Tuesday, November 3, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 3 Part 1

Ri Hwan dengan kepala tertunduk memohon, Suk Joon bertanya demi siapa melakukan itu apakah demi Ri Hwan. Masih dengan wajah tertunduk Ri Hwn mengatakan itu demi Haeng Ah. Suk Joon menanyakan bagaiman jika Haeng Ah itu sebenarnya tak ingin putus. Ri Hwan akhirnya hanya diam.
Suk Joon pun menaiki lift berpapasan dengan petugas keamanan yang membawa lampu. Tangan Ri Hwan yang tadinya terkepal dilepasnya, Haeng Ah tersenyum melihat lampu di meja makan sudah kembali menyala lalu terdengar suara dari arah pintu. Pintu lift yang dinaiki Suk Joon terbuka, tapi membiarkanya tertutup kembali.
“Ada malam seperti ini, Meski tak ada yang terjadi...”

Ri Hwan mengendarai mobilnya dengan wajah menahan kesal, tiba-tiba mobil dari arah kirinya menyalip membuatnya mengerem mendadak, akhirnya bungeppang yang dibelikan untuk Haeng Ah terjatuh.
 “Pada malam seperti ini semua jadi berantakan. Bahkan hal kecil yang sudah terkubur  akan muncul pada malam seperti ini.”
Suk Joon duduk didalam rumahnya menatap kotak kue didepana, lalu mencari sesuatu di laci, sebuah gunting dengan selotip terlihat dengan jelas didalam laci.
Flash Back
Haeng Ah sengaja memberikan selotip pada semua jari-jarinya, meminta Suk Joon untuk disuapi. Suk Joon yang dingin menyuruh Haeng Ah makan sendiri, Haeng Ah dengan wajah cemberut, mengatakan tak ingin makan. Suk Joon tetap memohong steaknya memberitahu banyak orang yang melihat mereka direstoran.
“Memang kenapa? Orang-orang juga saling menyuapi.” tegas Haeng Ah
“Aku tak pernah melakukan itu.” ucap Suk Joon dingin , Haeng Ah membalas juga merasa tak pernah hal seperti ini memperlihatkan jari-jarinya.

Suk Joon terlihat kesal bertanya apa yang diinginkan pacarnya itu. Haeng Ah memperlihatkan jari-jari yang terselotip, akhirnya Sung Joon melihat kesekeliling lalu menyuapi potongan daging dari piringnya.
Haeng Ah tersenyum menerima suapan dari pacaranya. Suk Joon menyuruh Haeng Ah untuk makan sendiri sekarang, Haeng Ah pun melepaskan semua selotip yang ada ditanganya.
Dan Suk Joon mengunting pita kotak kue yang seharusnya diberikan pada Haeng Ah. 


Ri Hwan sengaja berhenti di tepi jalan dengan helaan nafas bersandar di kursi mobilnya.
Flash Back
Ri Hwan, Haeng Ah, Ji Hoon dan Tae Hee minum bir bersama di sebuah restoran. Ri Hwan menanyakan rencana Haeng Ah yang lusa akan berulang tahun. Haeng Ah mengatakan akan berkerja lalu tersenyum sendiri membaca pesan yang ada dalam ponselnya.
“Ada sesuatu yang sangat mendesak terjadi.” uca Haeng Ah dengan wajah sumringah.
“Kau punya pacar baru, kan?” teriak Ji Hoon menebak, Ri Hwan kaget melihat Haeng Ah yang akan pergi.
Haeng Ah pun keluar dari restoran dengan membayar semua tagihan, Ri Hwan sedih melihat Haeng Ah yang meninggalkanya. 

Haeng Ah tidur di kursi dengan kaki di tekuk dengan boneka sebagai bantalnya, Suk Joon hanya memotong kue tanpa dimakan, dengan tangan menopang kepala dan kaki disilangkan, tertidur dengan posisi duduk.
Ji Hoon masih tertidur dilantai dengan bantal, selimut dan memegang sepatunya. Ri Hwan tertidur di sofa dengan wajah seperti tertekan karena perasaanya.
“Malam itu, tak ada yang bisa tidur diantara kami.”

Ri Hwan mengaku sangat sedih melihat Ji Hoon yang menderita karena minum dan ingin pergi ke bar agar tak menjual minum lagi pada temannya. Ji Hoon mengelengkan kepala meminta temanya jangan pernah melakukan itu.
Kau bilang perutmu sakit.” ucap Ri Hwan khawatir
“Tapi aku suka alkohol. Aku akan melawan rasa sakit itu. Kenapa kau mau pisahkan kami? Harusnya kau tanya aku dulu. Yang aku inginkan bukanlah pria berumur 33 tahun tapi sebotol whiskey berumur 33 tahun.” kata Ji Hoon.
“Baiklah, terus minum dan buat dirimu semakin menderita.” ujar Ri Hwan pasrah
“Tapi...Kau boleh melakukannya. Karena cintamu padaku lebih besar dari cintaku pada alkohol. Jadi kau punya hak menghalangiku minum alkohol.” kata Ji Hoon dengan kedipan matanya, Ri Hwan terdiam menatap kosong. 

Haeng Ah berjalan pelahan akan masuk ke dalam rumah sakit, lalu ibu Ri Hwan menelp menanyakan keberadanya, perlahan Haeng Ah melangkah masuk tapi kembali keluar dari rumah sakit dengan wajah ketakutan.
Di dalam rumah sakit
Nyonya Park sedang berbicara dengan Ko Sang Gyo menceritakan keponakanya mungkin sudah datang tapi tak berani masuk. Sang Gyo bertanya sejak kapan Haeng Ah punya phobia. Nyonya Park mengingat itu sejak dua SMA.
“Awalnya tidak apa-apa, tiba-tiba dia melihat seseorang berdarah-darah dirumah sakit,lalu dia pingsan. Kedua orang tuanya masuk rumah sakit karena sakit sepele. Tapi keduanya tak pernah pulang ke rumah setelah itu.  Kejadian itu sudah lama, harusnya tak mempengaruhi hidupnya.” cerita Nyonya Park dengan helaan nafas.

“Apa ada alasan lain, kenapa kau ingin memeriksanya?” tanya Sang Gyo
“Kedua orang meninggal sebelum usianya 40 dan Haeng Ah sudah 33 tahun. Dia harus diperiksa.” jelas Nyonya Park
Sang Gyo agak kaget karena Haeng Ah tak pernah memeriksakan dirinya. Nyonya Park menjelaskan Haeng Ah tak pernah ke rumah sakit lalu mengucapkan terimakasih dan akan pergi. Sang Gyo bertanya mau kemana Nyonya Park padahal seharusnya melakukan konsultasi.
“Apa Karena keponakanmu? Bisa-bisanya kau mengabaikannya?” ejek Sang Gyo
“Memangnya aku bawa datanya kemari?” tanya Nyonya Park binggung
“Kau memberikannya padaku, jadi Karena itu kau kemari.” ucap Sang Gyo memberikan berkas yang ada ditanganya. Nyonya Park melihat berkas itu lalu sedikit terdiam. 


Ri Hwan menemui pasien seorang nenek, meminta agar bisa memulangkan di desa karena kebun dan makam suaminya ada disana, karena tahun lalu dirinya terluka sang anak membawa ke tempat prakteknya sekarang. Ri Hwan tahu pasti merasa pengap hanya tinggal di apartment.
“Pak dokter, tolong beritahu dia, aku hanya bisa sembuh kalau kembali ke desa. Aku sangat merindukan anjingku yang aku ambil saat terlihat lemah dan merawatnya.” cerita si nenek, Ri Hwan terdiam mendengarka cerita nenek.

Haeng Ah duduk di taman rumah sakit sambil meminum bir dengan sedotan. Cerita Nenek kembali berlanjut, “Suatu hari, saat tak ada orang. Anjing itu menatap ke langit,Lalu dia menggonggong. Ternyata di langit, ada awan yang mirip domba.”  Haeng Ah menatap langit dengan menunjuk dan melambaikan tanganya.
Ri Hwan menatap ponselnya terlihat ragu, Haeng Ah menghabiskan kaleng birnya lalu berjalan membuang ke tempat sampah. Ri Hwan memutuskan untuk menelp Haeng Ah tapi ponselnya tertinggal di bangku. Perawat datang memanggil Ri Hwan untuk memeriksa pasien. Haeng Ah kembali ke bangku, melihat Ri Hwan yang menelpnya, mencoba menelpnya kembali tapi ponsel Ri Hwan tertinggal diruanganya. 

Ibu Yi Seul heran melihat anak perempuanya datang dan ingin makan lagi. Yi Seul menegaskan bahwa sebelumnya itu sarapan dan kali ini makan siang. Ibunya mengeluh anaknya itu tak perlu makan 3 kali sehari dan melihat sepatu anaknya baru dengan high heels.
“Harus beli pergelangan kaki baru jangan sepatu baru. Pergelangan kakimu sampai tak kelihatan karena gemuk.” ejek ibu Yi Seul
“Kalau orang lain dengar, mereka bisa mengira adikku ini gajah. tiba-tiba Ibu menelpon, jadi Aku tak bisa melarangnya kemari.” jelas Jung Woo pada adiknya.
Sang ibu mulai mengoceh anaknya untuk melakukan perawatan, Yi Seul mengaku sedang sibuk. Jung Woo tahu itu berhubungan dengan kencan, lalu bertanya siapa pria itu. Ibunya menceritakan Ri Hwan adalah cucu dari Yayasan Se Hyung tapi menjadidokter obat tradisional, jadi takkan mewarisi rumah sakit dan tak mau bilang tentang ayahnya, tapi yang paling penting pihak Ri Hwan takkan mengungkit pertunangannya yang dulu. Jung Woo mengeluh ibunya.
“Gengsi tidaklah penting. Bersikap dingin, jangan telpon dia dulu, abaikan telponnya.” perintah ibu Yi Seul
“Benar. Jangan menelpon duluan. Langsung temui saja. Apa Mau kupinjamkan helikopter?” tanya Jung Woo, Ibunya malah menjawab tak perlu 

Yi Seul malah mengeluarkan ponselnya mengajak untuk bertemu lebih dulu, karena ingin melihatnya, mata ibunya melotot karena anaknya tak mendengarkan saranya. Ri Hwan setuju untuk bertemu kembali dengan Yi Seul.
Ji Hoon yang ada disana menembak itu telp dari seorang wanita yang ingin bertemu. Ri Hwan menceritakan wanita itu juga ingin bertemu di Secert Garden. Ji Hoon mengejek wajah Ri Hwan itu Aura uang, lalu mengambil dibagian pipi kiri 10 juta, pipi kanan 20 juta, lalu hidung 30 juta.
“Bukan seperti itu. Kata-katanya seperti ajakan kencan, tapi nadanya seperti mengajak duel. Apa kakinya terkilir saat jatuh kemarin? Dia pasti mau menuntutku.” pikir Ri Hwan, Ji Hoon mengembalikan semua aura uangnya. Ri Hwan dengan mimik sedih meninggalkan ruanganya. 

Dong Hwa mencoba menelp untuk melihat CCTV, tapi malah ditutup telpnya, akhirnya mulutnya pun mengumpat, Bibi Gong langsung memukulnya. Paman datang menanyakan Ri Hwan. Bibi Gong memberitahu sudah ada dalam perjalanan, merasa sudah baikan tapi saat megang tanganya masih merasa sakit.
Paman kembali menanyakan Haeng Ah. Bibi Gong pikir Haeng Ah kalau bukan dirumah pasti ada di stasiun radio. Paman menyuruh Dong Hwa agar menelp Haeng Ah untuk datang, mereka tak bisa tinggal diam karena kemarin mereka bertengkar. Dong Hwa tersenyum sumringah melihat dari kaca Ri Hwan yang sudah datang. 

Haeng Ah yang baru datang dari rumah sakit, langsung di dorong bibi ke bagian luar dengan berteriak pada Ri Hwan kalau Haeng Ah sudah datang. Keduanya sama-sama tertunduk, lalu mengaku sama-sama sebelumnya saling menelp. Ri Hwan memberanikan diri bertanya apa yang terjadi. Haeng Ah tersenyum, karena menurutnya hanya pertengkaran.
“Apa Kau makan kuenya?” tanya Ri Hwan, Haeng Ah pikir kue yang ada didalam kulkas
“Dia kesana, kan?”ucap Ri Hwan yakin Suk Joo datang, Haeng Ah binggung siapa yang datang ke rumahnya. Ri Hwan kaget mengetahui tak ada yang datang dan juga kue.
Haeng Ah pikir Ri Hwan menitipkan kue di pos satpam, Ri Hwan bertanya apakah satpam itu datang, Haeng Ah mengangguk karena menganti lampu, lalu meminta Ri Hwan memberitahunya karena namanya sudah buruk sejak insiden kimchi yang tak pernah diambil.
Ri Hwan ingin memberitahu alasanya menelp, Haeng Ah ingin berbicara lebih dulu, Ri Hwan menolak, Haeng Ah ingin membahas cara bicaranya kemarin. Ri Hwan langsung meminta maaf karena sudah keterlaluan. Haeng Ah kesal karena Ri Hwan itu tak melakuan kesalahan. Ri Hwan tetap merasa dirinya yang salah.Haeng Ah pikir itu karena mengabaikan perasaan Ri Hwan dan bicara semaunya. 
Bibi Gong menemui keduanya, menanyakan darimana Haeng Ah datang. Haeng Ah mengaku dari rumah sakit Nyonya Park. Ri Hwan pikir temannya itu ingin suntik flu. Haeng Ah mengangguk.Bibi Gong lalu menceritakan wanita kaya yang dijodohkan dengan Ri Hwan akan datang, jadi menyarankan agar menemuinya lebih dulu. 
Haeng Ah tahu wanita itu adalah adik dari Jung Woo, Bibi Gong binggung Haeng Ah mengetahuinya. Haeng Ah menceritakan di sekolah di SMP, Jong Woo juga ada di SMA Myung Hwae, dengan kulit putih, tinggi dan badanya kekar.
Ri Hwan mencibir mendengar cerita Haeng Ah yang memperagakan sebagai chearleader, saat Jung Woo bermain baseball. Yi Seul masuk ke dalam restoran dibagian luar, Ri Hwan langsung melambaikan tanganya lalu memperkenalkan Haeng Ah, bibi Gong langsung pergi meninggalkan ketiganya. 

Haeng Ah mengingat Yi Seul adalah dokter gigi yang mengusirnya saat membawa anjing ke kliniknya. Yi Seul pun bisa mengingat, Ri Hwan binggung mengetahui Haeng Ah yang pergi ke klinik padahl Dia phobia dengan rumah sakit, luka, dan darah. Haeng Ah menceritakan tak sempat pingsan karena disuruh keluar.
Haeng Ah mengaku sebagai kakaknya Ri Hwan, tapi Ri Hwan menegaskan bahwa ia adalah kakaknya lalu mengejek walaupu sudah 33 tahun masih tak mengerti bahwa yang lahir duluan sebagai kakak dan mengeluh tak bisa mengusir karena restoran itu milik ayah Haeng Ah.
“Sekarang ini milik paman dan bibi. Bibi dan putri sebagai manajernya, dan paman mantan preman sebagai kokinya. Waktu itu ayahku bilang padanya, kalau memang mau pakai pisaujangan pakai pada orang, pakailah pada daging dan Ayahku meninggal saat aku SMP.” cerita Haeng Ah menunjuk ketiga yang mengintip dari depan jendela.
Yi Seul yang gugup mengangguk mengerti, lalu Haeng Ah pun pamit pergi, Yi Seul langsung berdiri. Haeng Ah menyuruh duduk saja tak usah berdiri, Yi Seul mengaku kalau ingin ke kamar kecil. 

Ri Hwan mengantar Haeng Ah padahal ingin makan lebih dulu. Haeng Ah merasa tak nyaman dan berpikir seperti akan diusir lagi oleh Yi Seul. Ri Hwan mengkhawatirkan Haeng Ah baru pulang dari rumah sakit karena wajahnya memerah.
“Ini karena aku minum bir pakai sedotan.” ucap Haeng Ah  
“Apa Kau minum bir setelah disuntik?” teriak Ri Hwan panik
“Tidak, aku minum dulu baru disuntik. Jangan beritahu bibi.” perintah Haeng Ah
“Kau tak boleh lakukan itu, apa lagi suntik vaksin.” tegas Ri Hwan, Haeng Ah buru-buru menutup telinganya tak ingin mendengarnya.
Ri Hwan akan pergi dan langsung menarik Haeng Ah dan saling bertatapan, memperingatkan untuk tak melakukanya. Haeng Ah terlihat gugup, Ri Hwan pun mengancam akan menelp ibunya dengan mendorong kepala Haeng Ah agar tak mendekat. 

Yi Seul keluar dari toilet melihat foto waktu kecil Ri Hwan dan Haeng Ah yang ditempel. Bibi Gon mendekat menunjuk salah satu foto, dengan menunjuk Haeng Ah kecil dengan ayah dan ibunya serta Ri Hwan dengan sang ibu.
“Ini adalah saat terakhir Yun Hwa, ibu Haeng Ah datang kemari. Dulu kami tak tahu dengan Pencernaannya bermasalah, jadi dia ke rumah sakit sendiri. Setelah itu, dia tak pernah pulang. Waktu dulu, agak lama mendeteksi penyakit.” cerita bibi Gong sedih. Yi Seul hanya berkomentar “Oh”
Bibi Gong menceritakan foto saat Ri Hwan dan Haeng Ah lulus SD, hanya ada ayah dan ibu Haeng Ah. Yi Seul pikir yang mengambil fotonya itu adalah ibu Ri Hwan. Bibi Gong mengeleng karena yang mengambil Paman karena ibu Ri Hwan sibuk sebagai dokter jadi Ayah Haeng Ah yang merawat keduanya.
Yi Seul seperti bisa membayangkan keduanya yang baru pulang sekolah masuk ke dalam restoran. Haeng Ah yang kecil menarik rambut Ri Hwan, mengejek adiknya yang pamer karena memiliki ibu. Bibi Gong pun menyuruh keduanya berkelahi diluar saja. Paman pun datang mengendong Ri Hwan dan bibi berjalan bersama Haeng Ah. 

Yi Seul berjalan bersama memastikan apakah Haeng Ah memang itu adiknya, Ri Hwan meyakinkan bahwa itu adiknya karena lahir dibulan Juli sementara Haeng Ah bulan Oktober. Yi Seul meliha Haeng itu bukan seperti adiknya tapi teman. Ri Hwan membenarkan kalau Haeng Ah itu teman pertamanya.
Ri Hwan menghampiri toko kelontong dengan menawarka es krim, Yi Seul menolak, wajah Ri Hwan langsung cemberut. Yi Seul pun akhirnya setuju karena terlihat enak. Ri Hwan pun menawarkan rasa melon atau bubble gum. Yi Seul menolak karena bisa membuatnya gemuk. Ri Hwan tersenyum karena tak mungkin bisa gemuk kalau hanya memakan satu saja.
Yi Seul tetap tak ingin, dengan wajah cemberut. Ri Hwan pun mengerti, lalu mengoda Yi Seul banyak makan kemarin karena sedikit lebih tinggi, bertanya apakah tak sakit dengan sepatu itu. Yi Seul mengaku sepatunya itu sudah lama, lalu berjalan mundur karena malu Ri Hwan yang melihat kearah sepatu barunya.
Tiba-tiba pengendara sepeda lewat dan akhirnya menyerempetnya, Yi Seul menjerit dan terjatuh. Ri Hwan ingin membantu tapi Yi Seul malah panik karena mengunakan rok, Ri Hwan langsung membalikan badanya tak ingin melihatnya. 

Ri Hwan memapah Yi Seul dibangku taman, merasa tak enak hati setiap bertemu Yi Seul selalu terjatuh, lalu ingin memeriksanya. Yi Seul tak sengaja mendorong Ri Hwan karena tak ingin dilihat. Ri Hwan terjatuh dengan wajah binggung, berpikir kalau sakitnya parah karena hanya di pegang saja sakit.
Yi Seul menutup pegelangan kakinya yang besar karena malu, Ri Hwan pun memperlihatkan giginya apakah ada karang gigi, Yi Seul mengeleng. Ri Hwan merasa karena Yi Seul sudah melihat dirinya jadi sekarang boleh melihat milik Yi Seul.
Ri Hwan pelahan melihat pergelangan kaki dan sedikit di goyang-goyangkan, memuji kaki Yi Seul yang kuat lalu berdiri. Yi Seul kembali mendongakan kepalanya, Ri Hwan meminta Yi Seul menunggu karena akan mengambilkan sepatu yang baru. Yi Seul menolak, Ri Hwan pun memberika pilihan akan jalan atau digendong. 
Akhirnya keduanya berjalan bersama dengan Yi Seul yang mengunakan sepatu boots. Ri Hwan pun mengajak Yi Seul untuk pergi ke tempat praktek akupunturnya. Yi Seul langsung setuju untuk pergi ke tempat Ri Hwan dengan sedikit tersenyum bahagia. 
Bersambung ke part 2 


Sinopsis Bubblegum Episode 3 Part 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top