Wednesday, November 11, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 5 Part 2


Nyonya Park menemui Sang Gyo yang sudah menunggunya, Sang Gyo meminta agar Nyonya Park tak salah paham dan mendengarkanya, lalu bertanya apakah akhir-akhir ini sering lupa dengan password ataukah cara bepakaiannya, Nyonya Park terlihat tak mengerti.
Sang Gyo meminta Nyonya Park melakukan tes, Nyonya Park malah heran dengan temanya karena menurutnya sudah sewajarnya seseorang yang mulai tua jadi pelupa. Sang Gyo menjelaskan bukan itu maksudnya, Nyonya Park tersinggung mengartikan terkena sesuatu penyakit.
“Pagi tadi, kau memeriksa pasien Kim Min Ho sebanyak 2 kali. Kesalahan seperti tak biasanya kau lakukan. Lalu Kau lupa dengan janjimu, dan bahkan alarm pun percuma. Selain itu Kau sudah bertemu dengan pegawai magang itu kemarin. Saat kau bertemu dengannya lagi hari ini, kau berkata hal yang sama dengan yang kemarin.” jelas Sang Gyo,
Nyonya Park berdalih terlalu banyak dokte baru jadi tak mungkin menghapalnya. Sang Gyo memohon tapi Nyonya Park memilih untuk pamit pergi saja.  Sang Yo memanggilnya dengan suara lantang kalau ia hanya khawatir saja dan mau memastikannya. Nyonya Park sempat terdiam lalu kembali lagi berjalan. 


Nyonya Park kembali ke ruanganya, mendengar suara ponselnya yang ternyata ada didalam laci, berbicara dengan seseorang kalau anaknya belum memiliki pacar dan sudah bertemu dengan Yi Seul tapi belum memikirkan pernikahan.
Setelah itu menelp Haeng Ah, mengajaknya untuk bicara  terdengar bunyi suara ketukan pintu. Nyonya Park menelungkupkan ponselnya begitu saja, Perawat datang memberikan grafik pasien yang diminta, Nyonya Park terlihat binggung seperti lupa memintanya.
Haeng Ah memanggil Nyonya Park menutup telp begitu saja, akhirnya mengirimkan pesan pada bibinya. Nyonya Park menerima pesan dari Haeng Ah, tapi pandangan malah berbayang,lalu berusaha untuk membacanya dengan jelas.  “Bibi, kenapa teleponnya mati? Telepon aku jika bibi tidak sibuk lagi.” Nyonya Park terlihat binggung, berdiri dari bangkunya, saat melihat laci bagian bawah terkaget-kaget karena ada es krim yang meleleh didalamnya.
“Aku tak akan menjawab pertanyaan yang aku pikir itu aneh dan  akan melakukan tes lainnya saat jam kerja selesai.” ucap Nyonya Park datang ke ruangan Sang Gyo. 

Ri Hwan terlihat malu saat seorang pasien yang datang binggung mendengar suara yang menyanyi sangat lantang. Ji Hoon berada dilantai bawah menyanyikan salam perpisahan pada alkoholnya dan mengali tanah dengan skop. Ri Hwan memberitahu akan makan siang denga bibi Gong Jo jadi hari ini temanya itu akan makan sendiri. Ji Hoon mengerti sambil mengali tanah.
“Aku bisa bertemu Haeng Ah di sana.” ucap Ri Hwan, Ji Hoon mengejek temannya itu pasti senang.
“Apa kau mau aku memberitahu Tae Hee bahwa kau sudah berhenti minum?” tanya Ri Hwan, Ji Hoon langsung tersenyum.
“Kau harus membuatnya seakan bukan aku yang menyuruhmu.” ucap Ji Hoon lalu kembali mengubur botol alkoholnya,  Ri Hwan pun pamit pergi membiarkan Ji Hoon yang terus menyanyi. 

Haeng Ah datang ke restoran untuk makan siang, Dong Hoo mengejek Haeng Ah yang datang seperti hantu dengan wajah pucat. Haeng Ah menyuruh agar berbaik hati padanya lalu memberikan sebuah lipstik yang baru saja dicurinya dari mall. Dong Hoo binggung Haeng Ah yang tiba-tiba pergi ke mall.
“Aku tadi beli tas, Bukan untukku tapi untuk orang lain. Meskipun aku merasa jatuh miskin sekarang.” keluh Haeng Ah duduk lemas, Dong Ho pun mencoba merasakan lipstik dengan lidahnya.
“Kenapa kau mencicipinya?” tanya Haeng Ah binggung
“Karena Ri Hwan-oppa juga pasti akan merasakannya nanti. Jadi, harus kupastikan.” jelas Dong Hoo to the point, Haeng Ah langsung memegang bibinya.
“Apa Kau tak memperhatikan bibirnya? Bibirnya sangat seksi. Aku merasa, Oppa selalu pakai lipgloss.” komentar Dong Hoo
Haeng Ah tak peduli karena tak ada gunanya memperhatikanya, Dong Hoo memberitahu pesan dari bibi Gong kalau Haeng Ah harus menelp Ri Hwan kalau sudah sampai direstoran. Haeng Ah mengerti dan akan menelpnya nanti. 

Paman No memberikan makanan untuk Haeng Ah dan melihat telp dari Ri Hwan yang tak diangkat, berpikir kalau mereka sedang bertengkar lagi. Haeng Ah mengatakan tidak, Paman No kembali bertanya alasanya, Haeng Ah mengaku hanya tak mau saja mengangkatnya.
“Apa Ri Hwan mengganggumu lagi?” Tanya Paman No penasaran
“Tidak... Aku hanya tak mau saja.” ucap Haeng Ah tetap membiarkan telp dari Ri Hwan
“Apa Kau mau aku memukulnya?” tanya paman No, Haeng Ah mengeleng, tiba-tiba Dong Ho mendatanginya dengan memberikan ponselnya.
“Aku melakukannya hanya karena lipstik itu.” keluh Dong Ho lalu dengan sinis hanya memanaskan daging untuk bibi. Paman No heran karena sebelumnya tak mengatakan itu, lalu Haeng Ah dengan jarinya meminta Paman No pergi. 

Haeng Ah berbicara di telp sang bibi memberitahu baru saja selesai makan, tiba-tiba terdengar suara Ri Hwan yang membuat Haeng Ah sangat kaget dan melihat nama tertera disana bukan bibi yang menelp tapi “suamiku”.
Ri Hwan bertanya alasan Haeng Ah tak mengangkat telpnya, Haeng Ah mengaku hanya tak ingin berbicara denganya. Terdengar suara batu yang terlempar ke jendela, Ri Hwan sudah berdiri diluar restoran menatapnya, mengancam akan masuk ke dalam apabila Haeng Ah menutup telpnya.
“Dengarkan aku. Aku tahu, aku tak bisa memaksa perasaanmu. Aku juga baru menyadarinya dan kau pasti sangat terkejut karena kau baru saja putus.Kau bisa menerima perasaanku secara perlahan. Tapi, aku tetap berharap kau menyadarinya dengan cepat. Aku... sangat membenci hatimu yang masih untuknya.” ucap Ri Hwan, Haeng Ah sedikit melirik lalu berjongkok dibalik dinding.
“Saat aku kecil, aku pernah bermimpi mencium Woo Bin. Setelah mimpi itu, aku merasa malu saat harus bertemu dengan Woo Bin, Rasanya aku menyukainya tanpa aku sadari Dan hingga sekarang kebiasaanku masih seperti itu, situasinya sama seperti sekarang.” jelas Haeng Ah lalu tak mendengar suara Ri Hwan di telp.

Ia berusaha mencarinya ternyata Ri Hwan sudah tak ada diluar, tiba-tiba Ri Hwan sudah berdiri didepan kaca yang membuat Haeng Ah kaget dan kembali bersembunyi di balik dinding.
“Jadi, kau menganggap ciuman kita hanya mimpi? Jika aku maju 10 langkah lagi,maka aku bisa menyentuhmu Dan kau masih menganggapnya mimpi? Aku menganggap semuanya mimpi kecuali ciuman kita. Aku telah terbangun dan Sekarang, kau juga harus bangun.” tegas Ri Hwan
Haeng Ah tak bisa membalasnya memilih untuk merayap supaya bisa keluar dari restoran diam-diam. Ri Hwan melihat punggung Haeng Ah dan meninggalkan ponselnya di taman. Haeng Ah langsung berlari keluar restoran mencoba mengatur nafasnya yang berhenti sejenak.
“Jadi, pikirkan bagaimana perasaanmu, Kau tak bisa terus menghindar, cepat pikirkan baik-baik.” pinta Ri Hwan yang sudah berdiri disampingnya, Haeng Ah hanya bisa melonggo melihat temannya itu berada disampingnya.

Haeng Ah melamun sambil mendengarkan lagu dengan earphonenya, Tae Hee datang menanyakan apa yang sedang dilamunkan oleh temanya, Haeng Ah seperti tak mendengarnya, akhirnya Tae Hee pun menyenggolnya. Haeng Ah malah menjawab sudah makan jadi Tae Hee bisa makan jeruk pemberiaan Ri Hwan.
“Persediaan surat kita menipis, Persiapkan dengan cepat sekarang” perintah Tae Hee akhirnya membuka sedikit earphone yang dipakai Haeng Ah
“Oh, itu karena kita jarang live sekarang, Berapa banyak yang kita butuhkan?” tanya Haeng Ah
“Aku sudah menulis 2 dan persediaan masih ada 6 surat. Jadi, kau hanya perlu menulis 2 surat.” jelas Tae Hee. Haeng Ah binggung apa yang harus ditulisnya.
“Tulis saja tentang sesuatu yang telah terjadi di hidupmu.” ucap Tae Hee lalu meninggalkan Haeng Ah sendirian. 

Se Young memulai acara Black Radio dengan tema "Kita Harus Menghilangkan Kekhawatiran Kita." dengan mendatangkan seorang tamu dan membaca surat dari pembaca.
“Nickname: "Tamparan". Ada seorang pria yang aku suka saat dia mabuk-mabukan dan Saat dia mabuk, dia jadi tak ingat apapun dan hanya tidur saja. Apa aku harus percaya pada pria seperti ini?” ucap Se Young, Tae Hee seperti menunggu jawabanya dengan wajah tertunduk.
“Tidak. Jangan percaya pada pria semacam itu. Jika kau ingin percaya padanya, kau tak mungkin mengirim surat ini.”jelas pria seperti dokter cinta.
“Selanjutnya, Nickname: "Bor". Aku menyukai pria yang jorok yang tinggal di rumah yang kecil. Apa aku sudah tidak normal? lalu Aku harus bagaimana?” kata Se Young
“Tak ada yang perlu kau lakukan. Cinta adalah satu-satunya penyakit mental yang dipercaya di dunia medis.” jelas si pria
“Tapi, dia merasa menyukai pria itu tidaklah benar? dan Pria itu kan jorok dan miskin.” kata Se Young berusaha mendalami pertanyaan.
“Itulah yang namanya cinta. Kasusnya sama dengan surat yang tadi. Mereka tak akan mengirim surat ini jika dia mau mengikuti saran orang lain.” jelas si pria berjas dokter, Joon Ho dan Haeng Ah saling melirik karena tahu itu pasti curhatan Tae Hee.

“Selanjutnya, Nickname: "Telepon." Kenapa pacarku tidak pernah mengatakan, "Aku mencintaimu"?” ucap Se Young
“Karena dia pria yang bodoh dan Dia adalah orang yang tak pantas kau pacari.” jawab si pria santai. Haeng Ah yang mendengarnya terlihat lemas.
“Nickname: "Aku adalah kakakmu." Apakah kita bisa menyukai teman masa kecil hanya karena sebuah ciuman? Apa yang harus aku lakukan? Aku tak tahu bagaimana perasaanku.” kata Se Young
“Jika perasaanmu goyah hanya karena 1 ciuman itu, maka, sejak awal kau tak pernah menganggap sebagai teman biasa. Jika kau tak yakin, cobalah untuk mengulangi ciuman kalian. Dengan begitu, kau akan menemukan jawabannya.”jawab si pria berjas dokter
Se Young pikir kalau memang tak menyukai maka tak mungkin berciuman lagi, Pria itu bertanya alasan keduanya saling berciuman dan mengarahkan pandangan pada Haeng Ah. Se Young merasa keduanya sedang mabuk, Pria berjas itu merasa mereka tak perlu membahasnya karena yakin keduanya sebenarnya sudah berkencan. Tae Hee menatap Haeng Ah dengan padangan sangat menusuk. Haeng Ah pura-pura tak mengerti dan merasa bukan ia yang menulisnya. 

Haeng Ah memakaikan lipstik pada bibirnya, Tae Hee menghampirinya bertanya temanya itu mau kemana. Haeng Ah sedikit kaget memberitahu akan pulang kerumah.
“Apa kau mulai merawat bibirmu setelah ciuman itu?” ejek Tae Hee.
“hei.... Orang-orang bisa dengar” bisik Haeng Ah panik
Tae Hee bertanya siapa orangnya karena tak meliha siapapun. Dong il tiba-tiba muncul melihat ada banyak jeruk diatas meja dan meminta satu buah. Tae Hee menyuruh mengambil semuanya saja, Dong il pun mengambil dua buah lalu pergi. Haeng Ah panik karena Dong il bisa mendengarnya tadi, tapi Tae Hee malah tersenyum bahagia. 

Dong il menemui Suk Joon diruanganya mengajaknya makan sambil memberikan buah jeruk yang dibawanya. Suk Joon menolak menyuruh temanya saja makan karena merasa tak lapar.
“Jika kau galau begini terus, kita tak bisa makan bersama lagi. Ayo. Aku yang akan teraktir.” ucap Dong il lalu mengambil satu jeruk untuknya dan keluar dari ruangan. Suk Joon hanya menatap dengan sedikit senyuman. 

Ri Hwan yang akan pulang membuatkan teh dengan cangkir pemberian dari Yi Seul sambil memuji cangkir itu sangat bagus.  Yi Seul memberitahu kalau itu cangkir couple dan bisa menggunakannya dengan temannya Bukan hanya untuk pasangannya saja. Ri Hwan pun mengucapkan terimakasih.
Yi Seul ingin berbicara, Ri Hwan memotong melihat Yi Seul yang terlihat sudah sembuh, dengan mengodanya untuk ikut perlombaan UFC. Yi Seul langsung menolaknya, Ri Hwan sudah tahu jawabanya seperti itu, lalu bertanya apa yang ingin dikatakan Yi Seul.
“Apa Kau punya waktu luang besok? Aku mau mentraktirmu makan sebagai ucapan terima kasih.”ucap Yi Seul
“Tidak perlu. Kau kan terluka karena aku Dan kau sudah repot-repot datang ke sini.” kata Ri Hwan menolak secara halus
“Kalau begitu, makan malam saja?” kata Yi Seul berusaha mengajak Ri Hwan pergi.
“Jadwalku sangat padat besok.” ungkap Ri Hwan berusaha menolak dengan alasan
Yi Seul agresif menanyakan jam berapa, Ri Hwan terlihat kaget. Yi Seul mengaku hanya ingin mengajaknya makan. Ri Hwn merasa harus memberitahu sesuatu, sebelumnya pernah bertanya tentang Haeng Ah dan semuanya memang benar kalau mereka adalah teman sejak kecil, sebelum Ri Hwan menyelesaikan ucapanya Yi Seul menyelanya.

“Tidak apa-apa, kok! Kita bisa makan kapan-kapan jika kau suda tak sibuk. Kua juga tak harus makan, tapi bisa meminta kubelikan apa saja.” ucap Yi Seul berusaha mengambil hati Ri Hwan
“Sepertinya aku sudah membuatmu salah paham...” komentar Ri Hwan, Yi Seul merasa kalau tak salah paham dengan semuanya, Ri Hwn merasa seperti itu.
“Kenapa kau pikir aku telah salah paham dengan sikapmu? Apa karena aku dari keluarga kaya? Memangnya aku harus bagaimana lagi?” ucap Yi Seul dengan nada sedikit marah, Ri Hwan mengatakan bukan itu maksudnya.
“Ataukah... Aku tak boleh menyukaimu? Karena aku tak sekurus Haeng Ah? Aku tak memiliki senyum secantik dia atau terlalu kaku? Kenapa aku tak bisa menyukaimu?” tanya Yi Seul dengan mata berkaca-kaca
“Yi Seul... Kau layak mendapatkan pria yang lebih baik lagi.” ungkap Ri Hwan,
Yi Seul memutuskan untuk tak usah bertemu lagi, saat akan berdiri ponselnya bergetar, telp masuk dari [Lantai 48] Wajahnya langsung panik menanyakan pernapasannya dan akan segera kesana, tak sengaja cangkir yang baru dibelinya jatuh. 

Ri Hwan mengantarkan Yi Seul menuju sebuah hotel, Yi Seul yang panik mengucapkan terimakasih dan akan menghubunginya nanti. Ri Hwan pun kembali masuk mobilnya, saat itu ibu Yi Seul baru sampai melihat anaknya baru turun dari sebuah mobil.
Ibu Yi Seul menanyakan siapa yang mengendarai mobil dengan anaknya, Pengawalnya akan menyelidikinya. Ibu Yi Seul mengeluh anaknya itu tak tahu keberadan mereka dengan mengejek bukan hanya tubuhnya yang gemuk tapi otaknya juga, takut ada rumor yang beredar. Ia tahu keberadaan suaminya sedang ada di Cina dan menanyakan Jung Woo, Pengawal memberitahu belum datang. 

Yi Seul sedikit berlari menuju sebuah ruangan memanggil kakeknya, terlihat pria yang berbaring dengan alat bantu nafas, meminta dibuka maskernya.  Tuan Hong senang melihat cucunya yang datang, Yi Seul terlihat berkaca-kaca melihat kakeknya berusaha untuk tersenyum padahal hanya bisa terbaring di dalam ruangan. 

Haeng Ah menyeduh kopi kesukaanya, teringat sebelumnya barang-barang yang dibawa Ri Hwan dari rumah Suk Joon. Kakinya tersadung dengan kardus dan minuman herbal pemberian Ri Hwan yang tak pernah diminumnya, saat kembali ke meja kerjanya ponselnya berdering.
Melihat nama Ri Hwan yang menelpnya, Haeng Ah membiarkan begitu saja da melihat kembali lampu bentuk domba yang diberikan Ri Hwan. Akhirnya ia memilih untuk membaringkan tubuhnya disofa, terlihat dibagian atas ada glow in the dark yang juga diambil Ri Hwan dari rumah Suk Joon.
Akhirnya Haeng Ah memilih untuk duduk tapi matanya mengarah pada kotak minuman herbal, teringat kembali saat Ri Hwan langsung memaksanya untuk minum sampai habis. Haeng Ah tersenyum mengingatnya. 

Di dalam mobil, Ri Hwan sengaja menepikan mobilnya untuk mengirimkan pesan. Haeng Ah pun membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya dari Ri Hwan.
“Jika aku berbelok ke kanan, aku akan sampai di rumahku Dan jika ke kiri, aku akan ke rumahmu. Jika terus, itu adalah stasiun radio Jadi, aku akan terus saja.”
Haeng Ah yang membaca pesan Ri Hwan seperti tak peduli, Ri Hwan melihat kaca spionya lampu sen kirinya menyala. Haeng Ah berada dirumah terlihat kebinggungan dengan perasaanya sendiri. Ri Hwan pun melajukan mobilnya lirik kedepan. 

Ibu Yi Seul terlihat gelisah ingin tahu apa yang dikatakan kakek Hong, Yi Seul memberitahu tetap sama, kakek menanyakan apa keinginnya. Ibu Yi Seul mengomentari rambut anaknya yang acak-acakan saat mendatangi kakeknya, Yi Seul merasa tak ingin membicarakanya.
“Berapa kali aku harus menyuruhmu? Apa kau tak bisa memperbaiki penampilan jelekmu itu jadi lebih bagus? Pakailah baju yang cantik, mahal dan yang terbaru.” omel ibu Yi Seul
“Ibu, aku mohon! Aku tak mau berdebat hari ini.” teriak Yi Seul sangat marah lalu pergi tak sengaja menjatuhkan tasnya.
Ibu Yi Seul heran melihat anaknya yang sangat marah lalu melihat ada dua buah jeruk dan botol minuman didalam tas Yi Seul yang terjatuh, mengejek anaknya gendut karena sudah menaruh makanan didalam tasnya dan bertanya-tanya apakah jeruk itu harganya mahal. 

Haeng Ah berdiri di balkon sambil meminum herbal yang diberikan Ri Hwan, seperti berusaha menjernihkan pikirannya yang sedang galau.  Suk Hoon melihat ruang siaran yang gelap lalu berusaha menelp Haeng Ah. Ri Hwan menatap ponselnya yang belum mendapatkan balasan, sambil tetap mendengarkan radio lalu melajukan mobilnya lurus kearah depan. 

Yi Seul duduk menatap kakeknya yang tertidur dengan bantuan alat pernafasan, dengan mata berkaca-kaca memberitahu kakeknya kalau ia memiliki satu permintaan.
Flash back
Ketika ada dilampu merah, Ri Hwan memberikan sebotol minuman pada Yi Seul agar bisa lebih tenang dan menarik nafasnya dalam-dalam. Yi Seul meminumnya sedikit dan Ri Hwan sengaja menurunkan kaca jendela lalu kembali mengendarai mobilnya saat lampu hijau. Dalam perjalanan, Yi Seul merasakan Ri Hwan menatapnya dengan rasa khawatir, lalu menatap Ri Hwan yang mengendarai mobilnya.
Yi Seul duduk disamping kakeknya, mengataka ingin bersamanya, tanganya sengaja memegang jeruk yang diberikan Ri Hwan melalui Haeng Ah. 

Ri Hwan sudah sampai di tepi jalan, Suk Joon baru saja memarkir mobilnya didepan apartement. Ri Hwan berusaha kembali menelp Haeng Ah tapi tetap tak diangkat. Suk Joon sampai didepan rumah Haeng Ah menekan bel rumah.
Haeng Ah menengok dengan wajah terkejut seperti mendengar bunyi bel dan Suk Joon menatap lurus kedepan. Ri Hwan tersenyum lebar melihat seseorang didepanya, Haeng Ah melambaikan tanganya dengan wajah canggung. Ri Hwan terus mengubar senyuman bahagianya melihat Haeng Ah yang menunggunya di depan stasiun radio walaupun siaranya hanya rekaman.
 [Apakah itu perasaanmu yang sesungguhnya?]

bersambung ke episode 6

sumber:http://korean-drama-addicted.blogspot.com/

Sinopsis Bubblegum Episode 5 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top