Wednesday, October 28, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 2 Part 2

Ri Hwan menelp bibi Gong memberitahu akan pergi kerestoran, lalu menanyakan apakah Haeng Ah ada disana. Bibi Gong mengatakan Haeng Ah tak ada disana. Ri Hwan kembali bertanya apakah Haeng Ah memiliki rencana untuk datang. Bibi Gong yakin Haeng Ah tak mengatakan akan datang. Ri Hwang bersemangat akan pergi kesana dan langsung menutup telpnya. 

Yi Seul pergi ke sebuah mall melihat bagian pakaian dalam, seorang pegawai mendekatinya menjelaskan kalau banyak wanita yang membeli bra itu sebelum bulan madu. Yi Seul mencari ukuran yang lebih besar, pegawai meminta maaf karena ukuranya hanya sampai 80.  Yi Seul pikir tak perlu meminta maaf karena bukan salahnya kalau dirinya gemuk.
Seorang pria datang mengampiri Yi Seul, pegawai lainya langsung memanggil Wakil direktur. Hong Jung Woo menyapa adiknya, memuji sang adik yang cantik karena baru saja berkencan, menanyakan hasil kencanya. Yi Seul terdiam dengan senyuman mengaku kalau begitu saja.
Jung Woo menduga sesuatu, karena habis berkencan membuat adiknya membeli pakaian dalam, lalu mengejek adiknya yang bisa cepat membuka hati. Yi Seul terlihat malu, Jung Woo berjanji tak akan tanya sampai adiknya bercerita sendiri dan menyuruh adiknya mengambil apapun yang diinginkanya.
Yi Seul tak percaya, Jung Woo menceritakan akan membayar dengan potongan gajinya, bahkan kemarin ibunya mengambil semua barang sampai gajinya tinggal 180 won saja. Keduanya tertawa, lalu Jung Woo pamit lebih dulu karena harus kembali rapat. 

Ri Hwan masuk ke dalam restoran, Bibi Gong langsung menanyaka ada apa dengan Haeng Ah. Ri Hwan malah panik karena sebelumnya Bibi Gong berkata Haeng Ah tak akan datang, lalu bertanya apakah temanya itu mencarinya. Bibi Gong mengelengkan kepala karena Haeng Ah mencari permen karet.
Bibi Gong meminta Ri Hwan untuk mendekatinya, Ri Hwan menolak karena ingin membiarkan Haeng Ah sediri dan akan pamit pergi. Bibi Gong langsung menarik Ri Hwan memberitahu pada Haeng Ah temanya sudah datang. Ri Hwan bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa, lalu menanyakan apa yang dilakukanya.
“Aku makan karbohidrat dan garam supaya tubuhku ketagihan, jadi makan mie... seperti ini.” ucap Haeng Ah
“Ah... Makan mie. Ada yang ingin kau tanyakan?” ucap Ri Hwan duduk dibangku sebelahnya.
“Apa kau Punya pin rambut?” tanya Haeng Ah, Ri Hwan agak terkejut mengatakan tak punya
“Aku tak lihat ada pin rambut, Sepertinya aku ambil ikat rambut.” ungkap Ri Hwan berbisik, Haeng Ah bisa mendengar lalu bertanya apa yang diambil temanya. 

Yi Seul pergi ke sebuah toko sepatu, melihat sepatu high heels. Pegawai mendekatinya lalu mempersilahkan untuk mencobanya. Yi Seul menolak karena melihat haknya terlalu tinggi. Si pegawai pikir Yi Seul memiliki pacar yang pendek, karena ia juga memiliki pacar yang tingginya hanya 170 jadi akhirnya hanya bisa mengunakan sepatu flat shoes.
Teringat saat Ri Hwan yang berdiri didepanya dan bisa melihat tinggi badan calon pacarnya itu cukup tinggi dibanding dirinya. Si pegawai yang melihat Yi Seul diam akan menyarankan toko yang lain untuk mencari flat shoes. 

Akhirnya Yi Seul mengaku tingginya sekitar 185 cm. Si pegawai terkesima memberikan sepatu high heels itu memang cocok dan berharap pacarnya itu bisa setinggi itu. Yi Seul pun menunjuk sepatu lainnya karena akan mencobanya.
Pegawai itu melihat sepatu itu memang cantik, lalu memuji wajah Yi Seul yang imut jadi dengan mengunakan sepatu itu membuatnya jadi lebih cantik. Yi Seul  menuruni tanga eskalator dengan barang belanjaan yang selama ini tak pernah dibelinya, dengan wajah tersenyum. 

Ri Hwan berjongkok didepan barang-barang yang sudah dibawa, Haeng Ah hanya bisa melonggo lalu berjalan mendekat, Ri Hwan menjauh takut Haeng Ah melemparkan barang-barang itu padanya.
Haeng Ah mengambil glow in the dark yang disobek Ri Hwan memberitahu kalau itu bukan miliknya, tapi milik orang yang sebelumnya tinggal dirumah itu, lalu ia berjongkok dengan helaan nafas.
Di depan jendela bibi Gong melihat Haeng Ah berjongkok seperti sedang menangis. si Paman yakin tak mungkin Haeng Ah menangis. Dong Hwa melihat Haeng Ah sudah bangun, Bibi Gong masih berpikir Haeng Ah itu menangis. Si paman benar-benar yakin Haeng Ah tak akan menangis. 

Haeng Ah menatap Ri Hwan bertanya apakah ia pernah melihat wanita gila. Ri Hwan ngaku tak pernah selain Haeng Ah. Haeng Ah kesal karena Ri Hwan harus pergi kesana padahal akan mengurusnya sendiri, Ri Hwan mengaku kalau Haeng Ah datang lagi ke rumah Suk Joon lalu berjalan masuk ke dalam restoran.
“Kenapa kau kesana? Kenapa kau lakukan hal yang tak kusuruh? Kau tak membantu sama sekali.” keluh Haeng Ah melempar dengan batu lalu memukulnya.
“Unni memukul oppa!” jerit Dong Hwa dibelakang jendela, Paman yakin Ri Hwan itu melakukan kesalahan. Bibi Gong penasaran ada ada dengan mereka menyuruh Dong Hwa mendekatinya. Dong Hwan menolak karena manusia butuh bertengkar.
“Kenapa kau lakukan itu?” teriak Haeng Ah kesal
“Karena aku oppa-mu! Oppa-mu!” balas Ri Hwan
Haeng Ah pikir untuk apa Ri Hwan jadi Oppa-nya, Ri Hwan malah berpikir Haeng Ah ingin menjadi “unnie”nya. Haeng Ah tak peduli menurutnya tak perlu ikut campur dengan masalahnya. Ri Hwan rasa tak ada kakak yang hanya diam ketika adiknya menderita.
“Begitulan Oppa sesungguhnya, Tapi kau, meski adiknya menangis semalam, dia tetap tidur tak peduli. Bahkan Dia merengek minta dibuatkan ramyun.Tak ada oppa sepertimu.” ejek Haeng Ah, Ri Hwan pikir Haeng Ah tak tahu karena tak memiliki kakak sungguhan.

“Karena sikapmu ini, orang jadi bicara aneh tentang kita. dan Karena sikapmu ini, bibi pikir aku...... Apa kau mau tanggung jawab jika bibi tak mau melihatku lagi?” teriak Haeng Ah kesal menahan air matanya.
“Bicara apa kau? Kenapa ibu tak mau melihatmu?” tanya Ri Hwan
“Dia takkan begitu padamu, karena kau anaknya, tapi aku?”akui Haeng Ah
Ri Hwan heran melihat Haeng Ah yang berpikir aneh-aneh, menurutanya tak akan tinggal diam kalau memang itu terjadi. Haeng Ah menegaskan apabila itu terjadi lebih baik Ri Hwan diam saja. Ri Hwan menyuruh Haeng Ah hidup dengan benar dan tak perlu hidup dengan pria semacam itu.
Haeng Ah beralasan dirinya bisa bertemu pria seperti itu karena ulang Ri Hwan sendiri, yang cuek walaupun dirinya batuk tetap saja pergi kerja. Ri Hwan mengejek pria seperti itu bukan manusia. Haeng Ah menegaskan bahwa pria itu adalah manusia sementara Ri Hwan adalah pria yang mengunakan masker.
“Saat kau khawatir padaku, kau pikir aku bisa tenang? Lalu Saat tahu aku khawatir, kau selalu melihatku seperti itu. Kau tahu betapa sesaknya diriku?” keluh Haeng Ah
“Baiklah..... Temui saja pria gas beracun itu. Aku takkan ikut campur, puas?” ucap Ri Han
“Aku pasti akan menemuinya.” tegas Haeng Ah, Ri Hwan langsung masuk ke dalam restoran. 

Ri Hwan melihat foto-fotonya saat masih kecil sambil bergumam. “Apa seperti ini yang ibu rasakan? Dulu aku selalu ingin ada disampingnya Lalu aku mulai membentak dan menyuruhnya tak ikut campur. Jadi orang yang tak diinginkan orang lain...”  setelah itu melihat foto saat masih remaja.
Bibi Gong terdiam saat Ri Hwan mulai menusuk jarum akupuntur ditanganya, seperti melihat Ri Hwan yang masih remaja. Ri Hwan berkata merasa sakit, lalu Bibi Gong bertanya dimana yang sakit dan menunjuk kebagian perutnya. Ri Hwan memberitahu kebagian dadanya, mengaku rasanya lumayan sakit. 

Di bar
Dong Il menceritakan Haeng Ah yang terlihat baik-baik saja. Suk Joon hanya diam dengan tatapan dinginya. Dong Il menyarankan apabila ada salah paham lebih baik dibicarakan bersama. Suk Joon tetap diam, Dong Il mengerti lebih baik ucapanya tak perlu ditanggapi.
“Semakin dipikir, Haeng Ah itu luar biasa. Dia mau pacaran denganmu saja sudah bisa dianggap bodoh. Kau tak bisa tersenyum ataupun mengekspresikan perasaanmu, tak perlu melihat aku sudah tahu.” ucap Dong Il
Ia tahu saat Haeng Ah bertanya apakah Suk Joon mencintainya, tapi dengan tatapan dingin Suk Joon pikir tak perlu mengucapkanya. Suk Joon tetap saja terdiam tanpa ekspresi. Dong Il bertanya apakah memang Suk Joon tak membelikan kue, dan menegur temanya yang bersikap dingin,Suk Joon hanya diam, Dong Il tak tahan karena temanya hanya diam. Suk Joon bertanya berapa lama mereka saling kenal dan juga mengenal Haeng Ah
“Aku seniormu saat SMA dan Haeng Ah sudah lama Sekitar 7-8 tahun, karena aku adalah gurunya” jelas Dong Il
“Kau tahu pria yang bersama Haeng Ah, Yang bersikap seperti kakaknya?” tanya Suk Joon .
“Kau pacaranya saja tak tahu, apa lagi aku? Aku tak tahu. Yang pasti dia bukan saudaranya. Dia anak tunggal dan tak punya orang tua dan saudara. Selain itu ia tukar shift dengan PD lain saat hari libur dan Aku pernah minta bantuannya saat anakku belajar keluar negeri.” cerita Dong Il 

Haeng Ah menunggu air panas teringat dengan ucapan dengan Ri Hwan sebelumnya. “seperti itulah manusia. Kau itu yang seperti masker. Saat kau khawatir padaku, kau pikir aku bisa tenang? Saat aku khawatir, kau selalu melihatku seperti itu Kau tahu betapa sesaknya diriku?” 
Akhirnya ia ingin mengirimkan pesan untuk Ri Hwan menuliskan [Sepertinya obat herbal darimu membuatku sehat.] tapi kembali di hapus [Tadi aku sudah keterlaluan] kembali dihapusnya dan menuliskan kembali [Sudah tidur?]
Ri Hwan memaikan remote controlnya sambil mengingat ucapanya “Silahkan temui pria gas beracun itu. Aku takkan ikut campur lagi, puas?”dan Haeng Ah mengatakan akan tetap menemuinya. Ia menaruk mobil remotnya diatas meja, lalu mengambil jaketnya untuk keluar rumah. 

Ji Hoon datang dengan bau alkohol, bertanya kemana Ri Hwan malam-malam. Ri Hwan mengatakan akan pergi ke tempat Haeng Ah dan menyuruhnya minggir. Ji Hoon yang mabuk ingin ikut menemui Haeng Ah, tapi langsung jatuh tertidur didepan pintu.
Ri Hwan pergi ke tempat juala bunggepang, awalnya hanya ingin membeli 3 buah saja dengan kacang merah yang banyak. Si paman menjerit karena 3 tak cukup, jadi menyuruhnya membeli 2000 won memberikan 7 buah. Ri Hwan langsung setuju. 

Suk Joon akan masuk ke dalam mobilnya melihat toko kue, teringat saat keluar dari bar Dong Il berbicara sebelumnya.
 “Kau tak tahu hari ulang tahunnya Haeng Ah, kan? Kalau kau tak tahu, Tae Hae pasti sudah membelikannya. Tapi Kau sengaja mengabaikan ultah Haeng Ah, kan? Karena itulah dia tak bisa ketemu temannya dan akhirnya dia beli dan makan kuenya sendiri. Dasar Kau pria jahat.”
Suk Joon masuk ke dalam toko melihat kue tart dalam etalase, pelayan menanyakaan apakah ia mencari kue tertentu sambil memberitahu kue yang sedang populer. Suk Joon melihat kue strawberry cheese, bertanya apakah kue itu yang paling besar, pegawai itu membenarkan lalu bertanya apakah ingin dibawa pulang. 

Haeng Ah mengaduk kopiny sambil mengingat kejadian di rooftop dengan Suk Joon.
Flash Back
“Aku tahu aku picik, dan sudah tak tahan lagi. Aku selalu menunggu telponmu seperti orang gila Aku berencana mencampakkanmu sebelum kau campakkan.” teriak Haeng Ah
“Bagimu, aku ini... Apa aku terlihat sebaik itu dimatamu? Apa aku membiarkanmu disisiku hanya karena kau menyukaiku Atau aku melakukannya karena tak ada orang lain yang bisa kukencani Atau karena aku tak bisa cari wanita lain? Aku memilih tak makan karena aku ini sibuk. Jika aku bisa hidup tanpa perlu melihatmu pasti sudah kulakukan sejak dulu.” akui Suk Joon, Haeng Ah berkaca-kaca mendengar pengakuan Suk Joon yang dingin tapi ternyata tak bisa hidup tanpa melihatnya.
Haeng Ah melamun sampai tersadar lampu diruang makanya berkedap-kedip dan akhirnya mati sendiri. 

Ri Hwan melihat Suk Joon baru turun mobil dengan membawa sekotak kue memberitahu dari semua kue, Haeng Ah suka bungeopang. Suk Joon menegaska, untuk Haeng Ah yang penting adalah siapa yang akan memakan kue bersamanya. Ri Hwan bertanya apakah sekarag Suk Joon akan menemuinya. Suk Joon tak menjawab memilih untuk berjalan masuk.
“Haeng Ah sudah minta putus dan bilang dia lelah kesepian setiap hari, Bahkan dia kesakitan menunggu setiap hari seperti ditusuk jarum!!”terik Ri Hwan lalu memegang pundak Suk Joon untuk berhenti.

“Kau ini siapa?” ucap Suk Joon dingin, Ri Hwan menegaskan bahwa ia adalah Oppanya.
“Kuberi kesempatan menjawab yang benar, Sekarag Pilihlah.Jangan bersikap seperti kakaknya atau jangan bersikap seperti kekasihnya.” tegas Suk Joon, Ri Hwan hanya bisa diam.
Suk Joo pun kembali berjalan masuk, Ri Hwan menepuk pundaknya kembali, Suk Joon membalikan badanya dengan mata sinis. Ri Hwan menurunkan tanganya dengan wajah tertunduk memoho pada Suk Joon beberapa kali. 

[Kau minta tolong padaku]
Ayah Haeng Ah diam-diam masuk ke dalam rumah sakit dengan membawa makanan dari luar, melihat Ri Hwan sedang belajar menyuruhnya untuk belajar dirumah saja. Ri Hwan memberitahu kalau minggu depan ada ujian. Ayah Haeng Ah menyuruh Ri Hwan belajar minggu depan saja dan bercanda dengan memiting kepalanya untuk menutup bukunya, tapi Ri Hwan bisa melawanya.
Ayah Haeng Ah memuji Ri Hwan sekarang itu sudah dewasa, lalu memberikan gelas dan memeganya dengan dua tangan. Ri Hwan melihat itu alkohol, ayah Haeng Ah menyuruh Ri Hwan menoleh lalu meminumnya, Ri Hwan mengikutinya. Ayah Haeng Ah meminta supaya Ri Hwan menuang balik untuknya, lalu meminumnya.
“Ri Hwan, kau sudah dewasa. Sekarang aku bisa bergantung padamu. Nanti, kalau Haeng Ah seperti aku dan suka minum, kau temani dan bantu dia. Bawa dia pulang supaya tak bertemu pria aneh” pesan Ayah Haeng Ah, Ri Hwan mengerti.
Ayah Haeng Ah berjanji akan memberikan hadiah remote control karena Ri Hwan sudah berjanji, dengan segala kepercayaan memohon pada Ri Hwan dengan menundukan kepala. 

Dada Ayah Haeng Ah di tekan dadanya beberapa kali agar jantungnya kembali berdetak, suster juga memberikan bantuan pernafasan dari mulut. Haeng Ah hanya bisa  menangis melihat ayahnya. Di depan pintu Nyonya Park melihatnya dengan tatapan dingin.
Suster memasukan obat ke dalam infus dan Dokter mulai mengunakan alat kejut, setelah dua kali tetap tak bisa juga. Dokter kembali menekan dadanya, di luar rumah sakit Ri Hwan berlari dengan membawa mobil remote control menaiki tangga. Ayah Haeng Ah tak bisa tertolong, Haeng Ah hanya bisa menangis di lantai melihat dokter yang keluar dari ruangan.
Dokter merasa kasihan dengan Nyonya Park yang sudah berusaha keras, tapi dokter satunya merasa kasihan karena anaknya sekarang sudah tak memiliki orang tua. Dokter lagi tampak binggung karena bagian perutnya bisa rusak secara tiba-tiba, karena itu terjadi karena minum alkohol, tapi dokter lain tahu pasien itu tak minum alkohol.
Ri Hwan berdiri dibelakang mendengarnya, langsung terdiam dan jatuh sambil menangis membiarkan mobil remote controlnya terjatuh.  Haeng Ah menangis dilantai begitu juga dirinya yang berada di balik dinding menyesal karena tak mencegah ayah Haeng Ah minum alkohol. Mobil itu pun masih tersimpan dengan baik di rumah Ri Hwan sekarang.  

bersambung ke episode 3 

sumber:http://korean-drama-addicted.blogspot.com/

Sinopsis Bubblegum Episode 2 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top