baik.
Aku ingin melakukan itu, hingga ayahku akan mewariskan rumah sakit padamu. Itulah keinginanku. Saat kau bisa menikah dengan keluarga yang membuat ayahku senang, itulah saat aku bias menemui ayahku lagi. Aku ingin mengatakan  padanya, "Lihat, ayah salah. Aku yang benar." “ kata Nyonya Park, Ri Hwan memegang tangan ibunya
Ayah pasti senang, jika pulang dalam keadaan yang menderita Dan aku tak mau begitu. Jika aku berhasil, kau tak akan kesepian. Kau akan hidup bersama dengan sepupumu. Kau tak perlu bermain sendirian di tangga rumah sakit dan tak perlu tidur sendiran di ruangan yang dingin.” Ucap Nyonya Park, Ri Hwan ingin menjelaskan tapi ibunya kembali berbicara
Aku salah dan sangat menyesal.” Kata Nyonya Park
Ri Hwan merasa ibunya sudah berusaha sekuat tenaga dan mengerti keadaanya. Nyonya Park merasa dirinya bersalah lalu bertanya Kesalahan apa lagi yang telah diperbuat dan meminta Ri Hwan mengatakan karena mungkin esok tak akan mengingatnya. Ri Hwan terdiam.
Penderitaan apa yang kau alami karena keegoisanku? Apa lagi? Kau tak perlu menuruti ibu mulai hari ini. Tak perlu lakukan apa yang ibu mau. Kau hanya perlu memikirkan hal-hal yang bisa membuatmu bahagia. Kau bisa, 'kan?” kata Nyonya Park yang menyadari kesalahanya. 


Ri Hwan melihat sudah jam 9 malam, saat Ji Hoon pulang kerumah, ia langsung menyembunyikan brosur disamping tempat duduknya. Ji Hoon menceritakan baru saja menyapa ibunya dan terlihat moodnya sedang bagus dan sedang pergi jalan-jalan. Ri Hwan binggung karena sekarang terasa dingin malah berjalan-jalan.
Perawat itu menyelemuti tubuhnya seperti bayi. Itu akan bagus untuknya Dan sekarang, rasanya nyaman sekali! Sudah lama, ya? Apa Kau mau sedikit santai?” kata Ji Hoon membanting tubuhnya disofa sambil mencari remote.
Tidak, terima kasih. Nonton saja sendirian.” Kata Ri Hwan menolak ingin pergi.
Jangan pergi. Aku kesepian.” Kata Ji Hoon menahan tangan Ri Hwan untuk tak pergi.
Ri Hwan akhirny duduk kembali lalu bertanya tentang Tae Hee. Ji Hoon mengaku tak tahu. Ri Hwan merasa hubungan mereka makin memburuk karena dirinya. Ji Hoon menceritakan Tae Hee tak pernah mau mengangkat telepon darinya, lalu merasa kalau pria yang disukai oleh Tae Hee itu pria yang baik, jadi bisa mengerti alasan Tae Hee menyukai pria itu.
Lalu menyadari terlalu banyak curhat, Ri Hwan hanya tersenyum. Ji Hoon tiba-tiba memanggil nama Ri Hwan dan mengodanya ingin meminta dipeluk. Ri Hwan memilih untuk pamit pergi. Ji Hoon merengek supaya Ri Hwan menginap dilantai 2 saja. Ri Hwan tertawa mendengarnya. Ji Hoon pun ikut tersenyum dan berharap mereka harus terus tertawa dan bahagia. 

Ri Hwan menuruni tangga mengingat ucapan ibunya Kesalahan apa lagi yang telah kuperbuat? Katakan. Aku mungkin tak akan mengingatnya besok. Penderitaan apa yang kau alami karena keegoisanku? Apa lagi?Lalu ucapan Haeng Ah yang bersebrangan jalan denganya Aku sangat merindukanmu. 
Dengan tatapan kosong Ri Hwan bersadar di dinding rumah sambil mengingat kembali ucapan ibunya Kau tak perlu menuruti ibu mulai hari ini. Tak perlu lakukan apa yang ibu mau. Kau hanya perlu memikirkan hal-hal yang bisa membuatmu bahagia.
Pelahan menghela nafas mengingat juga pengakuan Haeng Ah Dan saat aku sangat merindukanmu. Tenggorokanku terasa sangat sakit. Aku selalu berpikir ingin naik taksi dan diam-diam pergi ke klinikmu. Aku juga berpikir, ingin bersembunyi di depan rumahmu. Aku terkadang ingin melakukan semua itu. Aku... Sangat merindukanmu.

Nyonya Park baru pulang jalan-jalan, melihat Ri Hwan yang menunggu didepan rumah. Ri Hwan mengajak ibunya masuk sambil bertanya kemana saja ibunya jalan-jalan. Nyonya Park menceritakan berjalan cukup jauh.
Ri Hwan mengajak ibunya masuk agar bisa membaca buku lalu tidur, lalu bertanya apa lagi yang ingin dilakukannya sekarang. Nyonya Park terlihat binggung dengan yang ingin dilakukan sekarang. Ri Hwan menegaskan sekarang, bukan besok atau kemarin.

Di cafe
Dong il mengaku bukan tipe pria yang suka  suka minum dan bersantai di kafe tapi karena Tae Hee maka mengajaknya ke tempat itu  untuk pertama dan terakhir kalinya. Tae Hee dengan tatapan dinginnya menyuruh Dong il mengatakan saja sekarang.
Aku harap kau tak menganggapku sebagai pria yang tak berperasaan.Aku malah sudah memikirkan masalah ini dengan matang-matang. Berapa kalipun aku memikirkannya....” kata Dong il yang langsung disela oleh Tae Hee
Percuma saja, perkataan "Berapa kalipun aku memikirkannya", itu artinya percuma saja.” Jelas Tae Hee
Baiklah.... Aku sangat menyesal, tapi...” kata Dong il kembali disela oleh Tae Hee.
Percuma saja...Karena jika kau mengatakan itu, itu artinya kau telah melakukan kesalahan.” Tegas Tae Hee
Dong il bingung sebenarnya apa yang harus dikatakanya. Tae Hee menyuruh Dong il mengatakan apa yang ingin dikatakan. Dong il ingin berbicara tapi Tae Hee lebih dulu meminta agar tak mengatakan apapun. Dong il heran melihat Tae Hee memang benar-benar aneh. Tae Hee akhirnya mengaku menyukai Dong Il.
Lalu Dong Il mengingatkan bahwa ia adalah atasanya, Tae Hee juga merasa binggung tapi sekarang menyerah dengan perasaan yang sudah diakuinya, jadi apabila Dong il ingin menolaknya lebih baik katakan saja nanti, lalu pamit pergi untuk kembali berkerja.
Aku tak menyukaimu. Apa itu sudah cukup?” teriak Dong il sebelum Tae Hee meninggalkan restoran
Jangan katakan, "Apa itu sudah cukup". Dan ulangi kata yang sebelumnya. Tatap mataku dan katakan sekali lagi. Dengan begitu aku akan percaya.” Tegas Tae Hee. Dong il pun terdiam menatap Tae Hee. 

Di ruangan
Haeng Ah datang menyapa Se Young dan Joon Soo yang datang lebih awal. Se Young melihat wajah Haeng Ah terlihat bahagia. Haeng Ah menceritakan Ada seorang pasein Alzheimer seperti bibinya, selama 7 tahun, tapi tak lupa dengan jalan rumahnya, bahkan mengajarkan bahasa Korea pada cucunya yang berumur 3 tahun.
Dia rutin minum obat, membaca dan berjalan-jalan Dan sering tertawa. Jika pasien tidak banyak stres, kondisinya pasti akan membaik. Aku sangat ingin memberitahu bibiku.” Cerita Haeng Ah sumringah
Pertengkaran kita terasa percuma saja sekarang. Dia merayu semua wanita di luar sana. Dia tersenyum pada mereka. Semuanya! Lalu, dia melihatku dengan setengah tidak ikhlas tersenyum.” Keluh Se Young dengan lirikan sinis, Joon So menghela nafas mendengarnya. Haeng Ah berkomentar Joon So memang salah
Wah! Aku tidak begitu. Kenapa kau harus berakting sekarang? Orang lain bisa salah paham.” Keluh Joon So 

Haeng Ah tersenyum mendengarnya, Tae Hee datang memberikan list lagu Haeng Ah bertanya apakah Tae Hee sudah memilih lagu untuk segmen ketiga. Tae Hee dengan wajah cemberut menyebut lagu G.NA. yang berjudul "Aku akan pergi, dan hiduplah tanpa diriku." Haeng Ah mengingatkan  segmennya tentang cinta pertama. Tae Hee akhirnya menyerahkan pada Haeng Ah saja. Akhirnya Haeng Ah akan memutar lagu  dari Fall Vacation, "First Love". Se Young dan Joon So binggung melihat wajah Tae Hee yang tak seperti biasanya.
Siaran dimulai, jam 11 malam. Se Young memulai segmen curhat  Black Radio.Di mulai dengan Nickname, "Penyesalan atau Bodoh." Yan menceritakan mantan pacarnya selalu menelp saat mabuk tapi saat menelpnya esok hari, si mantan malah sibuk lalu menanyakan saran pada si dokter cinta
Ini sama saja menonton ulang pertandingan sepak bola dengan skor 0:0. Mungkin kau sangat tak sabar menontonya, tapi hasilnya akan tetap sama saja.” Jawab si dokter cinta
 “Baiklah, selanjutnya, Nickname, Me Ah Ri. Karyawan kafe itu adalah tipeku, jadi kami tukaran no. HP. Kami sering SMS-an. Dia selalu saja tersenyum padaku tapi, tak pernah mengajakku pacaran. Berapa lama aku harus menunggu?” ucap Se Young
Selamanya...Kau mungkin hanya dianggap pelanggan biasa saja. Gunakan cara lain. Kau bisa mengirimkan kopi padanya dan menempel pesan di situ.” Ucap dokter cinta. Se Young akhirnya menurunkan list surat yang harus dibaca.

Oh, aku ingin menyampaikan pertanyaan teman yang dia titip padaku. Temanku punya pacar yang jauh lebih muda darinya. Mungkin dia merasa sedikit khawatir. Apa kau bisa memberinya sedikit saran?” tanya Se Young, Joon Soo menatan tawanya mendengarnya. Dokter cinta menanyakan apa yang dikhawatirkanya.
Misalnya, apakah pacarnya itu menyukai wanita seusianya?” ucap Se Young
Jika begitu, dia pasti akan putus dengan pacarnya.” Kata Dokter cinta
Ya, dia punya banyak teman wanita yang seusia dengannya” uca Se Young khawatir
Dokter cinta merasa  mungkin akan pacaran dengan salah satu temannya. Se Young merasa kalau kemungkinan selingkuhnya besar. Haeng Ah yang mendengarnya mencoba untuk menahan tawanya. Dokter Cinta menanyakan “Apakah jika pria pacaran dengan wanita tua dan jelek dia akan melakukan kekerasan padanya?
Se Young mengatakan tidak dan terlihat kesal karena Dokter malah bertanya seperti itu. Dokter Cinta merasa tak ada bedanya lalu menduga nama temanya itu bernama Oh Se Young. Joon So dan Haeng Ah mencoba menahan tawanya. Se Young berusaha tertawa menyangkalnya. Dokter cinta pun mengaku kalau Cuma bercanda. Akhirnya Se Young mencoba mengalihkan dengan membaca surat lain.

Nickname, "Aku sudah bias ke rumah sakit sekarang." Dia melepaskanku karena aku menjadi beban untuknya. Aku tahu dia sangat tertekan, tapi aku tetap ingin menemuinya. Apakah perasaan egois ini masih bisa dibilang cinta?” ucap Se Young, Haeng Ah mendengarnya dengan serius karena itu adalah curhatanya.
Kau tidak egois. Manusia memang seperti itu. Lakukan apa saja yang membuatmu bahagia. Apa kau ini Tuhan? Yang hanya bias bahagia jika melihatnya dari jauh? Kenapa kau ingin bersikap seperti Tuhan? Manusia selalu ingin melihat dan menyentuh. Itulah kita. Jangan salahkan dirimu.”  ucap Dokter cinta, Haeng Ah tersenyum mendengar, Tae Hee melirik sinis padanya. 
Sesi curhat selesai, hanya ada Se Young dan Haeng Ah didalam ruang siaran.

James Dean pernah mengatakan ini, Mimpilah seperti kau akan hidup selamanya dan hiduplah seperti kau akan mati esoknya. Tapi, banyak orang yang mengubahnya, Manusia hidup seolah-olah mereka akan hidup selamanya. Mereka tak bermimpi seolah-olah mereka akan mati besok.” 
Haeng Ah melamun, seperti merasakan ayunan ditaman hanya satu yang bergoyang. Lalu ruangan siaran Kosong dan peta di ruangan tanpa ada Pin lagi. Se
Sebentar lagi tahun baru.Menganggap semuanya tidak terlalu penting. Kita masih bisa hidup. Jika kau menyembunyikan sesuatu, cobalah untuk berani mengungkapkannya. Ini adalah aku. Maafkan aku.
Ri Hwan dan Haeng Ah sama-sama masu ke dalam rumah lalu melamun dibalkon rumah masing-masing, sama-sama saling menatap kearah berlawanan lalu ke langit.
Aku membawa semua bajuku dan datang ke sini.Aku hanya sangat merindukanmu. Black Radio, membuka hari pertama dalam bulan Desember. Tetaplah bergabung dengan kami besok, dari studio, Oh Se Young.
Keduanya lalu berbaring diatas tempat tidur bersamaan, karena tak bisa tidur keduanya sama-sama memiringkan badanya. 

Pagi harinya, Keduanya terbangun jam 8 pagi, sama-sama mandi dengan shower mengosok gigi lalu meminum vitamin dan sama-sama memakai jaket sebelum pergi dan pamit pergi. Ri Hwan dengan mendapatkan lambai tangan dari ibunya, Haeng Ah menyapa daun yang terlihat mengeluarkan embun.
Ri Hwan menaiki mobil sementara Haeng Ah menaik taksi, sama-sama turun didepan rumah sakit. Ri Hwan lebih dulu masuk ke lift saat Haeng Ah ingin masuk pintu lift lebih dulu tertutup.
Keduanya berjalan di tempat yang sama hanya berbeda beberapa menit saja. Ri Hwan baru keluar dari ruangan Sang Gyo dan Haeng Ah baru saja akan masuk, keduanya saling berpapasan. Haeng Ah memberikan senyumanya tapi Ri Hwan terlihat hanya bisa diam.
[Aku terus memanggil namamu, seperti sebuah lagu yang tak ada habisnya]
bersambung ke episode 13


Sinopsis Bubblegum Episode 12 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top