Thursday, December 10, 2015

Sinopsis Remember Episode 1 Part 2

Dong Ho mengajak Young Jin makan sup daging sapi, Young Jin bertanya bagaimana bisa mengetahui kalau jarang menangani kasus kejahatan besar. Dong Ho merasa iu karena firasat dari sloganya "Yang akan memenangkan kasus 100%."  Lalu mengajaknya minum bersama sebagia tanda kalau mulai sekarang aka memberikan informasi dan juga menjadi perisainya
Tapi, bagaimana dengan korbannya? Maksudku, Nam Gyoo Man?” tanya Young Jin, Dong Jin mengaku sedang memiikirkannya juga
Nam Gyu Man, si bocah itu,  punya uang, kekuasaan dan semuanya, tapi ada satu hal yang dia tak miliki. Apa kau tahu apa itu? Kemanusiaan.” Jelas Young Jin
Di dalam gedung, Sek Ahn mempersilahkan Gyu Man keluar dari lift yang memegang kompresan dibagian leher belakang. Beberapa pegawai langsung berlari menyabutnya dengan membungkuk saat Gyu Man lewat.
Biasanya orang yang memiliki semua itu setidaknya akan lebih sopan, Tapi, mungkin ada yang salah dengannya hingga dia bisa marah kapan saja itu. Perusahaan bahkan memiliki tim hokum khusus untuk perilaku buruknya itu.
Gyu Man melempar kompresan saat melihat pria yang sudah tua hanya menundukan kepala tanpa membungkuk, lalu sedikit membelai bagian kepalanya agar membungkuk didepanya. Si pria pun membungkuk badanya dan Gyo Man menepuk bahunya dengan tatapan seorang psikopat. 

Alasan kenapa aku juga mau menerima ajakanmu adalah karena aku tak mau melakukan apapun untuknya. Apa Kau sudah tahu caranya?” tanya Young Jin, Dong Ho sibuk membersihkan daging yang nyelip dengan benang.
Jika kau tak punya gigi, kau masih bisa mengunyah permen karet. Bukannya sudah kubilang? Kemenangan 100% ku tidak pernah hilang.” Kata Dong Ho yakin, Young Jin hanya bisa tersenyum mendengarnya. 

Didalam mobil, Gyu Nam melemaskan otot lehernya lalu bertanya pada Sek Ahn tentang kasus si preman sialan,  Sek Ahn terlihat tegang mengatakan semuanya berjalan lancer. Gyu Nam menepuk kaki temanya meminta untuk santai apabila mereka sedang berdua saja karena mereka berterma dan bisa bersikap sopan jika di kantor saja.  Sek Ahn mengerti walaupun dengan wajah tegang.
“Lalu bagiamana Pengacaranya?” tanya Gyu Nam kembali mengompres lehernya.
Kami sudah menyewa pengacara yang terbaik Dan dia pastikan preman itu akan mendapat ganjarannya.” Jelas Sek Ahn
Apa hanya itu? Oh, jadi kau berpikir dia sudah pantas mendapatkan hukuman kecil itu, 'kan?” kata Gyu Nam melotot lalu melempar kompresan ke wajah Sek Ahn dan berteriak untuk menghentikan mobilnya. 

Sek Ahn turun dari mobil lalu membungkuk ke depan jendela. Gyu Nam menoyor kepalanya sambil mencemoohnya kalau memang punya otak harus mengunakan dengan benar dan mengingatkan ia dipermalukan oleh teman-teman dekatnya.
Apa kau pikir hanya dengan penjara bisa menghilangkan rasa maluku itu?” kata Gyu Nam
Maaf... menurutku juga dia seharusnya dihukum seberat-beratnya.” Ucap Sek Ahn terbata-bata
Apa preman itu punya anak?” tanya Gyu Nam, Sek Ah merasa preman itu punya anak perempuan.
Carilah orang yang jago bermain pisau, karena Beraninya dia menyerangku, jadi dia harus dihukum, 'kan? Kita harus memberinya pelajaran.” Kata Gyu Nam tanpa ada prikemanusian.
Sek Ahn mengerti dan akan segera mengurusnya, Gyu Nam menanyakan hal yang lainya. Sek Ahn memberitahu Mengenai villa Seochon, masih dalam proses. Gyu Nam menghela nafas, menurutnya sekarang yang terpenting agar Sek An agar mencarikan wanita yang pintar menyanyi Pong-Chak Sek Ahn terlihat binggung.
Gyu Nam ingin orang biasa, karena selama tinggal terlalu lama di Eropa jadi ingin mendengar melodi Pong yang indah. Sek Ahn mengangguk mengerti, Gyu Nam menyuruh sopir itu menjalankan mobil dan menyuruh Sek Ahn agar naik taksi. 

Sek Ahn masih membungkuk sampai mobil Gyu Man pergi menjauh, dengan wajah kesal meludah sembarangan, seperti sangat kesal dengan teman yang mengangapnya seperti kacung.
Tak jauh dari sana, Anak buah Dong Ho, Pyun Sang Ho mengambil gambar Sek Ahn dari dalam mobil dan melonggo tak percaya. Dong Ho pun melihatnya mengumpat Gyu Man memang orang yang brengsek sambil merapihkan dasinya merasa kasusnya kali ini tak akan mudah. 

In Ah pulang melalui restoran pizza milik ayahnya, sang ibu sedang menonton acara sambil melipat kotak pizza untuk take away. In Ah melihat pembawa acara yang mengenalkan tentang Photographic Memory, yang dikenal sebagai Picture Memory, lalu melihat pelajar tadi ada di TV, bernama Seo Jin berumur 18  tahun.
Jin Woo dengan mudah menyebutkan urutan angka dengan cepat 3,1415926535 8979323846, Ibu In Ah yang melihatnya merasa Jin Woo mungkin bias menghafal semua isi buku hokum, menurutnya dengan memiliki kemampuan seperti itu maka  menghapalnya pasti bukan hal yang sulit.
Apa ibu pikir, hukum itu hanya tentang hapalan saja?” keluh Jin Woo tak setuju lalu menganti acara lain,
Berita TV menanyakan “Tuan Oh yang telah melakukan 15 kasus pencurian, ditangkap hari ini. Pernyataan kritis dari seorang murid SMA telah membantu dalam menyelesaikan kasus ini Dia sekarang telah menjadi pusat perhatian. Menurut polisi....” dengan foto Jin Woo dilayar.
In Ah kesal langsung mematikan Tvnya dan masuk ke dalam, Ibunya yang heran kembali menyalakan TV. 

Sek Ahn membawa Jung Ah melewati pepohonan yang cukup gelap dengan mobilnya, Disebuah tempat sudah banyak mobil mewah yang berhenti dan masuk satu pria dengan dua wanita yang memakai pakaian sexy. Ayah Jin Woo mendorong alat-alat pembersih diparkiran.
Akhirnya Sek Ahn turun dan Jung Ah melihat Ayah Jin Woo sedang membersihkan jalan. Sek Ahn bertanya apakah mengenal pria itu. Jung Ah mengaku mengenal pria itu adalah ayah dari temanya. Sek Ahn seperti tak peduli menyuruhnya cepat masuk, lalu memberitahu Jung Ah hanya perlu menyanyi seperti ang biasanya dan langsung pulang.
Mereka akan menyiapkan daftar lagu, dan kau tak boleh memberitahu siapapun, oke?” jelas Sek Ahn
Ya, tidak akan. Ayahku bahkan tak tahu. Tapi, orang macam apa yang harus aku nyanyikan nanti? Apakah mereka orang yang tak seharusnya aku kenal? ”tanya Jung Ah penasaran

Jung Ah masuk dengan wajah binggung, melihat rumah yang dijadikan seperti club dengan pria yang dikeliling wanita seksi serta obat-obatan yang bebas dipakai siapapun. Sek Ahn mengajak Jung Ah masuk ke dalam ruang ganti dan memilihkan gaun warna merah.
Bukannnya aku hanya akan bernyanyi dan langsung pulang. Tidak perlu ganti baju” kata Jung Ah melihat baju yang terbuka, Sek Ahn melihat Jung Ah yang menolaknya lalu membuka pintu ruangan.
Diaadalah anak KaPolres, dan dia anak mantan Menteri. Sementara Dia adalah anak Kepala Perusaan Koran dan dia adalah anak dari keluarga yang kaya raya.” Kata Sek Ahn menunjuk pria-pria yang sedang berciuman dan mabuk dilorong, lalu kembali menutup pintu.
Mereka semua lahir dari keluarga yang sangat kaya raya. Jika aku tadi memberitahumu di mana kita, kau pasti akan menjerit-jerit.” Jelas Sek Ahn
Tapi, sepertinya aku lebih baik tidak mengetahuinya. Apa aku bisa pulang sekarang? Kupikir, aku akan menyanyi di depan...” kata Jung Ah merasa tak nyaman ditempat itu dan akan pergi.
Sek Ahn menahan pintu agar Jung Ah tak keluar, meminta untuk lebih medekat agar bisa menasehati, kalau memang ia bisa melakukannya dengan baik, maka ia bisa membiayai sekolahnya sendiri dan memberikan amplop tebal.  Jung Ah ingin menolak, tapi Sek Ah memaksa memasukan ke dalam tas, memintanya agar tak perlu serius dan hanya perlu bernyanyi saja. Jung Ah ingin mengembalikanya tapi Sek Ahn memilih untuk keluar dari ruang ganti. 

Gyu Nam datang dengan beberapa pengawal, Sek Ahn langsung menyambutnya, Tuan  Seo didekat ruangan sedang membersihkan karpet. Gyu Nam menegur Sek Ahn yang selalu melakukan kembali. Sek Ahn terlihat binggung, Gyu Nam menunjuk Ayah Seo untuk menyingkirkan semua serangga.
Ayah Seo sempat membungkuk, Gyu Nam memerintaha menyingirkan semua orang yang tak berkepentinga kecuali anggota mereka. Sek Ahn binggung karena mungkin tak ada pelayan. Gyu Nam pikir masih ada temanya itu dan berpikir harus ia sendiri yang melakukan. Sek Ahn pikir bisa sendiri yang mengurusnya, lalu memerintahkan Tuan Seo pulang sekarang. 

Ketika berjalan masuk, Gyu Nam menanyakan apakah semua sudah datang. Sek Ahn memberitahu Tuan Kang yang akan datang terlambat. Gyun Nam memarahi Sek Ahn yang masih memanggil “tuan Kang” padahal tahun lalu ayahnya baru saja dipecat, menurutnya mereka tak perlu mengundangnya lagi.
Jung Ah seperti tak nyaman mengunakan pakaian dan terus menariknya ketika ingin memakai kalungnya, Gyu Nam datang bertanya apakah wanita itu penyanyinya. Sek Ahn membenarkan, Gyu Nam menatapnya seperti tanpa ingin menerkamnya langsung. 

Dirumah
Jin Woo sudah siap dengan sup kimchi yang akan dimakan bersama ayahnya, wajahnya berseri-seri tak sabar menunggu sang ayah pulang. Jam 8 lewat, ayahnya belum juga pulang terlihat ada tas ponsel diatas buffet, akhirnya Jin Woo menelp ayahnya.
Tuan Seo pergi ke tempat Ponsel, menceritakan anaknya masih SMA, lalu bertanya ponsel apa yang biasanya digunakan anak SMA, karena ponsel anaknya sudah lama dan layarnya sudah retak. Pegawai itu heran melihat Tuan Seo yang sudah dating untuk membelikan anak anda ponsel baru sebanyak 3 kali. Tuan Seo pikir pegawai itu mungkin salah orang. Di kantong celananya, ponsel Tuan Seo berdering tapi tak terdengar olehnya. 

Jung Ah terlihat tak nyaman dengan pakaian berjalan ke depan mic dan siap menyanyi, suaranya yang merdu menyanyikan lagu “Way Back into love – Hugh Grat feat Drew Barrymore”  Tapi Gyu Nam berteriak histeris menghentikanya sambil memecahkan gelas diatas meja, Jung Ah dan yang lainya kaget dan hanya bisa diam.
Hei, apa kau anggap ini festival kampus? Pong-Chaaaak!” teriak Gyu Nam yang berjalan sambil menendang beberapa gelas sampai pecah berantakan. Jung Ah terlihat ketakutan melihat Gyu Nam yang berteriak
Apa kau tahu Pong Chak? Aku... karena aku terlalu sering mendengar lagu Prancis, perasaanku jadi menggurut!” teriak Gyu Nam, Jung Ah ketakutan sambil meminta maaf, karena berpikir Gyu Nam menyukai lagu yang dibawakanya.
Sek Ahn meminta pemain musik mengiringi lagu yang diminta Gyu Nam, hanya mendengar iringan lagunya saja Gyu Nam bisa tersenyum dan kembali meminum wine dengan mulut mengangga. Suara Jung Ah terdengar bergetar tapi terdengar merdu dengan lagu aliran Pong Chaak.
Beberapa teman Gyu Nam terhayut dengan lagu yang dinyanyiakn Jung Ah sambil bertepuk tangan melembar uang  dan Gyu Nam tersenyum melihatnya. Jung Ah terlihat sangat lelah didepan meja rias melepaskan semua perhiasan yang digunakanya.
Gyu Nam tiba-tiba masuk dengan sebotol wine yang diminumnya langsung dan melihat badan Jung Ah dari bawah kebagian atas. Suasana terasa tegang, Gyu Nam memperlihatkan gelasnya mengajaknya agar minum bersama. Jung Ah tertunduk ketakutan melihat mata Gyu Nam seperti yang dingin dan memainkan winenya didalam mulutnya. 

Jin Woo sampai tertidur menunggu ayahnya yang belum pulang, semua makanan pun terbuka begitu saja diatas meja. Ponselnya bergetar lalu dengan mata masih tertutup mengangkat telp dari ayahnya yang sudah ditelpnya berkali-kali. Tuan Seo berjalan dideretan pohon tak mendengar sama sekali ponselnya berdering.
Ayah, kau di mana sekarang? Kenapa belum pulang juga?” tanya Jin Woo
Dimana... ini, ya? Yang aku ingat hanyalah pergi membelikanmu ponsel.” Kata Tuan Seo binggung melihat sekeliling.
Ayah, tunggu aku di sana. Aku akan mencarimu.” Ucap Jin Woo khawatir
Tuan Seo melihat sekeliling dengan wajah binggung karena tak bisa mengingat dimana tempat itu. Jin Woon mengunakan jaketnya berlari keluar rumah. Tuan Seo terus berjalan menyusuri jalan setapak lalu melihat kaki yang sangat kotor tergeletak ditanah dibalik tumpukan batang pohon. 

Tuan Seo mendekat melihat Jung Ah dengan pakaian sudah menjadi mayat dengan luka disekujur wajah dan tubuhnya, lalu berteriak meminta membuka matanya. Dengan panik mencoba membuka ponsel untuk menelp, tapi ia lupa dengan kuncinya padahal sebelumnya masih mengingat kunci membuka ponselnya.
Jari-jarinya bergetar dan kepala Tuan Seo seperti merasakan dengungan yang sangat keras. Ia menjerit sambil memegang kepalanya yang merasakan sakit dan berteriak tak mengingat apapun. Jin Woo datang melihat berteriak memanggil ayahnya, lalu melihat Jung Ah yang tergeletak tak bernyawa dan sang ayah pingsan disamping Jung Ah. 

Dirumah sakit
Jin Woo melihat ayahnya sudah sadar, menanyakan keadaanya. Tuan Seo berusaha untuk duduk tapi masih terlihat linglung. Seorang polisi datang mengetahui kalau Tuan Seo adalah saksi pertama tapi karena dokter bilang harus banyak istirhata jadi ingin menanyakan beberapa pertanyaan saja sekarang.
Kenapa anda pergi ke TKP?” tanya polisi, Tuan Seo terlihat kebinggungan.
Ah, aku... Aku hanya terus berjalan dan akhirnya aku sampai ke sana.” Ucap Tuan Seo tampak linglung.
“Jadi Anda terus berjalan? Jarak TKP dan rumah anda hampir sejauh 1 mil, jadi setidaknya, anda pasti sudah berjalan selama 20 menit. Apa Kau terus berjalan sampai pagi?” tanya polisi yang nampak binggung, Tuan Seo seperti tak mengingat kejadian yang sebenarnya.
Saat kami tiba, anda sudah pingsan di samping korban. Kenapa anda ada disan? Jawab aku dengan jujur. Ini adalah pertanyaan yang sangat penting.” kata polisi

Tuan Seo seperti benar-benar tak mengingat sama sekali, Jin Woo melihat ayahnya merasa polisi seperti sedang menginterogasi padahal seharusnya tak boleh melakukan interogasi seperti menyudutkan ayahnya.
Dan bahkan jika dia memberikan saksi, saksinya masih tidak terkredibilitas. Hukum ini tertera dalam UU Penegakan Hukum Polisi, 220 ayat 1, Bukankah kalian terdengar seperti menginterogasinya dengan paksaan?” tegas Jin Woo tak terima.
Bukan maksud kami seperti itu, Jangan marah-marah begitu. Tapi Apa alm. Oh Jung Ah adalah kenalan anda?” tanya polisi kembali bertanya
Baru kali ini aku melihatnya.” Kata Tuan Seo, Jin Woo kaget karena Jung Ah adalah anak dari temanya yang suka memberikan makanan.
Polisi menanyakan apakah Tuan Seo yakin dengan jawabnya. Tuan Seo yakin tak mengingatnya sama sekali, lalu meminta maaf karena tak bias membantu penyelidikan mereka. Jin Woo benar-benar shock ayahnya tak mengenal Jung Ah, lalu melihat tas ponsel yang dibawa ayahnya.  

Ia buru-buru pulang kerumah melihat didalam lemari, ayahnya membeli 3 ponsel yang sama dan disimpan didalam lemari. Lalu melihat kebagian laci, semua barang dibeli ayahnya sebanyak tiga dengan motif dan bentuk yang sama. Dibagian laci obat pun ayahnya membeli tiga botol yang sama dan mendapatkan tas ponsel dengan motif sama seperti yang dibeli ayahnya sebelum kehilangan arah dan bertemu dengan Jung Ah yang terbujur kaku. 

Di ruangan dokter
Ada kalanya dia merasa mengenalnya tapi dia tak akan ingat siapa namanya. Aku akan memulai tesnya sekarang. Silakan sebutkan nama hewan-hewan ini.” kata dokter menjejerkan gambar binatang
“ Ini Singa, gajah, kuda nil, badak.” Kata Tuan Seo dengan lancar.
Dokter menanyakan apakah Pria yang datang bersamanya itu anaknya. Tuan Seo membenarkan, Dokter meminta untuk menyebutkan namanya dan nama anaknya. Tuan Seo menyebut nama Seo Jae Hyuk dan anaknya Seo Jin Woo. Dokter mencoba membalik namanya. Ayah Jin Woo bisa menyebtWoo Jin Seo dan Hyuk Jae Seo. Jin Woo tersenyum seperti dugaan tentang ayahnya salah. 

Berita menyebar diseluruh korea, mulai dari surat kabar, Layar TV besar ditengah kota, Subway dan toko elektronik, bandara, begitu juga In Ah dengan keluarganya sambi memakan jeruk.
Seorang mahasiswi Seocheon ditemukan tewas setelah diperkosa manarik banyak perhatian. Menurut polisi, mereka tak dapat menemukan tersangka untuk kasus ini. Korban Oh adalah mahasiswi juga bekerja untuk biaya pendidikannya, Tak hanya keluarga tetapi masyarakat Korea sangat penasaran dengan kasus ini. Presiden juga telah mengunjungi kantor polisi untuk memerintahkan memecahkan kasus ini.
Jin Woo keluar kamar menanyakan apa yang sedang dilakukanya, Sang Ayah sedang menonton berita sambil memakan jeruk, tatapan Jin Woo merasa kasihan pada sang ayah yang harus terlibat karena berada di TKP.
Masyarakat meminta polisi untuk segera menemukan pembunuhnya. KaPolres juga telah menyakinkan masyarakat bahwa pembunuhnya pasti akan tertangkap. Kasus ini ditangani oleh tim investigasi khusus dan sangat menyedot perhatian warga negara. Polisi berjanji akan segera menemukan pelaku pembunuhannya.

Jaksa Hong mematikan TV diruangan setelah mendengar berita, lalu masuk ke ruanga jaksa Hong dengan wajah tertunduk.
Aku adalah jaksa utama dalam kasus ini, namaku Hong Suk Hoon. Yang Aku lihat, semua praduga tersangkanya sudah diperiksa. Tapi, belum ada kemajuan sama sekali.” Jelas Jaksa Hong melihat berkasnya.
Karena TKP-nya di hutan, tak ada CCTV Dan juga, tim forensik masih belum bisa menyimpulkan hasil DNA-nya.” Kata Detektif.
Lihatlah itu, aku telah mengurangi jumlah praduga tersangkanya.” Kata Jaksa Hong melempar berkasnya.
Aku sudah menginterogasi mereka tapi tak ada hal ganjil yang kami dapat. Tak ada yang bisa kita lakukan, kecuali pembunuhnya mengaku sendiri.” Jelas detektif yang melihat berkas “Kasus Pembunuhan Mahasiswi
Jaksa Hong merasa sudah tak ada gunanya, karena Kasus ini adalah kasus yang diminta Presiden secara langsung  untuk menyelesaikannya atau semua orang akan dipecat, lalu menyuruhnya melihat ke halaman terakhir. Detektif melihat foto dan nama Seo Jae Hyuk. 

Dirumah duka
Tuan Seo dan Jin Woo memberikan penghormatan terakhir pada Jung Ah dengan Tuan Oh sebagai ayahnya. Tuan Oh sambil menjabat tangan berterimakasih karena Tuan Seo sudah menemukan anaknya walaupun sudah meninggal.
aku bisa melalukan pemakamannya dan merasa menjadi ayah yang tak berguna.” Kata Tuan Oh menangis
Dalam keadaan yang seperti ini, kau harus kuat Hingga kau menemukan pelakunya.” Ucap Tuan Seo
Ya, aku harus kuat dan menunggu siapa pelakunya. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membalas dendam putriku.” Kata Tuan Oh, Jin Woo yang mendengarnya ikut tertunduk sedih. 

Detektif sampai dirumah duka dengan mobil polisi diberi waktu  3 hari untuk mendapat pengakuannya. Dengan membawa surat perintah penahan, menangkap Tuan Seo menjadi tersangka dalam pembunuhan Oh Jung Ah dan punya hak menyewa pengacara juga boleh diam didalam pengadilan.
Tuan Seo langsung dibawa polisi dengan diborgol, Jin Woo dan Tuan Oh binggung melihat teman dan ayahnya tiba-tiba ditangkap. Tuan Seo meminta agar anaknya tak perlu khawatir karena ia akan baik-baik saja dan  meminta supaya menunggunya saja dirumah, karena pasti akan pulang cepat dari kantor.
Jin Woo menahan polisi menanyakan alasana mereka membawa ayahnya, tapi Detektif malah mendorongnya hingga terjatuh. Jin Woo berteriak memanggil ayahnya tapi polisi patroli menahanya, beberapa pelayat juga terlihat binggung. 

Tuan Seo dibawa ke mobil van polisi, Jin Woo berlari dengan basah kuyup melihat mobil polisi yang meninggalkan rumah duka. Mobil polisi didepan terlihat berbelok kearah yang lain, sementara mobil Van terus saja berjalan lurus. Tuan Seo terlihat binggung.
Detektif yang menangkap tuan Seo meminta agar mematikan sirene sekarang. Tuan Seo memberanikan diri kemana mereka akan pergi karena jalurnya bukan ke kantor polisi. Mobil Van masuk ke dalam sebuah gudang yang terlihat gelap.Jin Woo kembali kerumah, ketika menyalakan lampu semua barang didalam rumahnya sudah  berantakan. 

Berita di TV disiarkan “Tuan Seo, telah ditangkap atas kasus pembunuhan mahasiswi. Dia telah mengakui kejahatannya. Reporter Kim yang langsung melaporkan dari Kantor Polisi.
Keluarga Lee sedang menonton berita laporan dari  Reporter Kim yanng berada di depan kantor polisi.
Tersangka kasus pembunuhan mahasiswi Seo Choen, Seo Jae Hyuk telah mengakui kejahatannya Dan dia sedang menunggu tanggal pengadilan. Seluruh masyarakat juga menunggu laporan polisi tentang kasus ini.
Tuan Lee melotot mendengar berita penangkapan Tuan Seo walaupun wajahnya sudah diblur. Jaksa Hong memberikan penyataan didepan mimbar Kejaksaan,

Kasus pembunuhan mahasiswi Seo Cheon akan segera disidangkan. Tersangka Seo Jae Hyuk, dia mengakui kejahatannya. Dan juga, semua bukti serta petunjuk mengarah padanya.” Jelas Jaksa Hong
Kami dengar, Seo Jae Hyuk telah diinterogasi karena dia yang menemukan korban. Benarkah itu?” tanya salah satu wartawan.
Dia memang yang menemukan korban karena dia jugalah yang membunuhnya.” Kata Jaksa Hong yakin. 

Tuan Lee yang mendengarnya merasa itu tak mungkin Tuan Seo yang membunuhnya, In Ah menanyakan apakah ayahnya mengenal si pelaku. Tuan Lee mengenal Tuan Seo yang tinggal di kompleks atas dan hanya tinggal bersama anaknya.
Aku sering bertemu dengannya Dan dia orang yang sangat baik. Aku sungguh tak menyangka.” Kata Tuan Lee terlihat masih Shock
Hei, In Ah. Oh Jung Ah... Apa kau tak mengenalnya? Bukannya dia teman kelasmu saat SD dulu? Namanya Oh Jung Ah.” Kata ibunya, In Ah ikut kaget karena ternyata Jung Ah itu adalah orang yang dikenalnya. 

Jin Woo menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca sudah mengunakan pakaian tahanan tak percaya bisa terjadi seperti itu dengan ayahnya. Tuan Seo melirik Jin Woo dan tak mengenal anaknya sendiri. Jin Woo bingung mengingatkan kalau ia adalah anaknya, tapi Tuan Seo malah binggung dipanggil “ayah”
Apa yang terjadi? Ini aku, Jin Woo.” Ucap Jin Woo binggung melihat ayahnya yang tak mengenalinya.
A-Anakku? Kau adalah anakku?” kata Ayahnya masih terlihat tak mengingatnya.
Jin Woo menangis mengangukan kepalanya, lalu menaruh tanganya dikaca. Tuan Seo ikut menempelkan tangan ke kaca. Jin Woo menanyakan apakah ayahnya mengingatnya sekarang. Tuan Seo mengangguk sambil menangis, Jin Woo meminta ayahnya tak menangis karena keadaannya baik-baik saja. 

Di pengadilan
Banyak pendemo yang mengelu-elukan terikan “Di kota yang damai ini, hukum dia seberat-beratnya! In Ah menaiki tangga melihat Jin Woo yang pernah bertemu lalu memanggilnya dan bertanya apakah masih mengingatnya. Tapi Jin Woo terdiam dengan mata melotot melihat ayahnya yang turun dari bus tahanan.
Pendemo mulai maju dan ingin mendekat, Polisi yang mengunakan tameng bisa menahan mereka. Tuan Seo terlihat seperti orang linglung saat dibawa polisi masuk ke dalam gedung pengadilan. Jin Woo memanggil ayahnya, In Ah melihat tatapan Jin Woo mengarah pada Tuan Seo yang digiring masuk ke dalam pengadilan.
Wartawan mulai mengambil gambar, Tuan Seo masih linglung seperti mencari-cari seseorang. Semua pendemo terus berteriak, salah seorang pria berteriak menunjuk Jin Woo sebagai anak dari pembunuh. Seorang pria langsung menyerangnya, tak sengaja kalung Jin Woo lepas dan terjatuh.
Beberapa polisi mendorong pendemo agar tak mendekat dan membuat pagar betis. In Ah yang tadinya ada disamping ikut terdorong. Jin Woo hanya diam ketika telur dilempar ke arahnya. In Ah melihat kalung Jin Woo terjatuh dengan bercampur dengan lemparan telur.
bersambung ke episode 2  
PS : Episode 2 akan ditulis oleh Dian di Kdramastory

Tunggu updatenya yah....  

Sinopsis Remember Episode 1 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top