Thursday, November 19, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 8 Part 2

Ibu Yi Seul baru saja melihat calon suami yang akan dijodohkan dengan anaknya. Jung Woo menelp menanyakan apakah Ibu tak menimbulkan masalah, Ibunya sewot dengan sikap Jung Woo karena Yi Seul juga anaknya, Jung Woo tahu tapi mengakui belum bisa percaya pada ibunya.
“Dia tak memenuhi kriteriaku, Aku akan mencari calon lain saja.” kata Ibu Yi Seul
“Jika, ibu membuatnya merasa tertekan dengan pernikahan ini, maka aku tak akan tinggal diam.” kata Jung Woo membela sang adik
“Lalu, kau mau apa, hah? Sudahlah.... Aku akan mencari calon lain.”ucap Ibu Yi Seul egois.
“Pikirkanlah perasaan Yi Seul. Ini pertama kalinya dia menyukai seseorang, jadi Tolong kabulkan itu.” pinta Jung Woo
Ibunya mengejek Jung Woo sebagai kakak hanya membaca majalah sepanjang hari tapi sudah menikah jadi tak akan mungkin menikah dengan  dokter herbal yang miskin bahkan masih tinggal dengan ibunya, menurutnya itu sama saja dengan gelandangan, Jung Woo mengatakan akan memikirkan jalan keluarnya lalu menyudahi telpnya saat sudah didalam mobil. 

Flash Back
Jung Woo menemui adiknya yang sedang menyusuh kepingan coklat bertanya Apa ada yang bisa dibantu. Yi Seul sambil kembali menyusun coklat mengatakan tak ada Bahkan jika kakaknya membantu, tak akan ada yang berubah.
“Dia adalah pria yang baik dan aku menyukainya. Banyak alasan yang bisa membuatku tak bisa memilikinya.” ucap Yi Seul, Jung Woo meminta adiknya memberitahu alasannya.
“Pertama, aku menyukainya karena dia pria yang baik. Tapi, dia juga menyukai orang lain. Kedua, Karena dia adalah pria yang baik, jadi dia tak mungkin melepas orang yang disayangi hanya karena hartaku. Ketiga, Jika, aku sungguh menyukainya maka aku tak mungkin memintanya untuk memutuskan pacarnya.” ucap Yi Seul yang tulus menyukai Jung Woo. 

Suk Joon dan Haeng Ah duduk cafe banyak orang disekitar mereka seperti melihat Suk Joon yang menjadi berita sebagai saksi. Haeng Ah merasa tak enak karena semua orang melirik pada mantan pacarnya. Suk Joon merasa tak masalah berpikir Haeng Ah merasa tak nyaman, Haeng Ah mengatakan nyaman.
“Mengenai kejadian kemarin... Aku hanya sedang tertekan saja kemarin dan Terima kasih, Aku suka.” ucap Haeng Ah menunjuk kue lalu ingin cepat pergi.
“Tahun lalu, di hari yang sama, Kau juga bilang sedang sakit. Apa kejadiannya sama seperti semalam?” tanya Suk Joon khawatir. Haeng Ah masih berdiri dari bangku tak beranjak pergi.
“Maafkan aku... Kau menungguku sendirian. Aku bahkan tak bisa menyadarinya.” ungkap Suk Joon, Haeng Ah pun kembali duduk.
“Bukan, seperti itu. Aku yang memintamu untuk tidak khawatir.” akui Haeng Ah
“Aku tak tahu masalah apa yang kau hadapi, Tapi, jika kau mengalami kesulitan...Bahkan apapaun yang terjadi... Jika kau ingin... Jika kau bisa... Sekali lagi... untuk semua waktu yang kau habiskan untuk menungguku, Akan aku balas.” ucap Suk Joon.
Haeng Ah merasa dengan kue yang diberikan Suk Joon sudah bisa menutup kesalahannya lalu mengucapkan terimakasih. Suk Joon menatap dalam-dalam seperti ada rasa penyesalan. 

Dong il dikagetkan dengan Tae Hee yang sama-sama membawa kue, Tae Hee berpikir managernya itu mencuri. Dong il mengatakan itu pihak bakery sendiriyang memberikannya sebagai kue perayaan hari ke-1000 acara lalu pamit pergi. Tae Hee menghalanginya dengan tatapan menusuk, Dong il meminta agar Tae Hee sedikit minggir tapi tetap saja Tae Hee menghalanginya.
“Kau belum menjawabku.” ucap Tae Hee.
“Banyak sekali orang aneh di stasiun ini. Tapi, kaulah yang paling aneh! Kau ini sebenarnya kenapa?” keluh Dong il binggung, Tae Hee merasa Dong il tak mau menjawabnya
“Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Kenapa sikapmu jadi aneh begini?” tanya Dong il heran
“Kau belum menjawab pertanyaanku.” tegas Tae Hee menagih jawaban.
Dong il menegaskan dirinya adalah ninja dan  memperlihatkan ID Cardnya sebagai managernya. Tae Hee menyuruhnya dan menjawab berpertanyaan. Dong il mengatakan tak bisa dan tak mau menjawabnya. Tae Hee melangkah mendekatinya, Dong Il dengan pulpen meminta untuk mendekatinya. Tae Hee mengatakan tak takut dengan pulpen itu dan terus berjalan mendekatinya untuk mendesak meminta jawaban. 

Diruangan lain, Se Young sedang berlatih akting dengan Joon Soo, lalu berteriak meminta tolong. Dong il dan Tae Hee yang didekat ruangan langsung berlari masuk ruangan dengan wajah panik, tapi ternyata tak terjadi sesuatu. Joon Soo memberitahu sedang latihan drama terbaru Se Young.
Tae Hee tahu sebelumnya Se Young menolak tawaran itu, Se Youngtak menyangka perannya dalam drama ternyata banyak juga. Dong il merasa judulnya aneh dari skenario yang dipegang Joon So, berjudul  [Nine: 9 Selingkuhan] Se Young menceritakan Ada parfum yang ajaib, Jika memakainya, maka akan bisa merayu semua pria.
“Tapi, kau hanya bisa menggunakannya sebanyak 9 kali dan Drama ini punya 20 episode. Dalam beberapa episode, rambutku dijambak bahkan ditampar.”cerita Se Young
“Dan kau tetap menerimanya?” tanya Dong il tak percaya
“Aku sudah bosan menjadi karakter protagonis. Dengan peran ini, image ku mungkin akan berubah. mulai sekarang aku akan dikenal sebagai artis antagonis Dunia hanya akan mengingat sang juara, jadi aku ingin menjadi juara itu.” jelas Se Young

Tae Hee tahu Se Young menerima tawaran film juga, Joon Soo mengatakan beda dengan film, dengan cerita suaminya yang direbut oleh pria lain. Dong Il berpikir film “begituan”, Joon Soo memberitahu Judulnya, "That Man, That Man" tapi karena tak banyak sponsor jadi masih belum bisa mulai syuting. Se Young dengan percaya diri dalam setahun bisa merebut julukan artis antagonis terbaik.
Dong il keluar dengan mengelengkan kepalanya, Tae Hee pikir sekarang tak akan menganggapnya wanita yang paling aneh. Dong Il merasa sedang menonton kejuaraan aneh tingkat internasional. Tae Hee tetap menunggu jawaban dari pertanyaan “Apa kau menyukaiku?” Dong il pun akan menjawabnya kalau ia.... 

Ri Hwan datang ke rumah sakit ibunya, tapi tak ada nama sang ibu dibagian depn ruangan, saat akan masuk pun pintunya terkunci. Seorang perawat yang melihat Ri Hwan memberitahu Dr. Park sedang cuti sementara. Ri Hwan terlihat binggung karena sang ibu tak memberitahu apapun.
Sang Gyo sedang berbicara dengan dokter lain, melihat Ri Hwan dan menghampirinya, mengenali Ri Hwan sebagai anakn dari Dr Park, bertanya apakah memiliki waktu bicara. Ri Hwan mengangguk dengan wajah binggung. 

Ri Hwan terdiam mendengar penjelasan Sang Gyo yang didengar dengan telinganya sendiri, mengenai penyakit yang diderita ibunya, dengan tangan dikepal sengaja menekan kukunya seperti menyakinkan kalau semua ini bukan mimpi.
“Akan ada perubahan setiap harinya. Ingatan Dr. Park lambat laun akan menghilang satu persatu Dan saat kondisinya memburuk, dia akan lupa semuanya. Jangan membuatnya stres. Terus temani dia. Kau mungkin tahu, pasien mungkin saja akan mencoba bunuh diri. Dan Dr. Park sudah mencobanya sebanyak 2 kali” ucap Sang Gyo yang mengajak Ri Hwan duduk di depan rumah sakit.
“Anda bilang apa, 2 kali? Jadi Selain waktu aku masih SMP, Dia melakukannya lagi?” ucap Ri Hwan benar-benar kaget, Sang Gyo membenarkan dan kejadianya jauh sebelumnya.
“Apakah... saat dia mengandungku?” tanya Ri Hwan menahan air matanya. Sang Gyo hanya menghel nafas. 

Ri Hwan duduk sendirian dengan buket bunga mawarnya, ponselnya berdering dari klinik miliknya dan membiarkanya. Pikirannya kembali mengingat sebelumnya, saat ibunya minum kopi di Sore hari dan ibunya mengaku sedang pusing jadi ingin minum kopi.
Setelah itu saat membuat jus lupa memberinya yoghurt dan Ri Hwan mengodanya ibunya semakin tua saja. Ketika akan makan bersama, Sang ibu masih tetap memakai jas dokternya padahal mereka akan makan direstoran. Ji Hoon berteriak memberitahu yoghurt kemarin masih ada di luar dan menaruhnya didalam rumah.
Ketika seketaris Ibu Yi Seul yang menelp kalau ponsel ibunya tak diangkat lalu dari Yi Seul tak memberitahu akan dijemput, jadi menurutnya sang ibu tak aka menunggu, tapi ternyata ibunya terkena serangan penyakit lupanya. 

Ji Hoon yang ada didalam klinik menanyakan apakah sudah bisa menghubungi Ri Hwan, Perawat mengeleng dengan wajah binggung. Ji Hoon heran karena selama ini Ri Hwan tak pernah seperti sekarang.
Tae Hee marah-marah berbicara di telp untuk tak usah mengirim permintaan lagu lagi. Ji Hoon mengatakan tidak meneleponnya  untuk membahas hal itu, lalu memberitahu  Ri Hwan tidak mengangkat teleponnya padahal sudah membuat janji.
“Ri Hwan tidak biasanya bersikap seperti ini. Aku hanya ingin tahu apa Haeng Ah mengetahui sesuatu.” ucap Ji Hoon khawatir, Tae Hee sedikit kaget mengetahuinya. 

Tae Hee datang menemui Haeng Ah di ruang siaran menceritakan  Semalam, Ri Hwan meneleponnya, Haeng Ah kaget bertanya apakah temanya itu memberitahu sebelumnya pergi menemui Bibi. Tae Hee mengaku sedang emosi semalam jadi memberitahunya. Haeng Ah mengingat saat Ri Hwan memegang tanganya lalu meminta maaf untuk semuanya atas segalanya.
“Kau tak bisa lepas dari wanita itu, karena Kau terlalu menyukainya, bahkan lebih menyayanginya ketimbang dirimu sendiri. Kau tak akan bisa lepas dari orang kau sayang bagaimanapun itu. Dan untuk Ri Hwan, Dia bahkan lebih parah. Apa kau tahu ibu seperti apa dia itu? Dia akan berkorban apapun demi anaknya. Jadi, menyerahlah sekarang. Sebelum kau lebih terluka lagi.” tegas Tae Hee
“Bibi sedang sakit.” ucap Haeng Ah khawatir dan tak tega.

“Lalu? Setiap orang bisa saja sakit!!!” kata Tae Hee duduk disofa dengan melipat tangan didada
Haeng Ah memberitahu sakitnya bukan sakit biasa tapi  sedang sekarat. Tae Hee menegaskan Haeng Ah tak perlu mengurusi orang lain yang sedang sakit ketika ia juga sedang terluka. Haeng Ah terlihat murung. Tae Hee menyindir Haeng Ah yang tidak tersenyum karena apabila mengatakan kalimat itu Haeng Ah pasti tersenyum. Haeng Ah berusaha mengalihkan pembicaraan dengan melihat list lagu dan mengaku sedang pusing.
Tae Hee langsung mengusulkan lagu dari Kim Kwang Seok dengan "Cinta yang Terlalu Menyakitkan bukan Cinta Namanya." dengan sengaja memberikan pesan itu untuk temanya. Haeng Ah hanya bisa diam tak bisa mengatakan apapun. 

Ri Hwan masih duduk didepan rumahsakit dengan bunga mawar disampingnya.
Flash Back
Keduanya sedang duduk ditaman, lalu Ri Hwan sengaja membuka papan depan yang bisa digeser. Haeng Ah menjerit bahagia karena bisa melihat keluar sambil duduk di teras, menurutnya sedang berada di luar angkasa.
“Apa Kau mau pergi berlibur? Kira-kira kau mau ke mana?” tanya Ri Hwan
“Ke mana saja. Kita tinggal tunggu bibi mengambil cutinya, bukan dengan grup travelling lainnya, tapi hanya kita bertiga dan kita tak perlu melakukan apapun. Hanya tidur, makan, dan mengobrol sepanjang hari.Liburan semacam itu lebih berkesan daripada hanya berjalan-jalan saja.” ucap Haeng Ah bersemangat.
Tapi Ri Hwan terlihat cemberut seperti ingin hanya pergi berdua saja, Haeng Ah mengutarakan keingiannya untuk melihat tawa lepas Ibu Ri Hwan karena  tak pernah melihatnya tertawa.
Haeng Ah berdiri melihat keluar lalu bertanya kapan saat paling bahagia bagi ibu Ri Hwan. Ri Hwan ikut berdiri disampingnya tak mengetahuinya, Haeng Ah pikir saat mengandung Ri Hwan, karena banyak ibu yang merasa seperti itu, atau ketika mendengar denyut jantungmu saat bayinya lahir.Ri Hwan juga sangat penasaran dengan hal itu, Haeng Ah merasa banyak wanita yang menganggap hari pernikahannya adalah momennya, lalu terdiam karena Nyonya Park tak menikah.
“Bagaimana denganmu? Kapan kau merasa paling bahagia?” tanya Ri Hwan, Haeng Ah mengatakan tak akan memberitahunya dan bertanya balik
“Bagiku, sekarang adalah masa paling bahagia.” akui Ri Hwan, akhirnya Haeng Ah pun malu-malu mengakui hal yang sama lalu membuat balon dari permen karetnya.
Ri Hwan menatapnya lalu mencium Haeng Ah dengan penuh perasan yang mendalam, Haeng Ah menatap Ri Hwan setelah berciuman lalu tersenyum dan menciumnya kembali sampai jaket yang dipakainya terjatuh. Setelah itu Haeng Ah menutup wajahnya karena malu dan Ri Hwan sengaja membuat balon dari permen karet yang dimulutnya. Haeng Ah semakin malu langsung memecahkan balon permen karet di mulut Ri Hwan. 

Haeng Ah mengirimkan pesan pada Ri Hwan “Maaf, tapi aku tak bisa menemuimu sekarang. Aku harus makan malam dengan orang kantor.” Ri Hwan membalas  “Bagaimana dengan kondisimu?” Haeng Ah menuliskan “Aku sudah sembuh total.” dan Ri Hwan membalasnya “Oke, sampai jumpa besok. Bersenang-senanglah.”
Setelah itu Ri Hwan memberikan selamat ulang tahun pada Haeng Ah, Haeng Ah membalas dengan ucapan terimakasih dan “tanda smile” padahal air matanya mengalir. Ri Hwan yang masih duduk dirumah sakit juga menangis mengetahui semua masalah yang terjadi dalam hidupnya. 

Haeng Ah berjalan menyusuri lorong kantornya yang sedikit gelap,  mengingat saat datang ke sekolah mereka kalau hanya Ri Hwan dan bibinya yang dimilikinya sekarang. Ri Hwan menyakinkan kalau Haeng Ah tak akan pernah kehilangan apapun dan Tak akan membiarkan itu terjadi. Lalu ucapan ibu Ri Hwan dirumah.
“Tapi, jika itu terjadi... Ri Hwan tidak boleh sampai sendiri. Seseorang yang tak akan lelah untuk terus menjaganya hingga dia mati nantinya, bahkan jika ada yang berusaha mengusir Ri Hwan, orang itu akan tetap menjaga Ri Hwan. Dan hubungan itu disebut dengan "keluarga", kan? Hubungan di mana kau tak bisa mengusir seseorang tapi tidak bisa. Kau pasti tahu bagaimana kuatnya ikatan keluarga, 'kan?” kata Nyonya Park yang tak menyetujui hubungan keduanya.
Saat di sekolah Ri Hwan meminta Haeng Ah mengatakan langsung padanya apabila tak menyukainya dan mereka bisa menjadi seperti dulu lagi, apabila Haeng Ah takut maka Ri Hwan akan menemaninya dengan mengulurkan tanganya. Ucapan Nyonya Park kembali teringat.
“Aku sudah tak punya waktu. Hanya menghitung hari sebelum penyakitku ini diketahui semuanya. Dan tentunya, Ri Hwan juga pasti akan mengetahuinya juga.” Ketika di teras klinik, Ri hwan mengaku, sekarang adalah masa paling bahagia dan Haeng Ah juga merasakan hal yang sama. 

Ri Hwan duduk dengan menatap kosong ke arah bawah, ingatanya kembali saat masih SD.
Flash Back
Ri Hwan menangis keran takut, ibu tak akan datang. Nyonya Park tak bisa berbuat apa-apa karena memang sedang sibuk, jadi memintanya bermain di toko bersama Bibi, Paman, dan Haeng Ah saja, lalu mengingatkan janji Ri Hwan akan menjadi kuat dan melindungi ibu, tapi kenapa sekarang anaknya menangis.
“Dia tadi sedang asyik bermain dan akhirnya tertidur. mungkin dia mendapat mimpi buruk dan ketakutan begini.” cerita Bibi Gong yang mengantar Ri Hwan kerumah sakit.
“Ibu bilang apa padamu saat kau merasa takut? Ibu memintaku menghitung 1-10. dan Kau bisa melakukannya, 'kan?” ucap Nyonya Park menenangkanya. Ri Hwan mengikuti ucapan ibunya.
Akhirnya ia melakukan hal yang sama dengan menghitung sampai lima, lalu berulang dari satu sampai dua berkali kali akhirnya meninggalkan rumah sakit dengan menjatuhkan bunga mawar dibuat ibunya dikursi. 

Tae Hee dan kawan kawan sengaja membuatkan surpise untuk Haeng Ah yang berulang tahun, tiba-tiba Haeng Ah langsung berjongkok sambil menangis dengan suara keras. Tae Hee, Se Young dan Joon So binggung melihat Haeng Ah malah menangis saat mereka membuat surpise. Akhirnya Tae Hee merangkul teman dan membantunya untuk berdiri.
“Maaf.... Aku... hanya terlalu senang saja.” ucap Haeng Ah berbohong mengusap air matanya.
“Kau mengagetkanku saja. Kenapa kau menangis begitu? Aku pikir ada seseorang yang meninggal.” komentar Se Young terlihat panik sebelumnya, Haeng Ah pun mengucapkan maaf.
“Tahun ini, kau ditemani oleh idola sepertimu dan semua pendengar kita. Jadi Berhentilah menangis! Sekarang, kita adalah keluarga, keluarga, keluarga! Tahun depan, ayo rayakan ulang tahunmu lagi. Keluarga memang harus seperti itu, 'kan?” kata Se Young tersenyum, Joon So setuju, Haeng Ah dengan mata membengkak memilih masuk ke ruang siaran. Tae Hee kasihan melihat Haeng Ah yang harus sedih untuk kedua kalinya di hari ulang tahunnya. 

Ri Hwan minum Soju dengan Ji Hoon tanpa makan apapun, Ji Hoon kasihan melihat Ri Hwan berusaha menukarnya dengan air putih tapi Ri hwan kembali mengambil botolnya untuk meminum soju, akhirnya Ji Hoon pun menuangkan bergelas-gelas Sujo yang diminumnya.
Setelah itu mengikuti Ri Hwan yang menaiki tangga penyebarangan, tubuh Ri Hwan sempat lunglai saat Ji Hoon ingin membantu Ri Hwan mencoba berdiri sendiri tak ingin dibantu. Ketika sampai di tengah jembatan melihat Haeng Ah yang berdiri didepan dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya Ri Hwan berlari memeluknya, Ji Hoon hanya bisa menatap sedih melihat keduanya.
 [Jangan Pikiran Noda itu, Jangan Pikiran Luka itu, Tolong Jangan Menghilang]

“Hari itu, aku benar-benar bahagia Bahkan, saat aku merasa sangat membenci dunia ini dan semua isinya Dan saat aku merasa tak pernah bahagia.Katakan padaku, bahwa hari itu ada.”
Flash Back
Nyonya Park sudah duduk di restoran dengan senyuman sumringah, melihat Ayah Haeng Ah datang membawaka makanan mereka. Ayah Haeng Ah melihat anak mereka itu kembali bertengkar, lalu mengeluh keduanya itu sangat keterlaluan dan berkatanya-tanya kapan keduanya bisa bersikap dewasa.
“Apa menurutmu mereka akan terus bertengkar begitu?” ejek Nyonya Park, Ayah Haeng Ah pun tertawa.
“Tapi Ada apa kau datang ke sini tiba-tiba?” tanya Ayah Haeng Ah
“Hanya ingin mampir saja, Kau tak pernah datang ke rumah sakit. Apa Aku dilarang ke sini, ya?” kata Nyonya Park
“Siapa yang melarangmu? Kau bahkan bisa tinggal di sini.” ucap Ayah Haeng Ah
Nyonya Park seperti menanggapinya serius dan akan pindah, Ayah Haeng Ah kali ini yang terlihat binggung. Nyonya Park tersenyum kalau hanya bercanda saja. Ayah Haeng Ah sadar sudah membuatnya menunggu lama. Nyonya Park mengaku tidak lagi menunggunya karena yakin Ayah Haeng Ah akan hidup 1000 tahun lamanya.
“Ya, kita masih punya banyak waktu. Saat anak-anak sudah tumbuh dewasa dan setelah aku...” ucap Ayah Haeng Ah langsung disela.
“Kau tetap ingin memintaku untuk menunggu, 'kan? dan Kau tak akan membuatku menunggu lama, iyakan?” kata Nyonya Park, Ayah Haeng Ah hanya menjawab dengan senyuman. 

Haeng Ah datang mengaku pada Nyonya Park kalau Ri Hwan membuatnya kesal. Ri Hwan datang mengadu pada Ayah Ri Hwan yang diberikan Haeng Ah pada perempuan yang disukainya. Haeng Ah menyangkal bukan dia yang melakukanya tapi Woo Bin pelakunya.
Ri Hwan tahu kalau Haeng Ah yang menyuruhnya. Haeng Ah menanyakan apakah Ri Hwan memiliki buktinya, lalu mengejeknya bodoh karena bisa bisa menyukai gadis itu. Ri Hwan membalas dengan Haeng Ah yang menyukai lelaki jorok. Haeng marah karena Ri Hwan mengejak Jung Woo-oppa, Ri Hwan kesal Haeng Ah memanggilnya “oppa” padahal bukan saudara.
“Paman, marganya sudah berubah.” kata Ri Hwan mengadu karena Haeng Ah memanggil Oppa pada pria lain.
“Kalian berkelahi di luar saja sana. Kau tak bisa lihat ibumu sedang makan? Jangan ribut di sini.” kata Ayah Haeng Ah.
Saat itu Nyonya Park terlihat tersenyum, Ri Hwan ingin duduk disamping ibunya, Haeng Ah menegaskan itu adalah kursinya, lalu kembali mengaduk Ri Hwan sangat kasar pada wanita dan merasa Pacarnya pasti orang yang aneh nantinya. Ri Hwan membalas akan memperlihatkan siapa pacarnya nanti. Haeng Ah merasa tak penting untuk melihatnya, Ayah Haeng Ah dan Nyonya Park tersenyum melihat pertengkaran mereka. 

Nyonya Park menerima pesan dari pagernya, lalu mengunakan telp dari rumah sakit terlihat wajahnya sumringah lalu pamit pergi dengan dokter yang ada disampingnya. Ia menuruni tangga darurat dan melewati lorong rumah sakit sambil merapihkan rambutnya.
“Dan hari itu dimulai seperti ini, hari-hari yang biasanya kulalui. Tapi, Sunbae tiba-tiba datang menemuiku. Aku berlari menuju pintu depan rumah sakit. Dan pada hari itu, kami...”
Nyonya Park keluar dari rumah sakit, mencari seseorang lalu wajahanya tersenyum melihat seseorang yang datang.
bersambung ke episode 9 

Komentar 
Wow... kayanya Nyonya Park itu suka sama Ayahnya Haeng Ah, tapi baru saja merasakan bahagia malah meninggal dan menyalahkan Haeng Ah, makanya ga pingin Ri Hwan sama Haeng Ah. Kasihan liat Ri Hwan sama Haeng Ah harus terpisah karena keegoisan Nyonya Park. Penasaran banget deh sama akhirnya, akankan Nyonya Park menyusul Ayah Haeng Ah, Ri Hwan dan Haeng Ah bisa bahagia dengan pergi jalan-jalan keluar negeri bersama-sama, tapi gimana nasib Yi Seul, mudah-mudahan dapet pria sebaik Ri Hwan juga. ^_^ 

Sinopsis Bubblegum Episode 8 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top