Thursday, November 5, 2015

Sinopsis She Was Pretty Episode 14 Part 2

Sung Joon melihat susunan majalan yang bisa dimasukan kebagian percetakan tanpa harus yang ada dimodifikasi. Joo Young merasa konsep majalah kali ini Beda dari biasanya, karena banyak artikel yang luar biasa bagus dan menonjol dan Sepertinya semua senang karena melakukan yang mereka inginkan.
“Benar. Seharusnya kulakukan ini dari dulu. Dengan cara yang "mirip dengan Most".” ucap Sung Joon dengan senyuman, Joo Young pun akan pamit pergi.
“Maaf, Direktur Mode Cha... Kau sudah kerja keras dan melakukan yang terbaik, aku merasa menyesal.” ucap Sung Joon seperti sebagai akhirnya di Most.
“Semua belum berakhir, WaPemRed. Apa yang akan kau lakukan jika kita tiba-tiba di posisi pertama?” kata Joo Young, Sung Joon hanya tertunduk seperti tak yakin. 

Hye Jin pun memberikan majalah yang akan siap cetak pada Joo Young, Ah Reum tahu sekarang mereka menyerahakn pada percetakan tapi apakah semuanya akan berakhir. Eun Young benar-benar sedih karena Most  akan menghilang dan akan dihentikan
“Apa maksudmu? Tak tahukah kau bahwa bisa saja sebaliknya  yang akan terjadi. Siapa tahu, Kita sangat bisa melewati New Look. Sampai hasilnya muncul, tak seorang pun, bahkan menantu, tahu siapa yang akan di posisi pertama.” komentar Shin Hyuk menyemangati semuanya.
“Berikan padaku, Aku yang akan serahkan pada percetakan.” ucap Sung Joon keluar dari ruangan mengambil berkas dari tangan Joo Young
“Oh ya, karena kalian sudah kerja keras, ayo nanti makan malam dengan tim.” ajak Sung Joon.
Semua langsung menjerit kaget, Sung Joon binggung melihat semua wajah anggota timnya. Poong Ho menjelaskan bahwa ajakan "makan malam dengan tim" keluar dari mulut WaPemRed, membuat semuanya merasa aneh. Sung Joon mengerti lalu berjanji akan datang telat setelah dari percetakan dan akan mentraktirnya, Semua pun menjerit bahagia. 

Sung Joon datang ke percetakan merasa untuk sekarang tak ada lagi masalah, tapi tim iklan mungkin akan datang mengecek iklan. Pegawai pecetakan menerima berkasnya, lalu bertanya alasan Sung Joon datang sendiri ke percetakan. Sung Joon memohon agar bisa menjaga dengan hati-hati berkas dari majalan Most itu, dengan wajah terlihat sangat khawatir karena akan menjadi yang terakhir untuknya. 

Tiga dari Eun Young, Yi Kyung dan Sun Min mulai menyaki diatas panggung dengan tamborin, bahkan Shin Hyuk mengoyangkan pinggulnya terhanyut dengan lagu yang dinyanyikan dengan baik. Joon Woo dan Han Sul menyanyikan lagu yang saling memuji, lalu Poong Hoo menyanyi dengan penuh penghayat dengan lagu mellow.
Shin Hyuk yang bosan melemparinya dengan kacang, berganti dengan Nyonya Kim yang dengan ngerap, semua terlihat tertawa melihatnya. Sung Joon baru saja datang, diminta langsung menyanyi diatas panggung, Sung Joon ingin menolak tapi semua menyorakinya untuk segera menyanyi,
Dengan kepercayaan dirinya Sung Joon menyanyi dengan suara sangat sangat sumbang. Shin Hyuk melotot kaget mendengarnya, Nyonya Kim meminta agar mematikanya, Joo Young mengaku malu padahal yang menyanyi itu Sung Joon, hanya Hye Jin yang terhanyut dengan nyanyian yang dibawakan Sung Joon dengan mengerak kepalanya ke kanan dan kekiri.
Shin Hyuk dengan semua tim mulai menyanyi bersama sambil menari-nari, Sung Joon melihat semua timnya terlihat bahagia. Hye Jin mengodanya dengan melambaikan tangan pada sang pacar. Pelahan-lahan Sung Joon pergi meninggalkan ruang karaoke, Hye Jin mengikutinya melihat Sung Joon yang kembali ke kantor. 

Sung Joon berdiri di depan kantor Most, seperti bisa melihat semua bayangan timnya ada didepannya. Joo Young dengan bantal dileher meminta Joo Woo pereda nyeri dan menempelkan dibagian lehernya sambil mengeluh Tiap bulan sangat mengganggu. Shin Hyuk menyuruh berhenti saja kalau memang menganggu.
 “Kubilang mengganggu, siapa yang bilang aku tak menyukainya? Semuanya, kalian tahu, kan, jika aku kecanduan sesuatu, aku takkan lagi melihat yang lain dan hanya lari mengejarnya apapun yang terjadi?” kata Joo Young membela diri, semua setuju dengan itu.
Joo Young menceritakan saat SMA, pertama kalinya melihat majalah Most, menbuat dunia baru yang benar-benar beda dan saat itu langsung mengambil jurusan mode dan menjadi asisten mode. Ah Reum dengan bangga sangat ingin jadi bagian dari Most, hingga di tahun keempat kuliah, lalu ayahnya memberikan hukuman dengan memotong rambutnya. Semua teringat dengan Ah Reum yang datang memakai topi. Joon Woo mengaku sangat bangga saat orang bertanya dimana berkerja dan menjawab di majalah “Most”
“Tiap bulan, saat majalah sudah terbit,  kau berpikir, "Jika aku masih melakukan kerja seperti binatang di bulan depan, aku bukan manusia." Tapi tetap saja dilakukan, ini Sebenarnya membuat ketagihan.” komentar Poong Ho
“Meski rasanya sulit di akhir dari tiap isu, anehnya bagaimanapun juga, sangat menggairahkan. Apa aku aneh?” ungkap Joo Young, semua merasa tidak tapi Poong Ho mengejeknya kalau Joo Young memang aneh, dengan penggaruk punggungnya Joo Young memberikan pukulan.
Sung Joon pun hanya bisa melihat sekarang ruangan itu nanti akan kosong seperti sekarang yang dilihatnya dimalam hari. 

Nyonya Kim mulai mabuk berteriak ingin mencari majalah yang mirip dengan Most. Joon Woo yang sudah mabuk membahas tentang Wakil Presiden yang akan dilantik keponakanya dan meminta agar mengunakan koneksi supaya menyelamatkan mereka.
Han Sul juga memohon agar bisa menyelamatkan mereka. Nyonya Kim tiba-tiba tertawa dengan mulut mengangga lebar, merasa tak bisa membantu apapun. Semua yang mabuk tetap memohon agar bisa menyelamatkan mereka. Shin Hyuk menyadari sang adik Jackson tak ada di ruangan lalu mencari-cari ponselnya di saku jaketnya. 

Hye Jin sudah berdiri melihat Sung Joon yang duduk didepan layar besar dengan sengaja dinyalakan, lalu duduk disampinganya. Sung Joon mengaku tiba-tiba merasa ngantuk, Hye Jin mengerti karena Sung Joon itu pasti sangat lelah.
Sung Joon pun meminta izin dengan berbaring diatas pangkuan Hye Jin sebentar, Hye Jin pun membiarkan Sung Joon untuk tidur dipangkuanya, tanganya mengelus-elus kepalanya, ia kembali teringat dengan kata-kata Sung Joon.
“Aku juga diberi tanggung jawab untuk melindungi anggota tim. Bukan hanya masalah kesuksesan, tapi juga tanggung jawab. Makanya tak bisa kuanggap remeh.”
Setelah itu Sung Joon yang pingsan saat di airport karena memikirkan peningkatan Most ke peringat satu. Hye Jin menangis merasa Sung Joon  sangat malang dan merasa kasihan, air matanya jatuh ke wajah Sung Joon, lalu mengungkapkan Sung Joon sudah kerja keras dan semua bukan salahnya. Shin Hyuk baru masuk ke dalam ruangan terdiam melihat Sung Joon yang tertidur dipangkuan Hye Jin, seperti hatinya ditusuk-tusuk jarum dan memilih untuk meninggalkanya. 

Hye Jin baru bangun melihat Ha Ri duduk di ruang tamu berpikir temanya itu tak tidur semalaman. Ha Ri terlihat frustasi, mengaku banyak kerjaan di Republik Korea, tapi tak bisa temukan minimal 1 saja dan mengeluh sangat menyedihka setelah tu masuk ke dalam kamarnya. Akhirnya Hye Jin melihat list job yang dicari Ha Ri melihat masih ada satu yang belum dicobanya. Ponsel Hye Jin lalu berdering.
“Jackson! Jackson! Bagaimana ini? Ah, aku bisa gila. Apa yang harus kulakukan?”jerit Shin Hyuk panik, Hye Jin jadi ikut panik bertanya apakah terjadi sesuatu.
“Aku tak bisa mengatakannya di telfon. Aku harus memberitahumu secara langsung. Sekarang Aku akan ke rumahmu 30 menit lagi, siap-siaplah dan keluarlah. Oke?” ucap Shin Hyuk dan langsung menutup telpnya, Hye Jin binggung kenapa seniornya itu terlihat panik. 

Shin Hyuk langsung menarik Hye Jin masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi. Setelah dijalan, Shin Hyuk terlihat masih binggung untuk mengatakanya dan meminta agar Hye Jin tak boleh kaget. Hye Jin makin ketakutan dengan apa yang ingin dikatakanya.
“Aku sungguh serius saat aku bicara begini. Janji kau takkan katakan apapun.” ucap Shin Hyuk dengan wajah serius, Hye Jin berjanji
“Jackson, aku sebenarnya... sangat bosan. Maksudku, majalahnya sudah selesai, tapi tak ada yang bisa main denganku. Mungkinkah ada situasi yang lebih menyedihkan dari ini? Jadi jalan-jalanlah denganku hari ini saja, ya?” ucap Shin Hyuk tertawa terbahak-bahak
“Hei, dasar! Kukira sesuatu yang besar! Dasar Kau... hentikan mobilnya!” teriak Hye Jin kesal kembali dikerjai oleh Shin Hyuk.
“Ah, benar! Sesuatu yang besar terjadi.” ucap Shin hyuk kembali serius, Hye Jin bertanya apa lagi, Shin Hyuk mengaku sekarang lapar dan mengajaknya makan. 

Di tempat makan all u can eat, Hye Jin dengan senang mengambil banyak-banyak makana. Dari jauh Shin Hyuk memanggilnya, seperti orang yang norak yang tak pernah makan berteriak memberitahu ada tulang rusuk sapi kukus baru yang biasa disebut Hanwoo. Hye Jin terlihat sangat malu melihat tingkah seniornya.
Kepiting ukuran besar dan rusuk sapi, semua makanan ada diatas meja. Hye Jin melirik aneh melihat Shin Hyuk seperti baru pertama kali datang ke tempat makan seperti itu.  Shin Hyuk memanggil pelayan untuk meminta ada acar lobak, Hye Jin makin malu karena Shin Hyuk harus meminta acar lobak direstoran all u can eat.
Pelayan pun membawakan acar lobak, Shin Hyuk merengek acar lobak lebih nikat kalau Hye Jin yang melemparnya dengan menjulurkan lidahnya. Hye Jin semakin malu akhirnya memberikanya dan Shin Hyuk tersenyum bahagia. 

Selesai makan, Shin Hyuk mengajak Hye Jin kembali pergi karena mereka sudah makan. Hye Jin menahannya agar mereka pulang saja. Shin Hyuk mengumpat Hye Jin itu pengkhianat karena membuang teman setlah memiliki seorang pacar dan menegaskan bahwa hari ini adalah Hari spesial.
“Aku tahu karena khusus hari ini kau merasa bosan.” teriak Hye Jin kesal
‘Bingo! Karena hari ini aku merasa bosan, kita harus menghabiskan hari ini dengan cara yang menyenangkan! Akan jadi hari roller-coaster yang paling, paling, paling spektakuler, jadi lihat saja. Oke?” ucap Shin Hyuk menarik tangan Hye Jin. 

Keduanya sudah duduk diatas roller coaster dan siap meluncur, Hye Jin benar-benar ketakutan tapi Shin Hyuk terlihat sangat bahagia, menyuruh Hye Jin mengangat tanganya keatas. Setelah turun dari roller coaster, Shin Hyuk merasa sangat serunya, lalu menawarkan Hye Jin untuk naik lagi, tapi ternyata Hye Ji tak ada disampingnya, berjalan dengan gemetaran dibelakangnya.
“Jeez, kau ketakutan seperti anak kecil.” ejek Shin Hyuk yang menghampirina.
“Sudah kubilang aku tak bisa naik yang begituan!” teriak Hye Jin.
“Kalau begitu singkirkan rasa takutmu dan nikmati saja. Maka semuanya akan terasa seru.” ungkap Shin Hyuk lalu menunjuk wahana lainya.
Keduanya main ontang anting bersama dan kembali diputar-putar dengan ketinggian, Shin Hyuk pun mengajak Hye Jin menaiki komidi putar dengan berbagai alat musik seperti anak kecil. 

Hye Jin sedang melihat boneka-boneka souvenir yang sangat lucu, tiba-tiba punggungnya di tepuk dan menjerit histeris melihat seseorang yang mengunakan topeng monyet.
“Bagaimana bisa kau juga takut dengan yang beginian?” ejek Shin Hyuk tertawa dalam topinya.
“Kenapa tidak berhenti saja menakutiku jika kau tahu aku akan ketakutan?!” keluh Hye Jin, Shin Hyuk malah mendekatinya sambil mengeluarkan suara monyet. Hye Jin berjanji akan balas dendam.
Shin Hyuk sedang memilih kacamata hitam, Hye Jin menakutinya dengan topeng kakek-kakek. Kepala Shin Hyuk yang ketakutan terbentur dinding lalu pingsan seketika. Hye Jin yang tadinya tertawa akhirnya panik karena Shin Hyuk ternyata  sangat ketakutan. Tiba-tiba Shin Hyuk terbangun dengan tertawa melihat ekspresi Hye Jin yang pani.
“Jackson, Kau sungguh mengira aku pingsan? Aku bukan kau, jadi takkan setakut itu.” ejek Shin Hyuk lalu pergi lebih dulu
“dasar.... Dia selalu mengalahkanku.” keluh Hye Jin membuka topengnya. 

Shin Hyuk berjalan sambil bersiul merasa hari ini sangat seru dan berharap  tiap hari bisa seperti hari ini. Hye Jin binggung melihat Shin Hyuk yang merasa sangat senang dihari ini. Shin Hyuk menegaskan kembali bahwa hari ini adalah hari yang special
Hye Jin penasaran hari Spesial seperti apa, Shin Hyuk menegaskan Hye Jin akan tahu esok hari. Hye Jin terlihat tak mengerti, lalu Shin Hyuk melihat sesuatu yang menarik dan langsung berlari ke arah tempat yang dituju. 

Sebuah tempat penjual topi di pinggir jalan, Shin Hyuk memilih yang warna merah lalu menanyakan komentarnya, Hye Jin mengatakan bagus dengan mengejek seperti tudung saji. Shin Hyuk bertanya berapa harganya pada si penjual, paman memberitahu 10.000 Won. Shin Hyuk pun menyuruh Hye Jin yang membayar karena ingin dibelikan olehnya, ahkhirnya Hye Jin mau tak mau mengeluarkan uangaya.
Di dalam cafe, sambil meminum tehnya mengeluh tempat itu tak punya acar lobak dan merasa tak percaya dengan hari yang berlalu begitu cepat. Shin Hyuk merasa Hye Jin masih merasa sangat senang sebagai manusia. Hye Jin mengaku pengalaman yang sungguh menyenangkan.
“Ah, benar. Jackson. Sepertinya aku harus menariknya kembali. Saat kubilang aku tak mau jadi temanmu, Kurasa aku harus menariknya kembali. Tak peduli betapa sering kupikirkan, kurasa kita bagusnya jadi teman. Teman yang sungguh baik. Ya, kan?” ucap Shin Hyuk
“Ya, benar.... Teman yang sungguh, sungguh baik.” ungkap Hye Jin setuju.
“Ah, aku harusnya jadi teman sekolahmu dulu! Jadi aku bisa punya cinta pertama.” ungkap Shin Hyuk seperti masih tak rela

Hye Jin kaget mendengarnya, Shin Hyuk mengaku hanya bercanda karena mereka sekarang sudah berteman, tapi Hye Jin terlihat sedikit gugup kembali meminum tehnya. Shin Hyuk merasa menyesal tak menciumnya saat menyatakan cintanya, Hye Jin makin serba salah, Shin Hyuk kembali menegaskan bahwa hanya bercanda. Hye Jin  terlihat kesal memilih untuk pergi.
Shin Hyuk ikut berdiri merasa sudah saatnya sekarang, Hye Jin tersenyum akan bertemu lagi besok. Shin Hyuk berpesan agar Hye Jin bisa menjaga diri. Hye Jin binggung merasa Shin Hyuk bertingkah seolah takkan melihatnya lagi. Shin Hyuk pamit pergi, sebelum keluar kembali memanggil Hye Jin.
“Jackson! Apa aku sudah mengatakan sebelumnya?  Aku sungguh menyukaimu,  Tak peduli sebagai pria dan wanita, aku menyukaimu sebagai seseorang. Manusia, Jackson... Bukan, aku sungguh menyukaimu sebagai manusia, Kim Hye Jin.” akui Shin Hyuk penuh arti. Hye Jin benar-benar binggung.
“Terima kasih... Karenamu, Jackson, waktuku terasa sangat seru dan menyenangkan.” ungkap Shin Hyuk seperti menahan harunya lalu melambaikan tangan perpisahan dan saling high five. 

Pagi hari, panggung sudah disiapkan dengan spanduk bertuliskan [Upacara Pelantikan WaPres Majalah Jinseong] Di bagian percetakan, pegawai disana memberitahu majalah Most belum di jilid lalu menjerit bingung.
Nyonya Kim duduk di ruanganya dengan kemeja dan jas dengan wig potongan pendek seperti pria berkata kalau waktunya akhirnya datang, dengan topinya akhirnya keluar ruangan.
Sung Joon berjalan dilorong menerima telp dari bagian percetakan, kalau menyuruh untuk berhenti menjilidnya. Dengan wajah binggung bertanya siapa yang menyuruhnya, Pegawai percetakan memberitahu ada yang menelp dan mengaku dari Most menyuruhnya untuk menghentikanya, terdengar sangat serius.
Akhirnya Sung Joon berusaha mencari tahu dan akan menghubunginya. Ia memeriksa ponselnya terlihat ada email yang masuk, matanya melotot kaget membawa emailnya terlihat dibagian bawah tertulis  [Dari Ten] dengan peta yang dikirimkan. 

Eun Young sangat serius membaca buku karya Ten sambil mengagumi hasil tulisanya yang sangat menarik. Joon Woo bertanya apakah mereka tak akan hadir ke Upacara Pelantikan WaPres. Ah Reum mengeluh karena semua pegawai meminta agar datang, padahal semua sudah diputuskan.
Joo Young merasa demi Sung Joon mereka harus datang dengan melihat wajah si parasit. Han Sul hanya bisa menghela nafas tak bisa mendekati lagi anak dari Presdir Ji Sung karena sudah memiliki Joon Woo.
“Tapi kenapa aku sama sekali tak lihat Senior Poong Ho atau Kim Shin Hyuk?” tanya Joo Young melihat dua meja yang kosong dibelakangnya.
“Sepertinya Poong Ho tertidur di suatu tempat lagi.” pikir Sun Min, Hye Jin yang melihatnya seperti tak peduli dan kembali berkerja. 

Langkah seorang pria masuk ke dalam gedung Ji Sung dan Nyonya Kim pun masuk ke dalam lift menuju lantai 7, tangannya terus memutar pulpen seperti ingin segera memberikan tanda tangan. Di dalam ruangan sudah ada semua tim duduk dibarisan paling depan, Hye Jin binggung tak melihat Poong Ho dan juga Shin Hyuk yang datang. Ah Reum pikir mereka akan tahu sebentar lagi.
Pembawa acara mulai acara, upacara pelantikan WaPres generasi kedua Majalah Jin Sung dan akan mendengarkan sambutan untuk pertama kalinya. Seorang pria melangkah masuk, semua tim editor Most melotot kaget, Joo Young bahkan sampai terbata-bata.
Seorang pria menuruni tangga dengan memegang pulpen dan memainkan dijarinya, Poong Ho menaruh pengaruk punggungnya di saku jasnya dengan style rambut rapi menyapa semua pegawai memperkenalkan sebagai Wakil Presdent majalah Ji Sung, dengan nama Kim Poong Ho.
Han Sul benar-benar tak percaya Poong Ho yang dekil ternyata chaebol, Joo Young masih binggung kenapa Poong Ho yang suka memintanya kopi sekarang ada diatas panggung dan mengaku sebagai pewaris tahta Ji Sung. Nyonya Kim melihat keponakanya memuji Poong Ho sudah seperti Most. 

Sung Joon diantar oleh seorang pegawai hotel kesebuah ruangan, terlihat dari belakang sosok pria yang memakai jas dan potongan yang sangat rapih menatap keluar jendela. Dengan percaya diri Sung Joon memperkenalkan diri dari Majalah Most Korea.
Pria itu membalikan badanya, Sung Joon melotot kaget melihat Shin Hyuk yang berdiri didepanya dengan semua brewok dan kumis yang dicukur habis dan tampak berbeda. Shin Hyuk pun menyapa Sung Joon dengan memperkenalkan diri sebagai Ten.

bersambung ke episode 15

Komentar 
Damn.... ini yang bikin cerita bisa mengirim penonton buat berspekulasi Nyonya Kim jadi Ten dan Shin Hyuk itu jadi anak Chaebol... hihihhi..... ternyata yang chaebol Poong Ho... hahaha... hahaha.. kocak liat tampanya ga pake kacamat terus rambutnya belah pinggir. 
Berat rasanya meninggalkan Siwon sama Seo Joon huhuhu.... dua episode terakhir minggu ini.. kayanya cepat banget selesai. Pingin liat lagi adegan romantisnya Sung Joon sama Hye Jin, lucu..... ^_^ Di trailer ada Ha Ri sama Shin Hyuk duduk bersama, mungkin ga yah mereka jodoh.... 

Sinopsis She Was Pretty Episode 14 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top