Sunday, December 13, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 14 Part 2


Ri Hwan mendatangi Yi Seul di kliniknya, Yi Seul menanyakan kabar dari Nyonya Park. Ri Hwan memberitahu ibunya baik-baik saja dan berrerima kasih atas pertolongannya. Yi Seul merasa Ri Hwan tak perlu berbicara seperti itu karena senang bisa membantunya, lalu melihat Ri Hwan sudah tak memakai jam. Ri Hwan mengaku sudah tak terlalu sering melihat jam dan sengaja datang untuk mengembalikan amplop.
Hong Jung Woo yang memberikannya, tapi aku harus mengembalikannya padamu, Dan juga, barang ini. Kau meninggalkannya saat berkunjung ke rumah kami dulu.” Kata Ri Hwan menaruh tas belanja diatas meja,
“Jadi Kau ke sini untuk mengembalikan semuanya?” tanya Yi Seul
Aku datang untuk mengucapkan  selamat tinggal untuk terakhir kalinya dan ingin mengucapkan terima kasih untuk semuanya, serta meminta maaf untuk semuanya.” Kata Ri Hwan
Tidak, aku...” ucap Yi Seul binggung lalu menawarka untuk membuatkan kopi, Ri Hwan ikut berdiri menolaknya, karena Ada yang menunggunya  di luar.
Yi Seul sedikit melonggo lalu tertunduk mengerti, Ri Hwan pamit pulang dan keluar ruangan. Yi Seul hanya menatap sedih kepergian Ri Hwan dan semua barang yang dikembalikan. 

Ri Hwan datang memarahi Haeng Ah yang menunggu diluar bukan didalam mobil. Haeng Ah mengaku bosan harus menunggu didalam mobil sendirian, lalu mengaku memang wanita yang kuat, tapi sekarang merasa tidak enak hati. Ri hwan menyuruh Haeng Ah tak boleh menyiksa dirinya  hanya karena merasa bersalah.
Haeng Ah mengaku hanya berdiri sebentar saja, Ri Hwan melarang walaupun hanya 5 detik saja lalu memegang tanga Haeng Ah sudah dingin dan memasukan ke dalam saku jasnya. Haeng Ah tertawa mendengar Ri Hwan yang terlalu berlebihan.
Apa? Apa kau kesal dengan omelanku lagi? Apa kau mau pakai masker gas lagi?” kata Ri Hwan
Kau memang seperti masker saja. Tapi, saat udah terserang racun, yang bias menyelamarkanku hanyalah masker saja. Aku bisa bernapas karena kau...” ucap Haeng Ah menjerit karena seperti mengoda Ri hwan.
Ri Hwan dengan senyuman kembali menyenggol badan Haeng Ah dengan wajah tersipu malu. Ri Hwan menyuruh Haeng Ah memasukan tangan satunya ke dalam jaketnya juga. Haeng Ah menolak karena tak baik memasukan dua tangan kedalam jaket saat musim dingin, karena tak bisa melindungi saat akan terpeleset.
Keduanya bergendengan sambil berjalan, Ri Hwan mengatakan akan memegangnya jadi Haeng Ah tak mungkin terjatuh. Haeng Ah pikir semua bisa terjadi karena ini adalah hidup, Ri Hwan yakin dirinya itu tak akan terjatuh. Haeng Ah ingat dari Dokter supaya tak berkata seperti "Aku bisa melakukannya." Yi Seul keluar dari kliniknya dengan berlari, matanya melihat dengan jelas Ri Hwan berjalan bergandengan tangan dengan Haeng Ah. 

Haeng Ah pergi ke toko bunga, Ri Hwan menceritakan ibunya Sekarang tidak sama lagi seperti yang dulu, tak tahu ibu mengenal dan mengingat seseorang  namun sikapnya bisa menjadi berbeda. Haeng Ah bertanya apakah Nyonya Park mengenal Ji Hoon.
Ri Hwan menceritakan Ji Hoon yang setiap hari menemui ibunya dan selalu menyapa "Ibu, ini aku, Ji Hoon." Jadi ingatannya tidak terlalu buruk, begitu juga dengan Dong Hwa yang sekarang memanggil bibi Gong dengan sebutanPrincess Chung Hee.” Haeng Ah tak menyangka karena tahu Bibi Gong  membenci nama itu.
Aku yakin, ibu juga akan mengenalmu. Dia menulis dalam jurnalnya bahwa  ingin mengajakmu menemui Ayahmu. Tapi, sudah lama sekali dia tidak pernah melihatmu lagi. Jika dia tak mengenalimu...” kata Ri Hwan khawatir

Jangan khawatir... Aku pernah melihat video saat seorang anak menangis karena merindukan ibunya. Jadi, dia meminta ibunya dating dan mereka bertemu di bandara. Tapi, meskipun ibunya sudah melambaikan tangan, dia masih belum bisa mengenalinya. Namun , tetap saja dia sangat merindukan ibunya.” Jelas Haeng Ah, Ri Hwan mengangguk mengerti lalu kembali berjalan berkeliling melihat tanaman.
Ibu juga seperti itu. Bahkan jika ibu mengenalimu, mungkin dia mengira kau bukanlah Haeng Ah yang dikenalnya.” Cerita Ri Hwan
Aku tak peduli bagaimana reaksi bibi nantinya. Aku Sudah bilang, 'kan? Kalau Aku sudah mempelajari penyakit ini. Jadi Aku harap, bibi bisa bahagia saat melihatku juga. Aku harap bibi bisa bahagia, Sama seperti dulu, saat dia memintaku duduk disampingnya dan mengikat rambutku.” Ungkap Haeng Ah, Ri Hwan kembali mengusap kepala Haeng Ah dengan senyuman. 
Paman pemilik toko memberikan sebuket bunga yang sudah dipesan, Haeng Ah menerimanya sambil memuji cantik sekali. Paman itu berpikir Haeng Ah adalah penerima bunga yang tiap hari dibeli Ri Hwan. Haeng AH memberitahu bukan untuknya tapi untuk bibinya. Paman menyimpulkan Haeng Ah adalah adik sepupunya.
Haeng Ah menyangkal mengatakan kalau Ri Hwan kakaknya, tapi Ri Hwan membenarka kalau Haeng Ah adalah adiknya, keduanya saling menatap dan tertawa. Ri Hwan merasa semua karena kebiasaan lalu mengaku kalau Haeng Ah adalah pacarnya. 


Bibi Gong memberitahu suaminya kalau akan pergi jalan-jalan dulu dengan Nyonya Park. Dong Hwa berlari memasangkan sarung tangan, berpesan agar mereka menikmati cerahnya sinar matahari, Nyonya Park seperti anak kecil pamit pergi pada Dong Hwa. Lalu Dong Hwa meminta Nyonya Park mengingat titipanya agar membelikan es krim saat nanti pulang
Keduanya siap berdiri menyebarang jalan, saat lampu hijau menyala seorang pelajar menyebrang jalan, tiba-tiba mobil hampir saja menabraknya. Dalam mata Nyonya Park seperti melihat Haeng Ah saat masih remaja dan berteriak memanggilnya, lalu menghampiri si anak pelajar dan memarahi si pengemudi yang tak bisa menyetir.

Ri Hwan sedang ada disebrang jalan langsung berlari menghampiri ibunya, lalu menenangkan ibunya kalau pelajar itu tak terluka. Semua langsung kembali ke trotoar, mata Nyonya Park melihat pelajar seperti Haeng Ah remaja padahal Haeng Ah ada tepat disampingnya.
Haeng Ah lalu menyapa Nyonya Park sambil menanyakan keadaanya. Nyonya Park baru sadar ada Haeng Ah disampingnya, menanyakan hal yang sama. Haeng Ah menganguk kalau ia baik-baik saja, lalu bertanya apakah ia boleh memeluknya. Keduanya saling berpeluka, Nyonya Park kembali menanyakan keadanya seperti sangat khawatir, Bibi Gong yang melihatnya tak bisa menahan rasa haru. 


Ri Hwan menemui Paman No yang sedang mempersiapkan bahan makanan didapur, Paman No bisa merasakan kalau Ri Hwan pasti menderita, karena selalu melakukannya sendirian, jadi ia berpesan agar Ri Hwan tak boleh mengulanginya lagi. Ri Hwan mengerti
Syukurlah semuanya baik-baik saja. Tapi, jika kau membuat kesalahan sekali lagi...” kata Paman No memberikan peringatan dengan memotong wortel ukuran tebal. Ri Hwan berjanji tak akan melakukanya.
Kami hanya bisa membantu sedikit dan Kaulah yang sangat menderita di sini. Sekarang Kau harus tetap kuat dan jika kau lelah, jangan sungkan untuk memberitahu kami.” Pesan Paman No, Ri Hwan mengerti
Paman No memperingatkan Ri Hwan untuk tidak membuat kesalahan lagi, kembali memotong wortel ukuran besar. Ri hwan melirik dengan senyuman mengerti ucapan pamannya. 


Nyonya Park kembali memuji bunga yang dibawa Haeng Ah sangat cantik. Haeng Ah mencob mengenalkan diri sambil mengucapkan terima kasih untuk yang dilakukan Nyonya Park tadi, menurutnya itu menunjukkan bahwa Nyonya Park sangat peduli dengannya.
Bibi juga pernah melakukannya dulu, Kau khawatir kalau aku bisa saja terluka.” Cerita Haeng Ah
“Jadi Aku khawatir kau bisa saja terluka?” tanya Nyonya Park seperti lupa.
Kau mengkhawatirkanku... mengkhawatirkan Haeng Ah. Tapi, aku baik-baik saja, Dan saat kita tak bisa bertemu... Aku sangat ingin menemuimu dan sangat merindukanmu. Itulah yang aku rasakan selama ini.” kata Haeng Ah
Jadi, kau adalah Haeng Ah?” tanya Nyonya Park seperti belum mengenal Haeng Ah

Haeng Ah memberitahu kalau ia adalah Haeng Ah yang dikenal oleh bibinya, Tiba-tiba Dong Hwa datang duduk disebelah Nyonya Park lalu bertanya siapa yang lebih cantik, Haeng Ah atau dirinya. Nyonya Park melirik keduanya dan terlihat binggung.
Dong Hwa kesal karena melihat Nyonya park nampak binggung, karena seharusnya bilang dirinya yang lebih cantik, karena ia anggota geng Nyonya Park. Haeng Ah tersenyum mendengarnya, Dong Hwa smengerti karena selam ini selalu hanya nama Haeng Ah lalu mengeluh tak punya ayah dan ibunya.
Bibi Gong yang membawakan minum langsung memukul anaknya, dengan mata melotot anaknya itu menganggap dirinya adalah hantu. Dong Hwa menenangkan ibunya kalau ia tak punya ibu yang melahirkanya. Bibi Gong mengeluh kalau seseorang harus melahirkan dulu baru bisa menjadi orangtua. Dong Hwa mengoda ibunya yang marah dengan memanggilnya Princess Shim Chung Hee. Haeng Ah dan Nyonya Park tertawa lebar melihat keduanya. 



Yi Seul kembali melakukan kencan buta, Si Pria merasa kalau Yi Seul merasa bosan. Yi Seul mengelengkan kepalanya. Si Pria pikir bisa saja ke tempat lain, tapi ia memiliki sedikit kendala dan meminta waktu 30 menit saja.
Seseorang mungkin sedang mengawasi kita sekarang. Mereka pasti ingin tahu apakah aku berulah lagi diperjodohan ini.” bisik Si pria
Aku bisa mengerti perasaanmu.” Kata Yi Seul mengerti
Oh, benarkah? Tapi Sepertinya kau terus melihat jam tanganmu?” tanya si pria penasaran
Aku pernah mengalami keadaan, di mana aku menunggu hingga tengah malam. Aku berpikir tentang apa yang akan terjadi besoknya lagi.” Cerita Yi Seul, Pria itu menduga Yi Seul baru saja diputusin oleh pacarnya, karena sepertinya mereka memiliki situasi yang sama.

Bagaimana kau bisa diputuskan?” tanya Yi Seul
Mungkin ibuku sangat merendahkan pacarku itu Atau mungkin dia tak begitu menyukaiku dan pergi begitu saja. Dan aku juga tak begitu bisa mempertahankannya.” Cerita Si pria lalu bertanya apakah hidup dengan menunggu hari itu baik untuk dilakukan.
Aku juga belum tahu. Tapi... Jika aku terus melakukannya... aku bisa melalui satu hari lagi. Aku akan kembali ke waktu saat aku tak mengenalnya.” Cerita Yi Seul, lalu keduanya sama-sama tertunduk.
Yi Seul memulai pembicaran kembali dengan bertanya apakah ibu dari pria itu menyukai warna pink. Si Pria memberitahu ibunya suka warna ungu, keduanya sama-sama tertawa, seperti sudah hilang rasa canggung. Lalu pria itu bertanya berapa lama sebelumnya Yi Seul berpacaran.
Aku juga tak tahu berapa hari, Karena sejak awal hingga akhir...ini hanyalah cinta bertepuk sebelah tangan.” Akui Yi Seul dengan senyuman, Pria itu merasa tak percaya mendengarnya. 


Ri Hwan memasukan beberapa koper kedalam mobil, Ji Hoon meminta keduanya mempersiapkan mantel yang banyak karena mungkin akan turun salju, karena kalau tidak akan membeku. Ri Hwan mengatakan sudah membawanya jadi meminta Ji Hoon tetap tenang dan mengaku sangat mengkhawartirkan Ji Hoon.
Ji Hoon mengatakan akan cepat menyelesaikan pekerjaanya, jadi Ri Hwan tak perlu khawatri dan menyetir dengan hati-hati. Haeng Ah pikir kalau SIM-nya sudah selesai pasti akan menyetir mobilnya. Ji Hoon meminta Haeng Ah tak mengatakan yang menakutkan seperti itu.
Haeng Ah tahu Ri Hwan pasti akan lelah. Ri Hwan mengoda dengan menepuk punggungnya kalau Haeng Ah  adalah energi untuknya. Ji Hoon berteriak mendengarnya merasa semua tanganya jadi kaku dan tak bisa melakukan akupunktur, lalu menyuruh mereka menutup klinik saja.
Dong Hwa turun dari taksi dengan membawa tas besar, Ji Hoon heran karena mereka hanya pergi satu hari. Haeng Ah pikir Dong Hwa akan melarikan diri dari rumah. Dong Hwa dengan lirikan sinis tak ingin meminjamkan barang yang dibawakan pada Haeng Ah.
Haeng Ah pikir Hotel memberikan selimut jadi mereka tak perlu membawanya. Dong Hwa menegaskan bukan orang kampung yang membawa selimut. Ji Hoon yang menurunkan tasnya berpikir Dong Hwa membawa boneka beruang sambil membuka resletingnyal, Ri Hwan langsung tertawa melihat bonek beruang didalam tas. Dong Hwa memarahi Ji Hoon yang membuka tas seenaknya saja.
Ji Hoon mengejek Dong Hwa juga membawa snack yang banyak, Ri Hwan menaikkan tas Dong Hwa kedalam bagasi. Dong Hwa menendang kaki Ji Hoon untuk membalasnya, tapi Ji Hoon bisa menghindar sambil mengejek Dong Hwa yang masih anak-anak. 


Ri Hwan, Haeng Ah, Dong Hwa dan Nyonya Park makan disebuah tempat peristirahatan. Dong Hwan bertanya-tanya apa yang biasanya dilakukan saat liburan keluarga. Ri Hwan pikir  dengan Makan makanan yang enak, Haeng Ah memilih untuk Melihat laut. Ri Hwan juga suka Makan udon di tempat yang seperti ini.
Haeng Ah juga ingin makan sari laut juga. Ri Hwan pikir makan jagung bakar. Nyonya Park membuka suara mereka harus Kue kacang, kopi, es krim. Haeng Ah setuju, Yi Seul mengeluh selain makan. Ri Hwan memberitahu malam hari, mereka bisa panggang daging Dengan selada dan daun perilla.
Dong Hwa mengeluh itu saja sama dengan makanan dan mereka hanya makan dengan liburan sejauh itu. Ri Hwan pikir mereka bisa foto bersama, Haeng Ah juga bisa mendengarkan musik. Dong Hwa menduga keduanya baru pertama kali melakukan liburan keluarga.
Yang benar saja, Ahjumma... Sungguh menyedihkan. Kita telah tertipu oleh pemula dan di bawa ke tempat yang aneh.” Keluh Dong Hwa mengaku pada Nyonya Park yang sibuk makan udon
Kami sudah mencarinya di internet.” Ucap Ri Hwan, Haeng Ah juga memilih hotel yang bagus. Ri Hwan juga melihat tempat yang mereka pilih itu terbaik.
Jadi, kalian belajar liburan dari internet saja? Padahal aku sudah tidak sabar ikut dengan kalian. Karena kena hukuman, aku tidak bisa ikut liburan sekolah.” Keluh Dong Hwa menjerit.
Kami juga tidak ikut liburan dulu.” Akui Haeng Ah
Kenapa kalian tidak pergi liburan saat masih remaja?” tanya Dong Hwa
Kita akan memulai liburan kami sekarang.” Ucap Ri Hwan melirik ibunya, Nyonya Park sudah menatap sedih seperti menyadari keduanya tak bisa pergi karena dirinya. 


Haeng Ah dan Ri Hwan sudah duduk di pinggir pantai menikmati liburan, lalu Haeng Ah mengulang kata-kata Ri Hwan "Sudah kubilang, kita harus liburan." Ri Hwan menyuruh Haeng Ah tak perlu mengulanginya. Haeng Ah pikir klau memang Ri Hwan tak mengejarnya malam itu pasti ia akan terus mengikuti dan mengatakan bahwa Ia bisa mengerti semuanya.
Lalu Haeng Ah berpura-pura berbicara di telp dengan Ri Hwan dengan mengatakan "Aku pikir, semuanya hanyalah sebuah mimpi." Ri Hwan meminta Haeng Ah menghentikan candanya. Haeng Ah semakin  mengodanya "Pada akhirnya, hanya kau. Hanya kau." Ri hwan tertawa meminta Haeng Ah menyudahinya.
Apa kau mau menggali dan cari tahu apa yang ada di dalam pasir ini?” ucap Haeng Ah mengorek-ngorek pasir.
“Tidak mau dan jangan lakukan, Tidak peduli apa yang ada di sana. Kita tinggalkan saja, apapun itu.” Kata Ri Hwan
Kalau begitu... kita menduduki Box Pandora.” Ucap Haeng Ah
Kami sedang duduk di atas harapan dan kita akan bersama hingga akhir.” Balas Ri Hwan, Haeng Ah mengucap syukur mendengarnya.

Beberapa hari yang lalu...Ibu mengatakan padaku bahwa dia bahagia. Entah alasannya apa, Aku juga tidak tahu. Dia bilang, cuacanya sangat bagus dan bunganya juga cantik. Lalu, dia berkata, sangat bahagia. Mungkin mood-nya sedang bagus..” Cerita Ri Hwan
Karena kunci kebahagiaan adalah saat mood kita menjadi bagus” kata Haeng Ah, Ri Hwan setuju dengan itu.
Keduanya melihat Dong Hwa sedang sibuk selfie dengan kamera, sementara Nyonya Park duduk dibangku dengan menatap pantai didepanya. Lalu keduanya melambaikan tangan dengan senyum bahagia. 


Kegiatan di jurnal bibi itu, selain sanatorium dan mengunjungi makam ayah denganku, lalu apa lagi?” tanya Haeng Ah
“Dia menulis "Melepaskan Ri Hwan, Liburan, lautan. Sebuah tempat yang jauh." Dan dia merasa bersalah karena liburan sekolah kita itu.” Cerita Ri Hwan
Haeng Ah pikir Nyonya Park tak perlu mengingat hal itu sekarang dan tak perlu menderita lagi. Ri Hwan hanya terdiam, Haeng Ah merasa disaat seperti ini mereka harus  memutar sebuah lagu yang mereka semua sukai. Ri Hwan menolak, Haeng Ah memberitahu kembali kalau ini adalah kebiasaan dari kerjaannya.
Jadi, kau mau aku juga menyuruhmu berbaring dan menusukkan akupunktur di sini?” keluh Ri Hwan
Kau bisa ditangkap polisi. Mereka akan berpikir kau sedang melakukan sesuatu.” Bisik Haeng Ah
Ri Hwan membalas berbisik menanyakan sesuatu seperti apa, Haeng Ah hanya  berbisik kalau itu sesuatu. Ri Hwan mengodanya ingin tahu sesuatu apa, Haeng Ah berteriak sesuatu Seperti akupunktur dan pengobatan moxa tentunya dan menduga-duga apa yang ada didalam pikiran Ri Hwan sekarang.  Keduanya tertawa bersama, Ri Hwan menurunkan ponsel dari tangan Haeng Ah.
Aku hanya ingin mendengar suaramu saja. Hari ini, aku lebih suka mendengar suaramu dan bukannnya lagu.” Bisik Ri Hwan mengoda. Ponsel Haeng Ah langsung jatuh ke tanah dan meminta tanggung jawab karena tanganya menjadi kaku. Ri Hwan semakin mengoda kalau tangan Haeng Ah ingin dipegang olehnya.
Haeng Ah melepaskanya karena Ri Hwan selalu memberikan rayuan padanya. Ri Hwan semakin mengoda Haeng Ah kalau semua ini karena dirinya. Haeng Ah menjerit karena Ri Hwan malah membuatnya merinding. 


Nyonya Park melihat Dong Hwa yang mendekati bibir pantai sambil mengambil gambar burung yang berterbangan. Ia duduk seperti bersebelahan dengan dirinya yang mengunakan pakaian dokter, Nyonya Park dengan Pakaian dokter (dokter Park) bertanya Apakah ada kalimat "bagaimana jika" pada sesuatu yang sudah terjadi?
“ Kalimat "Bagaimana jika" tak mungkin ada dalam sesuatu yang sudah terjadi. Kenapa kau bertanya seperti itu?” ucap Nyonya Park
Akanlebih baik jika saja aku bisa lebih kuat lagi. Pikiran itu terus membayangiku.” Ucap Dokter Park
Kau yang melahirkan Ri Hwan dan yang merawat Haeng Ah. Apa kau tak bisa membuat dirimu sendiri mengerti?” kata Nyonya Park lembut
Itu karena aku kasihan pada mereka.” Ucap Dokter Park

Nyonya Park melihat Dokter Park yang kedinginan dan memberikan jaketnya agar tak dingin, matanya melihat Haeng Ah dan Ri Hwan terlihat bahagia. Dokter Park bertanya apakah Nyonya Park bisa lebih baik pada mereka Untuk menebus semua kesalahannya.
Apa yang bisa aku lakukan untuk mereka? Aku semakin sulit untuk mengingat sesuatu.” Kata Nyonya Park
Katakan pada mereka bahwa kau sudah bahagia Dan beritahu mereka, untuk menjadi bahagia juga. Begitu saja sudah cukup.” Ucap Dokter Park
Ya, dan juga... kau sudah berusaha dengan baik selama ini, Sun Young.” Kata Nyonya Park, Dokter Park menatapnya mengucapkan Terima kasih. 

Nyonya Park duduk sendirian dengan jaketnya berada disamping tanpa ada siapapun. Ri Hwan datang melihat ibunya yang mepaskan jaket dan kembali memakaikan karena pasti merasakan sangat dingin. Nyonya Park berterimakasih pada anaknya, Ri Hwan meminta ibunya untuk menunggu karena akan memanggil Dong Hwa, lalu menarik tangan Haeng Ah untuk pergi.
Nyonya Park mencari-cari Dokter Park yang sudah tak ada lagi disampingnya, terdengar teriakan Haeng Ah yang memanggil Dong Hwa. Nyonya Park melihat diatas pasir ada ID Card dokter yang sedikit terkubur. 


Malam Hari
Ri Hwan membakar daging dan Haeng Ah membersihkan daun selada dan perilla. Ri Hwan melihat dagingnya memang gosong tapi pasti rasanya enak dengan gaya seperti chef menambahkan garam. Haeng Ah mengejek gaya Ri Hwan berlebihan. Ri Hwan pergi ke tempat Haeng Ah mencuci daun selada untuk membantu.
Haeng Ah menyuruh Ri Hwan pergi karena ini area milknya, Ri Hwan mengomel melihat Haeng Ah yang tak mencuci dengan bersih, Haeng Ah mendorong Ri Hwan agar bakar daging saja. Dong Hwa berteriak perutnya sudah lapar. Haeng Ah dan Ri Hwan berkata sedikit lagi matang.
Apa kalian tak bisa cepat? Kenapa lama sekali, sih? Berhenti bermain-main dan masaklah cepat!” teriak Dong Hwa
Bagaimana jika kita punya anak perempuan yang seperti dia?” tanya Ri Hwan sedikit khawatir
Tapi, aku juga seperti dia saat aku masih kecil dulu.” Komentar Haeng Ah, Ri Hwan membenarkan. 


Dong Hwa melepaskan earphone dengan wajah kaget mendengar cerita Nyonya Park tentang Bibi Dong yang masih sangat muda. Nyonya Park menceritakan Ayah Chung Hee (bibi Gong) sangat menakutkan, karena tak disekolah jadi  mengirimnya ke rumahnya dan menamakan dirinya  Shim Chung Hee.
“Jadi dia menamai dirinya adalah Shim Chung Lee karena Dia menjual anaknya ke keluarga yang kaya.” Kata Dong Hwa tak percaya
Dia selalu memukul anaknya saat masih kecil, Karena itulah Chung Hee takut pulang. Saat tahun baru atau Thanksgiving, ayahku akan memberinya uang dan buah untuk dia bawa pulang. Dia akan bilang, "Ya, aku akan pulang sekarang." Tapi, dia hanya akan bersembunyi di kamarku.” Cerita Nyonya Park
Ayah macam apa dia itu? Aku merasa sangat kasihan padanya, Dia tak pernah memberitahuku Dan aku malah mengejek namanya.” Kata Dong Hwa menangis, Nyonya Park tiba-tiba bertanya keberadan Bibi Gong sekarang. Dong Hwa menghapus air matanya memberitahu bibi Gong ada di Seoul. 


Didepan api unggun
Ri Hwan pikir Ji Hoon benar, kalau mereka seharusnya membeli makanan saja. Dong Hwa menyalahkan keduanya sok tahu tentang pengetahuan liburan keluarga, lalu bertanya-tanya apakah makanan ini bisa dimakan. Haeng Ah membenarka karena marshmallow memang harus di makan dengan cara dipangganan seperti ini.
Dong Hwa merasa itu mereka dapat dari internet juga, Ri Hwan menanyakan keadaan ibunya, takut terlalu panas. Nyonya Park tak merasa panas  malah menyenangkan sekali. Haeng Ah mengajar Nyonya Park untuk membalok balik agar tidak gosong. Dong Hwa mengeluh mereka pergi liburan dengan 2 orang yang idiot.Nyonya Park merasa ini menyenangkan.
Ri Hwan tiba-tiba berteriak karena marshmallow terbakar semua, Haeng Ah panik takut Nyonya Park merasakan shock, Nyonya Park malah tertawa lebar sampai wajahnya memerah. Ri Hwan tersenyum melihat marshmallowgosong. Haeng Ah memarahi Ri Hwan dan beruntung Nyonya Park malah tertawa. 


Ri Hwan mengantar ibunya masuk kamar dan tidur dengan Dong Hwa, lalu menarik Haeng Ah untuk duduk dan tak perlu membersihkan semuanya karena sudah terlalu larut.
Aku tak ingin kejadian ini terulang lagi. Saat semuanya kembali normal, kau dan ibu bisa bahagia, aku ingin pergi liburan dengan kalian. Tapi sekarang... semuanya jadi berantakan. Semuanya tak sesuai dengan rencana. Cuacanya juga buruk, jadi kita tak bisa mengunjungi Paman. Ibu mungkin tak akan ingat apa yang terjadi hari ini. Tapi, tetap saja aku merasa senang.” Cerita Ri Hwan dengan senyuman
“ Tadi kan sudah kubilang "Sudah kubilang, kita harus liburan." Mungkin cuacanya akan bagus besok. Pasti menyenangkan bias mengunjungi ayah lagi.” Kata Haeng Ah memandang langit.
Jika tidak bisa, kita bias kembali pada musim semi lagi.” Ucap Ri Hwan sambi mengusap-ngusap pungungnya
Haeng Ah bertanya apakah Ri Hwan tak lelah karena sudah menyetir perjalanan jauh. Ri Hwan mengaku tak sama sekali, Haeng Ah merasa sia-sia kalau mereka hanya tidur dan melewatkan malam indah ini. Ri Hwan meminta Haeng Ah memutarkan lagu yang bagus. Haeng Ah menolak karena Hari ini..."Aku lebih suka mendengar suaramu dan bukannya mendengar lagu." Mengulang kalimat yang digunakan Ri Hwan untuk mengodanya.
Ri Hwan tertawa menyuruh Haeng Ah Berhenti mengulangi kalimat yang diucapkanya. Haeng Ah akan membuat sebuah permintaan, yaitu nyanyikan sebuah lagu untuknya, seperti lagu yang romantis. Ri Hwan menolak karena tak bisa menyanyi. Haeng Ah merengek ingin mendengarnya suara Ri Hwan yang jelek.

Akhirnya Ri Hwan bertanya apa yang akan dilakukan Haeng Ah apabila selesai menyanyi. Haeng Ah berjanji akan mengabulkan keinginan Ri Hwan, lalu dengan bertepuk tangan memberikan semangat agar Ri Hwan mulai menyanyi. Ri Hwan merasa nanti Haeng Ah pasti akan menertawakannya, Haeng Ah berjanji tak akan tertawa saat Ri Hwan menyanyi.
Jika aku harus jujur, aku sedikit khawatir padamu. Suaramu terdengar sangat jelas bagiku. Kita bahkan tak perlu duduk bersampingan. Tapi, tetap saja. Aku ingin terus ada di dekatmu. Seperti lagu yang kudengar di malam hari. Entah alasan yang jelas, hatiku selalu berdebar.
Haeng Ah memegang pipinya yang bersemu merah mendengarnya nyanyian yang dibawa Ri Hwan. Pikiran mereka kembali saat berjalan sambil bergandengan menyusuri pantai, lalu berdiri diatas berbatuan sambil berpelukan.
Aku tak bisa berjanji jika kita bertemu hari ini. aku tak merindukanmu esok harinya lagi.Mungkin aku terdengar begitu terburu-buru untuk mengatakan ini. Melihat wajahmu tiap hari memberiku energi. Sepertinya, sekarang aku sudah tahu ada apa dengan hatiku,karena sekarang begitu banyak kupu-kupu yang muncul di hatiku.
Keduanya kembali menyusuri pantai dan Ri Hwan memberikan ciumanya, Haeng Ah yang mendengarkan nyanyian dari Ri Hwan memberikan kecupan didahinya. Keduanya seperti mengingat ciuman mereka dipinggir pantai
 [Jarak Antara Kerinduan dan Kebahagiaan]
bersambung ke episode 15

sumber:http://korean-drama-addicted.blogspot.com/

Sinopsis Bubblegum Episode 14 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top