Saturday, December 5, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 11 Part 2

Haeng Ah membereskan barang-barang lokernya lalu berjalan keluar dari ruangan kelas. Ri Hwan menanyakan mau kemana Haeng Ah sekarang. Haeng Ah mengatakan akan pergi kerumah bibinya yang jauh. Ri Hwan menanyakan kapan akan pergi, Haeng Ah dengan wajah tertunduk menjawab besok akan pergi.
Ri Hwan langsung datang menemui ibunya menanyakan apakah Haeng Ah sungguhan akan pindah. Nyonya Park heran anaknya itu datang hanya untuk menanyakan hal itu. Ri Hwan menegaskan hanya ingin memastikannya. Nyonya Park membenarkan seperti tak peduli, Ri Hwan menayakan alasanya dan menginginkan Haeng Ah tinggal dirumah mereka saja.
Dia punya keluarga sendiri. Bagaimana mungkin dia tinggal bersama kita?” ucap Nyonya Park dingin
Aku juga punya keluarga lain, tapi kenapa aku tinggal di rumah Haeng Ah dulu?” balas Ri Hwan tak terima
Bibinya yang ingin merawatnya.” Kata Nyonya Park
Dia bahkan tak tahu wajah bibinya itu.” Ucap Ri Hwan, Nyonya Park seakan tak peduli lalu memberitahu kalau akan segera bekerja.

Ri Hwan duduk lemas memberitahu ibunya kalau Ayah Haeng Ah itu karena dirinya yang sebelumnya minum bersama. Nyonya Park menegaskan sebelumnya kalau bukan karena itu penyebabnya.
Aku sudah berjanji pada paman akan melindunginya.Haeng Ah tak punya teman di sana, atau bibi, paman atau aku. Bagaimana dia bias tinggal di sana sendirian?” kata Ri Hwan.
Nyonya Park mengingat ucapan Ayah Haeng Ah saat mereka foto bersama terakhir kali Setelah anak-anak dewasa nanti, tokoku menjadi lebih stabil. Mungkin, hanya akan memakan waktu setahun saja. Mungkin 11 bulan dan 28 hari. Dan ia pun memutuskan akan tetap menunggu.
Dia bisa bertahan. Kita harus tetap bertahan, bahkan tanpa sebuah janji.” Tegas Nyonya Park. Ri Hwan hanya bisa diam menatap wajah ibunya. 

Di Restoran
Ri Hwan berusaha membujuk Bibi Gong supaya bisa membiarkan Haeng Ah tinggal di sana. Bibi Gong juga sudah mengatakan hal itu yang akan merawat Haeng Ah tapi bibinya yang jatuh mengatakan akan merawatnya.
Bibi bisa bilang dia tak mau, 'kan?! Katakan bahwa dia lebih suka tinggal di sini daripada dengan bibinya itu.” Kata Ri Hwan memohon
Pikirkan perasaan bibinya juga. Dia masih punya keluarga lain dan mungkin tak akan tenang jika meninggalkan Haeng Ah dengan orang asing.” Jelas Bibi Gong
Keluarga apanya?Haeng Ah dan aku sejak dulu tinggal di sini bersama-sama. Kami juga sudah seperti keluarga.” Tegas Ri Hwan tak terima
Aku akan mencobaberbicara pada ibumu lagi. Paman dan aku juga tak mau melepaskan Haeng Ah.” Ujar si bibi

Di terminal, papan di depan bus bertuliskan  [Seoul ke Namhae]
Bibi Gong mengantar Haeng Ah dan meminta agar menelpnya saat sampai. Haeng Ah sudah ada didalam bus berjanji akan menelpnya. Bibi Gong menyenggol Ri Hwan untuk mengucapkan selamat tinggal. Ri Hwan hanya tertunduk dengan wajah cemberut.
Haeng Ah sedih menatap Ri Hwan yang cemberut, tapi akhirnya Ri Hwan meliriknya. Haeng Ah mengucapkan terimakasih dengan senyuman, tetap saja Ri Hwan cemberut menatapnya. Akhirnya bus pun berangkat, Bibi Gong yang berat melepaskanya tetap memberikan lambaian tangan sampai mengikuti bus akan pergi. Ri Hwan melihat bus Haeng Ah pergi berusaha mengejarnya tapi Haeng Ah tak melihat dan akhirnya Ri Hwan pasrah membiarkan Haeng Ah pergi ke rumah bibinya. 

Nyonya Park mengancam akan mencari resep dari dokter lain saja. Sang Gyo  merasa dengan sikap juniornya itu tak akan ada dokter yang akan menurutinya, karena itulah tugas dokter lalu menyuruhnya untuk kembali duduk dan bicara. Akhirnya Nyonya Park kembali duduk dengan wajah cemberut.
Aku sudah menghilangkan semuanya. Tapi, tempat kosong itu terus berbisik padaku. Semuanya karena itu. Aku sudah menyingkirkan foto itu. Tapi, tempat itu berkata, "Foto itu harus dipasang di sini." Itu terus membayangiku.” Cerita Nyonya Park
Apa kau merasa bersalah karena telah mengirimnya ke sana?” tanya Sang Gyo
Tidak. Aku sudah membuang foto itu, walaupun begitu, aku pasti akan mengambilnya lagi. Jika Haeng Ah tinggal bersama kami, aku pasti akan melakukan hal yang sama. Aku pasti akan mengusirnya, dan menyuruhnya kembali lagi. Aku akan membencinya dan kemudian akan merasa kasihan padanya.” Tegas Nyonya Park dengan wajah dingin
Sang Gyo memutuskan akan memberikan resep yang baru. Nyonya Park berteriak dirinya itu tak bisa tidur dan merasa Seniornya itu tak mempercayai semua ceritanya. Sang Gyo Pikir Nyonya Park pasti sudah mempelajari system perubahan otak seseorang.
Otak tak selalu memikirkan bagaimana untuk tetap bertahan hidup. Lalu Otak mungkin akan memprioritaskan bagaimana mengakhiri penderitaan. Jadi Ambillah cuti. Dan Aku akan menyampaikan ijinmu.” Saran Sang Gyo
Kau memintaku berdiam di rumah dan jadi gila? Sudah kubilang, semua barang itu bebrisik padaku Bahkan tempat foto itu kupasang. Dan juga kursi yang biasanya kami duduki, lalu juga ponsel yang aku gunakan untuk meneleponnya. bahkan pintu di rumahku juga. Semua barang di rumah, mengingatkanku padanya. Lalu kau malah memintaku berdiam di rumah saja?” jerit Nyonya Park dengan mata melotot. 

Di kelas, Guru menjelaskan tentang Essai adalah sebuah bentuk tulisan untuk menunjukkan karakter mereka.Dengan puisi dan novel, sejarah hidup si penulis, tapi Ri Hwan tak konsetrasi mendengarkan penjelasan gurunya. Sementara Haeng Ah berdiri didepan pantai yang luas dan sawah, tatapan kosong.
Nyonya Park duduk diruang tunggu rumah sakit dengan tatapan kosong, seperti menyembunyikan rasa bersalah membiarkan Haeng Ah pergi. Di kamar Ri Hwan memaikan mobil remote control pemberian dari ayah Haeng Ah, teringat dengan ayah Haeng Ah minum bersamanya dan memohon agar bisa melindungi Haeng Ah.
Ri Hwan, aku akan mengandalkanmu. Mohon bantuanmu.” Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Ri Hwan sambil memegang mobil remote controlnya. 

Ri Hwan datang menemui Haeng Ah yang tinggal jauh dari Seoul, terlihat dibagian atap banyak es yang mengeras. Haeng Ah keluar rumah kaget melihat Ri Hwan yang datang kerumahnya. Ri Hwan memberikan saputanganya agar Haeng Ah bisa mengeringkan wajah setelah mencuci muka.
Lalu mengeluarkan walkman dari tasnya dan memberikan pada Haeng Ah, karena tahu Haeng Ah itu tak bisa tidur tanpa mendengarkan radio. Haeng Ah tak percaya Ri Hwan datang hanya ingin memberikan itu. Ri Hwan memberitahu sudah merekam sesuatu dalam walkmanya. Haeng Ah mengerti.
Toko paman mulai dibuka lagi Senin nanti.” Kata Ri Hwan
Benarkah? Baguslah. Lalu Bagaimana kabar yang lainnya? Bagaimana kabar bibi? Dan bagaimana kabar paman Gangster dan bibi Princess serta Dan Woo Bin?” tanya Haeng Ah penasaran
Kabar mereka baik semuanya.” Kata Ri Hwan
Haeng Ah mengajak Ri Hwa masuk untuk minum jus. Ri Hwan menolak karena harus pulang, takut ketinggalan bus. Haeng Ah pun membiarkan Ri Hwan pulang, walaupun terlihat raut wajah sedih. 

Ri Hwan berjalan pulang dan melihat ada earphone didalam saku celana yang belum diberikanya. Akhirnya ia berlari masuk ke dalam rumah, matanya melotot kaget melihat Haeng Ah yang sengaja mencuci mukanya dengan air dingin dengan air mata mengalir. Haeng Ah membiarkan temannya membiarkan menangis. Ri Hwan menghampiri tak percaya selama ini Haeng Ah hanya menangis saja.
Di terminal, Ri Hwan menelp paman No, memberitahu sedang ada di Namhae dan bersama Haeng Ah jadi memintanya untuk menjemput Haeng Ah di terminal bus. Haeng Ah dengan jaketnya ikut dengan Ri Hwan pergi ke Seoul. 

Nyonya Park membuka pintu, kaget melihat Paman No bersama Haeng Ah lalu memberitahu kalau akan menghidupi Haeng Ah dan akan tinggal dirumahnya. Ri Hwan terlihat bahagia melihat kedatangan Haeng Ah tapi Nyonya Park diam seperti patung mendengar ucapan Paman No yang masuk ke telinganya.
Saat kau sibuk sekolah dokter, siapa yang menjaga Ri Hwan? Baik kau atau aku, sama-sama berhutang pada Joon Hyuk. Jadi...” ucap Paman No
Ri Hwan yang bahagia menyuruh Haeng Ah untuk masuk, Haeng Ah masuk dengan wajah tertunduk. Nyonya Park melirik sinis pada Haeng Ah, seperti ada kebencian terdalam. 

Ri Hwan masuk ke dalam kamar Haeng Ah ingin memberikan radio yang lebih besar apabila tak bisa tidur. Haeng Ah memperlihatkan walkman yang diberikan Ri Hwan sudah bisa menemani tidurnya. Ri Hwan menawarka minum soda, tapi Haeng Ah menolaknya. Akhirnya Haeng Ah mengerti menyuruh Ri Hwan masuk saja kalau memang ada yang ingin dibicarakanya.
Keduanya duduk bersandar di dinding, Ri Hwan menanyakan dengan sekolah Haeng Ah nanti. Haeng Ah memberitahu Paman No yang akan mengurusnya esok. Ri Hwan menceritakan Maeng Woo Bin pacaran dengan Jung Ji Hyun, dan juga, Guru bahasa Korea dengan Guru olahraga akan menikah. Haeng Ah tak percaya mendengarnya. Ri Hwan memberitahu Guru olahraga mengumumkan lamarannya saat upacara pagi, yang membuat semua jijik mendengarnya.

Keduanya sudah berbaring dengan berbagi bantal, Ri Hwan menanyakan apakah restoran nanti tak akan berubah. Haeng Ah tahu dari paman No tak akan mengubah apapun, lalu bertanya apakah bibi Park tahu kalau Ri Hwan pergi ke Namhae. Ri Hwan pikir akan memberitahunya nanti.
Haeng Ah merasa bibi Park akan marah apabila mengetahuinya, Ri Hwan meminta Haeng Ah tak perlu mengkhawatirkanya lalu memberitahu kalau loker mereka sudah diganti dengan dana dari Taeyang Grup dengan Loker yang sangat besar hingga bisa dijadikan gantungan seragam.
Nyonya Park mencoba untuk tertidur tapi sepertinya rasa gelisah menghantuinya, mencoba menganti posisi tidurnya tapi tetap saja tak bisa terlelah. Akhirnya ia keluar kamar dengan memakain jaketnya. 

Ketika membuka kamar Haeng Ah, matanya melotot kaget melihat anaknya yang tidur bersebelahan dengan Haeng Ah, lalu berteriak menanyakan alasan Ri Hwan ada dikamar Haeng Ah. Keduanya terbangun dari tidurnya. Keduanya terbangun dengan wajah binggung karena dari dulu sudah sering tidur bersama. Nyonya Park memberitahu anaknya yang sudah punya kamar sendiri. Ri Hwan mengerti, Haeng Ah hanya bisa tertunduk sedih. 

Haeng Ah pulang dengan gembira dengan hasil karyanya, terdengar suara Nyonya Park di telp yang mengatakan keduanya masih SMPdan tidak akan setuju apabila keduanya mempunyai hubungan yang lebih dari itu, apabila itu terjadi maka akan mengusir Haeng Ah.
Setelah mendengar ucapan Nyonya Park, Haeng Ah memilih keluar rumah. Ri Hwan yang sengaja bersembunyi melihat Haeng Ah keluar hanya mengunakan kaos kaki. Akhirnya Ri Hwan menemukan Haeng Ah yang duduk di bangku taman sekolah.
Kau sedang apa di sini? Kenapa kau ada di sini?” ucap Ri Hwan
Aku tak tahu harus ke mana.” Kata Haeng Ah sedih
Berdirilah....Ayo pulang....Jangan memakas dirimu jika kau tak mau. Kita bisa duduk di sini bersama-sama.” Kata Ri Hwan 

Haeng Ah sedang belajar direstoran, dikagetkan dengan Ri Hwan yang tiba-tiba ada dijendela. Ri Hwan mengajaknya untuk keluar tapi Haeng Ah tak peduli dengan terus belajar. Ri Hwan masuk ke dalam restoran menutup kamus diatas meja karena tak ingin Haeng Ah belajar di waktu liburan.
Aku tak sepintar dirimu, jadi aku harus belajar.” Tegas Haeng Ah, Ri Hwan mengajak Haeng Ah pulang tapi Haeng Ah tetap masih ingin belajar.
Kau bisa belajar di rumah. Kenapa kau belajar di tempat gelap?” kata Ri Hwan
Aku suka belajar di tempat yang gelap.” Tegas Haeng Ah
Ri Hwan pun pergi membawa kamus dan sengaja mematikan lampu. Haeng Ah berteriak dengan tingkah temanya karena tak suka dengan gelap seperti itu. Ri Hwan menyalakan kembali lampu dan mengajaknya pulang. Haeng Ah keluar dari restoran meminta dikembalikan kamusnya. Ri Hwan menolak.
Haeng Ah mengatakan itu kamus miliknya, Ri Hwan sudah memasukan kedalam tas dan malas untuk mengeluarkannya lagi. Haeng Ah tetap minta untuk dikembalikan, Ri Hwan berjanji akan mengembalikan saat sudah ada dirumah. Ri Hwan mengejek Haeng Ah dengan berlari akan mengambilnya kalau bisa. Haeng Ah pun menjerit mengejar Ri Hwan. 

Seorang guru dengan peluitnya memberhentikan bus yang akan pergi lalu mencari Ri Hwan untuk turun karena terjadi sesuatu di rumahmu. Haeng Ah yang sudah menaiki bus yang berbeda melihat Ri Hwan yang turun dari bus dengan wajah tertunduk.
Dirumah sakit, Bibi Gong menemani Ri Hwan dengan memberitahu kalau ibunya baik-baik saja. Ri Hwan menanyakan alasan ibunya melakukan itu. Bibi Gong menceritakan Nyonya park yang sudah tidur jadi mengkomsumsi beberapa pil. Ri Hwan yakin bukan itu penyebabnya, dengan air mata mengalir mengataka kalau ibunya itu masih memiliki dirinya.
Sun Young... Dia pasti merasa sangat tertekan. Jadi, ingin tidur dengan nyenyak sesekali. Cobalah untuk mengerti ibumu, oke, Ri Hwan?” kata Bibi Gong sambil memeluk Ri Hwan
Haeng Ah duduk dengan bersandar dinding mendengar kalau bibi Park mencoba untuk bunuh diri. Sebuah meja dorong lewat dengan darah dan luka pasien yang terlihat. Tiba-tiba Haeng Ah pun jatuh pingsan. Salah seorang dokter melihatnya berusaha membangunkanya.
Ri Hwan dan Bibi Gong berlari menghampiri dengan wajah panik. Haeng Ah membuka sedikit matanya, masih bisa menanyakan keadaan Ri Hwan apakah ia baik-baik saja


Dokter sekolah mendengarkan cerita Haeng Ah yang selalu pingsan setiap pergi ke rumah sakit, Setelah apa yang terjadi denga bibinya, lalu bertanya apakah Bibinya itu sudah tahu tentang hal ini. Haeng Ah mengelengkan kepalanya.
Ini adalah, fobia. Kau perlu menjalani pengobatan sebelum fobia makin memburuk. Kenapa kau tak menemui bibimu saja?” ucap Si dokter, Haeng Ah menolak mengatakan tak bisa melakukan itu.
Apa kau punya wali lain yang bisa aku temui?” tanya dokter, Haeng Ah terlihat binggung menjawabnya. 

Di kantor guru
Pak guru menanyakan alasan Ri Hwan sebagai ketua OSIS yang tak mau menghadiri wisata sekolahnya, padahal semester lalu juga tak ikut karena ada masalah keluarga.  Ri Hwan mengatakan hanya tak ingin pergi.
Apa karena kau tak bisa tidur di luar ruangan atau mandi disembarangn tempat Atau aku harus bicara dengan ibumu?” tanya gurunya.
Tidak. Anda tak usah menemui ibuku.”kata Ri Hwan panik
Jadi, jelaskan padaku. Jika aku tahu alasanmu, aku mungkin bisa menolongmu.” Pinta Pak guru.
Haeng Ah berjalan keluar dari ruang UKS lewat dengan ruang guru, Ri Hwan keluar dengan wajah lesu, setelah menceritakan alasan tak ikut karena takut, ketika pulang maka ibunya akan "tertidur" Dan napasnya tak keluar lagi.

Haeng Ah mendengarkan siaran radio dalam kamarnya, terdengar request dengan inisial "Si Gadis Kerikil." Yang menceritakan perasaany seperti sebuah kerikil di dalam sepatu seseorang, Haeng Ah langsung duduk mendengar dengan serius. Ri Hwan juga mendengarkan siaran radio dengan tatapan kosong.  
Kau tak boleh berpikiran seperti itu. Jika memang orang itu, menganggap orang yang sangat menyusahkan, Dia pasti akan membuka sepatunya dan mengeluarkanmu dari sana.Bukankah begitu?
Ri Hwan memasuki kamar ibunya dan tetap bisa mendengar suara siaran radio.
Biasanya anak-anak akan takut dengan sesuatu yang besar dan kuat. Tapi, orang dewasa malah takut pada sesuatu yang kecil dan lemah. Saat anak-anak melihat anak ayam yang dijual di jalan, mereka merengsek untuk membelinya. Tapi orang dewasa tidak bisa membelikannya.
Alasannya adalah karena mereka tahu betapa lemahnya anak ayam itu Mereka tak yakin bias merawat anak ayam itu. Orang Dewasa mungkin menolaknya, tapi bukannya mereka membencinya. Tapi, mereka hanya takut. Semoga, "Si Gadis Kerikil" bias mengerti maksudku ini. Lagu oleh N.EX.T, "Fly Baby Chick."
Ri Hwan duduk disamping ibunya dan memegang tanganya seperti tak ingin meninggalkan sendirian. Nyonya Park terlihat bisa tertidur lelap diatas tempat tidurnya. 

Ri Hwan keluar dari kamar ibunya dan Haeng Ah juga baru keluar dari kamarnya dengan kode menanyakan apakah ibunya sudah tertidur. Ri Hwan mengangguk, Haeng Ah menyuruh Ri Hwan tertidur. Ri Hwan pun menyuruh Haeng Ah juga tidur tanpa mengeluarkan suara. Haeng Ah pun kembali ke kamar tidur dengan wajah tersenyum.
Sementara Nyonya Park  ternyata duduk dengan mata yang terlihat segar lalu menatap pintu kamarnya, seperti membayangkan yang terjadi diluar dari kamarnya. 

Haeng Ah ingin menyebarang jalan dan melambaikan tangan dengan wajah bahagia melihat Nyonya Park yang berjalan kearahnya. Ketika lampu hijau menyala, tiba-tiba mobil yang melaju kencang hampir saja menabrak Haeng Ah.
Nyonya Park langsung berlari dengan wajah panik menanyakan keadaan Haeng Ah, lalu memarahi si pengemudi yang tak melihat tanda hijau untuk pejalan kaki. Haeng Ah memegang tangan ibu Ri Hwan mengatakan kalau baik-baik saja.
Kenapa kau berjalan begitu? Bagaimana jika kau terluka? Memangnya aku siapa hingga kau kegirangan seperti tadi? Kenapa kau sangat senang melihatku?” teriak Nyonya Park ketus. Haeng Ah hanya bisa diam.
Nyonya Park terdiam sejenak seperti sadar sudah bersikap terlalu berlebihan, akhirnya mengajak Haeng Ah pergi saja karena Semuanya sudah menunggu. Haeng Ah mengandeng lengan Nyonya Park dengan berjalan melewati jembatan, tapi Nyonya Park terlihat sangat dingin. 

Bibi Gong menyambut keduanya yang datang bersama, lalu memberitahu Ri Hwan sudah datang dan ada dilantai dua, sementara Paman No sudah membuat makanan yang enak sebagai peringatan kematian. Haeng Ah tersenyum lalu pamit untuk pergi ke lantai dua.
Nyonya Park duduk di meja melihat Haeng Ah dan Ri Hwan keluar dari restoran menuju keluar sementara Bibi Gong dan Paman No masuk ke dalam restoran dengan membawakan peralatan untuk melakukan peringatan kematian. Nyonya Park melihat sekeliling restoran dan melihat Haeng Ah dan Ri Hwan sedang mengobrol di luar dan terlihat sangat akrab.
Meskipun aku ingin membuangnya, pada akhirnya aku tak bisa. Kenapa aku sangat menginginkan sesuatu seperti itu? Karena aku tak memilikinya dan karena itu adalah sesuatu yang menghilang dariku.Kenapa aku percaya bahwa aku memilikinya kembali? gumam Nyonya Park melihat Ri Hwan yang mendengarkan radio bersama Haeng Ah sambil membaca buku.
Teringat sebelumnya, ia duduk bersama dengan Ayah Haeng Ah untuk foto di sebuah studio dengan wajah sangat bahagia.
Hanya satu hari itu. Ingatanku saat aku menjadi bahagia.
Nyonya Park memarahi Haeng Ah yang terlihat sangat bahagia saat menyebarang jalan sampai tak melihat ada mobil yang hampir menabraknya.
Saat perasaanku yang sejujurnya keluar.
Nyonya Park yang hanya memejamkan matanya bisa merasakan tangan Ri Hwan yang memegangnya “Sentuhannya. Alasan aku ingin hidup.
Ia juga melihat sejak kecil Ri Hwan yang tidur bersama Haeng Ah sampai mereka dewasa juga masih bisa tidur bersama, tatapan mengartikan orang yang tak ingin dilepaskan. Didalam restoran terlihat bibi Gong, Paman No bersama Haeng Ah dan Ri Hwan duduk bersama dengan canda tawa, Nyonya park merasa dengan semua itu membuat hidupnya sempurna. 
Nyonya Park duduk sendirian dalam restoran, mengingat semua kenangan sebelumnya, setelah semua kenangan itu memudar, dirinya semakin mengerti semuanya.
Dong Hwa datang membawakan segelas jus karena kopi tak baik untuk kesehatan Nyonya Park, yang dibuat sendiri dengan tanganya. Nyonya Park memuji Dong Hwa yang terlihat cantik, lalu menanyakan namanya. Dong Hwa mengeluh Nyonya Park kalau Sama seperti kemarian lusa, dan kemarin, dan hari inim Namanya adalah Dong Hwa dan tidak pernah berubah.
Nyonya Park memuji nama Dong Hwa juga cantik, Dong Hwa membalas memuji Nyonya Park juga cantik, walaupun sebelumnya terlihat seperti ibu tiri cinderella tapi sekarang melihat terlihat sangat cantik. Nyonya Park tersenyum sumringah sambil mengucapkan terimakasih.
[Kenangan Cinta]
bersambung ke episode 12 

Sinopsis Bubblegum Episode 11 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top