Wednesday, November 4, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 4 Part 2

Dong il datang menemui Suk Joon dengan Haeng Ah dan Tae Hee yang sudah ada diruangan. Suk Joon hanya ingin tahu tentang tamu yang akan diundang diacara radio adalah orang-orang yang memiliiki banyak rumor jadi hanya ingin datang mengkonfirmasi, setelah itu menyuruh keduanya keluar.
Tae Hee dan Haeng Ah keluar, tapi Suk Joon memanggil Haeng Ah agar tetap diruanganya. Dong il yang tadinya ingin duduk akhirnya mempersilahkan keduanya untuk berbicara. Saat berjalan dilorong Tae Hee melirik sinis menanyakan alasan Suk Joon melakukan itu pada Haeng Ah.Dong il mengaku tak mengetahui apapun, 
“Direktur itu. Haeng Ah bilang sudah berakhir, kenapa dia masih seperti itu?” tanya Tae Hee
“Mungkin karena dia masih cinta dan Dia tak ingin mengakhirinya.” pikir Dong il, Tae Hee tak percaya Suk Joon bisa bicara seperti itu. Dong Il menegaskan bahwa mana mungkin Suk Joon bisa berbicara seperti itu. Tae Hee memilih untuk pergi meninggalkanya. 

Haeng Ah menegaskan bahwa keadaan seperti ini dilarang. Suk Joon membalas bahwa Haeng Ah yang melanggar aturan dan menanyakan alasan tak mengangkat telpnya. Haeng Ah pikir tak perlu memanggil Tae Hee juga, Suk Joon sudah tahu Haeng Ah tak akan mungkin datang kalau hanya memanggilnya dan menyuruhnya duduk. Haeng Ah mengajak untuk bicara diluar
Suk Joon tetap menyuruh Haeng Ah untuk duduk, Haeng Ah merasa tak nyaman berada diruangan dan memberikan pilihan untuk mengikutinya kalau memang mau bicara lalu keluar ruangan lebih dulu.
Dong il sambil berjalan meminta supaya Tae Hee itu tak membenci Suk Joon yang terlihat dingin dan kasar karena belum mengenalnya. Tae Hee mengaku sebagai penggemarnya dari dulu karena seksi Dong il merasa itu karena Suk Joon mengunakan jas dan rambut yang rapi dan sudah melihat saat disauna temanya itu terlihat jelek.
Tae Hee memberikan senyumanya, Dong il seperti terpana, lalu merasakan juniornya itu membayarngkan saat sauna. Tae Hee mengaku bukan pengemar Suk Joon lagi karena mengunakan kekuasannya dengan sewenang-wenang karena harus memanggil Dong il datang padahal hanya ingin berbicara dengan Haeng Ah. 

Di rooftop
Suk Joon mengaku juga menderita dan menyadari sulit untuk Haeng Ah yang tak bisa menceritakan hubungan mereka, tapi menurutnya itu karena Haeng Ah yang tak membicarakanya.
“Kau yang bilang takkan menghubungiku kalau aku sibuk. Lalu ulang tahunmu, Kau bilang mau merayakan dengan temanmu dan Kau bilang tak suka bicara kalau sakit. Saat kau sakit, kau kabur saat aku sedang ambil mobil. Akan lebih baik kalau kau bilang.” jelas Suk Joon
“Kau pikir kenapa aku tak bilang? Karena kau terlalu sibuk. Kau bilang menyukaiku karena aku pengertian, kau tak perlu pedulikan ulang tahun. Kau suka aku yang kuat saat sakit, itu semua Karena aku sangat menyukaimu, tapi Sekarang sudah tidak penting.”ucap Haeng Ah. Ponsel Suk Joon berbunyi, pesan masuk kalau Presdir sedang mencarinya.
“Aku bukannya menyalahkanmu, tapi aku yang tidak tahu. Sekarang setelah aku tahu, pasti ada yang berubah. Jangan berpikir untuk kabur, tunggu saja.” pinta Suk Joon

“Tentang yang kau katakan waktu itu... Kau bilang kalau kau bisa tanpaku, pasti sudah kau lakukan dari dulu. Apa kau tahu hatiku bergetar mendengarnya? Kau tahu betapa aku ingin mendengar kalimat itu? Tapi aku tetap ingin menghentikan ini. Ada satu hal yang kupelajari tahun ini.” ucap Haeng Ah dengan mata berkaca-kaca. Ponsel Suk Joon berdering nama Presdir CBM Kim Sung Soon terlihat dilayar.
“Kita takkan berubah. Aku akan selalu seperti orang kelaparan dan  Kau takkan pernah ada waktu. ,,Aku akan semakin kesepian, lalu Kau akan semakin lelah.” ungkap Haeng Ah
Ponsel Suk Joon kembali berdering, Haeng Ah pun meminta sekali saja Suk Joon tak mengangkatnya dan menjadikan dirinya yang pertama. Suk Joon sempat terdiam lalu mengangkatnya mengaku sedang ada rapat. Haeng Ah dengan menahan tangis memilih untuk pergi, tangan Suk Joon menahannya. Haeng Ah melepaskan tangann Suk Joon perlahan mengucapkan terimakasih dan berpesan agar menjaga dirinya lalu mengucapkan selamat tinggal. Suk Joon hanya terdiam dengan ponsel ditelinganya. 

Ri Hwan pikir keadaan kaki Yi Seul lebih baik sekarang, tapi Sepertinya kemampuannya menurun karena harus datang lagi. Yi Seul  mengaku memang sedikit sakit dan kurang nyaman.
“Kau pasien yang baik, karen memang seharusnya pengobatan dilakukan sampai sembuh. Biasanya orang-orang tak datang lagi begitu baikan. Dokter gigi juga begitu,kan?” komentar Ri Hwan
“Iya, itu memang tidak baik.” ucap Yi Seul yang sengaja datang karena ingin bertemu Ri Hwan
Sambil memasang jarum akupuntur, Ri Hwan memberitahu Haeng Ah akan membelikan tas yang baru. Yi Seul pikir tak perlu dan akan bicara dengannya. Ri Hwan tetap merasa Haeng Ah harus menganti tasnya bahkan harusnya lebih bagus.
Yi Seul tersenyum mendengar perkataan Ri Hwans seperti memberikan perhatian padanya. Ri Hwang tiba-tiba menghela nafas karena seharusnya Haeng Ah bisa mengontrol diri saat mabuk yang membuangnya khawatir. Yi Seul denan wajah cemberut berkomentar Haeng Ah itu punya kebiasaan buruk saat mabuk, Ri Hwan mengakuinya kalau Haeng Ah itu kuat seperti atlet olimpiade, tapi kali ini memang benar-benar tak bisa. 

Haeng Ah menganti foto dari Suk Joon dari ponselnya, sementara Ji Hoon yang kembali mabuk dari kedai pinggir jalan menemukan sebuah sopir penganti, yang mengaku berkerja sendiri tanpa membawa nama perusahaan.
Akhirnya Haeng Ah menaiki taksi dan tiba-tiba sopir mengerem mendadak saat berbelok karena sedang ada pemeriksaan oleh polisi. Haeng Ah pun mengajak ngobrol supir taksinya, dengan bertanya apakah ia suda makan. Sopir taksi mengatakan sudah pasti, karena mereka bisa makan dan minum kopi hanya dalam waktu 15 menit.
Haeng Ah tersenyum mendengarnya, Sopir taksi pun senang karena memiliki penumpang yang tersenyum, karena ketika macet dan penumpang marah-marah membuatnya makin pusing, lalu melihat Haeng Ah yang terlihat sangat lelah dan menduga itu sakit. Haeng Ah merasa tak sakit tapi sopir itu tetap yakin kalau Haeng Ah sedang sakit.
Lalu Haeng Ah menyadari barang-barangnya sempat jatuh saat mengerem mendadak dan mengambil lipstiknya, memoleskan agar tak terlihat pucat. Sesampainya didepan minimarket, Haeng Ah turun tanpa menyadari ponselnya tertinggal dan Suk Joon terus menelpnya. 

Ji Hoon terbangun dari tidurnya saat jendela mobilnya diketuk, berpikir sudah sampai rumah. Polisi menduga Ji Hoon itu pindah dari tempat duduk pengemudi, Ji Hoon sadar sopir pegantinya sudah tak ada, dan bertanya kemana pria itu. Polisi meminta Ji Hoon meniup alat pendeteksi alkohol, Ji Hoon mengaku tak menyetir mobilnya dalam keadaan mabuk.
Polisi yakin Ji Hoon pindah ke kursi sebelahnya saat polisi datang, Ji Hoon mengeleng. Akhirnya polisi meminta Ji Hoon keluar dari mobil, Ji Hoon kebinggungan kemana perginya orang itu, dengan setengah sadar melihat pria yang mengaku sopir penganti sudah pergi meninggalnya, ternyata pria itu juga mabuk, tapi polisi tetap tak percaya dengan membawa Ji Hoon. 

Ri Hwan memberikan secangkir teh, Yi Seul seperti ingin mengajak Ri Hwan untuk bertemu tapi ponsel Ri Hwan lebih dulu berdering. Ri Hwan memberitahu itu pasti dari Ji Hoon dan harus mengangkatnya kalau tidak temanya itu pasti akan menelpnya terus menerus. Yi Seul pun mempersilahkanya.
Ji Hoon memberitahu sedang ada dikantor polisi, Ri Hwan tak percaya bertanya bar dimana lagi yang didatanginya. Ji Hoon berusaha meyakinkan kalau memang benar ada di kantor polisi. Ri Hwan tetap tak percaya berpesan agar temanya tak banyak minum, Ji Hoon mengeluh kalau Ri Hwan tak datang nanti ia tak bisa pulang.Ri Hwan menegaskan kalau sedang tak ingin minum jadi tak akan datang. 

Ri Hwan kembali mengeser kursinya menanyakan apakah Yi Seul menyukai tehnya, Yi Seul mengaku lebih menyukai teh dibanding kopi, terdengar kembali ponsel Ri Hwan yang berdering, tapi Ri Hwan tak mengubrisnya. Ri Hwan melihat dengan jenis tubuh Yi Seul, wajah saja kalau lebih menyukai kopi tapi tak boleh berlebihan.
Yi Seul mengaku tak terlalu banyak meminumnya, Ri Hwan melihat sesuatu lalu berpikir itu terlalu berat. Yi Seul seperti tersindir mengatakan kalau ia tak berat. Ri Hwan menunjuk jam tangan yang dipakai Yi Seul, wajah Yi Seul terlihat malu, lalu Ri Hwan memuji jam tangan itu cocok dipakainya.
“Aku mau tanya sesuatu, Apa Kau suka jam tangan?” tanya Yi Seul yang sengaja membeli jam pasangan agar bisa dipakai bersama.
“Tidak, pergelanganku sering kupakai bekerja. Jadi tak nyaman untukku.” ungkap Ri Hwan, Yi Seul terlihat sedih karena sudah membuang kotaknya dan tak bisa dikembalikan. 

Ji Hoon kebinggungan karena Ri Hwan tak mengangkatnya, lalu mencari teman lainnya dengan menelp Haeng Ah yang pasti akan datang menjemputnya. Tapi ternyata yang mengangkat seorang pria, polisi menceritaka kalau sopir taksi yang menemukan ponsel itu menyerahkanya ke kantor polisi, jadi meminta Ji Hoon memberitahu si pemilik ponsel agar datang ke kantor polisi.
Ri Hwan yang masih bersama Yi Seul kesal menerima telp dari Ji Hoon yang menelp ke kliniknya. Ji Hoon memberitahu tentang ponsel Haeng Ah yang ada dikantor polisi. Ri Hwan binggung karena sebelumnya, Ji Hoon berkata sedang ada dikantor polisi. Yi Seul yang mendengarnya ikut kaget. 

Haeng Ah mengumpat pada dirinya sendiri karena bisa kehilangan ponselnya. Di klinik, Yi Seul sengaja menunggu Ri Hwan untuk naik mobilnya saja, Ri Hwan menolaknya. Yi Seul juga tak melihat mobil Ri Hwan yang ada dipakiran. Ri Hwan menceritakan mobilnya itu dibawa Ji Hoon dan akhirnya malah seperti ini.
“Kita searah.Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi kalau polisi aku bisa bantu.” ucap Yi Seul ingin memberikan pertolongan.
“Tidak, tak usah khawatir.” kata Ri Hwan tak usah khawatir
“Tidak.... Aku akan mengantarmu.” tegas Yi Seul dengan melotot, Ri Hwan pun akhirnya setuju dengan mengucapkan terimakasih. 

Ji Hoon tertidur dibangku, seseorang sengaja menendangnya agar bangun, dengan sedikit terjatuh tersenyum melihat yang datang. Tae Hee melirik sinis pada Ji Hoon yang memintanya untuk datang. Ji Hoon berusaha menjelaskan tentang kejadiannya, tapi Tae Hee seperti tak peduli dan langsung pergi menemu polisi.
“Saya mau menjamin orang ini.” ucap Tae Hee, polisi meminta IDnya.
“Jadi Anda bukan keluarganya? Apa Anda pacarnya?” tanya polisi
“Apa harus pacarnya baru bisa menjamin?”tanya Tae Hee sinis, Polisi mengatakan tidak perlu
“Kalau begitu aku bukan pacarnya.” ucap Tae Hee, Ji Hoon mengaku kalau mereka pernah berpacaran. 

Ji Hoon merasa kedinginan menanyakan kemana mereka akan pergi, Tae Hee mengatakan akan pergi ke tempat yang tak akan diketahuinya, karena Ji Hoon sudah bebas menyuruhnya pergi ke bar dan bermain dengan wanita yang disukainya. Ji Hoon mengaku tak kesana lagi.
“Aku menyukai orang lain saat ini. Karena itu aku datang. Meski aku melihatmu, aku takkan marah lagi sekarang.” ungkap Tae Hee dengan sinis
“Siapa dia? Duda yang istrinya selingkuh saat menemani anaknya sekolah keluar negeri.” tanya Ji Hoon mengejek
“Sekarang dia single, pria yang tak melakukan hal bodoh, tak minum setiap hari sepertimu dan tak pergi ke bar yang dilayani wanita.” tegas Tae Hee. Ji
“Apakah Kau sudah tidur dengan pria itu?” tanya Ji Hoon, Tae Hee langsung menamparnya.
“Kau pikir semua orang sepertimu? Kau pikir orang akan tidur dengan sembarang orang saat mabuk? Jangan pernah hubungi aku seumur hidupmu. Atau aku akan membunuhmu.” teriak Tae Hee kesal lalu pergi meninggalnya. Ji Hoon hanya bisa berterik menjelaskan kalau pelayan bar sengaja mengirimnya pesan sebagai pelanggan, tapi Tae Hee tetap tak bergeming. 

Ri Hwan mendatangi kantor polisi untuk mengambil ponselnya. Polisi bertanya hubungannya dengan Haeng Ah, Ri Hwan mengaku sebagai adiknya, Polisi meminta KTPnya, melihat nama depan mereka berbeda. Ri Hwan menjelaskan bahwa bukan kakak kandung tapi mereka berdua tinggal satu rumah sejak kecil karena orang tua Haeng Ah sudah meninggal dan berusaha membuktikan dengan cara menelpnya.
 “Yang muncul bukan nama anda, tapi itu "Adik kecil Park."” ucap Polisi melirik ke ponsel milik Haeng Ah.
“Saat kami kecil, Haeng Ah bilang pada paman dia ingin adik...” jelas Ri Hwan terpotong karena Suk Jooon datang dan ingin mengambil ponsel.
Polisi melihat nama yang disimpan Haeng Ah itu “Kang Suk Joon Sunbaenim” Suk Joon pun memberikan ID Cardnya. Polisi terkesima melihat wajah Suk Joon memberikan berkas agar mengisi datanya lalu memberikan ponselnya. Ri Hwan tak terima karena lebih dulu datang. Polisi menjelaskan Ri Hwan tak bisa membuktikan hubungan dengan pemilik ponsel, lalu bertanya pada Suk Joon apakah mengenalnya.
Suk Joon mengangguk, menyuruh Suk Joon untuk berhenti mengikuti Haeng Ah. Polisi kaget mengetahui Ri Hwan ternyata seorang penguntit. Ri Hwan menghela nafas menegaskan bahwa ia adalah kakaknya dan ibunya sebagai wali dari Haeng Ah. Suk Joon selesai mengisi datang dan langsung keluar kantor. 

Yi Seul yang baru keluar dari kantor polisi melihat Haeng Ah yang berjalan menuju ke kantor akhirnya memutuskan untuk berbalik arah. Sementara Ri Hwan meminta ponsel milik Haeng Ah, Suk Joon pikir Ri Hwan tak memiliki haknya. Ri Hwan menegaskan bahwa Suk Joon lah yang tak memiliki hak.
Suk Joon mengejek Ri Hwan itu bodoh dan mengerti, kalau sebelumnya Ri Hwan mengatakan bukan seorang kakaknya. Ri Hwan pun mulai sekarang akan menganggap dirinya sebagai seorang pria jadi meminta ponselnya. Suk Joon tahu Ri Hwan sedang berkencan.
“Iya, pacarku Haeng Ah.... Jadi berikan padaku.” tegas Ri Hwan, saat itu Haeng Ah baru saja sampai didepan kantor polisi melihat keduanya.

“Sudah tak ada lagi yang ingin kukatakan... Mana HPku.” ucap Haeng Ah meminta, Suk Joon hanya menatapnya.
Haeng Ah mengerti menyuruh Suk Joon menyimpanya saja, mengajak Ri Hwan pergi. Ri Hwan tetap meminta ponsel milik Haeng Ah, Suk Joon menyakinkan apakah benar Ri Hwan itu bukan seorang kakak tapi pria.
“Aku pacaran dengannya, Bisakah kau berhenti menghubungiku? Lakukan sesukamu, Kau buang atau simpan. Hal yang ingin kusembunyikan dalam HP itu hanyalah fotomu.” tegas Haeng Ah lalu pergi meninggalkanya. 

Suk Joon memanggil Haeng Ah, Ri Hwan yang berjalan disampingnya diminta untuk tak menoleh dan menahan agar tak berkelahi, serta tak ingin membicarakan tentang ponselnya yang hilang. Haeng Ah bertanya-tanya apakah Suk Joon masih disana, Ri hwan langsung menoleh, Haeng Ah kesal karena sebelumnya menyuruhnya tak menoleh.
Ri Hwan memberitahu kalau Suk Joon masih berdiri, Haeng Ah pun meminta agar mengengam tanganya atau menaruh diatas pundaknya sebagai balas budi. Ri Hwan binggung bertanya apakah harus sekarang. Haeng Ah mengejek tahun depan saja,
“Dia tahu ini bohong.Tapi jika kita lakukan didepannya, harga dirinya terlalu tinggi untuk mengejarku lagi, Cepat lakukan.... Yang biasa dilakukan orang-orang. Pegang bokongku atau yang lain.” perintah Haeng Ah.
“Apa Kau sudah mandi?” tanya Ri Hwan polos
“Kau mau pegang yang di dalam baju? Dasar gila!!! Kau ingin menyentuh bagian lainnya atau hal semacam itulah.” keluh Haeng Ah

Ri Hwan pun akhirnya mengenggam tangan Haeng Ah dan diam ditengah zebra cross. Haeng Ah ingin tahu ekpresi Suk Joon setelah melihatnya. Suk Joon memanggil Haeng Ah menyuruh menghentikan hal yang sia-sia itu dan mengambil ponselnya.
Keduanya sama-sama menengok sambil bergandengan tangan, Suk Joon berjalan mendekat, Ri Hwan merasakan genggam tangan Haeng Ah melihat Suk Joon yan mendekat, lalu bertanya apakah Haeng Ah itu benar-benar tak ingin bertemu dengan lagi. Haeng Ah pikir Ri Hwan sudah mendengar sebelumnya.
Ri Hwan meminta agar Haeng Ah tak kaget dan langsung menciumnya, Haeng Ah benar-benar kaget dan tak bisa menutup matanya. Suk Joon melihat dengan jelas keduanya berciuman, Yi Seul memberhentikan mobilnya melihat Ri Hwan yang berciuman ditengah jalan. Ri Hwan melihat mata Haeng Ah masih melotot kaget, lalu menutupnya dengan tangan dan kembali menciumnya. 
bersambung ke episode 5 
sumber:http://korean-drama-addicted.blogspot.com/

Sinopsis Bubblegum Episode 4 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top