Thursday, November 12, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 6 Part 1

Haeng Ah langsung masuk ke dalam mobil, Ri Hwan tak berhenti tersenyum ikut masuk ke dalam mobil. Haeng Ah dengan gugup mengatakan akan memikirkan yang dikatakan Ri Hwan tadi pagi dan menganggap Ri Hwan sedang gila dengan menyukainya dan hanya sesaat maka sekarang ingin menganggap kalau iajuga menyukainya.
“Lalu apa? Jadi apa? Apa kita pacaran sekarang?” tanya Haeng Ah berusaha memakai sabuk pengamannya yang tak bisa ditariknya.
“Anggap saja kita pacaran. Dan saat aku melihatmu menarik sabuk pengaman, aku akan berkata, "Kenapa tanganmu lemah sekali?". Lalu, aku akan melakukannya untukmu.” kata Ri Hwan membantu memasangkan sabuk
“Aku lemah karena masih lapar.” ucap Haeng Ah mencari alasan.
Ri Hwan bertanya apakah Haeng Ah sudah makan, Haeng Ah mengaku sudah, Ri Hwan mengejek Haeng Ah yang tak bisa membedakan antara rasa lapar dan gangguan pencernaan. Haeng Ah kesal karena Ri Hwan terus saja menceramahinya, karena yang dia ingin Ri Hwan bertanya  "Jadi, kau mau makan apa?" Ri Hwan pun mengikutinya dan Haeng Ah menjawab terserah. Ri Hwan dengan senyuman mengemudikan mobilnya. 

Keduanya makan toppoki di pinggir jalan, Ri Hwan menganggap mereka sedang pacaran jadi harusnya saling menyuapi. Haeng Ah mengeluh Ri Hwan yang menyuapinya seperti tak ikhlas, Haeng Ah pun ingin bergantian ingin menyuapi Ri Hwan juga.
Ri Hwan mengangguk setuju, Haeng Ah langsung mengambil odeng yang masih panas dan dimasukan ke dalam mulut sang pacar. Ri Hwan menjerit kepanasan, beberapa pembeli melirik keduanya yang terlihat seperti pasangan yang aneh.
Haeng Ah memuji Ri Hwan yang akhirnya memilih makan sendiri. Ri Hwan masih merasakan lidahnya melepuh tiba-tiba tertawa melihat wajah Haeng Ah yang belepotan saos toppoki. Haeng Ah tak tahu apapun hanya memberikan senyuman pada penjual toppoki. 

Keduanya menuruni tangga bersamaan, Ri Hwan langsung membuka jaketnya saat melihat pasangan didepannya memberikan jaket pada pacarnya, karena menganggap mereka pacaran jadi ia ingin memberika jaket pada Haeng Ah.
“Nah, anggap saja kita sedang pacaran. Apa aku akan senang melihatmu kedinginan dan aku sendirian yang hangat?” ucap Haeng Ah menolak
“Anggap saja ini yang harus dilakukan cowok pada ceweknya.” kata Ri Hwan dengan gemetar karena kedinginan
“Kalau begitu, saling berbagi saja.” ucap Haeng Ah membuka jaketnya.
Akhirnya keduanya saling bertukar jaket, Haeng Ah mengunakan jaket Ri Hwan dan Ri Hwan mengunakan jaket Haeng Ah yang terlihat kekecilan ditubuhnya. Haeng Ah tertawa melihat Ri Hwan karena seperti gelandangan, Ri Hwan ikut tersenyum tak menyadarinya karena sudah merasakan kedinginan. Haeng Ah kabur berpura-pura tak saling mengenal. 

Ri Hwan membelikan ubi bakar dan diberikan pada Haeng Ah yang duduk di halte, Haeng Ah ingin memakanya tapi masih panas. Ri Hwan menatap wajah Haeng Ah menganggap ada kotoran di wajahnya, lalu memberikan bekas arang di pipinya dan kabur. Haeng Ah melihat ada noda arang di pipinya.
“Anggap saja kita sedang pacaran dan bermain, "Ayo tangkap aku".” goda Ri Hwan yang sudah menjauh.
Haeng Ah kesal langsung mengejarnya, pasangan anak muda yang melihat keduanya hanya mengeleng-gelengkan kepala. Ri Hwan terus berlari dengan cepat karena Haeng Ah sangat cepat mengejarnya. 

Haeng Ah melihat wajahnya di kaca, melirik sinis karena Ri Hwan melakukan sesuatu pada wajahnya. Ri Hwan kesal karena wajahnya di gambar seperti kucing dan merasa Haeng Ah tega menyuruhnya untuk berjalan dengan wajah seperti itu. Haeng Ah menyuruh Ri Hwan menganggp sebagai trend make up jaman sekarang.
Ri Hwan tak terima karena Haeng Ah sudah membuat wajahnya jadi jelek sebagai balasanya ingin memberikan hadiah jepitan rambut karena wajahnya yang cantik. Haeng Ah juga ingin membelikanya karena rambut Ri Hwan sering jatuh saat makan ramen. Keduanya kembali sama-sama saling mengejek gila. Haeng Ah tersenyum sambil memainkan rambutnya menganggap kalau ia sudah gila. Ri Hwan hanya bisa tersenyum membayar jepitan rambut yang mereka beli. 

Haeng Ah berlari melompat-lompat seperti orang gila, Ri Hwan mengejarnya terdiam saat melihat sesuatu didepanya. Haeng Ah menyuruh Ri Hwan cepat berjalan, melihat Ri Hwan tetap diam saja akhirnya mendekati Ri Hwan, bertanya apa yang sedang dilihatnya.
Di depan mereka ternyata ada deretan motel, keduanya sama-sama tak bisa menutupi rasa terkejut mereka.
“Anggap saja kita sedang pacaran... Kita akan ke tempat seperti ini, 'kan?” kata Ri Hwan berharap dengan tersipu malu, Haeng Ah tetap saja melonggo lalu memilih untuk pergi. Ri Hwan hanya bisa menatap motel yang harus pergi meninggalkanya. 

Haeng Ah pergi ke namsan tower dengan senyuman bahagia melihat sangat cantik. Ri Hwan setuju memang sangat cantik dengan  pandangan tertuju pada Haeng Ah.
“Saat membayangkan jika kita pacaran... rasanya menyenangkan.” ungkap Ri Hwan, Haeng Ah menatap Ri Hwan berkaca-kaca dan tersenyum, Ri Hwan tak berkedip menatap Haeng Ah yang memang terlihat sangat cantik hari itu. 

Di dalam mobil, Ri Hwan menutup jendela yang sedikit terbuka, Haeng Ah sedikit binggung. Ri Hwan merasa mereka seharusnya keluar lebih cepat. Haeng Ah setuju dengan hal itu, dengan senyuman dibibirnya.
“Aku sudah memutuskan perasaanku. Jadi... Kau juga harus putuskan.” kata Ri Hwan. Haeng Ah terdiam dan terlihat gugup duduk disamping Ri Hwan.

Haeng Ah turun dari mobil berjanji besok akan membawakan kotak kimchinya, Ri Hwan mengeluh untuk apa besok dan kenapa tidak sekarang saja, lalu menduga Haeng Ah ingin besok datang lagi ke apartementnya. Haeng Ah langsung meminta Ri Hwan menunggu akan segera mengambilnya.
Ri Hwan terus mengoda Haeng Ah sebenarnya ingin besok datang lagi ke tempatnya. Haeng Ah buru-buru masuk ke dalam apartement untuk mengambilnya.
“Aku akan naik dan mengambilnya.” ucap Ri Hwan, Haeng Ah pun membiarkan Ri Hwan mengikutinya dari belakang. 

Haeng Ah membuka pintu rumah meminta Ri Hwan untuk menunggu diluar, Ri Hwan ingin ikut masuk. Haeng Ah sedikit berteriak apa lagi yang diinginkanya. Ri Hwan mengaku akan mengambilnya sendiri dan melihat kimchi dalam boxnya masih banyak, seperti belum dimakan.
“Aku jarang makan di rumah, karena selalu sibuk di tempat kerjaku. Oh ya, aku akan membaginya pagi Ji Hoon juga Dan juga pada Tae Hee, karena bibi tak mungkin bisa memakannya sekarang. Tapi Bagaimana jika Tae Hee melemparkan Ji Hoon dengan kimchi?.” ucap Haeng Ah mengeluarkan box makan untuk memindahkanya. Ri Hwan memegang pipinya sendiri seperti khawatir.
“Apa Kau punya ramen?” tanya Ri Hwan, Haeng Ah mengaku tak punya agar Ri Hwan tak bisa berlama-lama dirumahnya.
Ri Hwan bisa menemukan persembunyian ramen, Haeng Ah mengeluh Ri Hwan yang masih makan kimchi.  Ri Hwan merasa tak bisa menahan godaan kimchi tanpa memakan ramen. Haeng Ah menolak untuk memakan ramen, akhirnya Ri Hwan membuat sendiri ramennya. 

Ri Hwan sudah memakai jepitan rambutnya hanya bisa melonggo melihat Haeng Ah sangat bersemangat memakan ramen buatanya, lalu menyindir karena sebelumnya tak ingin makan. Haeng Ah berdalih akan memakanya agar Ri Hwan cepat pulang.
“Dalam film "One Fine Spring Day", Lee Young Ae berkata pada Yoo Ji Tae, " Apa kau mau makan ramen?"” ucap Ri Hwan kesal
“Kenapa kau membahas film itu?”keluh Haeng Ah
Ri Hwan pikir kenapa tak boleh membahasnya, Haeng Ah menegaskan mereka sudah makan jadi tak ada lagi yang perlu dibahas. Ri Hwan pikir perlu dibahas karena mereka sedang memakan ramen. Haeng Ah berteriak enggan membahasnya, Ri Hwan mengeluh mereka akan terus seperti itu.
Haeng Ah berteriak berpikir Ri Hwan ingin tinggal dirumahnya. Ri Hwn heran dengan Haeng Ah yang selalu kaget ketika mengatakan sesuatu. Haeng Ah menjelaskan karena Ri Hwan selalu  mengatakan hal yang tidak jelas. Ri Hwan memilih untuk makan dibanding berdebat, Haeng Ah langsung mengambil panci tak boleh memakanya dan menyuruhnya pulang. 

Setelah makan, Ri Hwan masuk ke dalam kamar, Haeng Ah panik melihat Ri Hwan yang masuk ke dalam kamarnya. Ri Hwan kesal karena sebelumnya sudah sering masuk ke dalam kamarnya bahkan nyamuk disana sudah berteman denganya, dan juga sudah menata kamarnya dengan memasang paku.
Tiba-tiba lampu kamar Haeng Ah berkedip dan berteriak karena Ri Hwan yang mematikan lampu. Ri Hwan mengaku bukan yang mematikan lampu. Haeng Ah panik berusaha mencari ponsel dalam kegelapan, tapi kakinya tersandung dengan tempat tidur.
Ri Hwan panik ingin memegangnya, Haeng Ah berteriak menyuruh Haeng Ah tak menyentuh dan mendekatinya. Ri Hwan takut Haeng Ah bisa terjadi pendarahan, memintanya untuk tak banyak gerak. Haeng Ah mengaku sangat takut, Ri Hwan pikir tak perlu takut karena ada dirinya. Haeng Ah malah lebih takut karena ada Ri Hwan didekatnya, keduanya akhirnya duduk bersama diatas tempat tidur.
“Kenapa kau takut padaku? Kita tak bisa begini selamanya. Jika kau jelaskan. Aku juga menjelaskan padamu, bahwa kau tak perlu takut padaku. Dan jika kau tetap saja merasa takut...” ucap Ri Hwan
“Bagaimana jika aku memang masih takut?” tanya Haeng Ah
“Aku akan mencari cara agar kau tak takut lagi. Dan sekarang Ayo kita habiskan waktu lebih lama lagi bersama.” kata Ri Hwan dengan penerangan lampu darurat. 

Pagi hari
Suk Joon masuk ke dalam mobil, menatap jendela kamar Haeng Ah lalu masuk ke dalam mobilnya. Ibu Ri Hwan melihat baju putihnya yang selama ini dicarinya, terlihat noda dibagian dadanya dan menaruhnya kembali lalu mengambil pakaian yang lain.
Tae Hee membuka pintu rumahnya, tapi terlihat ada sesuatu yang menganjal karena tak bisa berbuka, dengan kekuatanya berusaha mendorongnya. Ji Hoon yang bersandar di pintu langsung terlempar, langsung tersadar. Tae Hee melihat Jin Hoon yang ada didepan rumahnya dan memilih untuk meninggalkanya, Ji Hoon heran Tae Hee meninggalkanya begitu saja, tanpa menyapanya. 

Ji Hoon mengejar Tae Hee dengan bangga dirinya sudah tak mabuk karena tak mungkin datang ke tempat sembarangan. Tae Hee mengaku dirinya itu selalu meludah sembarangan, Ji Hoon terlihat binggung. Tae Hee merasa sekarang mereka sedang membandingkan siapa yang lebih jorok.
“Bukan begitu. Aku sudah berubah,  aku mabuk karena alasan tertentu dan mau membuktikan, bahwa saat aku mabuk, aku tak bisa mengontrol diri. Kau lihat sendiri kan tadi?” jelas Ji Hoon, Tae Hee bertanya untuk apa Ji Hoon datang.
“Aku sudah datang sejak pagi buta tadi.” kata Ji Hoon.
“Kita sudah berpisah selama setahun. Apa kau lupa aku sudah punya pacar?” kata Tae Hee sinis, Ji Hoon terlihat kebinggungan.
“Jika bukan begitu... Apa malaikat yang menuntumu ke sini?”sindir Tae Hee
“Awalnya aku tak berani datang, Karena kau pasti akan marah. Kau tak tahu, betapa takutnya aku. Kau marah saat aku mabuk,Saat aku minta maaf, kau juga marah dan Saat aku mencoba mencium, kau malah menghinaku, dengan keadaan itu membuatku merasa takut dan marah.” jelas Ji Hoon.

“Kau pikir aku tak takut? Saat aku bersamamu, aku takut jika akan menjadi seperti ibuku. Aku sangat takut, akan menghabiskan sisa hidupku untuk meladeni hobi jelekmu itu. Setiap hari kau selalu saja mabuk-mabukan Dan aku tahu itu tak akan berubah. Kau pikir aku menyukaimu karena aku ingin?” teriak Tae Hee
Ji Hoon melihat Tae Hee yang tetepa berkencan denganya karena menyukainya. Tae Hee menegaskan seharusnya Ji Hoon bisa berubah, Ji Hoon berjanji akan berubaha. Tae Hee mengungkapkan semua sudah terlambat lalu mengeluarkan sobekan kertas dan bertanya apakah itu bisa dilem kembali. Ji Hoon hanya bisa diam.
“Berpacaranlah dengannya dan juga denganku, Kau bisa memiliki kami berdua.” pinta Ji Hoon, Tae Hee menjawab dengan membuang sampah basah ke dalam tempatnya.
“Kau lihat, 'kan? Aku tak suka menyimpan sampah di rumahku.” tegas Tae Hee lalu meninggalkanya, Ji Hoon yang kesal menendang kaleng sampah dalam plastik yang akhirnya berhamburan dijalan. 

Ibu Yi Seul keluar rumah kembali mengomel karena ternyata yang mengantar anaknya itu mobil dokter, padahal mereka belum kenal dekat tapi sudah ingin memberitahu keadaan kakeknya. Yi Seul membela kalau Ri Hwan itu bukan orang yang jahat.
“Bagaimana mantan tunanganmu? Bukannya dia seperti malaikat dulu? Dan akhirnya, sikapnya berubah. Apa dia orang yang sebaik itu? Bagaimana jika dia mulai menyebarkan masalah kakek ke media?” teriak ibunya,
“Aku akan bertemu dan berbicara dengannya, Ini masih pagi, jadi Tak usah marah-marah.” pinta Jung Woo yang lembut.
Ibunya kembali mengomel melihat tas yang dipakai sudah tak ngetrend dan terlihat seperti orang miskin, dengan begitu berpikir Taeyoung Grup bangkrut. Jung Woo dengan senyuman menyuruh ibunya untuk operasi plastik saja apabila ingin terlihat perusaahan tidak bangkrut, Ibunya mengelak. Jung Woo pun menyuruh ibunya melakukan apa saja yang diinginkanya dan mendorongnya masuk ke dalam rumah. 

Jung Woo tersenyum mengajak adiknya pergi bersama. Yi Seul bertanya apakah kakaknya benar- benar akan datang menemui Ri Hwan. Jung Woo merasa semakin penasaran dengan orang yang kencani adiknya, karena esok harus pergi ke china, jadi meminta Yi Seul untuk memberitahu Ri Hwan agar bertemunya jam 10 nanti.
Yi Seul seperti ingin mengakui sesuatu tapi merasa binggung. Jung Woo bertanya apakah terjadi sesuatu. Yi Seul menutupinya dengan beralasan kemungkinan Ri Hwan itu pasti sibuk dan tak punya waktu luang. Jung Woo yakin Ri Hwan itu tak akan menolak ajakan adiknya itu. Yi Seul tersenyum berusaha akan menelpnya. 

Ri Hwan keluar rumah langsung memberhentikan mobil ibunya yang sudah pagi-pagi sekali pergi dengan membawa bunga lili. Nyonya Park terlihat gugup mengaku akan datang ke sebuah acara dan akan bertemunya nanti malam.
Ji Hoon baru pulang dengan wajah lemas, Ri Hwan menanyakan keadaan temanya yang terlihat lesu, Ji Hoon melihat Ri Hwan didepan rumah berpikir baru pulang juga. Ri Hwan mengatakan akan pergi kerumah Haeng Ah, Ji Hoon menghela nafas dengan rasa syukur karena ikatan “adik kakak” mereka sudah hilang.
Ri Hwan bertanya apakah Ji Hoon membaca teks yang dikirimkanya, dengan memeriksa bibi Gong hari ini. Ji Hoon mengerti lalu masuk ke dalam rumah dengan wajah lesu melambaikan tanganya, Ri Hwan pun mengucapkan maaf dengan wajah sedih
“Kami akan makan kimchi besok. Apa Kau mau datang?” tanya Ri Hwan, Ji Hoon menolaknya.
“Tae Hee juga akan datang. Jika kalian duduk bersama dan berbicara, kalian mungkin saja bisa baikan.” kata Ri Hwan, Ji Hoon langsung berlari dan memeluk Ri Hwan 

Yi Seul pergi ke Gallery milik ibunya, melihat sebuah lukisan ombak yang tampak nyata. Ri Hwan dan Haeng Ah sudah duduk dipinggir pantai dengan burung bangau yang berterbangan, Ri Hwan merasa tempat itu memang indah, Haeng Ah mengeluh Ri Hwan yang terus menerus mengulangi kata-kata itu lalu menemukan sebuah cangkang kerang.
Ri Hwan merasa itu bekas dari orang yang memakanya, Haeng Ah kesal Ri Hwan memang tak punya sisi romantis, lalu berteriak menemukak cincin emas, ternyata hanya sebuah bekas penutup botol soju. Ri Hwan mengejek Haeng Ah mengunakan cincin itu karena cantik.
“Meskipun itu adalah cincin emas, kita tak boleh memakainya Karena mungkin saja, itu adalah perasaan yang telah dibuang oleh seseorang.” jelas  Haeng Ah, lalu Ri Hwan mencoba mengorek tanah yang ada dibawahnya dan menemukan sebuah bikini, Haeng Ah mengumpat Ri Hwan yang berpikiran mesum.
“Bukan punyaku. Aku juga baru dapat.” teriak Ri Hwan juga binggung mendapatkan itu.

“Bukan kau maksudku,  tapi Kenapa mereka membuangnya sembarangan?” tanya Haeng Ah heran lalu membuang bikininya.
“Ada vila bagus di Pulau Jeju, Di depannya, terdapat pantai berpasir putih. Pada malam hari, suasana di sana sangat gelap. Tapi, di pagi hari... kau bisa melihat pantai dengan lubang yang kecil-kecil.” cerita Ri Hwan dengan malu-malu.
“Seseorang pasti telah mengubur mayat di sana.” komentar Haeng Ah
Ri Hwan melirik, Haeng Ah mengerti maksud dari pantai itu menambahkan tubuh pasangan didalam pasir, Ri Hwan melanjutkan lalu akan melepas pakaian mereka. Keduanya terlihat malu-malu saat membahasnya, Ri Hwan menaruh tanganya di pipi dan Haeng Ah menutup matanya. 

Haeng Ah melihat tempat mereka duduk pasti banyak sampah. Ri Hwan merasa sedang duduk di atas kenangan seseorang. Haeng Ah bertanya bagaiaman jika kenangan mereka tertinggal disana, dari luar memang terlihat indah tapi saat mereka mengali lebih dalam mungkin mereka akan menemukan sesuatu yang tak ingin dilihat.
“Kita harus tetap menghadapinya. Memangnya apa yang tidak ingin kau lihat? Katakan saja, Kita harus saling terbuka sekarang.” pinta Ri Hwan lalu meminta Haeng Ah tak mengeluarkan ponselnya.
“Aku mau putar musik dulu, Itulah kebiasaanku. Pada saat-saat seperti ini, memutar lagu adalah yang terbaik.” jelas Haeng Ah.
Dengan alunan musik, Haeng Ah mencoba mengambar ikan paus, lalu Ri Hwan menambahkan alat penafasan dibagian atasnya, keduanya tertawa bersama seperti melihat ikan itu kembali berenang. Bekas bungkus snack tiba-tiba melayang ke wajah Haeng Ah, Ri Hwan pun melepaskanya dan seekor kucing lewat didepan mereka.
Ri Hwan melihat tempat itu memang benar-benar bagus, Haeng Ah mengaku lapar, Ri Hwan menawarkan untuk pindah tempat, Haeng Ah mengelengkan kepala, Ri Hwan bertanya apakah mereka hanya akan duduk saja di pinggir pantai. Keduanya berbaring sambil bergandengan menyilangkan kaki bersama-sama lalu memberikan makanan burung bangau dengan snack yang dibelinya, keduanya terlihat tampak sanga bahagia. 

Yi Seul masih menatap lukisan ombaknya dan terkejut dengan pesan yang masuk e dalam ponselnya, lalu membuka pesan yang selama ini di kirimkan pada Ri Hwan.
“Aku akan ke sana pukul 7:20.” Ri hwan membalas “Baiklah.”
“Aku akan ke sana pukul 07:00.” dan Ri Hwan juga kembali membalas “Baiklah.”
“Jalan Macet. Mungkin aku akan sampail pukul 08:00” lalu Ri Hwan membalasnya “Baiklah. Santai saja.”
“Tolong hubungi aku, jika kau punya waktu luang.” sampai saat ini pesan itu belum dibalas oleh Ri Hwan. Yi Seul kembali melihat lukisan ombak yang lain, kali ini dengan gelombang yang lebih besar. 

Dong Hwa melihat Ji Hoon yang sama-sama dokter seperti Ri Hwan tapi ternyata keduanya sangat beda sekali. Ji Hoon melirik melihat Dong Hwa yang sudah jadi karyawan di sini.
“Apa kau masih akan memanggil bibi dengan sebutan, "Ibu"?” tanya Ji Hoon, Dong Hwa seperti tak ingin membahasnya.
“Biarkan saja. Dia hanya belum siap sekarang. Memangnya siapa yang peduli dia mau memanggilku apa?” ujar bibi Gong yang sedang pasang jarum akupuntur.
“Ahjussi, apa kau tak punya kencan hari ini?” tanya Dong Hwa, Ji Hoon kesal dipanggil Ahjussi padahal Ri Hwan dipanggilnya Oppa.
“Para Ahjussi memang selalu begitu, Dasar bau.” umpat Dong Hwa kesal memilih untuk pergi. Ji Hoon berteriak kesal karena dianggap bau.
“Dia selalu mengatakan itu, karena kami melarangnya berkata, "anjing".” jelas bibi Gong.
Ji Hoon mengerti, bibi Gong menanyakan keadaan Ri Hwan berpikir sedang sakit. Ji Hoon mengatakan bahwa Ri Hwn sangat sehat karena sudah merasa bebas dan  bisa menikmati hidupnya sekarang, karena Kotak Pandora itu akhirnya terbuka. Bibi Gong bisa tahu Ri Hwan pacaran dengan Haeng Ah. Ji Hoon sadar Paman No tak boleh mengetahuinya. 

Keduanya keluar dari restoran, bibi Gong menanyakan kembali apakah memang benar Ri Hwan dan Haeng Ah berpacaran. Ji Hoon hanya menjawab itu mungkin dan ingin cepat-cepat pergi. Bibi Gong menanyakan kembali apakah Nyonya Park tahu dan merestuinya. Ji Hoon juga belum mengetahui hal itu. Bibi Gong benar-benar khawatir mengenai hal itu.
“Apa karena ibu Ri Hwan? Bukannya jika anaknya bahagia, maka ibunya juga akan bahagia?” pikir Ji Hoon, wajah bibi Gong terlihat sangat serius, Ji Hoon berpikir ada sesuatu yang tidak diketahuinya.
“Terima kasih untuk hari ini, Kau sudah jauh-jauh ke sini demi aku Dan jangan sampai Sun Young tahu tentang hubungan mereka.” pesan bibi Gong, Ji Hoon mengerti berjanji akan datang besok untuk makan kimchi. 

Yi Seul masih menunggu balasan pesan dari Ri Hwan dan keluar dari gallery dengan membawa lukisan. Sementara Ri Hwan dan Haeng Ah duduk dibawah pohon karena ada sesuatu di dalam sepatu Haeng Ah.
“Aku pernah mengirim surat tentang hal ini ke radio, kalau Aku merasa seperti batu kerikil di sepatu orang lain.” cerita Haeng Ah, Ri Hwan kesal Haeng Ah mengatakan hal itu
“Penyiarku juga memahariku karena telah mengatakan hal itu. Sebuah kerikil di dalam sepatu akan menghentikan langkah seseorang. Lalu, kenapa mereka tetap mau menjadi bagian dalam hidupku?” ungkap Haeng Ah, Ri Hwan mengerti yang ditakuti Haeng Ah itu ibunya.
“Aku tidak akan takut, jika tak menyukainya Karena aku bisa tidak menemuinya saja dan Karena aku sangat menyukai bibi, itulah sebabnya aku takut. Dia memang orang yang tegas Tapi, dia sangat penting bagiku Aku ingin dia bisa bangga padaku dan merasa bersalah padanya. Jadi aku takut, dia mungkin akan mengulanginya lagi...” jelas Haeng Ah sedih. 

Flash Back
Ditempat yang sama, didepan mereka ada beberapa bus yang sudah berjejer dilapangan. Seorang pak guru mengejar sebua bus yang akan pergi meninggalkan sekolahan, lalu menaiki bus mencari anak murid yang bernama Ri Hwan. Ri Hwan yang masih remaja mengangkat tanganya.
Pak guru memberitahu ada sesuatu yang terjadi dirumah jadi memintanya turun dari bus dan membawa tasnya. Haeng Ah duduk di bus yang lain, melihat Ri Hwan berjalan dengan pak guru tanpa naik bus, wajahnya langsung panik melihat Ri Hwan pergi. 

Dirumah sakit
Seorang bibi memberitahu Ri Hwan bahwa ibunya akan baik-baik saja, jadi memintanya tak perlu khawatir. Ri Hwan mengerti tapi air matanya mengalir. Bibi menceritakan Nyonya Park hanya kurang tidur dan sering begadang jadi pasti akan sembuh, Ri Hwan mengerti pasti bukan hanya itu.
Lalu bibi itu ingin menjelaskanya, Ri Hwan mengatakan sudah datang dan ingin tahu kenapa. Bibi itu langsung memeluknya, memberitahu Nyonya Park mungkin sangat kelelahan jadi butuh tidur sebentar jadi meminta Ri Hwan mengerti dengan keadaan ibunya.
Haeng Ah duduk disudut mendengar semuanya sambil menangis, seorang pasien lewat dengan bersimba darah, tubuhnya langsung pingsan. Dokter yang melihat seseorang pingsan berusaha membangunkanya, Ri Hwan dan bibi melihat Haeng Ah yang pingsan, dengan sedikit sadar Haeng Ah mengatakan baik-baik saja.

bersambung ke part 2  

Sinopsis Bubblegum Episode 6 Part 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top