Tuesday, November 17, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 7 Part 1

Restoran Secret Garden, Haeng Ah layaknya seorang suster ingin masangkan sarung tangan sebelum operasi. Ri Hwan malah heran melihat sikap Haeng Ah yang menurutnya aneh.
“Kau tak pernah nonton drama, ya? Ini yang biasa dokter itu lakukan dan Kau dokter juga” jelas Haeng Ah, Ri Hwan pun meminta sarung tangan dan Haeng Ah memasangkanya.
“Pasien "Kubis" sudah dibius, tapi Kenapa jari-jarimu sangat panjang?” tanya Haeng Ah heran melihat jari-jari Ri Hwan tak semua masuk ke dalam sarung tangan.
“Tidak kok, sarung tangan ini yang kekecilan.” jawab Ri Hwan
“Kenapa matamu seperti itu? Kelopak mata gandamu sangat tajam.” komentar Haeng Ah terlihat heran menatap mata Ri Hwan.
Ri Hwan merasa memang seperti dulu seperti itu, Haeng Ah juga melihat bagian bibirnya, merasa Ri Hwan itu pakai lip gloss. Ri Hwan kesal karena dari dulu memang bibirnya lembab, Haeng Ah pun menyuruh Ri Hwan untuk memakai sendiri sarung tanganya lalu masuk ke ruangan lain. 

Haeng Ah membawakan tissue kembali melihat tinggi Ri Hwan tinggi bertambah, Ri Hwan menegaskan tingginya semakin bertambah sejak SMA dan sudah menyadarinya, Haeng Ah merasa tak seperti itu.
“Kau bisa merasakan perasaaanku juga, 'kan? Semuanya menjadi berbeda, baru, dan menakjubkan.” goda Ri Hwan
“Tidak!!! Tak ada yang berubah. Semuanya sama saja.”ucap Haeng Ah menyangkal.
“Ahh...Bagaimana ini? Kau pasti sangat menyukaiku.” ejek Ri Hwan, Haeng Ah tetap menyangkalnya, dari lantai bawah paman No mendengar pembicaraan keduanya lalu memilih untuk pergi ke dapur.
Sementara Ri Hwan menatap Haeng Ah dan memujinya sangat cantik, Haeng Ah terlihat geli mendengar Ri Hwan yang berani memujinya, bukan seperti teman masa kecilnya yang dulu.

Di dapur, Paman No membahas dengan Bibi Gong tentang hubungan Ri Hwan dan Haeng Ah. Bibi Gong mengaku khawatir tentang hal itu. Paman No merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan karena keduanya akhirnya saling menyukai.
“Aku hanya kasihan pada Sun Young. Dianggap serakah atau tidak, yang dia miliki hanyalah Ri Hwan.” ungkap Bibi Gong
“Dan kau tak kasihan pada anak-anak itu? Kenapa mereka harus terbebani oleh keinginan orang tua mereka? Setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri.” tegas Paman No
“Mereka pasti bisa menghilangkan perasaan masing-masing. Orang lain mungkin tak setuju, tapi tidak untuk kita. Kau tahu sendiri kan bagaimana kehidupan Sun Young.” jelas Bibi Gong
Paman No menyuruh Bibi Gong diam dan meminta untuk membicarakan hal itu pada Haeng Ah lalu keluar dari dapur. Bibi Gong berbicara sendiri kalau tak ada satupun orang yang berada di sisi Nyonya Park.

Di sisi restoran lainya.
Tae Hee tak ingin berdebat di acara kimchi pembuatan Kimchi jadi memberikan pilihan dirinya yang pergi atau Ji Hoon yang pergi. Ji Hoon meminta Tae Hee tak marah karena sengaja datang  memakai pakaian favoritnya. Tae Hee tak peduli, Ji Hoo pikir kalau memang tak peduli, tak mungkin sebelumnya Tae Heedatang ke kantor polisi.
“Selama setahun, aku sudah memikirkan kalimat yang harus aku lampiaskan padamu. Jika aku memikirkan bagaimana kau menyentuh wanita itu seperti kau menyentuhku, Tapi, aku tetap ke kantor polisi hanya untuk membantumu. Karena bagiku, kau hanyalah pemabuk yang menyedihkan.” tegas Tae Hee, Ji Hoon berjanji akan berubah.
“Tidak perlu. Kenapa kau mau berubah? Seseorang sepertimu tak akan bisa berubah. Aku menyukai seseorang yang tak harus mengubah apapun.” ucap Tae Hee.
“Kau bilang dia pria yang aneh, duda, dan gelandangan yang miskin.” ejek Ji Hoon mengenai pria yang disuka Tae Hee.
“Dibandingkan dengan orang sepertimu yang suka mabuk-mabukan, Duda miskin sepertinya jauh lebih baik.” balas Tae Hee.
“Kenapa kau menyukai dia? Dia tak pantas untuk mendapatkan hatimu.” komentar Ji Hoon

Tae Hee juga tak mengerti sebelumnya juga berusaha untuk menyukai Ji Hoon dan percaya mantan pacarnya itu tak selingkuh dan bisa berhenti mabuk-mabukan, dengan kesukaannya berbelanja lalu menyukai pria miskin membuat dirinya stres apabila nanti menemui ibunya.
Ji Hoon pikir karena dari itu mengajaknya itu bisa memulai kembali, Tae Hee menahan tangis menyuruh Ji Hoon untuk diam. Ji Hoon merasa Tae Hee  kejam karena selalu saja menyuruhnya untuk diam dan menegaskan dirinya tak akan menyerah untuk mendapatkan kembali cinta Tae Hee.
“Ahh.... Ini dia Ahjumma galau dan Ahjussi yang lucu.” ejek Dong Hwa yang tiba-tiba datang, lalu berkomentar celana Ji Hoon dengan warna terang padahal mereka akan membuat kimchi.
Ji Hoon membela Tae Hee itu bukan Ahjumma, Dong Hwa memilih untuk pergi. Akhirnya semuanya berkumpul di luar restoran dengan meja panjang membuat kimchi dalam ukuran banyak dan besar bersama-sama. 

Ri Hwan akan mengambil lobak, dengan sengaja Paman No menyengkal kakinya yang membuatnya terjatuh.
“Siapa yang disalahkan jika Haeng Ah menangis?” tanya paman No, Ri Hwan menjawab dirinya
“Dan jika Haeng Ah kelaparan?” tanya paman No, Ri Hwan menjawab dirinya
“Dan jika Haeng Ah terjatuh?” tanya paman No, Ri Hwan tetap menjawab dirinya, akhirnya paman No menyuruh Ri Hwan berdiri. 

“Apa kau harus menunggu selama 30 tahun untuk bertindak?” komentar Paman No, Ri Hwan pun berjanji akan menjaganya.
Paman No mengumpat Ri Hwan yang menatapnya lebih tinggi dan menyuruhnya bertekuk. Ri Hwan pun menekuk dengkulnya supaya bisa sejajar. Paman No masih belum yakin dengan Ri Hwan. Ri Hwan meyakinkan tak akan membuatnya menangis, kelaparan dan akan memegang tangannya saat terjatuh. Paman No menyuruh Ri Hwan kembali berdiri tegak.
Setelah itu keduanya berjalan kedapur, Paman No menanyakan tentang Nyonya Park mengenai hubungan mereka. Ri Hwan mengatakn akan berbicara jadi meminta paman No tak perlu  khawatir.

Nyonya Park melihat sebuah ruangan yang tak seperti bau rumah sakit. Seorang perawat menceritakan mereka menerima pesanan dalam jangka waktu yang lama, jadi pasien  akan merasa seperti di rumah. Nyonya Park melihat sinar lampu yang redup tapi menyilaukan matanya dan berbayang.
“Pencahayaannya juga bagus, Pasien demensia cenderung mudah menjadi stress. Terutama jika bagi nenek-nenek.. Oh ya, apakah ayah atau ibu anda yang akan tinggal di sini?.” jelas perawat, Nyonya Park seperti tersinggng dirinya sudah dianggap seperti nenek tua renta.
“Selama di sini, pasien tak harus ditemani wali, 'kan? Pasien akan diurus oleh suster.” tanya Nyonya Park
“Iya, tapi kami akan meminta kontak keluarga untuk berjaga-jaga. Jangan khawatir. Selama di sini, kami akan pastikan pasien menerima yang terbaik. Mereka tak akan tertekan untuk mengingat apa yang sudah mereka lupa.  Tapi, sebenarnya anggota keluargalah yang lebih tertekan. Mereka pasti sedih melihat orang tuanya menjadi seperti anak kecil, kan? Aku mereka pasti secara perlahan bisa menerimanya.” cerita Si perawat sambil berjalan bersama Nyonya Park 

Haeng Ah datang ke dapur memberitahu Ri Hwan untuk menaruh di laci bagian tengah agar tak beku, Ri Hwan mengatakan sudah melakukanya. Haeng Ah meminta tolong agar Ri Hwan merapihkan rambut bagian depannya yang jatuh, Ri Hwan malah mengodanya dengan mengusap wajahnya, Haeng Ah meminta untuk merapihkan rambutnya.
Ri Hwan menurut tapi mengodanya dengan memegang wajah Haeng Ah, akhirnya Haeng Ah mengancam akan mengoles saus kimchi dengan sarung tanganya. Ri Hwan malah memegang tanganya sambil mengajak Haeng Ah untuk menari, Haeng Ah tertawa menyuruh Ri Hwan berhenti.
“Ataukah... Kau melakukan ini.... Hore! Kim Haeng Ah dan Park Ri Hwan akhirnya berpacaran.” kata Ri Hwan sambil mengangkat tangan Haeng Ah.
“Aku akan memukul kepalamu.” ancam Haeng Ah berusaha melepaskan tanganya.
“Cobalah!! Kita lihat bagian mana yang bisa kau sentuh.” ejek Ri Hwan dengan sengaja mendekatkan bibirnya, Haeng Ah mencoba menghindar.
Tiba-tiba terdengar bunyi peralatan makan yang jatuh, dari jendela terlihat lirikan sinis Dong Hwa mengetahui keduanya sudah berkencan. Haeng Ah terlihat binggung, Ri Hwan pasrah karena semua yang ada didalam restoran sudah mengetahuinya. 

Haeng Ah dan Ri Hwan baru saja selesai makan siang, Se Young dan Joon So baru masuk restoran melihat keduanya akan keluar. Joon So ingin menyapa Haeng Ah tapi Se Young buru-buru menariknya dan bersembunyi dibalik mobil sampai keduanya menjauh dari restoran.
“Kenapa kita harus lari? Kita tak melakukan sesuatu yang salah, 'kan?” komentar Joon So, Se Young menyadarinya untuk apa mereka bersembunyi, seperti takut ketahuan antara hubungannya dengan Joon So, yang jauh lebih muda darinya. 

Sambil berjalan, Ri Hwan menceritakan Paman memintanya untuk segera memberitahu ibu. Haeng Ah pikir lebih baik ia saja yang bicara padanya. Ri Hwan agar ragu berpikir akan memberitahunya nanti saja karena mereka masih belum jelas.
“Tidak. Kita harus segera memberitahunya sebelum bibi yang mengetahuinya sendiri.” tegas Haeng Ah
“Baiklah, ayo temui dia bersama. Apa Kau khawatir?” tanya Ri Hwan
“Tidak.... Aku hanya tak ingin mengecewakannya.” jelas Haeng Ah
“Bukannya kau sudah sering mengecewakannya?” ejek Ri Hwan, Haeng Ah hanya tersenyum.
Didepan minimarket, Ri Hwan mengambil dua es krim dan Haeng Ah membayarnya. Setelah Haeng Ah keluar, Ri Hwan langsung menyuapinya es krim dan dibelokan Ri Hwan mengambil batang es dari mulut Haeng Ah lalu membuangnya ke tempat sampah

“Karena itulah aku tak mau lagi mengecewakannya dan tak ingin absen dari pengobatan lagi. Setelah phobia rumah sakitku hilang, aku bisa sering menemuinya.” jelas Haeng Ah.
Lalu ia teringat kedatangan tamu psikiater di radio dan bertanya pada apakah memang ada penyakit Oriental Neuropsychiatry. Ri Hwan terdiam, Haeng Ah merasa Ri Hwan tak tahu karena hanya melakukan akupunktur dan memberikan obat herbal.
Ri Hwa melihat Haeng Ah meragukan pekerjaanya, lalu bertanya siapa namanya. Haeng Ah dengan singkat menjawab  "Adik Park". Ri Hwan meminta Haeng Ah mengubahnya karena sebelumnya dikantor polisi dianggap penguntit. Haeng Ah terlihat binggung. Ri Hwa menegaskan kembali saat Haeng Ah kehilangan ponsel dan pertama kali mereka berciuman.
Haeng Ah ingat dengan itu lalu mengeluarkan ponselnya, Ri Hwan langsung mengambilnya dah mengubah namanya sendiri. Haeng Ah terkejut melihat nama Ri Hwan dalam ponselnya, Ri Hwan meminta pacarnya itu tak mengubahnya, lalu ponselnya berdering.  

Ji Hoon berjalan masuk ke sebuah restoran memberitahu Ri Hwan bahwa USBnya ada didalam laci ketiga, kalau tidak ada di meja, setelah itu meminta salah satu file sebagai  data yang mahal, jadi meminta hati-hati. Dong Hwa datang langsung duduk didepan Ji Hoon.
“Hei, Ahjussi.... Apa kau punya banyak uang? Kau menonton video porno yang berbayar?” komentar Dong Hwa, Ji Hoon panik karena satu restoran bisa tahu.
“Ada kalanya kita perlu membeli hal-hal seperti itu dan Kau sedang apa di sini?” bisik Ji Hoon. Dong Hwa mengatakan bolos dan ingin makan udon.
“Ahjussi, kau tinggal dengan Ri Hwan-oppa? Apa aku bisa menginap di rumahmu malam ini?” tanya Dong Hwa blak-blakan, si pemilik restoran terkejut mendengarnya.
“Tidak! Tidak! Kalian telah salah paham. Aku bukanlah orang yang seperti dipikiran kalian.” ucap Ji Hoon meminta semua orang direstoran tak menganggapnya sebagai hidung belang. 

Ri Hwan kembali keruangan mendapatkan USB dari tempat Ji Hoon, Haeng Ah masih tak percaya Ji Hoon bisa menulis artikel itu. Ri Hwan memberitahu bahwa Ji Hoon itu orang yang jenius bahkan disekolah mendapatkan beasiswa, jadi meminta Haeng Ah menunggu karena akan segera mengirimnya.
Haeng Ah pun mencoba bermain dengan kerangka tulang belakang seperti terjadi patah tulang lalu berpura-pura bertanya pada dokter "Dokter, apakah karir atletku berakhir sampai di sini?"lalu ia menjawab sendiri "Tidak."dan mengucapkan terimakasih.
Setelah itu memainkan patung bebek seperti sedang bertengkar karena orang tuanya, Ri Hwan sempat tersenyum lalu memberitahu tugasnya sudah selesai dan mengajak Haeng Ah minum teh bersama. Haeng Ah pun mengajak Ri Hwan minum teh ditaman lantai atas saja.

Ri Hwan memberikan jaket memiliknya pada Haeng Ah sementara ia akan mengunakan jaket milik Ji Hoon karena diluar dingin. Haeng Ah merasa Ri Hwan bosan tinggal di klinik jadi lebih baik mereka keluar saja. Ri Hwan membalas apakah Haeng Ah bosan tinggal di studio dengan memutar lagu terus menerus.
Haeng Ah pikir pernah dan melihat Ri Hwan itu sangat suka ruanganya. Ri Hwan mengaku sangat suka lalu mematikan lampu ruanganya, Haeng Ah panik karena gelap dan mencari ponselnya, Ri Hwan mendekat saat Haeng Ah menyenter wajahnya. Haeng Ah langsung menjerit dan mendorong wajah Ri Hwan sampai terbanting ke pintu. 

Di restoran
Dong Hwa melihat Ri Hwan sangat kejam padahal selama ini sangat menyukainya. Ji Hoon berkomentar Dong Hwa tak mengerti cinta orang dewasa, keduanya itu saling mencintai dan bertengkar karena adanya perbedaan, setelah itu menyadari akan mati tanpa pasangan mereka itu.
“Apa hubungan orang dewasa segila itu? Apa seperti itu hubunganmu dengan Ahjumma yang tadi?” tanya Dong Hwa, Ji Hoon mengakuinya.
“Ahjussi, Apa Kau masochist dan suka dipukuli juga?” tanya Dong Hwa, Ji Hoon kembali panik karena semua pengunjung mengarahkan padanya.
“Kalian salah paham! Aku bukanlah seperti yang kalian pikirkan.” ucap Ji Hoon lalu menyuruh Dong Hwa kembali minum walaupun sudah terlihat sedikit mabuk. 

Se Young dan Joon So makan malam di restoran mewah dengan minum bir membicarakan masalah adegan ciuman yang tidak ada chemistrynya. Joon So merasa adegan ciuman dalam drama  "For Whom the Bell Tolls" adalah yang terbaik. Se Young ingat saat sang aktor bertanya menaruh hidung dimana lalu berciuman.
Joon So menceritakan drama "When Harry Met Sally", Se Young tahu karena drama itu tayang di zamannya dan berpikir Joon So tak tahu drama "Feeling.". Joon So menceritakan keluarganya punya toko kaset jadi bisa  "The Secret of the Red Billiard Ball."Se Young langsung menutup mulut Joon Soo takut ada orang yang bisa mendengarnya. Joon So terlihat gugup, ketika tangan Se Young menutup mulutnya.
“Oh, dalam drama, Sally mengatakan..."Aku benar-benar membencimu." Dan kemudian mereka berciuman.” ucap Joon So, Se Young terdiam menatapnya dan terlihat gugup. 

Ri Hwan memalingkan wajahya yang cemberut, Haeng Ah meminta maaf karena sebelumnya sangat kaget jadi mendorongnya. Ri Hwan kesal berpikir harus meminta izin apabila ingin menciumnya. Haeng Ah mengeluh mereka harus ciuman terus.
“Jika kau tak mau. Apa bedanya sebelum kita pacaran dulu?” balas Ri Hwan
“Apa kau pacaran denganku hanya untuk ciuman itu?” komentar Haeng Ah
“Maksudku, dalam pacaran, ciuman itu sudah biasa.” omel Ri Hwan, Haeng Ah mengerti meminta Ri Hwan tak perlu marah dan meminta agar bisa bersabar sedikit untuk beberapa bulan saja.
“Aku pikir beberapa menit saja.” keluh Ri Hwan, Haeng Ah kesal Ri Hwan itu terburu-buru sekali
“Karena aku khawatir, kau mungkin saja berubah pikiran. Mungkin saja kau pikir ini hanya mimpi dan lari lagi. Yang Aku Mau adalah, kita sekarang cepat...” kata Ri Hwan terputus dengan ucapan Haeng Ah yang mengaku tak akan lari lagi dan tak akan bisa tak akan bisa.
“Sekarang... Aku juga menyukaimu.” ungkap Haeng Ah jujur lalu malu-malu menutup wajahnya. Ri Hwan langsung tersenyum mendengarnya dan ikut menutup wajahnya yang tersipu malu. 

Ri Hwan sudah tak bisa menunggu beberapa bulan. Haeng Ah langsung duduk merasa masih tak percaya mereka pacaran karena mungkin saja bisa saling menjauh lagi. Ri Hwan menegaskan setelah ini mereka akan  akan lebih sering lagi bertemu.
“Apa Kau tak ingat? Aku sedang mandi dan kau menerobos masuk dan berkata pada ayahmu, "Ayah, apa kau membelikanku adik? Tapi, kenapa dia putih sekali?"” jelas Ri Hwan
“Benar! Kau langsung menutup tubuhmu dengan handuk saat itu.” ucap Haeng Ah bangga menunjuk kearah bagian kelamin.
Ri Hwan langsung menutupinya dan mengatakan Haeng Ah sendiri yang bilang. Haeng Ah melihat dulu punya Ri Hwan sangat kecil, Ri Hwan melotot kaget, Haeng Ah mengubahnya kalau miliknya pendek dibanding tinggi badanya lalu berteriak kalau waktu itu masih 7 tahun jadi tak masalah apabila melihatnya. Ri Hwan berdiri dengan wajah kesal karena tak mengizinkan walaupun masih kecil. 

Dong il mengajak Suk Joon minum bersama, Suk Joon pikir akan punya banyak waktu luang sekarang. Dong il terlihat aneh melihat Suk Joon menjawab ucapanya dan bertanya tentang tawaran itu. Suk Joon mengaku sedang mempertimbangkannya. Dong il berkomentar temanya itu jadi aktif berbicara.
“Kau sendiri bagaimana? Kau tak bisa terus tinggal di kantor. Jika kau mau...” komentar Suk Joon.
“Hei sudahlah. Aku tak perlu bantuanmu. Aku memang kekurangan uang, tapi rejeki akan... Ah Rejekiku tak akan datang, tapi Semuanya pergi, bahkan gossip itu menyebar bahak aku adalah Ninja” keluh Dong il
“Jadi, kau tak akan menikah lagi?” tanya Suk Joon.
“Kenapa harus menikah? Aku sudah merasakannya sekali. Apa Kau ingin menik dan akan kembali dengan Haeng Ah?” ucap Dong il
“Jika memang melepasnya membuatnya bahagia, aku harus ikhlas, 'kan?” pikir Suk Joon.
“Kenapa pertanyaanmu sulit sekali? Jawabanku sangat jelas karena aku juga melepaskan dia. Jika kau bisa memiliki hatinya, maka pertahankan dia, tapi jika tidak, jangan... Kesepian abadi adalah saat kau bersama dengan raganya tapi tidak dengan hatinya.” jelas Dong il 

“Hal yang paling memalukan adalah, saat kau tak berani mengatakan rasa sukamu. "Bahagialah bersama dia". Itu kalimat omong kosong! Semua hanya kalimat yang dikatakan orang yang jenuh dengan pacarnya. Jika kau tak bisa hidup tanpanya, itu artinya kau sangat menyukainya.” jelas Dong Hwa
“Ya, karena itulah aku ingin dia kembali padaku.” ucap Ji Hoon, Dong Hwa mendukung Ji Hoon untuk terus memperjuangkannya dan keduanya high five. 

Suk Joon duduk diam sambil minum mengingat ucapan Ri Hwan saat akan memberikan kue pada Haeng Ah “Dia merasa akan gila, saat harus menunggumu setiap hari.Dia menunggumu dan rasanya sakit seperti tertusuk jarum tiap hari.”  lalu ucapan Haeng Ah saat ada diruang siaran.
“Cintaku berakhir karena hal itu. Aku selalu... menjadi sisi yang haus perhatian. Aku khawatir dan gugup dan Aku seperti itu saat bersamamu. Tapi... sepertinya, aku menemukan cinta yang tak membuatku merasa seperti itu.”

Dong il kembali duduk, Suk Joon mengajak pulang, Dong il mengeluh seharusnya Suk Joon  berbicara sebelum duduk. Suk Joon mengatakan hari esok akan tetap datang. Dong il ingin memberikan pelukan, Suk Joon heran melihat temanya seperti itu.
“Aku tak ingin memelukmu secara fisik, tapi Aku ingin memeluk masa-masa yang kau habiskan di CBM. Kau telah melakukan yang terbaik dan bisa melaluinya hingga sekarang. Ayo sini aku peluk.” kata Dong il,
Suk Joon sempat sedikit tersenyum lau hanya memegang pundaknya saja, Dong il mengejek sudah  Sudah lama tak ada yang menyentuh bahunya yang berdebu lalu keduanya berjalan bersama keluar dari bar. 

Dong il kaget tiba-tiba melihat Tae Hee ada didepan kamarnya, Tae Hee menatapnya dengan sinis, Dong il yang melihat bawaan Tae Hee menduga yang dibawanya itu bom.
“Kau menyukaiku, 'kan?” ucap Tae Hee blak-blakan, Dong il menengok kebelakang takut ada orang yang diajak bicara oleh Tae Hee.
“Apa Kau sedang bicara denganku? Kenapa kau berpikir begitu?” tanya Dong il heran
“Kau menyukaiku, 'kan?” kata Tae Hee kedua kalinya.
Dong il benar-benar binggung menjawabnya, lalu menutup pintu sambil berteriak alasan Tae Hee melakukan itu padanya dan merasa tak melakukan salah apapun, tak terdengar suara dari luar. Ketika keluar kamar, Dong il tak melihat Tae Hee dan berpikir hanya mimpi tapi kakinya menendang kotak kimchi menjadikan bukti Tae Hee tadi memang datang ke kamarnya dan bertanya-tanya sikap Tae Hee.
bersambung ke part 2  

Sinopsis Bubblegum Episode 7 Part 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top