Friday, December 11, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 13 Part 1

Haeng Ah tersenyum bisa bertemu dengan Ri Hwan dirumah sakit, Tapi Ri Hwan memilih untuk meninggalkan. Haeng Ah mengejarnya meminta agar Ri Hwan berhenti tapi Ri Hwan terus saja berjalan ingin meninggalkan rumah sakit. Ketika ingin berbelok, Ri Hwan melihat pasien yang didorong dengan kepala berdarah.
Ia langsung mendekati Haeng Ah dan menutup matanya, supaya tak melihat pasien berlumuran darah. Setelah pasien lewat, Ri Hwan menanyakan keadaan Haeng Ah sekarang, Haeng Ah balik menanyakan keadaan Ri Hwan dengan wajah khawatir. Ri Hwan hanya diam,Haeng Ah memberitahu kalau keadaan baik-baik saja.
Aku belum memutuskan hubungan kita, Hanya kau yang menyetujuinya.” Tegas Haeng Ah, Ri Hwan ingin pergi, Haeng Ah langsung menahanya.
Jika kau seperti ini, semuanya akan kembali lagi seperti dulu. Kita harus kembali menangis lagi. Kau masih belum mengerti?” ucap Ri Hwan
Aku tak tahu bahwa kau akan datang hari ini dan tak menyangka bias bertemu denganmu hari ini. Kau ke sini untuk ibumu? Kenapa kita tak masuk bersama saja?” kata Haeng Ah mengajak untuk masuk bersama-sama. 


Sang Gyo masuk ke ruangan sambil melepas jaket menanyakan apakah mereka berdua sudah berbicara. Keduanya hanya berdiri dan diam. Sang Gyo akan memakai jas dokter tapi melihat keduanya, merasa tak perlu mengunakan agar lebih santai, dan memulai membicarakan urusan mereka.
Siapa yang salah?” tanya Sang Gyo, Keduanya terlihat binggung akhirnya Sang Yo menyuruh keduanya untuk duduk.
Sebagai seorang  anak, kau pasti sudah tahu tinggal masalah waktu hingga perasaan depresi menyerang. Dan Kim Haeng Ah, kau selalu menyalahkan dirimu sendiri atas segalanya. Jadi, kau harus menjalani pengobatan yang baru lagi.” Jelas Sang Gyo, Ri Hwan sedikit melirik
Jadi, siapa menyebabkan keadaannya jadi seperti ini? Mungkin, Dr. Park... Apa Sun Young yang membuat kalian membuat keputusan ini?” tanya Sang Gyo sambil berdiri
Tidak, bibi tidak salah sama sekali.” Kata Haeng Ah 

Tapi, dia menentang hubungan kalian hanya karena masalah masa lalunya.” Kata Sang Gyo, Haeng Ah pikir itu pikiran bibinya
Ah, karena dia yang sendiri membesarkan anaknya, karena itu Sun Young beranggapan bahwa dia yang tahu semuanya?” kata Sang Yo, Haeng Ah melihat dari kondisi bibinya sekarang, Sang Gyo menyela.
Maksudmu karena dia menderita karena ayahmu? Jadi, kau tidak marah bahkan jika dia terus membencimu.” Ucap Sang Gyo
Bibi mengalami masa yang paling menyulitkan saat itu. Aku dan juga ayahku merasa sangat bersalah.”kata Haeng Ah tak ingin menyalahkan Sang Gyo

Sang Gyo menyimpulkan Haeng Ah bisa mengerti kebenciannya itu. Haeng Ah merasa sama sekali tidak bisa menyalahkan sikapnya itu, karena dirinya yang seharusnya bisa mengerti keadaan bibi Park. Sang Gyo menyela kalau alasan Nyonya Park bunuh diri itu karena mereka berdua.
Karena jika ayahku tidak meninggal, kondisinya tak akan seperti ini! Dia pasti sangat menderita jika melihat wajahku ini? Aku sudah tahu itu, tapi aku tak bisa menjauh darinya. Yang aku lihat dimatanya adalah tatapan ketakutan, bukannya kebencian dan Yang bisa aku lakukan hanyalah tersenyum seakan aku tak tahu apa-apa.” Teriak Haeng Ah penuh emosi, Ri Hwan hanya terdiam meliriknya.
Jadi, Sun Young-lah yang benar?” teriak Sang Gyo dengan nada tinggi,
Tidak! Tidak begitu!” teriak Haeng Ah sambil berdiri
Sang Gyo tersenyum mendengarnya, Haeng Ah sadar dengan jawabanya lalu melirik ke arah Ri Hwan karena semua ini memang keegoisan ibunya.

Keduanya keluar dari rumah sakit, Ri Hwan langsung masuk mobil dan Haeng Ah berdiri tepat didepan mobilnya. Penjelasan dari Sang Gyo mereka ingat bersama-sama.
Telah terjadi kesalahpahaman yang membuat ingin mati. Kalian merasa ingin mati saja. Kau tak bisa mendekat pada orang yang sangat kau kasihi Dam Kau tak seharusnya menyalahkan hubungan kalian.
Ri Hwan akhirnya turun dari mobil menyuruh Haeng Ah pulang karena bisa sakit nantinya. Haeng Ah mengaku mengkhawatirkan keadaan Ri Hwan sekarang. Ri Hwan meminta tak seharusnya khawatir karena harus berpisah. Haeng Ah mengajak Ri Hwan untuk menganggap ibunya yang salah. Ri Hwan menegaskan tak ada yang berubah
Aku pasti telah menjadi beban untukmu dan kau tak kuat lagi.” Kata Haeng Ah
Bukan kau. Tapi, aku dan ibukulah yang menjadi beban. Jika saja aku tak mengajakmu untuk meninggalkan Namhae, kau pasti bisa hidup bahagia sekarang. Kau tak perlu mengkhawatirkan perasaan ibuku seperti ini dan tak harus menderita begini.” Tegas Ri Hwan
Jadi, kau mau aku tinggal di sana saja dan tiap pagi mencuci mukaku?” tanya Haeng Ah
“Apa Kau mau mengulanginya lagi dan mau menangis lagi?” balas Ri Hwan
Aku bisa jika memang itu yang harus kulakukan dan tak akan memutuskan hubungan kita, kecuali jika kau tak lagi menyukaiku. Bahkan jika kau bias mengidap penyakit itu juga.” Tegas Haeng Ah, Ri Hwan melotot kaget mendengarnya.
Aku juga tahu, ada kemungkinan kau akan terserang juga dan Aku telah banyak mempelajarinya. Kau bisa mulai menjalani perawatannya sedini mungkin. Sama dengan penyakit yang lainnya juga, kau masih bisa melakukan pengobatan. Dan jika kita bisa membuktikan bahwa bibi yang salah, kita bisa terus bersama.” Jelas Haeng Ah dengan nada tinggi
Tidak. Karena aku akan terus merasa bersalah jika melihatmu. Aku senang seperti ini saja.” Balas Ri Hwan, Haeng Ah memutuskan akan menunggunya, lalu berpesan agar hati-hati dijalan lalu meninggalkanya. 

Dong Hwa mengajak selfie bersama dengan ibunya, Bibi Gong mengeluh anaknya mencari gara-gara dipagi hari. Dong Hwa mengutarkan keinginnya untuk menempel foto di dinding. Bibi Gong menyuruh anaknya menempel foto sendiri saja. Dong Hwa merasa foto sendiri tak menarik. Tapi Bibi Gong tetap merasa tetap bagus.
Apanya yang bagus? Di sana hanya ada foto Ri Hwan dan Haeng Ah. Orang asing pasti berpikir aku hanyalah pegawai biasa di sini.” Kata Dong Hwa
Apa itu yang membuatmu kesal?” tanya Bibi Gong
Saat foto-foto itu rusak karena dilempari kursi, aku seharusnya membuang semua fotonya.” Jerit Dong Hwa kesal, Bibi Gong langsung memukul anaknya agar menjaga bicara.
Tanganku sampai terluka saat membersihkan kacanya, tapi Di mana Sun Young ahjumma dan Ahjussi?” kata Dong Hwa mencari dilantai dua.
Bibi Gong melihat foto Haeng Ah dan Ri Hwan saat masih remaja, dengan wajah sedih menanykan nasib dari mereka berdua sekarang. 

Sang Gyo melihat Ri Hwan yang datang dan menyuruhnya masuk. Ri Hwan kembali duduk menemui Sang Gyo diruanganya. Sang Gyo menjelaskan  Gen PS1 biasanya lebih umum di Kaukasia, jadi ia ingintahu kondisinya lebih dulu, karena tak bisa bertanya pada ibunya. Ri Hwan memohon agar merahasiakan hal ini.
Apapun hasilnya, kau tak boleh pantang menyerah. Kau tahu itu, 'kan?” kata Sang Gyo, Ri Hwan mengerti. 

Haeng Ah duduk didepan sungai Han sambil meminum sekaleng bir dengan sedotan, lalu melihat Tae Hee yang akhirnya datang. Tae Hee pikir tak mungkin tak datang karena Haeng Ah sudah seperti mayat hidup karena memberanikan diri pergi kerumah sakit, lalu minum bir di siang hari. Haeng Ah mengatakan ingin beli satu lagi.
Tae Hee to the point menanyakan apa sebenarnya yang terjadi, Haeng Ah mengalihkan pertanyaan dengan bertanya apa yang ingin Tae Hee minum. Tae Hee bertanya apakah Haeng Ah bertemu dengan Ri Hwan dirumah sakit. Haeng Ah memilih untuk Tae Hee menunggunya karena akan membeli minum. Tae Hee duduk melihat ponsel Haeng Ah yang ditinggal.
Di rumah sakit, Ri Hwan seperti menahan rasa sakit ketika perawat menusukan jarum ke dalam pembuluh darahnya dan mengambil beberapa sampel darah untuk diuji. Tiga buah tabung hasil pengambilan darahnya akan melakukan tes tentang kesehatanya. 

Dong Hwa berdiri disamping Nyonya Park yang tertunduk dengan wajah ketakutan, meminta maaf pada pelanggan karena bibinya tak bermaksud untuk mengambil gambar mereka berdua tapi ia baru saja mengajari cara menggunakan kamera dan bibinya itu pelupa. Bibi Gong yang mendengar keributan mengajak Nyonya Park naik ke lantai dua.
Si pelanggan tetap tak percaya, Dong Hwa kembali meminta maaf memberitahu Nyonya Park sedang sakit tidak bisa mengingat hal-hal yang sederhana, jadi tak mungkin memiliki niat yang buruk.  Pelanggan malah menyalahkan Dong Hwa yang membiarka orang sakit duduk di dalam restoran.
Dia harusnya pasang bunga di kepalanya saja. Anggap saja dia anjing yang tidak sengaja lewat! Oke?” ejek si pelanggan kembali duduk menemui wanitanya. Dong Hwa menghampiri dengan berteriak.
Aku sudah meminta maaf, dan dia seperti itu karena dia sakit. Bagaimana anda bisa menganggap orang yang sakit itu, "anjing"? Apa mulut anda masih bisa makan dengan kotoran itu!” teriak Dong Hwa tak terima, Si pelanggan marah berteriak meminta untuk dipanggilkan pemilik restoran. 

Di lantai atas
Nyonya Park bisa mendengar ejekan orang-orang yang mengganggapnya seperti hewan. Bibi Gong melihat kearah jendela, suaminya sudah menarik si pelanggan yang kurang ajar untuk keluar dari restoran mereka. Bibi Gong duduk didepan Nyonya Park yang terlihat menangis.
Kenapa kau menangis? Kau harus tetap kuat dan tak boleh menangis.” Pesan Bibi Gong
Di mana Ri Hwan?” tanya Nyonya Park, Bibi Gong pun akan menelp Ri Hwan karena ibunya mencarinya. 

Bibi Gong mengantar Nyonya Park sampai ke depan restoran memberitahu mereka  tak sempat jalan-jalan tadi. Ri Hwan bisa mengerti lalu pamit pulang dulu. Bibi Gong terlihat khawatir berpesan supaya sampai dirumah dan bertemu dengan perawat, lalu tersadar kalau Ri Hwan sebagai anaknya pasti tahu apa yang harus dilakukan pada ibunya. Ri Hwan mengandeng ibunya untuk pulang, Bibi Gong pun mengucapakan selamat tinggal dan akan bertemu besok pagi. 

Tae Hee memegang ponsel Haeng Ah yang mencari keyword [Alzheimer dan gejala demensia] menurutnya tidak heran Ri Hwan memutuskannya begitu saja, karena sudah menduga pasti terjadi sesuatu, tapi Haeng Ah sudah tahu kemungkinannya penyakitnya dan masih tetap mau bersamanya. Haeng Ah melirik ponselnya sudah ada ditangan Tae Hee.
Kau ini kenapa, sih? Apa kau tak mau menghargai dirimu sendiri?” teriak Tae Hee marah, Haeng Ah duduk meminta Tae Hee mengembalikan ponselnya.Tae Hee menolak.
Kau akan terus mencari tahu dan akan melupakan hidupmu. Kenapa aku bisa tega membiarkanmu menderita begini?” teriak Tae Hee tak terima dengan sikap temanya.
Bibi malah lebih menderita karena dia terlambat menyadarinya, Akan bagus jika bias ditangani sedini mungkin. Banyak pasien yang masih bisa bertahan lama.” Jelas Haeng Ah
Lalu apa? Kau akan terus menunggunya? Apa kau tahu betapa menakutkannya penyakit ini? Alzheimer adalah penyakit yang bias membuat seluruh keluarga jadi gila. Siapa yang akan menemani hidupmu? Apakah Ri Hwan? Tapi, dia malah akan sakit-sakitan.”teriak Tae Hee.
Apa bicaramu harus sekejam itu? Kau adalah temanku. Bisakah kau, setidaknya, memberitahuku untuk tetap sabar dalam menghadapi ini?” teriak Haeng Ah.

Tae Hee menyindir Haeng Ah yang menganggap sebagia teman tapi malah menyembunyikannya semuanya dan berpura-pura tak terjadi apa-apa, menurutnya Haeng Ah harusnya menangis dan mengamuk. Haeng Ah tak bisa menahan emosinya lagi akhirnya berdiri.
Aku juga tak tahu harus marah kepada siapa. Aku marah  dan benci pada semua orang! Dokter mengatakan bibi yang salah dan Ri Hwan mengatakan itu semua salahnya. Bibi sakit dan Ri Hwan merasa tertekan karena adanya aku. Kau juga marah karena khawatir padaku.” Teriak Haeng Ah, Tae Hee melotot melihat temanya yang akhirnya terlihat marah
Lalu, aku marah pada siapa? Pada dokter itu? Untuk apa kau jadi dokter jika tak bisa menyelamatkan ibu, ayah dan bibiku? Ataukah aku harus pergi ke gereja dan marah? "Kenapa Engkau melakukan ini padaku?" Haruskah aku pergi ke kuil dan berteriak  "Jangan menganggu keluargaku!" Aku harus marah pada siapa?” teriak Haeng Ah histeris
Pada semua orang! Semuanya! Bahkan padaku...” teriak Tae Hee dengan mata berkaca-kaca. Haeng Ah terdiam dan menahan air matanya. 

Ri Hwan membuka pintu mobil memakaikan selimut lalu bertanya apakah ibunya sudah mengunakan sarung tanganya. Nyonya park memperlihatkan tanganya sudah memakai sarung tangan. Ri Hwan memastikan agar ibunya tak kedinginan saat berjalan-jalan ditaman, lalu memberikan sebuket bunga sebagai hadiah untuk ibunya.
Nyonya Park seperti anak kecil memuji kalau bunganya sangat cantik, Ri Hwan mengodanya kalau ibunya itu lebih cantik. Keduanya mulai berjalan ditaman, Nyonya Park mencium bunga mawar pemberian Ri Hwan, teringat dulu anaknya membelikannya bunga saat ulang tahun, tapi ia malah marah dan membuat Ri Hwan menangis.

“Saat itu aku brkata "Siapa yang menyuruh membelikanku bunga? Kau tahu, bunga ini harus selalu disiram agar tidak layu." Jadi, agar bunganya tidak layu, kau selalu rajin menyiramnya dengan sesuatu yang dingin...” Cerita Nyonya Park, Ri Hwan seperti mengingat lalu berpikir itu kejadian saat masih SD
Benar sekali, aku menyiramnya dengan air es setiap hari. Ahjussi bilang, mawar bisa bertahan lama jika dingin.” Lanjut Ri Hwan
Kau juga menulis kartu "Happy Birthday", tapi Ada tiga huruf "P"nya. Dan Aku memintamu mengambil penghapus. Lalu kau menghapus salah satu huruf "P"nya. Seharusnya aku tak memarahimu.” Cerita Nyonya Park menyesal
Ri Hwan tak percaya Ibunya mengingat semua. Nyonya Park merasa bersalah karena terlalu perfeksionis. Ri Hwan tak setuju karena ibunya  adalah wanita pemberani dan Tak ada lagi ibu yang seperti ibunya. Nyonya Park menatap anaknya merasa sudah melupakan sesuatu lagi. Ri Hwan meminta agar ibunya tak perlu khawatir lalu mengajaknya duduk.

Nyonya Park mengulangi kata-katanya kalau bunganya sangat cantik. Ri Hwan berjanji akan membelikan bunga untuk ibunya tiap hari lalu ingin membantu untuk memegangnya. Nyonya Park memberikanya dan terlihat ternyata hanya satu jari yang dipakaikan sarung tangan, bahkan sarung tangan yang kanan terbalik.
Ri Hwan terlihat sedikit sedih, lalu memberitahu ibunya kalau harus memakaikan sarung tangan di kedua tanganya, sambil menjelaskan Ada 1000 sel saraf yang melekat satu sama lain jadi mereka tak bisa berbuat banyak jika salah satunya mati.
Jika kita bisa menjaganya dengan baik, Kita bisa memperlambat proses kehilangan ingatan pada ibu.” Kata Ri Hwan yang bahagia bisa memasangkan dengan benar sarung tangan ibunya, lalu keduanya kembali berjalan.
Bagaimana keadaanku yang sekarang? Mungkin diantara semua pasien sepertiku, aku pasti pasien yang paling bahagia.” Ungkap Nyonya Park, Ri Hwan terdiam mendengarnya. Nyonya Park pikir ia sudah mengatakan itu juga sebelumnya.
Tidak...Baru kali ini ibu mengatakan hal itu. Bahwa ibu bahagia...” kata Ri Hwan tak percaya
Nyonya Park merasakan Cuacanya bagus sekali Dan bunganya cantik sekali. Ri Hwan benar-benar tak percaya ibunya merasa bahagia. Nyonya Park menanyakan kemana mereka akan pergi sekarang. Ri Hwan mengatakan mereka akan pulang, tapi bukan pulang ke rumah yang sedih dan dingin tapi ke rumah yang hangat, wajahnya tersenyum melihat ibunya yang merasa bahagia. 

Dalam dunia yang penuh dengan cahaya. Bayangan pada di kakimu pasti akan terlihat jelas.”
Ri Hwan membantu ibunya untuk berbaring diatas tempat tidur dan sedikit menutup jendela agar tak masuk sinar matahari.
Di dunia yang penuh dengan kegelapan, sinar cahaya yang tipis akan terlihat sangat jelas. Sebuah cahaya yang tersembunyi, Sebuah kebahagiaan baru yang akhirnya datang. Saat kenangan ibu mulai memudar, dia akhirnya bisa bahagia.
Ri Hwan kembali ke rumahnya dilantai atas, dengan wajah tanpa ekspresi duduk diruang TV dan memejamkan matanya sejenak. 

Flash Back
Haeng Ah merasa membutuhkan seseorang, yaitu Seseorang yang menyukanya lebih dari dirinya yang menyukai orang itu dan juga seseorang yang bisa dipamerkan ke teman-temannya.
Tapi, sekarang aku tidak merasakan itu. Hal yang ingin kumiliki karena aku tak bisa memilikinya Dan juga aku tak mau kehilangan orang-orang yang berharga.” Tegas Haeng Ah, Ri Hwan hanya bisa diam. 

Yi Seul sedang sibuk didepan komputer, kakaknya menelp meminta untuk membuka pintu. Yi Seul memberitahu masih di rumah sakit. Jung Woo mengatakan sudah tahu, Yi Seul pun keluar dari ruanganya ternyata kakaknya sudah ada didepan sambil menelpnya, akhirnya ia mengajak kakaknya masuk. Jung Woo melihat adiknya membeli lukisan baru dan juga globe
Apa kau sengaja di sini terus karena ingin menghindari ibu?” tanya Jung Woo
Aku sedang ingin membaca di sini saja.” Kata Yi Seul
Ibu masih keras kepala, Dengan perjodohannya itu?” tanya Jung Woo, Yi Seul membenarkan
Dan mereka semua jelek?” tanya Jung Woo, Yi Seul membenarkan 

Ibu Yi Seul melihat profile pria yang akan dijodohkan dengan anaknya, lalu memarahi si biro jodok karena tak bisa menyaring wajah mereka karena semuanya jelas lalu ia merasa orang itu menganggap anaknya  cocoknya dengan pria yang jelek.
Dia tak bisa memaksaku, jadi dia malah memaksamu.” Jelas Jung Woo
“Apa Kau tak mau menikah lagi?” tanya Yi Seul
Tidak. Tak ada wanita yang kurasa cocok denganku, Kecuali aku dilahirkan kembali di keluarga yang lain.” Komentar Jung Woo
Akan menyenangkan jika kau bias bertemu dengan wanita yang baik.” Balas Yi Seul
Jung Woo menceritakan ibu mereka pernah datang ke kantor, dalam pikiran nya ibunya memakai baju balon yang berwarna pink, Yi Seul tertawa karena tadi pagi melihat ibunya memakai pakaian seperti balon. 

Ibu Yi Seul ternyata mengunaka jaket tanpa dimasukan ke dalam tanganya jadi terlihat mirip seperti balon, tanganya sibuk memegang profile pria sambil mengumpat dasi yang digunakan untuk calon menantunya seperti gelandangan dan mengeluh tak punya stylish saat melakukan photoshot.
Jung Woo merasa penasaran dimana ibunya membeli baju itu,  Yi Seul tertawa karena juga tak mengetahuinya. Jung Woo lalu bertanya-tanya Bagaimana hidup ibu mereka jika tak menikah dengan ayah. Yi Seul mendengar dari ibunya kalau akan menjadi artis atau semacamnya. Jung Woo pikir kalau ibunya jadi artis pasti  managernya pasti menderita.

Ibu Yi Seul mengomel dengan supirnya yang membuatnya hampir mati karena menunggu di lobby dan mengeluh berkerjanya sangat lelet. Sopirnya hanya bisa meminta maaf. Ibu Yi Seul menyindir telinga sopirnya sudah rusak jadi tak bisa mendengar jadi selalu membuatnya marah.
Jung Woo menceritakan  sudah mengurus sopir Cho, Yi Seul mengaku sangat kasihan padanya. Jung Woo bertanya pendapat Yi Seul, apakah ibu mereka terlalu kejam, menurutnya karena selama ini hidupnya terlalu dianggap sebelah mata, lalu Semua orang merendahkannya tapi ibu mereka tetap bertahan dalam keluarga.
Dan ibu ingin menyerahkan padamu semua usahanya itu” pikir Jung Woo
Ataukah... mungkin ibu hanya bosan saja dan  sudah tak mau lagi berurusan dengan semua uang-uang itu.” ucap Yi Seul

Sopir Cho menanyakan tujuan Ibu Yi Seul, dengan sedikit berpikir Ibu Yi Seul meminta diantar ke Hotel, lalu mengubahnya jadi pergi ke rumah saja karena tak ada lagi yang perlu diurus di hotel. Tapi teringat belum ada yang pulang saat sampai dirumah, lalu kembali untuk pergi ke mall saja.
Tapi seperti orang yang bosan belanja memilih untuk pulang saja, saat mobil berjalan Ibu Yi Seul menanyakan keberadaan anaknya, Ponsel Yi Seul bergetar tapi tak mendengarnya karena ditaruh diatas meja.
Jung Woo menaruh kembali cangkir teh diatas meja, mengungkapkan harapan ingin melihat ibunya berpakaian santai sesekali. Yi Seul tak mau, menurutnya Mungkin ibunya akan terlihat aneh, tapi ia hanya ingin ibunya menjadi dirinya sendiri, Sehat dan tetap percaya diri Dan juga tidak merepotkan orang lain.


Ibu Yi Seul mengeluh Yi Seul yang tak mengangkat telp darinya, lalu merasakan seperti udara di mobil nyayang tidak segar atau ponselku yang busuk, sambil menutup hidungnya lalu merasakan telinganya gatal seperti ada orang yang sedang membicarakan.
Jung Woo akhirnya mengakui tujuan datang ke tempat Yi Seul bukan bergosip tentang ibumereka, lalu menceritakan dari informasi yang didapat Yi Seul sedang menyelidiki tentang penyakit Alzheimer. Yi Seul sempat terkejut kakaknya bisa mengetahui hal itu.
Jika kau sudah tahu, pasti ibu juga sudah mengetahuinya.” Kata Yi Seul khawatir
Aku sudah memberitahunya untuk tidak mencampurimu.” Ucap Jung Woo, Yi Seul pun mengucapkan terimakasih pada kakaknya.
Apa kau bisa melupakan dokter herbal itu sekarang? Mungkin saja dia akan...” kata  Jung Woo yang langsung disela oleh Yi Seul
Aku sudah memikirkannya dan juga sangat ingin melupakannya. Dia menolak bantuanku dan memintaku tidak menemuinya lagi. Tapi, aku tetap bertahan dan tak ingin menjauh. Jung Woo-oppa, dia pasti sangat kesal padaku, 'kan? Dia sudah mengalami banyak sekali penderitaan.” Cerita Yi Seul
Mengenai rumah sakit yang kau tanyakan itu...” kata Jung Woo dengan wajah serius. 

Ri Hwan membuka kulkas melihat ada agenda yang ditaruh ibunya dalam kulkas.
Flash Back
Nyonya Park menegaskan Ri Hwan tak usah menurutinya mulai hari ini dan Jangan mendengarkan apa yang dikatakan, lebih baik Pikirkan hal apa yang bisa membua anaknya bahagia. Ri Hwan mengatakan hanya ingin ibu tidak menderita lagi. Nyonya Park menyuruh anaknya menelp Sanotarium. Ri Hwan menolak.
Aku juga akan mengatakan hal yang sama jika aku jadi kau. Tapi, bagaimana jika kau jadi aku? Sudahlah, kita tak perlu memiikirkannya. Aku hanya... Apa kau bisa membantuku untuk menjaga harga diriku? Mungkin terdengar konyol. Tapi, hal yang aku jaga adalah harga diriku.” Tegas Nyonya Park
Semua orang peduli pada ibu. Kami semua bersyukur ibu tidak kecelakaan mobil, bahkan sangat bersyukur.” Jelas Ri Hwan
Kondisiku akan semakin memburuk.” Ucap Nyonya Park menyadarinya.

Tidak... Ibu akan baik-baik saja dan Hanya sedikit lupa. Aku akan membuat harga diri ibu tetap terjaga. Saat ingatan ibu berubah, akan aku ingatkan. Saat ibu melupakan semua masa-masa sulit, ibu pasti merasa lebih bahagia dan aku juga akan bahagia. Jika ibu melupakanku, maka Aku akan mengaku sebagai tetangga ibu dan tetap melindungi ibu dan Aku akan selalu siap.” Tegas Ri Hwan
Nyonya Park meminta anaknya agar membawakan pena dan kertas.  Ri Hwan merasa ibunya tak perlu membuat pengingat, karena ia yang akan mengingatkan pada ibunya. Nyonya Park bersikukuh untuk diambilkan segera.
Ri Hwan membawa agenda yang ditulis ibunya, Satu, hubungi sanatorium.”
“Dua ,Temui Joon Hyuk-sunbae dengan Berpakaian yang cantik. Haeng Ah, Haeng Ah...
Tiga, lepaskan Ri Hwan, Katakan padanya aku minta maaf.Liburan, laut....Sebuah tempat yang jauh... Travel.<Aku minta maaf...Aku minta maaf...
Empat....Jika tak ada satupun yang aku ingat di sini, dengarkan rekaman di ponselku.
Lima....Taruh ponsel di bawah bantal.
Enam, jika aku tidak mengerti semua ini...Jangan...Jangan mengatakan apa-apa lagi kepada siapa pun.
Ri Hwan melihat ada tulisan yang halaman depan tapi di berik coretan seperti ibunya salah menulis, tapi tanganya malah meraba tulisan itu, sambil mengingat ucapan ibunya ketika berjalan-jalan ditaman. Mungkin diantara semua pasien sepertiku,aku pasti pasien yang paling bahagia.
bersambung ke part 2 


sumber:http://korean-drama-addicted.blogspot.com/

Sinopsis Bubblegum Episode 13 Part 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top