Saturday, December 12, 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 13 Part 2

Se Young baru keluar dari salon merasakan wajah dan penampilan lebih segar. Joon Soo memuji pacarnya cantik, tapi berpikir Se Young tak diberitahu kalau hanya pergi datang saja. Se Young sudah mengetahui kalau diminta untuk datan langsung walaupun tanpa make up, tapi menurutnya tampilanya akan lebih cantik dengan make up lalu mengajak Joon Soo pergi sekarang.
Di sebuah tempat, Se Young menuruni tangga dengan wajah cemberut, lalu mengajak Joon So untuk masuk mobil saja dan pergi. Joon Soo hanya diam tak berbicara apapun. 


Di radio
Tae Hee membawa brosur yang dibawa Se Young dengan gambar wajahnya didalam sebuah minuman dengan tulisan "Kembali ke masa saat kulitmu masih seperti bayi.Pahlawan dari Sembilan Negeri. Rahasia muda oleh Oh Se Young. Mereka sering iri pada kulitku ini."
Ia menatap Se Young dengan tatapan mengejek tak percaya dengan iklan yang diambil penyiarnya, Haeng Ah menyenggolnya supaya Tae Hee tak bersikap seperti itu, lalu memuji Se Young dengan Mata yang  sangat bulat dan Berkilauan sekali, serta berkomentar minuman yang dibawanya itu enak.
Se Young mengingat akan mentraktir mereka semua setelah pulang kerja nanti. Haeng Ah pikir tak perlu karena Se Young pasti sangat lelah setelah dari salon . Se Young pikir harus makan agar bisa tetap hidup.


Se Young mulai siaran rekaman dengan membaca surat dari pendengar, dimulai dari cerita seorang anak yang merasa lega karena ternyata yang menjadi Santa adalah ayahnya sendiri. Dong il masuk meliha tim Haeng Ah yang masih berkerja walaupun dihari minggu.
Haeng Ah melihat Dong il yang datang memberikan senyuman dan anggukan kepala, Dong Il memberikan senyuman balik, Tae Hee melihat arah pandangan Haeng Ah keluar siaran dan melihat Dong il ada di ruang control. Dong il yang melihat Tae Hee memilih buru-buru keluar ruangan. Tae Hee hanya bisa menghela nafas sedih. Se Young masih asik komentar di depan mic.
Aku sekarang tahu, apa arti kebahagiaan itu. Bahagia saat semua yang kita sayangi ada di dekat kita. Oh, rasanya sangat menyenangkan. 'kan? Apa hanya aku yang bisa mengerti perasaan itu?” ucap Se Young melirik pada Joon Soo yang selalu duduk disebelahnya.
Yah, aku akan lanjutkan suratnya. Se Young-unni, karena itulah aku menulis surat ini. Aku akan segera menikah. Berikan ucapan selamat padaku. Aku ucapkan Selamat, ya. Sekarang kita break iklan dulu.” Kata Se Young dengan wajah dongkol.
Haeng Ah binggung akhirnya memasukan iklan, lalu memberitahu kalau dalam skrip mereka harusnya memutarkan sebuah lagu. Se Young merasa tak penting dan menurutnya surat pembaca aneh memintanya untuk memberikan ucapan selamat. Tae Hee menyindir apakah siaran berita yang harus mengucapkan selamat.
Apa tak ada surat lain kecuali ini? Seperti seseorang yang mati kesepian?” keluh Se Young
Tidak ada....Hanya ada surat yang meminta kita memberikan selamat pada kakaknya juga.” Jelas Tae Hee
Jika saja ini siaran langsung, pasti banyak SMS yang masuk. Aku sudah terkenal sekarang karena syuting drama dan iklan.” Kata Se Young, Joon Soo yang mendengarnya terlihat sedih, Haeng Ah menatap wajah Joon Soo dengan wajah kasihan. 


Ri Hwan baru akan masuk ke dalam klinik, Jung Woo pun turun dari mobil langsung menghampirinya. Akhirnya keduanya berbicara didalam ruangan, Jung Woo tahu kedatanganya membuatnya kaget tapi ternyata kliniknya satu arah dengan kantornya.
Lalu sambil melihat sekeliling ruangan memberitahu ibunya ingin menyingkirkan klinik itu. Ri Hwan memberitahu kalau klinik itu milik seniornya. Jung Woo pikir lebih baik karena orang seperti Ri Hwan lebih baik menyerang dari teman dekatnya. Ri Hwan menegaskan apabila ada yang dinginkan lebih baik katakan saja.
Yi Seul menyukaimu, tapi kau tidak menyukainya. Jadi, aku berpikir tentang apa yang bisa aku lakukan dan Yang aku pikirkan adalah Penculikan, mengancam, atau suap Atau kekerasan seperti yang aku tunjukan dulu.” Jelas Jung Woo
Bukannya ada yang ingin kau katakan padaku?” ucap Ri Hwan tak ingin bertele-tele lagi.

Di dalamnya ada kartu nama dan kartu credit.Aku bisa menemukan cara apapun yang bisa membantu penyakit ibumu, sebuah Pengobatan terbaik di dunia. Yang perlu kau lakukan hanyalah satu panggilan saja, Lalu Kau bisa mendapatkan rumah beserta seseorang yang bisa membantumu. Sebuah mobil yang akan selalu siap untuk mengantarmu Dan tentunya kau tahu apa gunanya kartu kredit itu.” Jelas Jung Woo menaruh amplop coklat dimeja.
Aku tak punya alasan untuk menerima ini dan itu tak akan berubah.” Tolak Ri Hwan
Adikku ingin menikah dengan pria yang dicintainya. Lebih dari itu... Aku ingin dia menikah dengan seseorang yang mencintainya. Jika kau tak bias menjadi pria itu...Kenapa kau tak pergi saja ke suatu tempat yang jauh? Misalnya... Tempat di mana aku maupun Yi Seul tak bisa menemuimu lagi.” Kata Jung Woo, Ri Hwan menatap lurus kakak Yi Seul tanpa berkedip.
Aku akan menunggu jawabanmu dan Aku tak punya waktu. Beritahu aku keputusanmu. Jangan terburu-buru Dan pikirkan baik-baik. Ini bukan hanya tentangmu tapi juga tentang ibumu Kau harus memikirkannya baik-baik..” Jelas Jung Woo dengan senyuman lalu keluar ruangan. 


Suk Joon masuk ke lobby radio melihat sudah tak ada spanduk lagi didepan dan diganti dengan penyiar yang lain. Dong il dari eskalator langsung panik melihat Suk Joon yang sangat berani datang lagi ke radio.
Bagaimana jika kau sial dan bertemu dengan Presdir? Perang dunia pasti akan terjadi.” Ucap Dong il
Lampu kantornya sudah mati” kata Suk Joon tak khawatir
Apa kau pikir tak ada yang mengenali wajahmu itu Dan kenapa kau jadi cerewet begini sekarang? Kita bicara di luar saja. Ayo!” ajak Dong il panik
Haeng Ah dkk baru keluar, melihat Suk Joon dengan Dong il langsung disapa oleh Se Young. Suk Joon dengan ramah membalasnya. Se Young tahu kalau Suk Joon itu sudah dipecat dan khawatir dengan melihatnya datang lagi ke radio. Suk Joon hanya tersenyum mendengarnya.
Ini adalah hari minggu, Kupikir kalian tidak kerja.” Komentar Suk Joon
Kami harus rekaman tadi” jelas Haeng Ah
Dong Il memberitahu mereka  sekarang mau makan bersama. Joon Soo mengatakan Se Young yang akan meneraktir, karenabaru saja selesai syuting. Dong Il langsung mengucapkan selamat, Suk Joon pikir kalau memang mau makan lebih baik gabung saja dan ia yang akan mentraktirnya.
Se Young merasa tak enak hati dengan percaya diri kalau memang Suk Joon sebagai fans tak perlu melakukan itu. Dong il berusaha mencari alasan supaya tak makan bersama dan menyuruh mereka pergi lebih dulu saja. Tapi Se Young akhirnya menerima tawaran Suk Joon untuk mentraktir mereka. Suk Joon menyambut dengan senyuman.


Di restoran
Dong Il duduk disamping Tae Hee dan Haeng Ah, berkomentar Suk Joon terlihat waktunya makin lenggang saja dan Mungkin sebentar lagi, rambutnya akan panjang seperti dirinya. Suk Joon hanya tersenyum sambil memotong steaknya, lalu menukar dengan piring Haeng Ah dan menyuruhnya makan.
Se Young dan yang lainnya terdiam melihat bentuk perhatian Suk Joon pada Haeng Ah. Suk Joon melirik Se Young disampingnya, Se Young berpikir Suk Joon ingin melakukan hal yang sama padanya, dengan cepat langsung menolaknya karena ada orang lain yang bisa memotong dagingnya. Suk Joon hanya tersenyum menyuruh Se Young menikmati makanannya saja. Dengan Senyuman manis, Se Young menyenggol Joon Soo kalau ia bisa menjaga diirnya. Joon Soo memujinya dengan mengelus pipinya.
Wow, Channel Korea pasti perusahaan yang sangat hebat. Ini adalah kesalahan CBM Dan baguslah kau bisa berubah begini.” Komentar Dong il lalu melirik ke arah Tae Hee yang melotot tajam. Dengan wajah ketakutan meyuruh Tae Hee untuk makan saja.

“Apa Kau sudah dapat rumah baru?” tanya Suk Joon mengajak ngobrol Haeng Ah
Tidak, aku masih menunggu dan belum dapat rumah dengan sewa bulanan.” Jelas Haeng Ah
Jika kau tak punya acara lain, aku bisa menemanimu nanti.” Kata Suk Joon menawarkan diri, Haeng Ah menatap Suk Joon merasa kalau sudah mengatakan sebelumnya.
Aku tahu, tapi perasaan seseorang tak selalu berjalan sesuai dengan kemauan mereka. Jangan menyuruhku untuk menjauh.” Tegas Suk Joon. 
Flash Back
Kita bisa memulainya dari awal dan memperbaiki segalanya dan tak perlu terburu-buru, kita hanya perlu memulainya kembali.” Ucap Suk Joon
Memang itu terdengar sangat bagus. Sejak dulu, kau adalah pria yang sangat menarik di mataku. Tapi jika kita memulainya lagi... Hatiku yang selalu berdegup kencang saat melihatmu, perasaanku maluku saat aku harus dekat denganmu dan saat menyuapimu. Perasaan itu tak akan datang lagi.Apa kau bisa menerimanya?” kata Haeng Ah, Suk Joon menatap Haeng Ah dalam-dalam.
Jika kau adalah pria yang biasa saja bagiku, aku akan memintamu meneraktirku minum seperti yang kulakukan pada manager Cho Atau memintamu membelikan makanan yang enak. Tapi, kau tak bisa menjadi orang yang seperti itu. Bahkan saat aku melihatmu di TV, aku masih mengagumimu Dan aku sangat bangga padamu.” Cerita Haeng Ah lalu menegaskan hanya  memiliki satu hati.


Haeng Ah makan dengan wajah tak nyaman, Suk Joon terus saja menatap mantan pacarnya seperti tak akan bisa melepaskanya. 


Tae Hee akan masuk ke dalam mobil, tapi ia kembali mengeluarkan ponselnya. Dong il akan masuk kamar mendengar ponselnya berbunyi, langsung mengangkatnya dan berkata mereka akan bertemu di tempat yang terakhir mereka bertemu. Tae Hee masuk ke dalam mobil memasang sabuk pengamanya. Dong il kembali lagi masuk kekamar melihat kartu nama Ji Hoon.
Flash Back
Saat dia bilang, dia menyukai pria lain. Wow! Aku rasa mau memasukkan jariku ke tenggorokan dan memuntahkan semua alkohol itu dan ingin memutar kembali waktu.” Cerita Ji Hoon.
Aku bisa mengerti dan  telah menyadari betapa kejamnya dunia ini. Kita akan berpikir, masih punya kesempatan. Dan setelah berkata "Dia adalah satu-satunya." Kita selalu yakin masih punya kesempatan kedua.” Kata Dong il, Ji Hoon setuju dengan hal itu, karena kalau tahu akan seperti sekarang memilih untuk bersikap baik pada Tae Hee. 


Ji Hoon baru masuk rumah menerima telp dari Dong Il mengatakan kalau itu adalah ide yang buruk. Akhirnya Dong Il duduk didalam kamarnya seperti sedang merenung. Tae Hee masih duduk didalam mobil tanpa menyalakan mesin, tatapan lurus kedepan, akhirnya memilih untuk turun dari mobilnya. Ji Hoon memikirkan tawaran Dong il lalu berlari keluar dari rumah.
Pintu kamar Dong il diketuk, Tae Hee sudah berdiri didepan pintu menyindir kalau tempat itu bukan cafe di depan kantor, Dong il pun hanya bisa diam. Ji Hoon sampai dicafe melihat tak ada sosok Tae Hee dan memilih untuk menunggunya. 


Di ruang siaran
Tae Hee berbicara  mereka tak bisa membawa uang sampai mati, tapi banyak orang yang menyukai seseorang karena uang dan Jika tua nanti mereka akan jelek, banyak orang yang menyukai seseorang karena wajahnya. Dong il membenarkan tak ada alasan untuk bias menyukai seseorang.
Entah karena kau kasihan pada mereka atau apa. Jika memang suka, ya suka. Tapi... Aku bukannya tidak menyukaimu Dan tak punya alasan juga. Aku tahu kau adalah wanita yang sangat cantik dan menarik. Aku takut jika kesempatan ini tak akan datang kedua kalinya. Apa musim semi itu akan datang lagi kepadaku?” ungkap Dong Il
Aku tetap memikirkan perkataanmu Tapi, tak ada yang berubah. Sama seperti musim semi, aku merasakan sensasi yang aneh. Aku merasa senang dan sedih dan bisa merasakan itu semua.” Cerita Dong Il lalu berdiri menghampiri Tae Hee.

Ia mengeluarkan dompet dan menyuruh Tae Hee untuk membukanya, Tae Hee pikir apabila Dong Il mau bilang  tak punya uang atau rumah maka.., Dong Il menyela menyuruh Tae Hee untuk membuka dompetnya sekarang. Akhirnya dengan air mata tergenang, Tae Hee memberanikan diri membuka dompet Dong il, terlihat foto mantan istrinya dan juga anaknya.
Aku tak begitu menyukaimu hingga aku bisa memasang fotomu di sana. Mereka sangat berharga dan Aku tak ingin menikah lagi. Aku hanya perlu menikah sekali saja. Jika tidak, aku akan jadi pria serakah dan Aku tak ingin hidup seperti itu.” Jelas Dong Il 


Ji Hoon masih tetap menunggu sampai tak menyadari pelayan sedari tadi memanggilnya, Pelayan memberitahu akan tutup pukul 9 malam di akhir pekan. Ji Hoon mengerti seperti baru menyadari sudah lama menunggu ditempat itu. Tae Hee menangis sendirian diruang radio.
Dong il duduk diam dalam kamarnya, seperti memikirkan keputusanya untuk menolak perasaan Tae Hee padanya. Tae Hee kembali ke parkiran dan masuk ke dalam mobilnya, air matanya masih mengalir dan buru-buru dihapus. 


Ji Hoon menahan rasa dinginnya udara didepan cafe yang sudah tutup, tiba-tiba matanya melihat mobil Tae Hee yang lewat didepannya melirik kearahnya tanpa berhenti. Tae Hee melihat Ji Hoon dari kaca spion yang akan pergi meninggalkan cafe, mobilnya kembali mundur dan keluar dari mobil.
Kenapa kau balik lagi? Aku tahu kau tak dating ke sini  untuk menemuiku. Aku hanya datang ke sini untuk menemanimu jika dia tidak datang. Baiklah, jika kau tak mau ditemani. Apa Kau baik-baik saja, 'kan?” tanya Ji Hoon, Tae Hee memalingkan wajahnya seperti menahan sedihnya. 


Dong Hwa mengeluh karena hanya yang menderita sambil membantu memasukan kotak makanan kedalam kulkas, Haeng Ah mengucapkan terimakasih dan menawarkan untuk minum susustrawberry., Dong Hwa menegaskan dirinya itu sudah besar jadi ingin minum kopi seperti Haeng Ah.
Haeng Ah membuatkan kopi lalu menanyakan apakah Dong Hwa sudah makan. Dong Hwa sedikit kesal karena sudah jelas dengan berkerja direstoran, pasti sudah makan, lalu bertanya balik. Haeng Ah mengaku sudah makan juga.
Lalu, kenapa wajamu seperti itu? Apa Kau tak pernah bercermin ? Ke mana semua lemakmu itu.” Kata Dong Hwa khawatir
Aku taruh di laci, Nanti aku ambil lagi” jawab Haeng Ah bercanda.
Kalian berdua seperti tengkorak saja sekarang. Kau bisa mengambil Ri Hwan karena Aku sudah melupakannya. Dia tak begitu tampan. Kenapa dia bisa memutuskanmu begitu saja?” komentar Dong Hwa, Haeng Ah berjalan kearah balkon rumahnya.

Jika dia memang menyukaimu, dia pasti akan mempertahankanmu. Bukannya begitu yang harus dilakukan seorang pria? Aku sungguh kecewa padanya.” Ungkap Dong Hwa. Haeng Ah menjawab bukan seperti masalah karena ada ada hal yang tidak diketahui Dong Hwa.
Aku sudah tahu semuanya. Kudengar ibunya tidak menyukaimu. Memangnya kenapa jika kau menderita karena ibunya? Lebih baik Jalani saja, 'kan?  Mungkin dia tidak serius denganmu, Karena dia bisa hidup tanpa melihatmu.” Komentar Dong Hwa
Bukan begitu....Ri Hwan tak khawatir dengan apa yang terjadi sekarang ini, Dia khawatir tentang masa depan. Jika jadi dia, aku pasti akan melakukannya juga.” Balas Haeng Ah membela Ri Hwan
Kau ini....Aku baru saja mau menyalahkannya. Tapi, kau malah membelanya.” Keluh Dong Hwa
Jika aku adalah Ri Hwan... “kata Haeng Ah memikirkanya.
Haeng Ah mengingat ucapannya saat ada diparkiran dengan Ri Hwan Aku tak akan memutuskan hubungan kita, kecuali jika kau tak lagi menyukaiku. Bahkan jika kau bias mengidap penyakit itu juga.

Jika aku menjadi Ri Hwan... aku akan melakukan hal itu juga... Aku akan menjauh..... Menjauh ke tempat di mana aku tak bisa melihatnya lagi.” Ucap Haeng Ah dengan tatapan kosong, lalu seperti sesuai yang datang dalam pikirannya.
Dengan wajah panik, Haeng Ah pikir Dong Hwa bisa pulang sendiri. Dong Hwa merasa Haeng Ah seperti menyuruhnya pulang sekarang. Haeng Ah menejelaskan Dong Han bisa tinggal lebih lama lagi sambil bersantai di sini dan bisa makan apa saja, lalu buru-buru keluar dari rumahnya. 


Ji Hoon baru pulang kerumah bertemu dengan Ri Hwan turun dari kamarnya, menanyakan apakah ada makanana karena ia kedinginan dan sangat lapar. Akhirnya Keduanya makan ramen bersama didepan TV, karena Ri Hwan ternyata belum makan juga.
Ri Hwan binggung melihat Ji Hoon yang baru makan selarut ini, Ji Hoon menceritakan mereka terlalu terbawa suasana dan terus berbicara. Ri Hwan mengejek Ji Hoon yang  makin jelek saja. Ji Hoon membalasnya, dengan memanggil Ri Hwan sebagai Tuan dengan wajah tampan. Ri Hwan tersenyum merasa Ji Hoon lebih tampan darinya.
Kau pasti sibuk sekali, 'kan? Aku sering absen kerja.” Kata Ri Hwan tak enak hati
“Sudah Diamlah.... Tempat apa itu yang kau bilang? Sanatorium?” ucap Ji Hoon
Ibu bahkan sudah membayar uang mukanya, Di Hari saat kita masak kimchi bersama di toko.” Cerita Ri Hwan, Ji Hoo melihat ibu Ri Hwan sangat berani lalu keduanya sama-sama menurunkan mangkuknya.
Aku tak bisa melakukannya dan sangat terbantu dengan paman dan bibi. Aku sudah senang seperti ini. Apa aku terlalu egois? Aku tahu kau pasti akan bilang, tidak, Karena kau juga kesulitan karena aku.” Kata Ri Hwan
Apa yang akan kau katakana jika ayahku yang sakit? Apa kau akan berhenti egois seperti ini? Ini adalah tanggung jawab kita semua dan lagi kau yang paling menderita. Kau tak boleh berkecil hati.” Tegas Ji Hoon, Ri Hwan tersenyum sambil mengusap punggung temanya, Ji Hoon langsung meminta Ri Hwan mentraktirnya makan malam. Ri Hwan langsung setuju. 


Ji Hoon rasa Nyonya park  pasti akan marah jika tahu mereka makan ramen. Ri Hwan menceritakan ibunya yang meminta untuk tidak menuruti keinginannya, tapi ia tidak bisa dan merasa telah banyak berbohong pada ibunya.  Terdengar bunyi bel rumah, Ri Hwan langsung berdiri dengan wajah panik. Ji Hoon menyuruhnya agar tak perlu takut kalau memang ibunya pasti akan menelp lalu berjalan ke pintu untuk membukanya.
Ternyata Haeng Ah yang datang, Ji Hoon kaget melihat Haeng Ah yang datang saat sudah larut. Haeng Ah menanyakan apakah Ri Hwan ada dirumah, Ji Hoon dengan tatapan shock menyuruh Haeng Ah masuk ke dalam. Ri hwan kaget melihat Haeng Ah yang datang kerumahnya.
Mengenai apa yang aku katakana tadi pagi. Apakah kau mungkin saja,.....bahwakau harus melakukan tes. Tapi, jangan lakukan itu. Kupikir, kau tak akan mau mengangkat telepon dan membalas SMS-ku.” Ucap Haeng Ah, Ri Hwan tertunduk memilh untuk pamit pergi, Haeng Ah meminta agar Ji Hoon menahan Ri Hwan

Jika aku benar, kau pasti akan menjauh ke tempat yang tak bisa kujangkau.” Teriak Haeng Ah, Ri Hwan berhenti berjalan ketika Ji Hoon berusaha menghentikan jalanya.
Kau belum melakukan tesnya, 'kan? Apa karena itu kau bersikap seperti ini?” tanya Haeng Ah, Ji Hoon mengelengkan kepala karena tak tahu sambil menatap Ri Hwan.
Haeng Ah merasa Ri Hwan sudah melakukan tesnya. Ji Hoon menanyakan kebenaranya, Ri Hwan sempat terdiam lalu mengatakan  masih belum mengetahui hasilnya. Ji Hoon menenangkan Haeng Ah kalau hasilnya belum keluar tapi kalau memang hasilnya positif,
Sunbae, aku tahu. Saat kami berpisah. Aku sudah mencarinya di internet.” Tegas Haeng Ah, Ji Hoon bisa mengerti lalu memilih untuk meninggalkan mereka berdua, Ri Hwan menarik tangan Ji Hoon untuk tak pergi karena lebih baik dirinya yang pergi.
Aku hanya sebentar, tapi... Jika seseorang datang padaku dan dia memberitahuku bahwa aku akan kehilangan ibuku dan ayahku 10 tahun kemudian. Jika dia memberitahuku, aku pasti akan gila. Jika saat berumur 15 tahun, dia akan memberitahuku ayahku akan meninggal Dan saat berumur 20 tahun bibiku akan kehilangan ingatannya. Jika dia memberitahuku itu, aku tak akan bisa hidup lagi.” Jelas Haeng Ah 


Haeng Ah berjalan ditrotoar dengan mengingat ucapanya saat masih dirumah Ri Hwan.
Tapi, aku bisa hidup dengan baik sekarang.Aku bisa bekerja dan makan dengan lahap. Aku tersenyum dan bahkan sekarang, aku merindukanmu dan memelukmu. Jadi sekarang, aku sudah tak takut dengan apa yang akan terjadi.
Flash Back
Haeng Ah menceritakan setelah ibunya meninggal bertemu dengan mereka berdua dan setelah ayahnya meninggal mereka hidup bersama, bertengkar dan bermain dengan Ri Hwan.
Aku memang sedih, tapi entah kenapa aku bisa melalui itu semuanya, 10 atau 20 tahun dari sekarang, aku tak peduli apa yang akan terjadi, aku pasti bisa hidup dengan baik. Sama seperti yang aku alami selama ini. Selama kau ada di sisiku.” Tegas Haeng Ah
***
Haeng Ah menunggu bus di halte terdekat, Ji Hoon menyuruh Ri Hwan untuk mengejarnya karena tahu mereka itu tak akan bisa dipisahkan, menurutnya jika mereka saling menghindar seperti ini maka, akan membuat keduanya semakin terluka.
Kau tak seharusnya melakukan ini pada Haeng Ah. Mungkin tak seharusnya aku mengatakan ini. Tapi, apa yang kau lakukan sekarang, sama saja dengan kesalahan yang ibumu lakukan. Kau menyakitinya hanya untuk melindunginya” jelas Ji Hoon, Ri Hwan menatap temanya dalam-dalam. 


Haeng Ah menaiki bus yang baru saja datang, sebuah mobil sempat berhenti didepan bus dan orang lain yang menunggu menaiki mobilnya. Ketika baru berjalan beberapa meter, pintu bus diketuk dan seseorang masuk. Haeng Ah kaget melihat Ri Hwan yang menaiki busnya.
Ri Hwan berjalan dan duduk disamping Haeng Ah yang masih melonggo binggung, Setelah melihat Ri Hwan benar-benar ada disampingnya, Haeng Ah tersenyum lalu memegang tangan Ri Hwan. Tapi  Ri Hwan malah melepasnya dan memasukan jari-jari disela-sela tangan Haeng Ah, terlihat senyuman yang keluar dibibirnya.
Matanya langsung menatap Haeng Ah sambil mengatakan “Aku ada disisimu sekarang.” Haeng Ah tersenyum mendengarnya, Ri Hwan mendekat dan memberikan ciuman dikening Haeng Ah selama bus berjalan menyusuri jalan dimalam hari yang semakin larut.
 [CahayaHijau dalam Kegelapan Langit Malam]
bersambung ke episode 14

sumber:http://korean-drama-addicted.blogspot.com/

Sinopsis Bubblegum Episode 13 Part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xvmwrs
 

Top