Wednesday, November 18, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 7 Part 2

Haeng Ah binggung melihat Ri Hwan yang ikut turun saat mengantarnya pulang. Ri Hwan mengatakan tak akan masuk lalu memberikan sebuah tas karena Haeng Ah lupa mengambilnya. Haeng Ah bukan miliknya karena hanya membawa satu tas di bahunya.  
“Ini adalah milikmu.” kata Ri Hwan sengaja memberikan pada Haeng Ah.
“Apa ini Kado ulang tahun?” tanya Haeng Ah, Ri Hwan mengatakan kalau pacarnya itu belum ulang tahun.
Haeng Ah bertanya apa itu, Ri Hwan tak ingin menjelaskan memilih untuk membuangnya saja. Haeng Ah pun akhirnya mengambilnya dan berharap bukan tas isinya karena sangat pemilih kalau soal tas. Ri Hwan menyuruh Haeng Ah masuk saja. 

Setelah membersihkan wajahnya, Haeng Ah penasaran isi dari tas itu cukup besar lalu mengeluarkan sebuah tas kecil dan berisi dua buah barbel, setelah itu alat pengencang lengan seperti tang dan tali skipping, yang terakhir adalah sebuah buku pocket percakapan dan dibagian belakang ada foto sebuah pemandangan, wajah Haeng Ah pun tersenyum melihatnya. 

Ji Hoon kembali muntah karena semalam mabuk dan tak bisa berlari, Ri Hwan mengusulkan untuk berhenti dan meminum herbal. Ji Hoon menolak karena rasanya pahit, Ri Hwan mengeluh Ji Hoon sebagai Dokter herbal yang seharusnya tak boleh mengatakan itu. Ji Hoon mengetahui hal  itu.
“Apa yang Tae Hee katakan?” tanya Ri Hwan
“Dia mengatakan "Pergilah", "Kau sampah", dan "Berhenti mengangguku". Aku merasa harga diriku diinjak-injak.”  ucap Ji Hoon, Ri Hwan mengejek temanya memang tak memiliki harga diri.
“Benar. Jadi, aku tak akan "Pergi". Tapi Apa tidak apa-apa aku tetap tinggal di rumahmu? Karena sebentar lagi, Haeng Ah pasti akan tinggal di sana. Bukankah Adam dan Hawa butuh waktu privasinya sendiri? Dan Jika, aku jadian lagi dengan Tae Hee. Rumah bisa full” goda Ji Hoon.
“Aku keluar rumah jika kalian kencan. Dan aku hanya memintanya pindah ke lantai 3.” jelas Ri Hwan
Ji Hoon bertanya kapan akan pindah, Ri Hwan mengaku belum tahu karena baru memberitahunya kemarin. Ji Hoon memuji sikap Ri Hwan lalu mengajaknya makan saja. Ri Hwan mengeluh mereka baru saja lari lima menit tapi temanya sudah meminta makan. 

Di kantor  kejaksaan, para wartawan sudah menunggu lalu Suk Joon keluar dan langsung mengerubungi setelah memberikan kesaksian. Pertanyaan langsung tertuju padanya.
“Anda memutuskan untuk bersaksi. Apa rincian kesaksian anda?”
“Selama 3 tahun ini, anda tak ingin memberikan keterangan. Apa yang membuat anda berubah pikiran?”
“Apa menurut anda 2 kasus ini saling terkait?”
Suk Joon memilih untuk diam dan langsung masuk ke dalam mobilnya, semua wartawan terlihat kecewa karena Suk Joon tak berbicara apapun. 

Yi Seul melakukan kencan buta lagi, seorang jaksa yang menceritakan tentang pembaca berita dari CBM, Kang Suk Joon yang datang untuk memberikan kesaksiannya sebagai orang dalam, tapi melihat profesi Yi Seul pasti tak akan mengerti masalah hukum.
Tapi Yi Seul malah melamun mengingat saat melihat Haeng Ah dan Ri Hwan berciuman di tengah jalan, ada Suk Joon disana. Jaksa itu menceritakan pilihan seseorang jika salah langkah, bisa menjadi miskin dalam hal Eksternal, image yang harus tunjukkan pada orang lain Dan internal, jalan yang harus di pilih.
Yi Seul tak sengaja menjatuhkan lap makanya, melihat sepatu high heelsnya teringat dengan Ri Hwan yang memuji sepatu flat nya terlihat bagus. Jaksa masih saja berceloteh dengan seorang hakim wanita yang menurutnya tak tidak tegas. Yi seul menatap cangkir tehnya teringat dengan cangkir Teh yang diberikan pada Ri Hwan saat penyataan cintanya.
Jaksa itu masih saja mengoceh, Yi Seul yang mengingat ucapan Ri Hwan “Kau pasti akan mendapatkan pria yang lebih baik lagi.” lalu akhirnya berdiri dari bangkunya, Jaksa itu benar-benar terkejut melihat Yi Seul yang tiba-tiba berdiri. 

Ji Hoon dan Ri Hwan menonton berita tentang Suk Joon yang memberikan kesaksian, keduanya mendengar pertanyaan wartawan “Apa rincian kesaksian anda?” tapi tak ada jawaban dari mulut Suk Joon.
“Kim Suk Joon, si bintang pembawa acara kini menjadi pusat perhatian. Dia pergi ke pengadilan pagi ini bersaksi untuk kasus pemecatan yang tak adil di CBM. Meskipun saat Kang Suk Joon sudah turun sebagai saksi, masih banyak yang tak percaya tentang hal ini.”

Keduanya kembali ke lantai atas, Ji Hoon berkomentar Suk Joon itu memang pria yang keren. Ri Hwan pun menyuruh temanyaitu berpacaran denganya, Ji Hoon berpikir Suk Joon itu menyukai pria maka dari itu belum menikah.
Ri Hwan terlihat kesal mengatakan Suk Joon itu menyukai wanita-wanita cantik. Ji Hoon heran melihat temanya yang terlihat kesal lalu menduga Suk Joon itu yang disukai oleh Tae Hee.
“Dia hanya suka wanita cantik!” tegas Ri Hwan seperti memberikan kode kalau itu Haeng Ah
“Iya aku tahu! Jadi, Apa dia pacar Tae Hee?” kata Ji Hoon, terdengar suara yang menyapa “Selamat siang.” keduanya terlihat kaget melihat Yi Seul datang kembali ke klinik Ri Hwan. 

Yi Seul merasa Ri Hwan pasti kaget dengan kedatanganya, Ri Hwan merasa baik-baik saja dan langsung menanyakan tujuanya. Yi Seul mengaku hanya ingin menanyakan sesuatu.
“Apa yang harus aku lakukan. Aku tahu, orang yang seperti apa aku ini di dunia. Aku suka merepotkan orang lain dan menakutkan. Bagi dunia, aku hanyalah sebuah kesialan.” ungkpa Yi Seul tentang dirinya.
“Tidak.... Aku tahu, menyukai seseorang memang hal yang merepotkan dan Aku juga pernah merasakannya. bahkan aku pernah dianggap sebagai penganggu saja.” jelas Ri Hwan. Yi Seul tak percaya Haeng Ah melakukan itu pada Ri Hwan.
“Apa yang orang lain lakukan saat mereka mengalami ini? Saat mereka tak bisa tinggal diam,Ada perasaan marah dan malu Dan mereka ingin terus melihat orang itu.” tanya Yi Seul
“Kita pasti akan bertemu dengan orang yang baru.Sekarang, memang hanya orang itu yang kau sukai, Tapi, nanti...” jelas Ri Hwan yang dipotong Yi Seul
“Kalau begitu... apa yang kau lakukan saat menunggu orang baru itu?” tanya Yi Seul menangis, Ri Hwan tak tega melihatnya ingin mengambil tissue tapi YI Seul memilih untuk meninggalkan klinik. 

Nyonya Park membereskan barang-barangnya melihat Sang Gyo hanya berdiri dengan wajah cemberut. Sang Gyo bertanya kembali kapan Nyonya Park akan membawa walinya. Nyonya Park menegaskan segera mungkin.
“Aku sudah memberitahumu prosesnya. Kami akan lebih cepat menemukan pasien lainnya, jadi Kita bisa lebih cepat memulai pengobatannya. Tapi, karena kau... Karena kau, kami belum menemukannya. Kau tak bisa seenaknya sendiri. Jangan menyetir sendiri dan Selalu bawa ponselmu. Kau harus ditemani seseorang besok. Jika tidak, aku akan menelepon anakmu.” ucap Sang Gyo mengancam
“Aku akan membawa orang lain besok.” ucap Nyonya Park dengan tatapan dingin. 

Nyonya Park bertemu dengan bibi Gong langsung to the point mengatakan apabila terjadi sesuatu dengan dirinya  maka tak akan menyerahkan Ri Hwan pada orang tuanya. Bibi Gong merasa tak ingin mengingat hari itu lagi karena ia juga merasakan hal yang sama.
“Tapi, kenapa kau tiba-tiba berkata begini? Mereka sudah besar dan sukses. Kau tak perlu khawatir. Semuanya sudah berjalan dengan baik.” kata bibi Gong
“Sepertinya, aku harus mulai mengatakan "terima kasih" sekarang.” kata Nyonya Park
“Tak perlu... Jika bukan karena ayah Haeng Ah, suamiku pasti akan tetap menjadi gangster dan  Jika bukan karena kau, toko kami mungkin sudah tutup, lalu kami tak akan melahirkan Dong Hwa.” jelas Bibi Gong
Nyonya Park merasa perlu lalu menceritakan tentang penyakitnya. Bibi Gong terlihat shock dan menahan tangisnya. Nyonya Park ingin Ri Hwan menikah tahun depan dan sesegera mungkin. Bibi Gong hanya bisa mengangguk mengerti. 

Di ruang siaran, Se Young mengeluh nama brand yang harus disebutkan langsung saja. Haeng Ah menjelaskan Se Young tak akan rugi menyebutnya satu  persatu, Tae Hee yang sinis memberitahu kalau Se Young itu pasti tak akan mungkin memanggil Ayahnya dengan panggilan itu jadi sama saja dengan iklan.
Se Young mengerti, Tae Hee lalu memarahi Joon So yang tak mencatat semua kesalahan yang dilakukan penyiar mereka. Se Young langsung membela karena Tae Hee memarahi Joon So karena semua itu adalah salahnya, Haeng Ah hanya tersenyum, lalu Se Young pun pamit pulang dan Joon So ikut mengantarnya.
“Menurutmu mereka berdua kenapa?” tanya Tae Hee, Haeng Eh merasa menyukai keduanya.
“Sepertinya, bukan hanya kau yang punya pacar baru di sini?” komentar Tae, Haeng Ah tak bisa menutupi rasa terkejutnya. 

Joon So mengantar Se Young didepan lift, keduanya terlihat gugup. Dengan sopan Joon So memanggilnya Nunna, membahas tentang kejadian semalam mereka berciuman. Se Young berpura-pura tak mengingatnya dan merasakan kepalanya sangat sakit semalam dan tertawa seperti ingin melupakanya. Joon So berusaha memanggilnya kembali tapi membuat Se Young sewot.
“kenapa, kenapa? Apa! Oke, ya! Aku ingat. Lalu, apa?” teriak Se Young
“Aku akan ke rumahmu nanti. Hati-hatilah menyetir dan jangan make up saat lampu merah. Pastikan untuk membawa ponselmu saat kau keluar dari mobil.” pesan Joon So lalu Se Young masuk ke dalam lift, Joon So dengan senyuman mengoda meminta Se Young menunggunya dirumah. Se Young terlihat panik dengan Joon So yang blak-blakan. 

Suk Joon melepaskan ID cardnya dan menatap ruangannya, beberapa karyawan diluar mulai berbisik tentang pemecatan dirinya karena memberikan kesaksian di pengadilan. Seluruh karyawan ingin mengantarnya pergi, tapi Suk Joon pikir hanya sampai depan ruanganya saja tak perlu sampai depan gedung.
Tae Hee langsung masuk kedalam ruang siaran menyuruh Haeng Ah keluar ruangan segera. Haeng Ah melihat Suk Joon yang menuruni tangga dengan beberapa pegawai yang mengatarnya. Haeng Ah hanya bisa diam, Suk Joon yang turun tangga sempat melihatnya dan memberikan sedikit senyuman setelah itu kembali menuruni tangga.
Haeng Ah terus melihat Suk Joon menuruni tangga sampai keluar dari gedung, Tae Hee terlihat ikut sedih melihat Suk Joon yang dipecat karena memberikan kesaksian. Suk Joon keluar dari gedung seperti terlihat lega memberikan kesaksian dengan tak membela perusahaan. 

Yi Seul duduk di taman, teringat sebelumnya Ri Hwan yang memeriksa kakinya yan keseleo lalu memuji pergelangan kakinya yang kuat, lalu meminta menunggu karena ingin membelikan sepatu. Saat itu Yi Seul menolak tapi Ri Hwan memberikan pilihan ingin digendong atau menunggunya, akhirnya Yi Seul pun mendapatkan sepatu boots yang modis dari Ri Hwan.  Ponsel Yi Seul berdering, ibunya menelp langsung bertanya keberadaanya.
“Apa Kau sudah bertemu dengannya?” tanya ibunya dengan nada tinggi, Yi Seul hanya diam.
“Kenapa diam? Apa kau membuat dirimu tampak seperti orang bodoh lagi? Apa kau tak bisa sekali saja mengubah prilakumu itu? Kedua kakakmu tak pernah bersikap begini.Sebenarnya, kau ini kenapa?” jerit ibunya, Yi Seul memilih untuk membiarkan ponselnya dipangkuan tanpa mau mendengar jeritan suara ibunya. 

“Apakah proses perjodohan bisa sesulit ini? Pertama, pria yang selingkuh dengan wanita lain Dan sekarang pria yang jual mahal? Aku tak akan membiarkan Taeyang Grup dipandang entang begini Ataukah putriku yang kau remehkan? Dia memang tak memiliki rambut seindah wanita lain Dan tak ada berlian dikukunya. Dia belajar keras sendirian dan bahkan menjadi dokter. Kesabaran ada batasnya. Beraninya mereka!” omel Ibu Yi Seul dengan nada angkuh
“Anda telah salah paham. Aku tahu betapa hebatnya putri anda. Karena itulah, aku memilih pria yang terbaik untuknya. Melihat pertemuan mereka ini, pasti telah terjadi sesuatu.” jelas si wanita yang menjodohkan Yi Seul.
Ibu Yi Seul makin naik pitam, menurutnya seorang dokter tak mungkin melupakan janjinya lalu mengancam akan menghancurkan rumah sakit lalu pergi meminta untuk mempersiapkan mobil. Si wanita meminta maaf akan menghubunginya lagi nanti. 

Nyonya Park terlihat kebinggungan di parkiran, seperti orang linglung bahkan sampai sempat tertabrak mobil. Ri Hwan menerima telp dari telp kliniknya. memberitahu ibunya itu belum mengangkat teleponnya sejak sejam yang lalu.
“ Apa Kau sudah memberitahunya?” tanya Ri Hwan, diseberang telp mengatakan belum memberitahu dan akan menjemputnya.
“Kalau begitu, dia tak akan menunggu dan  aku juga belum tahu.” ucap Ri Hwan lalu menutup telpnya dengan wajah tegang.
Nyonya Park yang linglung bersandar di pintu masuk mobil dan membiarkan ponselnya berdering, sampai seorang wanita mendekati Nyonya Park memberitahu ponselnya berdering, Nyonya Park melihat anaknya yang menelp. 

Haeng Ah sedang menyusun lagi, menerima telp dari ibu Ri Hwan, Nyonya Park meminta agar Haeng Ah datang ke tempatnya, Haeng Ah menanyakan keberadaan bibinya sekrang. Nyonya Park memberikan ponselnya pada si wanita yang berdiri disebelahnya.
Wanita itu pun memberitahu keberadan Nyonya Park, Wajah Haeng Ah terlihat kaget berbicara di telp, lalu buru-buru keluar ruangan. Tae Hee yang baru datang bertanya mau kemana temanya itu, Haeng Ah berlari sambil memberitahu akan Menemui bibinya. Tae Hee terlihat kebinggungan melihat temannya yang tergesah-gesah. 

Nyonya Park mengucapkan terimakasih pada wanita muda yang membantunya. Si wanita merasa tak masalah karena neneknya punya penyakit yang sama. Nyonya Park tersinggung menyuruhnya pulang, tapi wanita itu menolak akan tetap menemani sampa anaknya datang, dengan ketus Nyonya Park mengatakan tak perlu dan mengucapkan terimakasih.
Haeng Ah berlari menuju parkiran dan mencari Nyonya Park, akhirnya menemukanya sedang bersandar dan seperti kehilangan arah. Nyonya Park menatap Haeng Ah seperti masih mengingatnya. 

Sesampainya dirumah, Haeng Ah menatap bibinya dengan tatapan kasihan. Nyonya Park  merasa tak perlu menatapnya seperti itu lalu memberitahu penyakit Alzheimer, Haeng Ah bertanya kenapa bisa seperti ini.
“Aku mau menelepon sebuah toko tadi. Tapi, aku tak bisa mengingat namanya. Maaf telah merepotkanmu. Kau bisa pulang sekarang. Aku tak akan sembuh bahkan jika kau berdiri terus dan Kau tak akan memberitahu Ri Hwan, 'kan?” ucap Nyonya Park, Haeng Ah kebinggungan
“Jawab aku. Kau tak akan memberitahu dia, 'kan?” kata Nyonya Park, terdengar suara Ri Hwan yang datang memanggil ibunya. Haeng Ah buru-buru bersembunyi di balik lemari.
Ri Hwan kesal ibunya yang tak mengangkat teleponnya. Nyonya Park berdalih sedang sibuk dan tak perlu tahu. Ri Hwan bertanya apakah ibunya akan bertemu dengan orang tua Yi Seul. Ibunya membenarkan untuk menjodohkan kalian. Ri Hwan tak mengerti karena mengetahui ibunya bukanlah wanita yang gila harta dan Harga dirinya sangat tinggi, tapi sekarang malah seperti ini.
“Entahlah. Mungkin karena aku sudah tua Atau mungkin karena aku sudah tak punya waktu lagi.” ucap Nyonya Park, Ri Hwan heran ibunya bisa berbicara seperti itu, Nyonya Park merasa lelah dan meminta untuk bicara nanti saja.

“Ada yang harus kukatakan, Aku telah berkencan dengan Haeng Ah dan Aku tahu ibu tak suka, tapi ini adalah keputusanku. Dia takut dan menghindariku, tapi aku yang menariknya. Kami menemui Paman dan menceritakan semuanya. Jadi...” ucap Ri Hwan yang langsung terdengar penolakan ibunya. Haeng Ah terkejut dibalik dinding.
“Kami bisa dan Tak ada alasan kenapa kami tidak bisa. Apa yang terjadi dengan Paman bukanlah kesalahan Haeng Ah Semua kesulitan yang ibu lalui bukanlah kesalahan Haeng Ah dan Aku bahagia saat bersamanya  Ini adalah keputusanku agar bisa menjadi bahagia. Jika bukan karena ibu, aku sudah sejak dulu tak akan melepasnya. Jadi, tolong izinkan aku.” pinta Ri Hwan,
“Bagaimana jika aku masih tidak menyetujuinya? Apa kau akan bilang, tak akan menemuiku lagi?” ucap Nyonya Park sinis
“Ibu... akan mengusir Haeng Ah juga. Setelah Paman meninggal, Haeng Ah membuat anyelir dan akan memberikannya pada ibu, tapi dia merasa tertekan mendengar pembicaraan ibu. Perkataan ibu saat itu "Jika aku mau, aku bisa mengusirnya." Bahkan setelah mendengar itu, dia tak pernah sekalipun membenci ibu, tapi Dia bilang dia sangat menyukai ibu dan tak ingin mengecewakanmu” kata Ri Hwan, Haeng Ah mengintip dengan air mata mengalir, Nyonya Park melihat dengan tatapan sinis.

“Jadi, aku harus apa? Aku masih tak menyukainya.” ungkap Nyonya Park tak peduli dengan perasan Haeng Ah
“Maaf karena aku tak masuk jurusan kedokteran yang ibu sukai. Maaf, karena aku tak bisa menikah dengan Yi Seul. Tapi, aku menyukai Haeng Ah adn Aku bahagia dengannya. Bahkan saat masih kecil dulu, ketika temanku mengejekku karena ketidakjelasan ayahku dan pada hari libur,  aku tak punya teman saat berlibur, aku punya Haeng Ah. Aku tak pernah sekalipun tak merasa bahagia.” ucap Ri Hwan dengan menahan air matanya.
“Sampai hari saat ibu meninggal dan aku sendirian, aku akan terus bahagia.” Jadi... tolong jangan memaksaku masuk ke dunia kaya raya ibu itu. Yang aku butuhkan adalah ibu yang selalu mendukungku.” jelas Ri Hwan, Haeng Ah dibalik dinding sudah duduk sambil menangis mendengarkanya.
 [Perasaan cinta- Hal yang tak bisa kau ketahui.]

bersambung ke episode 8 

Sinopsis Bubblegum Episode 7 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top