Friday, November 27, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 10 Part 2

Haeng Ah bertemu dengan Dong il saat akan naik lift, tanpa berkata-kata Dong il sudah tahu Haeng Ah meminta izin untuk mengurus bibinya lagi lalu menyuruhnya pergi dan akan mengantikanya. Haeng Ah meminta maaf dengan wajah sedih. Dong il memarahi Haeng Ah yang bersikap bukan seperti teman saja lalu menyuruhnya untuk cepat pergi.
Joon Soo melihat Haeng Ah sudah membawa tasnya, sebelum berbicara sudah menyuruhnya untuk pergi saja dan akan memberitahu yang lainya. Haeng Ah akan memberitahu yang lainnya nanti Joon Soo meminta Haeng Ah tak perlu mengkhawatirkan hal itu nanti akan membantunya.
Tae Hee melihat Haeng Ah yang berbicara dengan Joon Soo mencoba mengejarnya tapi Haeng Ah sudah masuk lift lebih dulu. Ia melihat kelantai bawah, Haeng Ah berlari keluar dari gedung dengan cepat. 

Haeng Ah berdiri didepan rumah sakit berusaha untuk masuk ke dalam, baru saja sampai depan pintu kepalanya langsung pusing dan kembali keluar dengan berpegangan pada dinding. Akhirnya ia berusaha mencoba menelp Ri Hwan, tapi ponsel Ri Hwan tertinggal di ruangan dengan pasien yang sudah menunggu padahal baru ada janji jam 5.
Dong il menelp Suk Joon memberitahu kalau tak bisa pergi karena harus mengantikan Haeng Ah menjadi PD. Suk Joon menanyakan kemana Haeng Ah sekarang. Dong il menceritakan Haeng Ah yang super sibuk dan mungkin juga bisa sakit, Suk Joon terdiam mengkhawatirkan Haeng Ah. 

Haeng Ah akhirnya berusaha masuk ke dalam rumah sakit sambil memegang dinding dan hanya berani melihat ke lantai, sampai dibagian receptionist ia menanyakan apakah ada wanita yang memakai baju putih dengan corak polkadot hitam di bagian "Penyakit Pernapasan".
Perawat yang ada disana terlihat binggung, Haeng Ah pikir mungkin wanita itu seorang perawat atau dokter atau bisa saja anggota keluarga pasien. Perawat merasa pertanyaan Haeng Ah itu sangat aneh dan meminta untuk minggir karena masih ada orang yang menunggu dibelakang.
Haeng Ah akhirnya minggir karena banyak orang yang menunggu dibelakangnya, seorang pasien lewat dengan kepala di perban dan terlihat darah. Kepala Haeng Ah kembali meras pusing, ketika berjalan perawat membawa kain kasa dengan ada noda darah. Haeng Ah tak bisa bertahan lagi akhirya pingsan.

Suk Joon yang menelp Haeng Ah diangkat oleh suster yang mencoba menyadarkan Haeng Ah. Sementara Ri Hwan baru saja masuk ke ruangan, melihat Haeng Ah yang menelp mencoba menelp balik. Perawat yang menjaga bagian UGD melihat ponsel Haeng Ah  berdering.
Sementara Haeng Ah berbaring dengan tangan diatas kepalanya, Suk Joon baru masuk ke dalam mobilnya, Ri Hwan berlari sekuat tenaga menuju ke ruang UGD, ada pasien yang baru saja turun dari ambulance. Mata Haeng Ah akhirnya ditutup dengan saputangan.  Ri Hwan melihat sudah ada Suk Joon yang menunggu disampingnya dan tangan Haeng Ah seperti terkena cedera. 


Di depan ruang UGD.
“Apa kau berjanji kejadian ini tak akan terulang lagi? Jika ini terulang lagi...” ucap Suk Joon lalu meninggalkan Ri Hwan begitu saja. Akhirnya Ri Hwan memilih kembali untuk menemani Haeng Ah yang tertidur dengan sapu tangan yang menutupi matanya. 

Ponsel Haeng Ah berdering, melihat nama ibunya, Ri Hwan mengangkatnya terdengar teriakan ibunya.
“Haeng Ah, kenapa kau tak mengangkat teleponku? Kau di mana sekarang? Kenapa diam saja? Kau di mana sekarang?” teriak Nyonya Park, Ri Hwan tak menyahut membiarkanya.
Haeng Ah membuka menurunkan saputanganya, Ri Hwan menutup mata Haeng Ah dengan tanganya agar tak membuka matanya. Haeng Ah melepaskan berusaha untuk duduk dengan kepala tertunduk. Ri Hwan menyuruh Haeng Ah tetap  menutup matanya karena masih ada dirumah sakit.  Haeng Ah  menceritakan bisa melihat lantai saja sambil berjalan, karena sedang mencari seseorang
“Kita sedang di UGD, Ada bercak darah di pintu keluar.” ucap Ri Hwan
“Maaf, tapi apa kau bisa membantuku keluar?  Bawa aku untuk Keluar dari tempat ini.” pinta Haeng Ah.
Ri Hwan menyuruh Haeng Ah menutup matanya, lalu mengendongnya keluar dari ruang UGD. Haeng Ah pun menutup wajahnya di dada Ri Hwan untuk tak melihat darah yang berceceran diruang UGD. 

Ri Hwan menjaga ibunya di dalam kamar, pesan Haeng Ah masuk “Apa kau tahu kenalan bibi yang biasanya berpakaian putih polkadot hitam? Dia bilang, dia bekerja di rumah sakit. Aku tak kuat ke sana.”  Akhirnya Ri Hwan mencari tahu dari album foto yang disimpan ibunya.
Ada sebuah foto yang tak tertempel, dalam hatinya bergumam bahwa baju putih polkadot hitam adalah baju yang disukai ibunya. Teringat sebelumnya saat ia menemukan baju itu, sang ibu menyuruh untuk tak menyentuh dan menaruh kembali.  
“Ini adalah "gaun pernikahan" ibu. Orang yang sangat ibu rindukan adalah.... dirinya yang dulu... pada hari bahagia itu.”
Ri Hwan melihat foto ditanganya, ibunya dengan ayah Haeng Ah duduk bersebelahan dengan senyuman sumringah, dengan pakaian baju polkadot hitam. Air mata Ri Hwan tak terbendung lagi, akhirnya menumpahkan dengan tertunduk di tempat tidur ibunya. 

Sang Gyo mengungkapkan khawatir pada Haeng Ah dengan masalah yang terjadi. Ri Hwan mengatakan yang akan mengurusnya. Sang Gyo melihat keduanya  memiliki beban yang tanggung bukan hal yang sepele.
Ri Hwan pergi ke lapangan sekolahnya dulu sambil memainkan mobil remote control yang hanya berputar-putar lalu teringat kekhawatiran Bibi Gong dengan Haeng Ah yang melakukan semuanya dan merasa hanya dengan Satu penyakit saja membuat semuanya menjadi kacau balau lalu berharap semoga menjadi jalan yang terbaik. 

Flash back
Tae Hee menceritakan Haeng Ah dulu belajar keras sampai memimisan karena tak ingin sekolah memanggil orang tuanya. Bahkan saat kakak kelas membullynya, Haeng Ah tak akan melawan.
“Aku tak pernah melihatnya bersenang-senang saat kuliah. Dia belajar seperti orang gila karena tak ingin menjadi pengangguran. Lalu Dia membayar semua pinjaman mahasiswanya, dan tidak tinggal di rumahku dengan membeli rumah sendiri. Sekarang Dia baru bisa merasakan kebebasannya. Apa kau tidak bisa menyiksa Haeng Ah? Tak bisakah kau melepaskannya? Entah hidupnya akan bagaimana nantinya, tak bisakah kau melepaskannya saja?” ucap Tae Hee, Ri Hwan terdiam melihat Haeng Ah yang berlari keluar gedung.
Ri Hwan tetap diam dengan terus memainkan remote controlnya walaupun hanya berputar-putar, teringat kembali saat Haeng Ah yang baru sadar dari pingsanya memintanya agar mengeluarkan dari ruangan UGD. 

Flash back
“Kecuali kau ingin terus menggenggam tanggannya dan menyakitinya” ucap Suk Joon
“Aku tak menggenggam tangannya hanya untuk menyakitinya.” tegas Ri Hwan
“Kecuali, kau mencintainya dan membuatnya menangis.” balas Suk Joon
“Aku tak mencintainya hanya untuk membuatnya menangis. Aku akan selalu bersamanya. Jika dia membutuhkan teman menangis. Aku akan menemaninya. Jika dia sakit, aku juga akan menemaninya. Apa pun itu, aku akan selalu menemaninya.” tegas Ri Hwan
“Kenapa Haeng Ah harus bersamamu? Bagaimana jika melepasnya dan menghilang dari hidupnya? Aku yakin Haeng Ah akan menangis untuk beberapa waktu. Tapi, dia pasti akan melupakanmu. Orang ingin bersama selamanya, tetapi mereka semua putus. Pasangan yang awalnya ingin bersama selamanya, malahan putus, Tapi, mereka bisa saling melupakan. Mereka bilang, tak akan sakit hati lagi Tapi, hari itu datang dan mereka menyukai seseorang lagi. Dan aku ingin menjadi, seseorang yang baru untuknya. Bahkan jika bukan aku.. Haeng Ah layak mendapatkan kebahagiaan..” kata Suk Joon lalu mengeluarkan gelang yang tertinggal dirumahnya dan menaruhnya diatas meja. 

Ri Hwan masih saja memainkan mobil remote controlnya, mengingat kembali ucapan Suk Joon “  Setidaknya, dia bisa bahagia sekali dalam hidupnya.” lalu menaruhnya diatas kursi taman.
Teringat kembali saat tahun lalu, menanyakan apa rencananya saat ulang tahun, Haeng Ah mengatakan hanya akan pergi kerja lalu tersenyum sumringah membaca pesan dari ponselnya, setelah itu pamit pergi dengan wajah berbinar-binar karena ada sesuatu yang sangat sangat penting. Ji Hoon saat itu bersama berpikir Haeng Ah itu sudah memiliki pacar.
Haeng Ah duduk sendirian dalam kamarnya, sambil memejamkan matanya. Di lapangan terlihat mobil dan remotenya ditinggal begitu saja oleh Ri Hwan, padahal itu adalah hadiah dari ayah Haeng Ah agar bisa menjaganya. 

Ri Hwan mengajak ibunya pergi ke taman. Nyonya Park menceritakan rumah dibagian belakang rumah sakit itu terasa sangat dingin, karena waktu kecil anaknya itu tak tahan dengan udara dingin, dengan wallpaper bergambar sayap. Ri Hwan ingat gambar kupu-kupu.
 “Ibu.... Aku... tak akan menemui Haeng Ah lagi.” kata Ri Hwan dengan wajah serius
“Aku juga sudah lama tak bertemu dengannya.” komentar Nyonya Park
“Ibu... Kau bisa hidup tanpa dia, 'kan?” ucap Ri Hwan, Nyonya Park menayakan alasan mencari Haeng Ah
“Ibu...Kau tak bisa melupakannya.” kata Ri Hwan
Nyonya Park berpikir Haeng Ah akan datang juga, Ri Hwan mengelengkan kepalanya memberitahhu Haeng Ah akan menghilang dan tak akan ada di sini lagi, karena sudah pergi jauh. Nyonya Park menanyakan kemana perginya Haeng Ah sekarang. Ri Hwan dengan mata berkaca-kaca hanya mengatakan Haeng Ah sudah pergi ke tempat yang jauh. 

“Ri Hwan, kenapa kau seperti ingin menangis saja?” tanya Nyonya Park lalu memeluk anaknya.
“Kalian masih ingat dengan ikan emas kalian dulu? Satu kecil dan satu besar. Yang besar duluan mati, jadi aku diam-diam membeli ikan baru dan memasukkannya ke mangkuk. Lalu Kau bilang begini, saat kau melihat ikan itu, Itu bukan ikanku". Jadi aku berkata....” cerita Nyonya Park, Ri Hwan hanya bisa menangis dipelukan ibunya.
Di restoran, Paman No hanya bisa diam melihat Ri Hwan yang datang lalu pamit pergi. Terlihat paman No yang memecahkan semua foto dengan kursi dan hancur berantakan. 

Dong Hwa mengejar Ri Hwan yang memutuskan untuk tak akan datang lagi ke restoranRi Hwan berpesan agar Dong Hwa tak mabuk-mabukan dan pulang larut, serta dengan kata-kata orang tuanya,  dan memanggilnya "Ayah" dan "Ibu." Dong Hwa menangis akan menelp Ri Hwan untuk datang apabila Haeng Ah sedang tak ada direstoran. Ri Hwan memilih pergi dan berpesan agar menjaga dirinya baik-baik.
Ji Hoon melihat Ri Hwan yang membereskan semua barang Haeng Ah ke dalam koper lalu menawarkan diri untuk mengantarnya. Ri Hwan menolak, Ji Hoon memperingatakan Ri Hwan untuk kembali lagi ke rumah. Ri Hwan meminta temana itu tak perlu mengkhawatirkan dirinya. 

Di depan apartement, dekat taman bermain.
Suk Joon datang menghampirinya, Ri Hwan menegaskan bahwa tak setuju dengan jawabannya, Suk Joon membalas kalau Ri Hwan memang tak punya jawaban lain lebih baik tak usah keras kepala. Ri Hwan yakin dengan keputusannya untuk mundur lalu memberikan gelangnya. Suk Joon menerimanya berpesan agar Ri Hwan menjaga dirinya dengan baik demi Haeng Ah, setelah itu meninggalkanya. 

Ri Hwan melihat Haeng Ah yang datang dengan memegang jaketnya, Haeng Ah kaget melihat Ri Hwan ada ditaman bermain. Ri Hwan menyuruh Haeng Ah untuk memakai jaketnya, Haeng Ah pikir mereka akan pergi dan Tae Hee sedang menunggu dimobil. Ri Hwan tetap menyuruh agar Haeng Ah memakainya. Haeng Ah pun menurut. Ri Hwan memberikan kartu nama pada Haeng Ah.
“Kau tak harus pergi ke rumah sakit. Kalian bisa bertemu di luar rumah sakit Pastikan untuk rutin melakukan pengobatan.” jelas Ri Hwan
“Ya, tapi aku tak tahu kapan harus memulainya.” kata Haeng Ah setelah menerimanya. Ri Hwan menyuruh Haeng Ah untuk menghubungi dokter itu besok
“Aku akan menemui bibi saat aku mulai pengobatan.” pikir Haeng Ah.
Ri Hwan meminta agar Haeng Ah berjanji untuk menghubunginya besok, Haeng Ah mengaku tak akan tahu apa yang ada dalam ingatan Nyonya Park esok. Ri Hwang kembali meminta agar Haeng Ah berjanji. Haeng Ah pun mengangguk mengerti. Ri Hwan duduk diayuanan, dengan wajah serius meminta Haeng Ah untuk mendengarnya baik-baik.

“Aku telah memindahkan barang-barangmu kembali ke apartemen lamamu.” ucap Ri Hwan
“Apa terjadi sesuatu pada bibi? Apa dia tahu aku tinggal di lantai 3 dan marah?” tanya Haeng Ah panik, Ri Hwan mengatakan Haeng Ah tak perlu tahu
“Bukankah kau bersamanya sepanjang hari ini? Dia mengingatmu hari ini, 'kan?” ucap Haeng Ah, Ri Hwan kembali mengatakan Haeng Ah tak perlu tahu dan selanjutnya pun tak perlu tahu apapun. Haeng Ah terlihat binggung.
“Kami berdua. Ibu dan aku... Anggap saja kami sudah meninggal. Jalanilah hidupmu.” ucap Ri Hwan
Haeng Ah berdiri dari ayunan, berpikir pasti terjadi sesuatu dengan bibinya, dan berpikir mencoba untu bunuh diri lagi padahal mereka sudah membuang semua pil. Ri Hwan menegaskan apabila terjadi sesuatu dan ibunya melakukan hal seperti itu lagi, Haeng Ah tak perlu peduli lagi, karena Nyonya Park bukan ibunya bahkan bukan bibi kandungnya. Haeng Ah semakin binggung

“Kau memang benar, Aku tak bisa meninggalkanmu dan menggenggam tanganmu. Semua orang meminta kita untuk putus. Kau benar, kita tak boleh bersikap egois. Jadi... Kita hentikan saja.” ucap Ri Hwan tanpa mau menatap Haeng Ah
“Kau pasti sedang bercanda, 'kan? Kau sudah pernah mengatakan ini sebelumnya.” kata Haeng Ah menahan air matanya.
“Tak ada yang namanya "setengah-putus". Ke manapun kau pergi, aku tak akan ada di sana. Siapa pun yang kau temui, aku tak akan menemuinya. Aku sudah mengatakan ucapan perpisahanku pada Paman. Karena, kita memang hanya sebatas kakak-adik saja. Kita tak bisa bersama.” kata  Ri Hwan
“Sudah kubilang, aku tak mengerti yang kau katakan!” teriak Haeng Ah sambil menangis.
Ri Hwan berdiri dari ayunan untuk pamit pergi, Haeng Ah memegang tangan Ri Hwan tak ingin keadaan seperti ini. Ri Hwan melihat tangan Haeng Ah yang memegangnya dengan erat lalu berusaha melepaskanya.

Haeng Ah mengikuti langkah Ri Hwan keluar dari taman. Ri Hwan membalikan badanya memintanya agar tak mengikutinya. Haeng Ah tetap mengikutinya sambil menangis, Ri Hwan dengan mata berkaca-kaca meminta agar Haeng Ah tak mendekat. Haeng Ah tetap mengikuti langkah Ri Hwan.
Dengan air mata yang mengalir, Ri Hwan memohon agar Haeng Ah tak mendekat, Haeng Ah hanya bisa menangis menatap Ri Hwan yang akan pergi meninggalkanya. Ri Hwan berjalan meninggalkan Haeng Ah sambil menangis sesunggukan, Haeng Ah terus menangis membiarkan Ri Hwan pergi meninggalkanya.
Tepat ditengah jalan, Ri Hwan seperti melihat ayah Haeng Ah lalu memeluknya sambil meminta maaf. Ayah Haeng Ah menepuk pundak Ri Hwan dengan wajah menahan sedih dengan tersenyum, mengatakan tidak apa-apa
[Haeng Ah, aku mencintamu]
bersambung ke episode 11 



Sinopsis Bubblegum Episode 10 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top