Wednesday, November 4, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 4 Part 1

Suk Joon yang melihat Ri Hwan datang sengeja mendorong Haeng Ah lau menutup pintu. Dari luar Ri Hwan berusaha membuka dan mengedor-gedor pintu tapi suaranya tak terdengar dari dalam. Akhirnya ia berusaha mengedor-gedor jendela dari ruang kontrol, Suk Joon melirik lalu sengaja mendorong Haeng Ah makin ke pojok.  Ri Hwan terlihat lemas karena tak bisa melihat apa yang dilakukan Suk Hoon dengan Haeng Ah, lalu keluar dari ruangan. 

Haeng Ah yang tak tahu Ri Hwan datang bertanya alasan Suk Joon menutup pintu karena membuat tambah curiga, Suk Joon hanya diam. Haeng Ah bertanya siapa yang datang dan panik karena takut ada yang melihat mereka. Suk Joon meminta supaya tetap tenang saja dan tak akan terjadi masalah.
“ ini tentu masalah buatku. Selama ini aku setengah mati menahan diri supaya tak ketahuan. Aku tak mau ketahuan sekarang. Ini tak adil bagiku.” tegas Haeng Ah
“Dulu memang harus kita rahasiakan, karena Orang-orang akan menggosipkanmu dan Hubungan di kantor juga akan jadi rumit.” jelas Suk Joon seperti ingin membuka hubungan asmaranya.
“Kau pikir aku sedang mengeluh tentang masa lalu?” ucap Haeng Ah kesal
Ri Hwan menemukan alarm kebakaran dan sengaja menyalakanya, Haeng Ah mendengar bunyi alarm dari ruang siaran dengan wajah binggung, Suk Joon hanya menghela nafas panjang. 

Akhirnya Haeng Ah keluar dari ruang siaran kaget melihat Ri Hwan yang masuk kedalam ruang siaran dengan tatapan sangat marah.
“Tak peduli aku ini kakaknya atau bukan. Dia tak boleh denganmu, bajingan.”ucap Ri Hwn dan langsung memberikan pukulannya.
Suk Joon bisa membalas dengan cepat, Ri Hwan ingin membalas tapi tangan Haeng Ah lebih dulu menahannya. Ri Hwan menahan amarahnya menanyakan keadaan Haeng Ah sekarang, terdengar suara petugas yang memeriksa segala ruangan.
“Sepertinya keadaanmu sedang gawat.” ucap Suk Joon mengejek lalu keluar ruangan.
Beberapa petugas masuk melihat Suk Joon yang baik-baik saja. Dong Il juga ikut masuk dengan wajah panik, berusaha melihat apa sebenarnya yang terjadi didalam. Suk Joon menarik Dong il agar keluar dari ruangan sekarang. Di dalam ruangan, Ri Hwan dan Haeng Ah saling menatap, lalu terlihat jas milik Suk Joon jatuh dilantai. 

Dong il mengeluh hubungan Suk Joon dan Haeng Ah itu seperti hubungan politik, karena diumumkan secar nasional saat putus dan menyalakan alarm kebakaran saat terjepit. Suk Joon hanya diam menunggu didepan lift.
“Wow, Pria itu emosian juga. Padahal sebelum ini dia seperti anak gereja. Lagi pula dia berkencan dengan anak chaebol.Kalau perusahaan ini mengganggunya, dia tinggal beli perusahan ini.” ungkap Dong Il, Suk Joon kaget mengetahui Ri Hwan sedang berkencan.
“Taeyang Group. Putri bungsu yang tak mirip saudara kandungnya.Tadi dia ikut makan malam bersama kami.” jelas Dong il, Suk Joon mengenal wanita yang tunangan dengan Saemyung Grup tahun lalu
“Mereka putus karena prianya selingkuh, dan membuatnya hamil lalu menyuruhnya aborsi.Si sulung Taeyang Group marah mendengar hal itu, lalu mengusir presiden Saemyung Group dan memutus semua hubungan diantara mereka.” cerita Dong il
Suk Joon masih tak percaya Ri Hwan itu pacaran dengan anak Chaebol. Dong il malah aneh melihat reaksi Suk Joon yang kaget, menduga sudah memukulnya. Suk Joon bertanya apakah Haeng Ah tahu, Dong il yakin Haeng Ah sudah tahu lalu baru sadar tombol lift belum ditekan, setelah itu melihat Suk Joon yang tak mengunakan jasnya. 

Sampai didepan mobil, Ri Hwan dengan wajah lemas menyuruh Haeng Ah naik mobil. Haeng Ah menyuruh Ri Hwan pergi saja dulu. Ri Hwan tetap menyuruh Haeng Ah masuk, dan Haeng Ah juga membalas dengan kalimat yang sama. Ri Hwan menjelaskan meminta agar Haeng Ah masuk ke dalam mobilnya sekarang,  Haeng Ah menolak karena mau naik taksi.
“Sudah naik saja!” teriak Ri Hwan
“Kenapa teriak? Memangnya aku saja yang salah? Kesalahanmu lebih besar.” teriak Haeng Ah kesal
“Aku mengerti, sekarang naik saja.” ucap Ri Hwan dengan lembut. 

Akhirnya keduanya berada didalam mobil dengan suasana diam, Ri Hwan dengan tatapan lurus kedepan bertanya apakah “bajingan” itu berbuat jahat padanya. Haeng Ah mengatakan tidak seperti dugaanya.
“Akan Kuantar ke rumah Tae Hee. Jangan kerumahmu. Dia tahu rumahmu.” ucap Ri Hwan, Haeng Ah menatap Ri Hwan yang tetap menyetir mobilnya.
“Aku... sangat benci bajingan itu.... Sangat benci.” akui Ri Hwan penuh amarah, Haeng Ah ingin menjelaskan tapi Ri Hwan terus mengatakan sangat membencinya. Haeng Ah hanya diam dengan menatap ke arah luar jendela. 

“Membenci orang yang bahkan tak aku kenal...”
Suk Joon kembali ke ruang siaran melihat jasnya sudah ada di tempat sampah diatas tumpukan sampah kertas.
“Aku tak perlu membencinya sampai seperti ini. Melihatku membencinya sampai seperti ini berarti masalahnya bukan pada orang itu. Ini berarti...masalahnya ada di hatiku.”
Haeng Ah tetap menatap ke arah luar jendela, Ri Hwan melirik sedih seperti merasa menyesal membenci orang yang disukai oleh Haeng Ah. Suk Joon mencoba menelp Haeng Ah saat turun dari mobilnya, Haeng Ah yang baru sampai dirumah Tae Hee memilih untuk tak mengangkatnya. 

Ri Hwan baru pulang langsung mengambil bir dari tangan Ji Hoon, temanya mengejek Ri Hwan itu seharusnya merampas pacarnya bukan bir miliknya. Ri Hwan mengatakan itu karena Ji Hoon tak memiliki pacar.
Ji Hoon membenarkan lalu mengeluh Ri Hwan yang hanya minum cola tak meminum bir saat di restoran. Ri Hwan hanya diam dengan menahan air matanya, Ji Hoon melihat terjadi sesuatu lalu menepuk pundaknya. Ri Hwan menghebuskan nafas sampai poninya ikut terhembus. 

Tae Hee tidur di atas bertanya Ri Hwan itu masih tinggal dengan Ji Hoon, Haeng Ah membenarkan. Tae Hee pikir sebaiknya  Ri Hwan tak sendiri malam ini. Haeng Ah langsung duduk dengan wajah panik. Tae Hee menyuruh Haeng Ah kembali berbaring. Haeng Ah kembali tidur.
“Suk Jun sunbae akan baik-baik saja, kan? Apa menurutmu kejadian hari ini akan dilaporkan presdir?” tanya Haeng Ah khawatir
“Tutup mulutmu dan tidur. Justru kaulah yang paling menderita.” tegas Tae Hee.
Haeng Ah bertanya-tanya apa yang harus dibereska lebih dulu.Tae Hee mengejek harus memukul kepalanya dengan wajan agar temannya itu pingsan. Haeng Ah berusah tidur sambil menekan di sela jari jempol dan telunjuknya, di atas jaketnya ponselnya terus bergetar, Suk Joon terus berusaha menelp Haeng Ah.

Ji Hoon akhirnya duduk bersama sambil meminum bir, Ri Hwan dengan tatapan kosong bercerita apabila ada bar yang di suka tapi tak menyukai bar itu. Ji Hoon menangapi kenapa tak menyukai karena sudah pasti bar itu pasti bagus. Ri Hwan menjelaskan karena bar itu tak baik untuknya. Ji Hoon berpikir bar itu ada di  Samseong-dong.
“Mereka tak memberikan makanan gratis saat ulang tahunmu. Kalau kau ingin buah di dalam minumanmu, maka kau harus bawa buah sendiri.” cerita Ri Hwan yang mengumpamakan Suk Joon seeperti bar. Ji Hoon marah menyuruh Ri Hwan memanggil pemili dari bar itu.
“Karena itu aku memukulnya.”ucap Ri Hwan, Ji Hoon memujinya.
“Hyung... Aku sangat membenci bar itu dan tak suka kau dekat-dekat bar itu. Memikirkan kau ada disana saja aku tak suka. Karena...” kata Ri Hwan dengan menahan tangisnya mengingat kejadian saat mengendor jendela dan Suk Joon sengaja mendorong Haeng Ah ke pojok agar tak terlihat apa yang dilakukanya.

Ri Hwan mengaku sudah melihatnya, Ji Hoon mengerti temannya itu sudah melihat sesuatu diluar dugaanya. Ri Hwan terdiam sambil mengigit bibirnya, Ji Hoo pikir dengan Ri Hwan melihat sendiri akan lain ceritanya. Ri Hwan langsung meremukan kaleng birnya, mengungkapkan rasanya sekarang mengila.
Ji Hoon bertanya apakah Haeng Ah tahu, lalu mengajak ke tempat pemukul baseball untuk melampiaskan kemarahanya. Ri Hwan menahan tangis dan amarahnya dengan hanya diam. Ji Hoon pun menepuk-nepuk pundaknya agar lebih tenang.
Suk Joon berusaha menemui Haeng Ah dengan menekan bel rumah. Ri Hwan akhirnya memilih untuk keluar rumah, Nyonya Park melihat anaknya yang menuruni tangga dengan terburu-buru berusaha memanggilnya tapi Ri Hwan sudah lebih dulu keluari dari pintu pagar. 

Ri Hwan berlari melewati jembatan penyebarangan karena tak ada taksi yang mau berhenti. Suk Joon mengendor pintu rumah sambil memanggil Haeng Ah. Lalu Haeng Ah membuka pintu dengan wajah kaget, didepanya ada Ri Hwan yang datang dengan nafas terengah-engah. Ri Hwan mengatakan ada yang ingin dikatakanya. Keduanya duduk di atas ayunan, Ri Hwan tahu Haeng Ah tadi sangat terkejut karena sikapnya itu keterlaluan. Haeng Ah merasa dirinya yang salah.
“Aku bilang benci bajingan itu. Tapi kalau kau menyukai dia.” ucap Ri Hwan merasa menyesal
“Tidak, Aku sungguh ingin putus dengannya dan suah berpikir matang-matang” kata Haeng Ah
“Apa kau masih menyukainya?” tanya Ri Hwan melirik Haeng Ah
“Kalau aku ingin memiliki semua yang kumau. Aku pasti lebih sengsara ketimbang diriku saat ini. Mungkin takkan ada orang di sampingku, Termasuk dirimu.” ungkap Haeng Ah, Ri Hwan pikir kalau Haeng Ah sudah tahu bahwa itu tak akan terjadi.

“Yah... Aku harap  bisa kembali pada saat semua masalah ini belum terjadi.” ucap Haeng Ah memainkan ayunannya.
Ri Hwan menawarkan diri untuk membantu, Haeng Ah pikir Ri Hwan tak perlu khawatir karena apabila butuh bantuan pasti akan menelpnya, sambil berdiri dari ayunannya, teringat dulu waktu SMA membantu Ri Hwan saat disukai oleh seorang wanita yang menakutkan maka mereka berpura-pura berkencan, lalu mengingat-ngingat nama wanitanya.
Lalu Ri Hwan menyuruh Haeng Ah bertanya pada Ji Hoo karena setelah kerja kelompok keduanya berpacaran. Haeng Ah sempat tak percaya, Ri Hwan pikir karena itu si wanitaberhenti mengganggunya dan itu menjadi pertolongan pertama dan terakhir kalinya. Haeng Ah pun kembali duduk di ayunan seperti mengendarai seekor kuda.

“Apa kau tahu...,,Setelah kau pergi seperti itu, dadaku terasa sesak. Sudah kutekan daerah sesuai yang kau suruh.” cerita Haeng Ah menekan disela jari jempol dan telunjuknya.
“Daerah itu untuk masalah pencernaan dan wajah bengkak. Saat dadamu sesak tekan dibagian telapak tangan dan kepala” ucap Ri Hwan sambil mempraktekannya. Haeng Ah mulai menjerit kesakitan,
“Dua daerah ini berhubungan dengan jantung. Bayangkan kau bisa dengar suara jantungmu, lalu tarik nafas dalam dan Sekarang, hembuskan.” perintah Ri Hwan
Haeng Ah mengikutinya, keduanya saling menatap, Ri Hwan menghitung satu sampai lima, terlihat dari wajah Haeng Ah yang gugup. 

Pagi hari
Se Young melihat Suk Joon yang baru masuk lift menepuk pundaknya dengan memperkenalkan dirinya. Suk Joon bisa memberikan senyumanya, lalu kembali menatap ke arah depan. Se Young kembali menepuk pundaknya.
“Anda mendengar siaran kami, kan? Kami mau mengubah tamu yang diundang. dengan mengundang orang yang bukan artis tapi punya banyak rumor. Bagaimana bilangnya ya? Ah! Orang yang mencurigakan!!! Dan Anda termasuk didalamnya. Apa anda tahu?” ucap Se Young blak-blakan.
Si pria muda nampak kaget mendengar Se Young berbicara blak-blakan, Suk Joon sempat melonggo melihat lift sudah sampai lantai empat dan mengatakan tidak mengetahui hal itu lalu mempersilahkan Se Young keluar dari lift lebih dulu.

Se Young kembali menghadang Suk Joon untuk tetap datang, karena ada cerita bahwa Suk Joon memukul temanya saat SMA dengan begitu bisa menjelaskanya,  dan mereka sekarang bisa melihat Suk Joon yang sudah sukses. Suk Joon hanya diam, Se Young tetap ingin memasukannya dalam daftar tamu.
“Aku akan bicara dengan PD-mu.”ucap Suk Joon berusaha mundur saat Se Young berjalan mendekat.
“Ohh Anda kenal PD kami, PD Kim Haeng Ah?” tanya Se Young tak percaya, Suk Joon mengaku sangat mengenalnya.
Se Young pun pamit pergi dan mengakui sangat hebat bisa mengajak Suk Joon bicara, menurutnya pria itu tak seburuk yang dipikirkanya dengan bayangan yang menakutkan, lalu mengingat-ngingat seperti pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. 

Ri Hwan menemui ibunya di rumah sakit, lalu melihat ibunya yang keluar dengan jas dokter berpikir mereka akan makan dikantin rumah sakit. Nyonya Park mengatakan akan makan diluar lalu kembali ruangan untuk menganti jas dokternya. Setelah Nyonya Park menganti dengan jaketnya, keduanya bertemu dengan Sang Gyo yang memuji Ri Hwan yang semakin tampan.
“Dokter Park, kau mau seperti ini terus? Kalau kau serahkan pasien, kau harus percaya pada kami.” ungkap Sang Gyo, Nyonya Park terlihat binggung.
“Pasien kelumpuhan pita suara. Aku melihatmu mengambil dokumennya untuk memeriksa sesuatu. Tolong cepat kembalikan.” pint Sang Gyo
Nyonya Park akhirnya kembali ke ruanganya, terlihat kebingungan mencari-cari berkasnya lalu menemukan dilaci bawah dan bertanya-tanya kenapa berkas itu ada diruanganya. 

Di restoran
Ibunya bertanya apakah anaknya dan Yi Seul tak bertemu di malam minggu, Ri Hwan mengeleng, Nyonya Park berpikir Yi Seul sibuk, Ri Hwan juga tak tahu dengan hal itu, Sang ibu tahu keduanya itu jadi sering bertemu. Ri Hwan merasa itu karena pergelangan kakinya yang terkilir
“Kau pikir hanya karena kau dokter pengobatan tradisional? Dia datang padamu karena menyukaimu. Apa Dia cuma berobat, lalu pulang? LaluT idak makan dan Minum bersama?” tanya ibunya penasaran, Ri Hwan mengangguk.
“Ah... apa ibu tahu kalau Haeng Ah minumbir sebelum suntik flu?” ucap Ri Hwan khawatir. Nyonya Park terlihat kesal anaknya membahas Haeng Ah dan menduga keduanya bertemu. Ri Hwan kaget ibunya bisa mengetahuinya.
“Aku melihatmu saat keluar. Kenapa kesana tengah malam?” tanya Nyonya Park, Ri Hwan mengatakan ada sesuatu dan ibunya tak perlu tahu
Ri Hwan pikir Haeng Ah tak perlu kerumah sakit hanya untuk suntik flu. Nyonya Park menceritakan Haeng Ah cuma disuntik saline karen bau alkohol dan meminta agar tak memberitahunya. Ri Hwan pun mengucap syukur.
Ibunya kembali mencari tahu tentang Yi Seul hanya datang lalu pulang. Ri Hwan meminta ibunya agar membiarkan Haeng Ah sendiri. Nyonya Park menjelaskan kalau ada tujuan dengan menyuruh Haeng Ah yang mungkin pingsan saat datang kerumah sakit, dikarenakan ayah dan ibunya meninggal saat masuk rumah sakit.

“Kenapa khawatir pada hal tak masuk akal begitu? Itu bukan penyakit turunan dan hanya kesialan yang menimpa Haeng Ah.” ucap Ri Hwn membela
“Dia sering sekali mual dan muntah sejak kecil. Saat ujian, dia tak bisa makan karena pencernaan terganggu, lalu saat mengerjakan tes masuk radio, perutnya kejang sampai dua kali. Tapi dia tak pernah memeriksakannya...” tegas Nyonya Park
“Aku tahu ibu sedih atas kematian orang tuanya. Setelah kematian paman Joon Hyuk, aku tahu ibu terpengaruh. Jangan bebankan kenangan masa lalu itu dengan Haeng Ah.” pinta Ri Hwan, Nyonya Park marah dengan membanting sumpitnya.
“Aku berharap Haeng Ah pergi dan pikir dia akan menikah dan pergi jauh setelah usianya 30. Aku semakin tak suka dia masih ada disini dn merasa dia itu bayangan hitam yang selalu mengikutimu. Kalau ada kesempatan untuk Haeng Ah pergi... Kalau terjadi sesuatu padanya...” ungkap Nyonya Park penuh kebencian.
“Ibu, bicara seperti itu pada Hang Ah?” teriak Ri Hwan berdiri menatap ibunya, Nyonya Park menyuruh Ri Hwan duduk kembali, terlihat matanya mulai kabur.
Ri Hwan bertanya apakah ibu berbicara seperti itu pada Haeng Ah. Nyonya Park pikir kalau memang iya kenapa. Ri Hwan menegaskan tak akan bertemu dengan ibunya lagi, Nyonya Park yakin kalau anaknya tak mungkin melakukan itu karena ia ibunya sementar Haeng Ah itu bukan siapa-siapa. 

Telp di meja Haeng Ah berbunyi tapi Haeng Ah bersama Tae Hee dan Se Young sedang makan diruang rapat membicarakan tentang gadis yang ingin melompat bunuh diri sebelumnya. Akhirnya si pria muda yang mengangkatnya.
“Direktur Kang Seok Jun menelpon.Dia ingin PD dan penulis Noh datang ke kantornya.”ucap Si pria muda masuk ke dalam ruangan, Haeng Ah seperti tak bisa mengunyah toppokinya karena kaget.
“Ya ampun! Dia mau jadi bintang tamu, karena Aku yang mengundangnya. Sebelumnya Aku bertemu di elevator tadi. Sikapnya seolah tak mau datang,tapi cepat juga menelpon kemari. Dia pasti marah kalau tak diundang.” komentar Se Young bangga, tapi si pria terlihat tak yakin Suk Joon akan datang.
Se Young yakin akan datang karena menurut peramalanya sebagai penyelamat acara radio. Haeng Ah dan Tae Hee saling melirik karena harus bertemu dengan Suk Joon gara-gara penyiar baru mereka yang sok tahu.
bersambung ke part 2  

sumber:http://korean-drama-addicted.blogspot.com/

Sinopsis Bubblegum Episode 4 Part 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top