Tuesday, October 27, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 1 Part 2

Ri Hwan melihat spanduk Suk Joon lakukan selfie, Haeng A menemui Ri Hwan yang awalnya akan datang tapi karena harus pergi ke rumah penyiarnya, karena kucingnya sakit. Ri Hwan melihat spanduk Se Young kalau penyiar itu memiliki kucing.
“Bukan, anjing, tapi nama anjingnya itu “kucing” dan anjingnya itu namanya “Direktur”, kalau kau panggil Direktur, maka anjingnya yang datang.” cerita Haeng A, Ri Hwan merasa tempat kerja Haeng A itu aneh.
“Tak ada yang normal di sekitarku.” akui Haeng A, Ri Hwan pun melihat baju yang dipakai Haeng A juga aneh. Haeng A tak menyangka itu seperti aneh, Ri Hwan mengajak Haeng A ikut denganya. 

Di sudut lain, Ri Hwan langsung membuka obat herbalnya, Haeng A mengeluh karena Ri Hwan harus membuka lebih baik temanya itu sendiri saja meminumnya. Ri Hwan langsung mencekoki ke dalam mulut Haeng A untuk minum sampai habis dan menyuruhnya minum tiap pagi.
Haeng A mengerti lalu menarik Ri Hwan ke lift agar bisa pulang, karena akan ada janji jam 7. Ri Hwan ingin tahu dengan siapa, Haeng A tak ingin membahas menanyakan dilantai berapa Ri Hwan memarikir mobilnya. Ri Hwan menduga sesuatu terjadi pada Haeng A, tetap saja Haeng A menyangkal.
Ri Hwan langsung memeriksa lidah karena menduga perutnya sakit, lalu bagian mata,bertanya apakah ia sudah tidur atau mimpi buruk. Haeng A mengatakan tidak, Ri Hwan kembali memeriksa tanganya, dengan bertanya apakah ia mimisan dan pingsan. Haeng A juga mengatakan tidak. Ri Hwan menduga kalau itu masalah pacar. Haeng A berteriak kalau bukan itu, lalu meminta temanya tak bertanya agar tak membentaknya. 

Lift pun sampai dilantai satu, Haeng Ah menyuruh Ri Hwan segera masuk, Ri Hwan menolak karena ingin pergi ke toilet. Haeng Ah menariknya agar temanya menahanya dan buang air kecil dirumah.
Ketika pintu lift terbuka, terlihat Nyonya Park yang sinis melihat tangan Haeng Ah yang menarik lengan Ri Hwan. Haeng Ah langsung melepaskan tanganya saat melihat Nyonya Park didepannya dengan wajah dingin.
Dari mata Nyonya Par, Haeng Ah teringat saat Ayah Haeng Ah datang memberitahu kalau sekarang akan mengurus anaknya dan menitipkan dirumah Nyonya Park dan Nyonya Park terlihat sinis melihatnya.
Nyonya Park bertanya apa yang dilakukanya, Haeng Ah kaget melihat Nyonya Park ada didepanya. Ri Hwan melihat ibunya keluar dari lift berpikir akan bertemu dengan ibunya, lalu memberitahu kalau akan memberikan ramuan tapi Haeng Ah tak mengambilnya. Nyonya Park pun menanyakan apakah ada tempat untuk duduk. 

Ri Hwan menegur ibunya yang minum kopi malam hari, ibunya beralasan karena kepala pusing dan hanya setengah gelas. Ri Hwan pun mengambil gelas ibunya untuk dibuang karena ingin pergi ke toilet. Haeng A menatap bagian belakang Nyonya Park
Flash Back
Nyonya Park  berbicara di telp, memberitahu keduanya sudah masih SMP dan mengatakan tak boleh terjadi kalau memang sampai terjadi maka akan mengusir Haeng Ah. Saat itu Haeng Ah mendengar percakapan ibu Ri Hwan yang akan mengusirnya apabila terjadi saat waktu akan tiba. 

Nyonya Park berhenti berjalan bertanya apakah tak mengganggu pekerjaannya. Haeng A mengatakan kalau penyiarnya sedang makan, lalu memberikan tiket dari ID Cardnya. Nyonya Park senang karena Anak dokter Ko sepertinya menyukainya, tapi kehabisan. Haeng A tahu laku keras, Nyonya Park mengucapkan terimakasih.
“Apa Ri Hwan sering datang kemari?” tanya Nyonya Park sedikit dingin
“Tidak, dia jarang kemari, tapi Woo Bin yang sering, lalu ia cerita tentang perjodohan Ri Hwan dan datang naik motor. Aku dan Woo Bin harusnya melihat itu.” cerita Haeng A bersemangat
“Haeng Ah.... Berhubung kau membahas pertunangan, untuk kebaikanmu dan Ri Hwan, aku tak ingin kedekatan kalian membuat orang salah paham. Seperti bergandengan tangan barusan.” ungkap Nyonya Park dingin
“Bibi, tadi bukan gandengan tangan tapi Aku tadi menariknya.” jelas Haeng A
“Pasangan Ri Hwan kali ini putus dengan tunangannya karena tunangannya selingkuh. Dia pasti sensitif, Meski kalian sudah seperti saudara. Tapi dimata orang lain” tegus Nyonya Park. Haeng A mengerti, Nyonya Park memohon dengan memuji Haeng Ah itu orang yang pintar. Haeng A mengangguk mengerti dengan senyumanya, lalu melihat Ri Hwan sudah kembali. 

Tae Hee datang menyapa Nyonya Park memberitahu Haeng A kalau penyiarnya sudah siap di ruang siaran. Haeng A mengerti, Nyonya Park pun menyuruhnya kembali berkerja dengan memberikan tas berisi vitamin dengan wajah ramah, Ri Hwan pun ikut pergi setelah menyapa Tae Hee. 
Haeng A binggung melihat ruang siaran masih kosong, Tae Hee mengaku sengaja berbohong untuk menyelamatkanya, karena tak suka dengan Nyonya Park. Ia tahu ibu Ri Hwan takut Haeng A menyukai anaknya, menurutnya itu lucu. Haeng A ingin menjelaskan tapi Tae Hee kembali menyela
“Jadi Ayahnya punya rumah sakit, lalu Dia pikir kau menginginkannya? Orang yang lihat RS. saja pingsan?” ucap Tae Hee mengerti sekali temanya.
“Kalau kau ibu tunggal yang membesarkan anak sendiri, kau pasti ingin anakmu menikahi keluarga baik-baik. Aku bisa mengerti.” kata Haeng A dengans senyuman.
“Kau itu menyebalkan.” umpat Tae Hee
Haeng A tersenyum lalu duduk disamping temanya, Tae Hee mengeluh dengan temanya itu sudah tua tapi malah tersenyum ketika dirinya sedang mengumpat. Haeng A kembali tersenyum bersandar di pundak temanya. 

Di dalam ruang siaran
Se Young mengeluh semua pendengar hanya "Selamat ulang tahun, Selamat hari jadi, Doakan ujianku" membuatnya bukan. Haeng A memberitahu kalau mereka ada diradio karema mereka berbagi kegiatan sehari-hari. Tae Hee menyuruh Se Young pergi saja ke Karnaval kalau memang tak suka, lalu keluar ruangan.
“Aku boleh baca semuanya saat siaran, kan? “ ucap Se Young memakai earphonenya.
“Tapi jangan sebut merek, Kafe Bintang, kafe Hong, M donald. Ganti nama mereka, lalu Dilarang bicara kotor, seperti Sialan, kampret, bedebah, semua dilarang.” jelas Haeng A. Se Young mengerti tapi agak terkejut karena kata “bedebah”juga tak boleh. 

Ri Hwan berbelanja sambil mendengarkan siaran radio yang di produseri oleh Haeng A. Ji Hoon datang dengan mengambil earphone agar bisa mendengarkan bersama-sama. Ri Hwan menyuruh temanya pergi saja, tak ingin berbagi. Di dalam ruang siaran, Se Young mulai mengoceh dan kembali mulai mengeluarkan kata-kata kotor, Haeng A memberikan kode agar Se Young tak bicara seperti itu.
“PD-ku melarang bicara kata-kata kotor, tapi Apanya yang salah? Bagiku, orang yang tak mendengar radio ini adalah orang jahat. Kami menerima kiriman email,  Judulnya... "Kau takkan membaca ini" Melihat judulnya pasti isinya membosankan, tapi Aku sangat penasaran dan Dikirim oleh Lee Ji Na.” ucap Se Young
Membaca email yang masuk “Selamat malam, unni. Aku mengirim request kemarin. Kau ingat? Aku ada ujian hari ini, jadi aku minta doanya, Tapi unni tak menelponku. Kau tak ingat, kan? Tidak apa-apa. Aku sungguh...” Se Young mengeluh membaca email tapi kembali membacanya.
“Aku gagal dalam ujian. Ibu bilang dia sangat kecewa padaku. Jadi aku berencana mati hari ini. Aku tahu suratku takkan dibaca ketika siaran langsung.Tolong beritahu ibuku nanti. Beritahu dia "Terima kasih dan maaf."”
Seorang pelajar berjalan diatap dengan mendengar siaran radio dari ponselnya. Se Young panik membaca suratnya, takut kalau memang benar kejadian karena Ji Na ingin bunuh diri diatap. Haeng Ah dan Tae Hee juga ikut panik, supaya mencoba menep. 

Ri Hwan yang mendengarnya langsung terdiam saat berbelanja, Se Young mencoba bicara dengan siaran radio untuk mengangkat telpnya. Operator pria juga mencoba menelp polisi meminta bantuan. Si pelajar sudah siap melompat dengan menatap kebawah gedung.
“Ji Na, kau dengar aku? Nilai sekolah tidak penting. Saat aku masih sekolah peringkatku paling akhir. Julukanku adalah "paling terakhir". Tapi  Lihat aku sekarang. Aku bisa bekerja dan hidup, iyakan PD Kim?” ucap Se Young mengajak bicara Se Young
“Iya, benar. Kadang aku juara pertama, Tapi lihat sendiri, peringkat terakhir gajinya lebih besar dariku.” akui Haeng A
Se Young tak enak hati mendengarnya, lalu kembali membujuk Ji Na kalau jangan memasukan hati perkataan ibunya karena ia juga mendapatkan pukulan dari ibunya kalau selalu membeli baju, lalu bertanya kembali pada Haeng A kalau ibunya juga pasti seperti itu.
Haeng A mengaku sudah tak memiliki ibu karena sudah meninggal pada usia 5 tahun begitu juga ayahnya. Se Young terdiam sejenak, akhirnya mengakui sebagai artis buangan, Haeng A mengaku baru putus di hari ulang tahunya, membeli kue dan memakanya sendiri. 

Ri Hwan yang mendengarnya langsung berlari ke arah Ji Hoon untuk memberikan keranjang belanjanya dan pamit pergi. Ji Hoon mengeluh bagaiman ia pulang nanti, sementara di kantungnya hanya ada 2000 won.
Tae Hee memberitahu mereka sudah tersambung, Haeng A ingin memberitahu tapi Se Young tetap saja berbicara menyerocos tentang hidupnya yang menyedihkan. Haeng A sedikit berteriak memberitahu sudah tersambung dengan Ji Na. Se Young dengan perlahan menanyaan keberadaan Ji Na.
Ji Na memberitahu sedang ada diatap, Se Young bertanya apakah ia sedang menderita. Haeng A memberikan petunjuk dengan kertasnya. Se Young mengucapkan terimakasih karena sudah mengirimkan cerita sesuai dengan yang ditulis Haeng A.
“Kau mengizinkan kami membantumu, kan?” ucap Se Young kembali membaca, Ji Na tak terdengar suaranya, Se Young pikir Ji Na tak mendengarnya. Ji Na berbicara kalau bisa mendengarnya.
“Ada yang ingin kau tanyakan?” tanya Se Young mengajak bicara, Ji Na mengatakan tidak ada
“Ah, Ji Na! Siapa idol yang kau suka? Aku ini mirip Hyeri dari Girls Day, kan?” kata Se Young mencari pembicaraan
Tak terdengar suara apapun dari Ji Na, Se Young panik berpikir Ji Na marah, lalu membujuknya kalau hanya bercanda tapi Ji Na tetap saja diam. Se Young berjerit ketakutan, semua yang ada diruangan tegang. Terdengar kembali suara Ji Na. Se Young bernafas lega bisa mendengarnya, lalu dibagian layar komputer tertulis pesan dari Tae Hee, kalau 119 sudah menyelamatkan Ji Na untuk turun dari gedung, lalu masuk iklan. Keduanya langsung bernafas lega, sambil bersandar dikursi. 

Dong il masuk ke dalam ruang siaran dengan nada menyindir memujinya. Haeng A langsung meminta maaf. Dong il menegaskan kalau siaran kali ini memang bagus paling tidak mereka bisa menyelamatkan anak kecil itu. Se Young pikir bisa mengerti.
Setelah itu Dong il mendekati Haeng A ingin membicarakan Suk Joon, tapi  menurutnya masalahnya tak bisa segera selesai, jadi lebih baik janga mengangkat telp, setelah memutar lagi lebih baik melakukan penutupan sederhana dan untuk siaran selanjutnya dengan rekaman sana  karena tak ada transisi. Haeng A memberitahu sudah mempersiapkan lagunya.
“Aku tak sabar menunggu internet besok. Paling terakhir", film dewasa...” ejek Dong Il yang mendengar siaran, Tae Hee masuk memberikan daftar lagu request. Haeng A meminta lagu penutupnya dengan judul “bersyukur”

“Aku dengar kau sedang kerepotan, Karena Kim Haeng Ah, Oh Se Young, anjing sakit, dan sekarang karena pendengar. Selamat !!! Ini berarti kedepannya kau bisa bekerja dengan orang yang paling aneh sekalipun.” komentar Dong il keluar dari ruang siaran lalu mengajak Tae Hee high five.
“Apa anda mencoba melakukan kontak fisik yang tak kuinginkan?” balas Tae Hee sinis, Dong il pun enggan dan mengajak pegawai lainya untuk berhigh five, setela itu keluar ruangan sambil mengejek Tae Hee juga aneh. 


Se Young membahas tentang orang tua Haeng A yang sudah meninggal dan baru saja putus kemarin, merasa bersalah karena tak tahu. Haeng A malah mengkhawatirkan Se Young, apakah sekarang baik-baik saja dengan julukan “paling akhir”. Se Young baru sadar siarannya sudah didengar lalu keduanya menutup wajah malunya, setelah itu tertawa bersama. 

Haeng Ah pulang dengan melihat sekeliling, tiba-tiba Ri Hwan sudah ada didepanya yang membuat Haeng Ah kaget. Ri Hwan menegaskan seharusnya ia yang lebih kaget. Haeng Ah tak percaya Ri Hwan mendengarnya.
“Kau bilang tak ada apa-apa dan juga tak memberitahu,  tapi bilang keseluruh dunia. Kenapa bohong?” ucap Ri Hwan, Haeng Ah meminta maaf karena berbohong sambil berjalan
“Apa Dia artis? Penjahat? Kenapa tak bilang padaku? Kau tau seperti apa pikiran aneh yang kupunya saat kemari? Kau bilang banyak yang merayakan ulangtahun bersamamu. Aku bilang tak apa-apa pulang larut, tapi kau bilang mau ke laut, lalu Belum lagi kuenya.” omel Ri Hwon menyerocos tanpa berhenti, Haeng Ah meminta izin untuk bicara, Ri Hwan tak ingin karena pasti Haeng Ah berbohong

“Kenapa aku harus dengar omelanmu? Apa aku pasienmu? Memangnya kalau aku bohong menjadi penyakit parah?” keluh Haeng Ah
Ri Hwan melihat itu sama saja karena Haeng Ah itu berpura-pura tak sakit dan membuatnya jadi bodoh. Haeng Ah mengakui sedang dalam masa sulit dan meminta maaf karena tak mengingatnya. Ri Hwan mengerti Haeng Ah itu sedang sulitan dan mengalami masalah yang sangat berat. 
Haeng Ah mengeluh dengan sikap Ri Hwan, membuat tetangganya sampai tak tahan dan akhirnya pindah. Ri Hwan makin kesal karena Haeng Ah menganti pembicaraan, Penjaga Apartement menyapanya, Haeng Ah memperkenalkan Ri Hwan sebagai adik tapi Ri Hwan mengaku kalau ia kakak dari Haeng Ah.
Penjaga berpikir Ri Hwan datang untuk membantu pindahan, Haeng Ah mengatakan sudah selesai kemarin lalu buru-buru pamit pergi. Ri Hwan binggung berteriak menanyakan kemana Haeng Ah pindah. 

Ri Hwan kaget melihat Haeng Ah yang memindakan barang-barangnya sendiri, Haeng Ah beralasan senang saat pindahan. Ri Hwan tahu Haeng Ah pindah saat hujan turun karena kardusnya basah. Haeng Ah kembali beralasan suka dengan barang-barang yang basah. Ri Hwan pun mengajak mereka bersih-bersih.
Haeng Ah menolak karena menyukai barang-barang berdebu. Ri Hwan mulai membawa salah satu kotak, Haeng Ah terlihat panik berusaha untuk mengambilnya, Ri Hwan tak sengaja menjatukan, terlihat pakaian dalam Haeng Ah berjatuhan. Akhirnya Haeng Ah buru-buru membawanya ke kamar, Ri Hwan pun tersenyum malu melihat pakaian dalam yang berjatuhan.
Ri Hwan mengaku tak tahu kalau itu kotak Pandora, Haeng Ah memperlihatkan pembalut sebagai harapan. Ri Hwan tersenyum, lalu Haeng Ah berharap supaya pembalut itu bersayap. Ri Hwan langsung mengambilnya, Haeng Ah mengambilnya kembali, tak ingin Ri Hwan memegangnya. Ri Hwan mengeluh Haeng Ah berlebihan.
Haeng Ah pun menjelaskan tak mungkin memakai pembalut itu apabila sudah di pegang oleh temanya, sambil menegaskan dimana pembalut itu digunakan. Ri Hwn tersadar lalu menutup wajahnya karena malu dan berusah mencari kesibukan dengan melihat bagian kulkas. 

Ponsel Haeng Ah bergetar, terlihat nama Kang Suk Joon, awalnya bersemangat akhirnya hanya diam. Ri Hwan melihat perubahan wajah Haeng Ah akhirnya mengambil ponselnya, Haeng Ah meminta untuk dikembalikan tapi Ri Hwan berusaha untuk mengangkatnya.
Haeng Ah akhirnya loncat ke punggung Ri Hwan untuk mengambilnya, supaya tak menjawab. Ri Hwan mencoba menjauhkan tanganya agar tetap diangkat telpnya. Terdengar suara Suk Joon yang menanyakan keberadanya. Keduanya hanya diam, akhirnya ponselnya terjatuh bersaman dan mati, bersamaan dengan Haeng Ah dan Ri Hwan yang jatuh. 

Ri Hwan tahu nama Kang Suk Joon itu penyiar yang selalu ia dengarkan tiap hari dan ternyata yang meninggalkanya saat ulang tahun. Haeng Ah merasa Ri Hwan itu tak tahu apa-apa, Ri Hwan bertanya apa yang tidak diketahuinya. Haeng Ah menceritkan saat ulang tahunya, Suk Joon sangat sibuk jadi besoknya pria itu menyanyikan lagu untuknya.
“Meski dia bilang semua orang tahu liriknya, Dia tak pernah menyanyi dan, Tapi dia menyanyi demi aku walaupun hanya menyanyi dua bait. Bahkan semua barang ini, Dia tak suka barangku dirumahnya, tapi tetap kubawa. Aku sengaja, biar dia mengingatku, Sekarang Kau sudah tahu semuanya, jadi Pergilah.
“Kalau dia tak salah, kenapa kalian putus? Saat dia menelpon, kenapa kau membeku? Kalau kau putus karena tak menyukainya, harusnya kau angkat dan kau kutuk dia.” tegas Ri Hwan lalu berdiri didepan Haeng Ah

“Apa gossip itu benar? Dia memukulmu?” ucap Ri Hwan khawatir
“Itu tidak mungkin. Jangan ikut campur kalau tak tahu.” teriak Haeng Ah
Ri Hwan tetap menanyakan alasan Haeng Ah terlihat takut dan tak masuk akal kalau mereka putus tanpa alasan. Haeng Ah mengakui mereka putus karena ia merasa kesepian dan tak ingin sendiri. Ri Hwan tetap tak percaya karena tak mungkin Suk Joon mengurungnya dan melarangnya keluar.
“Menunggu balasan darinya, lalu Menunggu giliranku setelah masalah penting, mendesak. Aku lelah menunggu semua itu, jadi aku mengakhirinya. Membayangkan besok harus menunggu lagi rasanya seperti, sudah tahu akan ditusuk ribuan jarum tapi tetap menunggu. Apa Kau puas sekarang?” ucap Haeng Ah, Ri Hwan hanya bisa diam, Haeng Ah kembali duduk.
“Dia tidak salah apa-apa dan tak pernah memintaku mencintainya. Selain itu tak pernah pura-pura lembut.Semua ini karena aku mencintainya dan aku lebih mencintainya. Semua gosip itu bohong. Dia bukan orang yang suka memukul dan menyukai anak anjing. Bahkan Dia tak pernah tidur sambil duduk dan tak punya tatoo. Karena itu, aku menggambar dipunggungnya.” cerita Haeng Ah dengan wajah sedih
Ri Hwan menghela nafas lalu melihat ponsel Haeng Ah bergetar dan di foto bergambar dengan tulisan, Haeng Ah love Suk Joon. Haeng Ah bercerita kalau mereka pacaran lalu putus, seperti pasangan lainya. Ri Hwan menghembuskan nafas panjang sampai rambutnya sedikit berantakan. 
Ri Hwan akhirnya pamit pergi, tapi kembali masuk menanyakan apakah Haeng Ah akan baik-baik saja apabila tinggal di apartement, yang bersebrangan dengan rumah Suk Joon dan pasti nanti mereka akan bertemu.
Haeng Ah memberitahu kalau nanti ada orang yang akan menyewa apartementnya sekarang, Ri Hwan mengaku lega lalu bertanya apakah Haeng Ah sudah menemukan tempat yang baru, Haeng Ah mengaku baru akan mencarinya. Ri Hwan kesal ternyata Haeng Ah belum menemukan tempat baru.  
“Kau lihat tempat ini? Bagaimana kalau ada yang datang?” keluh Ri Hwan
“Tidak ada barang berharga disini, Cuma laptop yang masih kucicil dan catatan ayah, serta Gelang ibu.” ucap Haeng Ah lalu menjerit karena ketinggalan dirumah Suk Joon.
Ri Hwan heran kenapa gelang itu bisa ada disana. Haeng Ah mengaku gelang itu sengaja dibawa karena ingin diperlihatkan, Ri Hwan mengumpat Haeng Ah yang ceroboh lalu mencari alamat di kotak karus. Haeng Ah pikir nanti akan mengambilnya, Ri Hwan yakin pasti akan aneh apabila Haeng Ah bertemu denganya. Haeng Ah pikir lebih aneh kalau nanti Ri Hwan yang mengambilnya, lalu kebingungan sendiri dengan berbaring diatas sofa. 

Ri Hwan berjalan keluar dari apartement, melihat Suk Joon yang baru turun dari mobilnya, menatap apartement Haeng Ah lalu menyebrang ke apartement miliknya. Ri Hwan melihat Suk Joon pergi sambil bergumam.
“Saat dua orang pacaran lalu putus...Apa cuma satu yang tersakiti? Seseorang yang tak bisa memberitahu siapapun, karena sudah terlanjur tersakiti.”
Haeng Ah terus menghela nafas dan menatap sedih semua barang-barangnya, Suk Joon menaiki lift dengan menatap bayanganya yang terlihat dingin. Ri Hwan menekan tombol lift untuk naik
“Seseorang yang tak tahu dia sakit, kelak akan kesakitan. Seseorang yang diabaikan rasa sakit itu, maka akan lebih tersakiti.”

Suk Joon menekan password pintunya, Haeng Ah terlihat kaget mendengar bunyi orang yang akan membuka pintunya. Tapi ternyata Suk Joon masuk ke dalam rumahnya sendiri, sebelum pintu tertutup, Ri Hwan langsung menyolonong masuk. Suk Joon bertanya siapa pria yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya.
“Aku mau ambil gelang.” ucap Ri Hwan
“Kau pikir apa yang kau lakukan?” teriak Suk Joon marah
“Lalu Kau sendiri? Apa yang kau lakukan? Saat dia pindah sendiri, apa yang kau lakukan?” tegas Ri Hwan tak kalah marah, keduanya saling menatap marah.

Di pintu tertulis [Harusnya kau beritahu aku], Ri Hwan yang balita masuk ke dalam rumah, Haeng Ah bertanya dimana ayahnya. Ri Hwan memberitahu sedang di apotek. Haeng Ah melihat dengkul Ri Hwan yang berdarah dan celananya sobek, Ri Hwan langsung menutupinya. Haeng Ah melihat kaos kaki yang gunakan Ri Hwan, terlihat Ri Hwan gugup dan menduga sesuatu.
“Aku tak main trampolin.” ucap Ri Hwan ketakutan
“Kau main trampolin, kan?” balas Haeng Ah marah, Ri Hwan mengakuinya.
“Sama siapa? Kita sudah janji mau saling jujur. Apa Kau main sama Sol Mi? Sepertinya kau dekat dengan Sol Mi.” ucap Haeng Ah merubah nada menjadi lembut.
Ri Hwan akhirnya mengangguk, Haeng Ah marah mengetahui Ri Hwan main dengan Sol Mi. Ri Hwan mengaku Sol Mi yang mengajaknya, Haeng Ah kesal bertanya dengan siapa saja main trampolin, Ri Hwan mengaku hanya sekali dengan Sol Mi dan selama bermain selalu mengingatnya. Haeng Ah tak mau dengan mengusir Ri Hwan keluar, Ri Hwan binggung karena ini rumahnya. Haeng Ah tak mau tahu tetap menyuruh Ri Hwan untuk keluar. 

Ayah Haeng Ah datang melihat Ri Hwan duduk diluar sambil memegang gelang, Ri Hwan mengaku Haeng Ah sudah mengusirnya, Ayah Haeng Ah tahu itu karena Ri Hwan main dengan Sol Mi karena seharusnya merahasiakan hal itu.
Ri Hwan beralasan tak bisa karena mereka sudah berjanji untuk saling jujur. Ayah Haeng Ah tertawa mendengarnya, lalu melihat gelang yang di pegang Ri Hwan berpikir untuk Sol Mi. Ri Hwan mengatakan gelang itu untuk Haeng Ah.
Ayah Haeng Ah bertanya darimana gelang itu, Ri Hwan mengaku itu milik ibunya. Ayah Haeng Ah kaget Ri Hwan mencuri. Ri Hwan menyangkal karena menurutnya hanya mengambilnya. Ayah Haeng Ah tersenyum karena itu sama saja mencuri.

Haeng Ah cemberut sambil memegang boneka, ayahnya datang memperlihatkan sebuah gelang cantik , memberitahu barang itu dibeli oleh Ri Hwan. Haeng Ah tak ingin, menyuruh membuangnya saja. Ayah Haeng Ah berbohong kalau sebenarnya itu darinya, Haeng Ah langsung duduk melihat gelang yang dipegang ayahnya.
“Kau lihat ibu dan bibi Sung Young pakai ini, kan? Saat tanganmu sudah besar nanti. Kau bisa memakainya.” ucap Ayahnya memasangkan gelang pada Haeng Ang
“Ini gelangnya ibu.” kata Haeng Ah melihat gelang yang masih kebesaran ditanganya.
Gelang itu sekarang tersimpan didalam dengan tumpukan buku disampingnya. 

bersambung di episode 2

sumber:http://korean-drama-addicted.blogspot.com/

Sinopsis Bubblegum Episode 1 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top